Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 462 Pengobatan di Puncak Bukit


__ADS_3

Di atas puncak bukit, di tempat yang sedikit lapang, Singa Resti menukik turun. Tampak kegugupan di wajah Chakra Ashanka melihat kedua orang tuanya dalam keadaan pingsan. Melihat ada sebuah batuan datar, anak muda itu segera membawa Wisanggeni dan Rengganis, kemudian membaringkan mereka di atas batuan itu. Tanpa diminta, Sekar Ratih segera mencari daun-daunan yang bisa digunakan untuk meredam luka bakar dan menghilangkan rasa panas pada tubuh pasangan suami istri. Tinggal bersama dengan keluarga Wisanggeni, gadis muda itu belajar banyak tentang tumbuh-tumbuhan yang bisa digunakan untuk pengobatan herbal.


"Apa yang bisa aku lakukan kang Ashan... sepertinya luka yang diderita paman Wisanggeni, dan bibi Rengganis sangat parah." Bhadra Arsyanendra dengan tatapan prihatin ikut berdiri di  samping Chakra Ashanka.


"Jika tidak merepotkanmu Rayi... buatkan tempat untuk berteduh kita hari ini. Aku ingin mengobati kedua orang tuaku di tempat ini dulu, untuk merahasiakan agar orang-orang tidak tahu, jika ayahnda dan ibunda sedang dalam keadaan seperti ini.." dengan lirih, Chakra Ashanka menjawab pertanyaan Bhadra Arsyanendra.


Bhadra Arsyanendra terdiam tidak menjawab perkataan anak muda itu. Terlihat Chakra Ashanka duduk di samping tubuh Wisanggeni dan Rengganis yang tengah terbaring. Anak muda itu bersila, kemudian tidak lama keluar aura dan energi dari dalam tubuhnya. Energi itu melimpah keluar, dan perlahan anak muda itu mengalirkan energi itu menyelimuti tubuh kedua orang tuanya. Tanpa diminta, melihat apa yang dilakukan oleh Chakra Ashanka, Bhadra Arsyanendra mengikuti apa yang dilakukan oleh anak muda itu. Dengan energi dan kekuatan yang dimilikinya, Bhadra Arsyanendra juga menyalurkan kekuatan pada Wisanggeni dan Rengganis.


"Nimas Ratih.. apa yang bisa aku bantu Nimas.." melihat Sekar Ratih yang sudah datang sambil membawa banyak pucuk daun-daun muda, Ayodya Putri bertanya pada gadis muda itu.


"Bisakah Nimas membawakanku air bersih.. aku membutuhkannya untuk mencampurnya dengan ramuan yang akan aku tumbuk." Sekar Ratih menjawab pertanyaan Ayodya Putri. Dengan cekatan gadis muda itu, membersihkan sebuah batu kemudian meletakkan pucuk-pucuk daun muda itu di atasnya. Tidak lama kemudian, dengan peralatan ala kadarnya, Sekar Ratih menghaluskan di atas batuan datar.


Ayodya Putri segera berdiri, dan mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Setelah merasakan dimana keberadaan air bersih, dengan cepat gadis itu berlari dan pergi dari tempat itu. Sesaat tempat itu kembali sepi, semuanya sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

__ADS_1


*******


Ki Bawono berhenti, pandangan matanya tersenyum melihat ke empat anak muda itu dengan kompak saling berbagi tugas. Di atas batu besar, laki-laki itu bisa melihat pasangan suami istri Wisanggeni dan Rengganis tengah terbaring, dengan seluruh tubuh seperti dalam keadaan terbakar. Laki-laki itu mengambil nafas, kemudian perlahan berjalan menuju ke arah orang-orang itu.


"Clap.. clap.." Ki Bawono terkejut, tidak melihat seorangpun disitu, tiba-tiba ada pisau belati yang hampir saja mengenai kulitnya.


Laki-laki itu mengangkat wajahnya ke atas, dan terlihat wajah Chakra Ashanka menatapnya dengan garang. Ternyata anak muda itu memiliki reflek yang sangat bagus, juga pergerakan yang sangat cepat. Terakhir kali, Ki Bawono melihatnya anak muda itu sedang mengusap kulit Wisanggeni, ternyata bisa melihatnya datang.


"Patih kerajaan Logandheng, apakah Kanjeng Patih sudah melupakan laki-laki tua ini.." sambil tersenyum, Ki Bawono menyapa anak muda itu.


"Paman .. aku tidak memiliki waktu sedikitpun untuk bermain-main dengan paman, dan juga aku beritahukan. Panggil namaku, dan saat ini aku sedang tidak bertugas sebagai seorang Patih kerajaan. Jadi.. aku harap paman bisa mengerti dan memahaminya." ucap Chakra Ashanka perlahan. Anak muda itu terlihat malas menyambut kedatangan laki-laki tua itu.


"Janganlah kamu salah sangka kepadaku anak muda.. Kedatanganku ke tempat ini, karena untuk menyambut baik kedua temanku yang aku yakin. Keberadaan kedua orang tuamu di wilayah ini, karena ingin berkunjung ke padhepokanku. Ijinkan aku membawa orang tuamu pergi, dan beristirahat di padhepokanku anak muda.." Ki Bawono tidak marah mendengar kata-kata keras dari Chakra Ashanka. Dengan sikap sopan, laki-laki itu malah menawarkan untuk membawa kedua pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Chakra Ashanka terdiam, setelah beberapa saat berpikir, anak muda itu tetap memutuskan untuk merawat ayahnda dan ibundanya di tempat ini. Dia tidak mau, ketidak berdayaan kedua orang tuanya saat ini, akan diketahui oleh orang-orang yang bisa saja memanfaatkan kelemahan itu.


"Tidak paman.. ayahnda dan ibunda harus tetap berada di puncak bukit ini. Aku dan Raden Bahdra bisa saja membawa keduanya ke istana, dan menggunakan tabib istana untuk mengobati mereka. Tetapi aku tidak menginginkannya.." dengan tegas, Chakra Ashanka menolak tawaran yang diberikan Ki Bawono.


Laki-laki tua itu terdiam, jelas terlihat di matanya jika Ki Bawono menyayangkan pendirian Chakra Ashanka. Tetapi melihat kuatnya tekad anak muda itu, tidak ada pilihan lain bagi laki-laki tua itu, selain mengikuti apa yang diinginkan oleh putra dari pasangan suami istri itu.


"Baiklah jika itu maumu bocah.. Tapi ijinkan aku untuk membantu menyalurkan kekuatan dan tenaga dalamku, agar energi panas dari kekuatan kuno Gerombolan Alap-alap tidak membakar organ tubuh bagian dalam." dengan pelan, Chakra Ashanka menganggukkan kepalanya.


Ki Bawono segera melangkah mendekati dua tubuh yang terbaring di atas batuan datar itu. Laki-laki itu kemudian duduk bersila di samping tubuh bagian atas Wisanggeni. Setelah beberapa saat menatap wajah pasangan suami istri dengan tatapan prihatin, Ki Bawono mulai menyalurkan energi dan kekuatannya. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat.


"Kang Ashan.. Nimas sudah menyiapkan ramuan herbal untuk dibalurkan pada tubuh paman dan Bibi.." tiba-tiba terdengar suara Sekar Ratih membuyarkan lamunan Chakra Ashanka. Anak muda itu menoleh dan melihat gadis muda itu sedang memberikan ramuan pucuk-pucuk daun-daun herbal.


"terima kasih Nimas.. bantulah aku untuk membalurkan ramuan ini di tubuh ibunda Rengganis. Aku akan membalurkan di seluruh tubuh ayahnda Wisanggeni." sahut Chakra Ashanka

__ADS_1


"Baik kakang.. mari aku temani." pasangan anak muda itu segera berjalan mendekati tubuh Wisanggenin dan Rengganis. Tanpa mengganggu fokus Ki Bawono, dua anak muda itu segera membalurkan ramuan herbal itu ke tubuh Wisanggeni dan Rengganis.


*******


__ADS_2