
Nyai Ageng tersentak, perempuan paruh baya itu merasakan energi yang sangat akrab dengannya, saat ini berada di dekatnya. Bau minyak kasturi terasa semerbak mengelilinginya. Perempuan itu tersenyum lembut dan meletakkan sulaman yang ada di tangannya, kemudian menghela nafas. Setelah terdiam beberapa saat, Nyai Ageng segera berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Aku menunggu kedatanganmu Kangmas.., maafkan aku yang tidak bisa menjaga amanahmu dengan baik." terdengar suara lirih Nyai Ageng berbicara dengan seseorang. Perempuan paruh baya itu duduk di pinggir ranjang, seperti menunggu kedatangan suaminya. Hembusan angin seperti menerpa wajah perempuan itu, dan Nyonya Ageng memejamkan matanya seakan menikmati hembusan tersebut. Setelah beberapa saat, perempuan itu mengambil nafas panjang, kemudian mengeluarkannya lagi perlahan.
"Aku akan segera menjemputmu Nimas.." Ki Sasmita berbisik pada Nyai Ageng, meskipun perempuan itu tidak dapat mendengar apa yang dikatakannya. Setelah beberapa saat puas memandangi wajah istrinya, Ki Sasmita segera menarik sukmanya kembali ke raga.
Laki-laki paruh baya itu, kemudian mengakhiri duduk bersilanya. Setelah menghela nafas, perlahan Ki Sasmita merebahkan tubuhnya diatas dipan kayu, dan perlahan matanya terlelap.
************
Wisanggeni dan Rengganis memasuki pesanggrahan yang pernah digunakan untuk menginap Wisanggeni, saat pertama kali datang ke Jagadklana. Tempat yang masuk ke wilayah perbukitan itu masih terlihat sepi, seperti saat pertama kali Wisanggeni datang kesitu. Tidak ada orang yang mereka temui saat berjalan menuju griya. Seorang penjaga bergegas menghampiri mereka, saat tahu mereka datang.
"Nimas Rengganis.., syukurlah Nimas datang kemari." sapa penjaga tersebut yang langsung membukakan regol untuk masuk mereka. Rengganis tersenyum, dan saat melihat jika Wisanggeni menggendong seorang bayi, penjaga itu terkejut.
"Nimas.. apakah ini bayi kalian berdua..?? Paman sampai tidak tahu, karena setelah Trah Jagadklana dikuasai Laksito, paman dan orang-orang disini memutuskan untuk tidak pernah keluar dari tempat ini. Untungnya Ketua Trah selalu mengajarkan pada kami untuk menanam bahan makanan sendiri. Sehingga meskipun kami mengisolasi diri disini, kami tidak pernah kekurangan bahan makanan." paman Sambodo bercerita sambil berjalan di depan mereka berdua.
"Ini putra kami paman.., kami menamainya Chakra Ashanka. Paman bisa memanggilnya dengan panggilan Ashan." Wisanggeni menjawap pertanyaan Sambodo tentang bayi yang saat ini berada dalam gendongannya.
__ADS_1
"Laksmi..., Laksmi..., kemarilah..!" tiba-tiba Sambodo berteriak memanggil nama perempuan. Seprang gadis muda tergesa-gesa datang menemui mereka di ruang tengah. Perempuan yang dipanggil tersebut adalah putrinya, yang mengikutinya kesini karena kondisi yang kurang mendukung di kota. Gadis itu memilih untuk kembali bersama kedua orang tuanya, daripada harus berdiam di kota yang penuh kekacauan.
"Iya ayah..., bukannya ini Rengganis putri Ketua Trah ayah." Laksmi yang seumuran dengan Rengganis langsung mengenali Rengganis. Dengan mata berbinar, gadis itu menyalami tangan Rengganis dan mencium punggung tangannya.
"Bagaimana kabarmu Laksmi?" tanya Rengganis pada gadis itu.
"Beginilah Rengganis.., aku terpaksa pulang dan kembali menemani ayah dan ibunda. Keadaan di kota, saat ini carut marut. Orang-orang Laksito seenaknya memungut upeti pada para pekerja, juga pada para pedagang, Mereka tidak segan-segan untuk memberi hukuman pada orang-orang yang tidak mau menuruti keinginan mereka." Laksmi menceritakan kekacauan yang ada di kota. Rengganis menatap mata Wisanggeni..
"Kita akan mencoba untuk merebut kembali kuasa Laksito yang memimpin Trah saat ini Laksmi. Inilah alasanku dan ayah kembali ke Trah ini kembali." Rengganis menjawab untuk menenangkan paman Sambodo dan keluarganya.
"Ketua Trah ada disini juga Rengganis?? Jika iya, syukurlah. Semoga kita semua segera terlepas dari semua penderitaan ini. Kasihan orang-orang yang masih bertahan di kota, mereka setiap hari ditindas oleh orang-orang Laksito. Bahkan yang tinggal di pedesaan pun, mereka juga wajib membayar upeti yang ditarik oleh Kepala Desa." Rengganis menganggukkan kepala, dan perempuan itu mengambil nafas panjang. Rasa sesak di hatinya mendengar kejamnya penindasan yang dilakukan oleh Laksito.
***********
Setelah beberapa hari di Jagadklana, merpati sebagai alat pengirim berita yang paling bisa diandalkan. Orang-orang sudah dibagi secara bertahap melakukan penyerangan di kota tempat Laksito berada. Untuk melindungi Chakra Ashanka dari gangguan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, Rengganis menitipkan putranya ke tempat Nyai Ageng yang ada di tengah perkebunan bambu. Pertemuan nenek dan cucu itu sangat mengharukan.
"Ibunda.., Nimas titip Ashan disini untuk sementara waktu! Nimas yakin, dengan bersama bunda.. Ashan akan merasa lebih tenang." Rengganis menyampaikan sesuatu pada Nyai Ageng. Merasa belum percaya jika sudah memiliki seorang cucu, tidak henti Nyai Ageng menciumi cucu laki-lakinya itu.
__ADS_1
"Jangan terlalu mengkhawatirkan putramu. Tempat ini aman Nimas, hanya ayahnda dan ibunda yang mengetahui tempat ini. Orang-orang Laksito tidak akan dapat menemukannya." tanpa mengalihkan pandangannya dari Chakra Ashanka, Nyai Ageng menanggapi perkataan Rengganis. Rengganis melirik Wisanggeni, dan mereka tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Baiklah kami berdua akan segera berangkat Bunda.." Rengganis mengambil Chakara Ashanka dari pelukan Nyai Ageng, dan segera memeluk serta mencium putranya, kemudian menyerahkan pada suaminya. Sama seperti yang dilakukan Rengganis, Wisanggeni melakukan hal yang sama.
"Jadilah anak yang pintar dan cerdas putraku." bisik Wisanggeni ke telinga putranya, dan Chakra mengedipkan matanya sambil menatap ayahndanya. Setelah beberapa saat, Wisanggeni menyerahkan putranya pada Nyai Ageng.
"Selamat jalan..., hati-hatilah. Orang-orang Laksito sangat licik.." Nyai Ageng berpesan pada putri dan menantunya. Setelah berjabatan tangan, Wisanggeni dan Rengganis segera menuju ke arah Singa Resti. Setelah mengusap leher binatan Singa itu, Sina Resti kemudian menjatuhkan badannya ke tanah. Sambil menggandeng tangan Rengganis, Wisanggeni langsung melompat ke punggung binatang itu. Segera setelah keduanya berada di punggung Singa Resti, binatang itu perlahan terbang ke atas langit.
************
Beberapa saat di atas langit, Wisanggeni melihat gundukan bangunan di tepian danau. Setelah memberi tahu Rengganis, laki-laki itu segera minta pada Singa Resti untuk mengantarkannya ke tempat itu.
"Bawa kami kesana Resti.., antarkan ke bendungan itu!" suara Wisanggeni terdengar memberi perintah pada binatang itu.
"Auuuummm.." binatang itu menjawabnya dengan auman panjang, kemudian segera mengepakkan sayap dan menuju tempat yang ditunjukkan Wisanggeni. Wisanggeni segera melompat turun diikuti oleh Rengganis, sedangkan Singa Resti tetap berada di atas untuk mengawasi aktivitas kedua orang itu.
Di tepian danau, Wisanggeni dan Rengganis menyembunyikan dirinya agar tidak diketahui oleh orang-orang yang berjaga di tempat itu. Setelah berhasil mengecoh penjaga, keduanya perlahan memasuki jalan setapak menuju ke sisi bendungan.
__ADS_1
"Bergeserlah kesampingku Nimas..?" bisik Wisanggeni ke telinga Rengganis, saat telinganya menangkap orang yang berjalan kesitu.
****************