
Kepala pasukan tersenyum sinis melihat pertahanan yang dibangun murid-murid perguruan. Laki-laki itu tidak menyangka sama sekali, meskipun mereka hanya orang luar yang menuntut ilmu Kanuragan di perguruan tersebut, ternyata mereka bersedia membela perguruan itu dari orang luar yang mengancam kekompakan di perguruan tersebut.
"Tunjukkan padaku jika kamu berani anak muda..., aku ingin menjajal bagaimana kekuatan murid-murid perguruan Gunung Jambu. Ha..., ha..., ha..." sambil tertawa mengejek, kepala pasukan menantang anak-anak muda itu.
Murid-murid terdiam, sedikitpun mereka tidak terpengaruh oleh provokasi dari kepala pasukan. Tatapan mata mereka dengan tajam ke arah kepala pasukan, dan orang-orang yang ada di belakangnya.
"Clap..., Trang..., Trang..." tiba-tiba pasukan yang ada di belakang kepala pasukan, berlari maju untuk menerjang murid-murid perguruan dengan senjata di tangan mereka.
"Longgarkan barisan..., bentuk pertahanan..." salah seorang murid berteriak memberi aba-aba pada murid lainnya, yang saat ini membentuk benteng pertahanan.
"Blam..., bluar..." begitu mereka melepaskan tangan mereka yang terjalin, lengkungan udara maju menerjang ke arah pasukan itu. Orang-orang kerajaan yang berlari maju menerjang ke tempat murid-murid itu terpelanting jatuh ke belakang. Kepala pasukan tidak berkedip melihat keadaan tersebut.
"Ternyata cukup tangguh juga mereka. Pasukanku kocar-kacir oleh murid-murid itu. Aku akan menambahkan energi pada mereka." kepala pasukan dengan nanar menatap pada murid-murid perguruan Gunung Jambu. Laki-laki itu kemudian menggerakkan kedua tangannya seperti gerakan mengumpulkan kekuatan, kemudian menyapukan kedua tangannya ke arah pasukan yang dipimpinnya.
Tidak disangka, orang-orang dalam pasukan kerajaan yang tadi terpukul mundur, kembali terlihat lebih segar dari penampilan awal mereka. Dengan sikap yang lebih trengginas, orang-orang itu maju ke depan dan menyerang murid-murid perguruan.
Murid-murid saling berpandangan, mereka seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di depannya.
"Bagaimana mereka bisa berubah secepat itu? Apa yang harus kita lakukan, apakah akan kita hadapi mereka?" salah seorang murid bertanya pada murid yang ada di sampingnya.
"Mereka terus maju untuk mendesak kita, sepertinya mereka mendapatkan aliran energi dari kepala pasukan. Sudah nanggung untuk kita, jika kita tidak memberi perlawanan pada mereka, maka perguruan kita yang akan mendapatkan penilaian buruk. Kita harus menjaga marwah perguruan Gunung Jambu. Ayo kita hadapi mereka." sambil berteriak, salah seorang murid yang dituakan, mengajak teman-temannya untuk menghadapi pasukan kerajaan itu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, terjadilah pertarungan di tempat itu. Pasukan yang semula terpukul mundur, kali ini mereka maju dengan gagah berani. Murid-murid juga tidak mau kalah, untuk menjaga marwah perguruan mereka melawan pasukan. Darah sudah mulai banyak mengucur dari bentrokan kedua belah pihak itu.
"Kita kalah jumlah, nyalakan obor untuk memberi tahu teman-teman kita di tempat lain. Kali ini kita butuh dukungan dari teman-teman kita." merasa terdesak, pemimpin dari kelompok murid berteriak pada murid yang lainnya.
Seorang murid langsung berlari ke belakang, laki-laki itu berlari untuk menyalakan obor. Tetapi baru saja berlalu beberapa meter, tiba-tiba....
"Aaaaaww.." terdengar jeritan melengking dari laki-laki tersebut. Sebuah pisau menancap di punggung laki-laki itu. Tetapi laki-laki itu seperti tidak merasakan rasa sakitnya. Dia tetap berusaha bangkit dan berdiri..., dan tidak lama kemudian..
"Pletok..., pletok.. door.." nyala api dan suara long mercon terdengar menggetarkan perguruan Gunung Jambu.
*********
"Kita harus segera pergi dari tempat ini. Suara peringatan sudah dibunyikan oleh teman kita yang ada di tapal batas perguruan. Segeralah kalian bersiap...!" suara mbok Darmi yang bergetar, mengajak semua orang untuk bersiap. Di pinggang perempuan paruh baya itu, sudah ada Parvati dalam gendongannya.
"Kita akan kemana Mbok.., apakah kita tidak menunggu laki-laki untuk memberikan bantuan pada kita?" seorang perempuan yang bertugas di dapur menanyakan tujuan yang akan mereka datangi.
"Patuhi perintahku, aku mendapatkan amanah dari Den Ayu Rengganis untuk melarikan kalian dan juga Nimas Parvati, jika terjadi apa-apa dengan perguruan. Jangan bantah perkataanku, ikutilah aku. Apakah semuanya sudah siap?" sekali lagi Mbok Darmi bertanya tentang kesiapan mereka.
"Tunggu sebentar mbok..., aku akan mengambil simpananku terlebih dulu dulu. Aku akan segera mengikutimu." seorang perempuan membalik badan, dan berpamitan pada Mbok Darmi.
"Dorrr.., jueglarrr..." tetapi tiba-tiba suara dentuman long mercon kembali terdengar membahana di tempat tersebut. Mbok Darmi langsung menarik perempuan itu, dan melarangnya kembali masuk ke dalam pondok.
__ADS_1
"Ikutlah denganku Ratmi..., jika kamu tidak ingin celaka. Harta bisa kita cari, tetapi nyawa kita hanya satu, tidak ada yang melindungi kita. Ayo semua..., kita segera berangkat." Mbok Darmi kembali berteriak.
Ketika para murid laki-laki bersiap untuk menuju ke garis depan,. Mbok Darmi membawa para perempuan dan anak-anak untuk pergi mengungsi. Tetapi para murid perempuan memilih untuk bertahan, dan menjaga padhepokan dari serangan orang luar.
Segera mbok Darmi dan beberapa lainnya menyusuri jalan turunan yang ada di samping padhepokan. Jalanan itu menuju sebuah bangunan tersembunyi yang sengaja disiapkan oleh Ki Cokro Negoro, sebagai tempat pertolongan pertama jika terjadi sesuatu dengan perguruan itu. Mereka berjalan beriringan, membentuk sebuah barisan ke belakang.
"Kita mau kemana mbok..., Parvati ingin berjumpa dengan ibunda.." tiba-tiba terdengar suara Parvati bertanya pada Mbok Darmi.
Perempuan paruh baya itu tersentak, kemudian menoleh pada gadis kecil itu.
"Dhenok ayu jangan nakal ya..., nanti ibunda akan menyusul kita ke tempat persembunyian." mbok Darmi mencoba menenangkan gadis kecil itu.
"Saat ini, sementara kita harus berpindah tempat dulu. Akan ada tamu dalam jumlah banyak ke padhepokan, sehingga untuk sementara waktu kita harus menyingkir terlebih dahulu." lanjut Mbok Darmi. Sambil mengusap rambut anak kecil itu, mbok Darmi tetap melanjutkan perjalanan.
"Mbok Darmi..., apakah kita tidak beristirahat dulu? Beberapa anak di belakang sudah terlihat kecapaian." dari belakang, ada yang ingin mereka beristirahat dulu.
"Aku tidak menyarankannya. Tetapi jika kalian akan istirahat dulu, lakukanlah. Kami akan tetap melanjutkan perjalanan, karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi nantinya." tanpa memberikan pilihan, mbok Darmi tetap melanjutkan perjalanan.
Melihat tidak ada yang berhenti untuk istirahat, akhirnya para orang tua segera menggendong anak-anak mereka. Orang-orang itu segera melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat persembunyian sementara. Tidak ada yang bicara dalam perjalanan, mereka mengikuti Mbok Darmi di belakang.
********"
__ADS_1