
Setelah satu minggu melakukan perendaman dalam racikan rempah-rempah, dan mengkonsumsi pil yang dibuat oleh Wisanggeni, Ki Brahmono sudah dapat menggerakkan semua sendi dan tulang-tulangnya. Tetapi karena masih harus melanjutkan sampai dengan 40 hari, maka pemimpin Klan itu belum diijinkan untuk melakukan aktivitas berat.
Malam itu, Ki Brahmono mengundang Wisanggeni untuk datang sendiri ke bilik yang ditempatinya. Ada hal penting yang akan dia sampaikan pada laki-laki muda itu, sebagai bentuk ucapan terima kasih atas perawatan yang sudah dia berikan padanya. Untuk menghormati Ki Brahmono, tanpa bicara dengan Rengganis, Wisanggeni datang sendiri memenuhi panggilannya.
"Nak Wisang.., minumlah dulu! Tadi sudah disiapkan wedang gedhang oleh Bisma, mumpung masih panas akan lebih segar rasanya." Ki Brahmono mempersilakan Wisanggeni untuk menikmati minuman yang sudah disiapkan.
Laki-laki muda itu mengambil cangkir, kemudian menuangkan wedang gedhang dari termos dan menyesapnya beberapa teguk.
"Paman Brahmono..., apakah ada hal penting yang akan paman sampaikan padaku? Kebetulan juga, saya dan Nimas Rengganis juga akan mohon pamit dari Klan Suroloyo. Kemungkinan jika tidak besok atau lusa, kami berdua harus melanjutkan perjalanan menuju Gunung Baturetno paman." Wisanggeni mulai menanyakan maksud dari Ki Brahmono memintanya datang malam ini.
"Iya nak Wisang. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan kepadamu. Hal pertama adalah saya mengucapkan terima kasih banyak karena atas upayamu, penyakit saya sudah bisa terobati. Berbagai tabib maupun orang pintar dari seluruh pelosok negeri sudah kita datangkan, tetapi tidak ada yang mampu memberikan pencerahan. Ternyata dengan tangan dinginmu, penyakit saya sudah hilang saat ini." Ki Brahmono tersenyum tulus, terpancar kebahagiaan di matanya yang sudah keriput.
"Hal kedua adalah aku ingin menawarkan padamu. Sumber daya apa yang kamu inginkan, aku akan memerintahkan orang-orangku untuk memenuhinya. Dan yang ketiga, paman ingin membicarakan hubungan antara nak Wisang dengan putriku Nimas Niken. Apakah kamu bisa mempertimbangkan kembali, untuk menerima Nimas Niken sebagai pendamping hidupmu." muka Ki Brahmono merah menahan malu saat mengucapkan kalimat terakhir.
Wisanggeni tersenyum, kemudian dia kembali mengambil cangkir dan menuangkan wedang gedhang. Setelah menyesapnya kembali, laki-laki muda putra dari Klan Bhirowo itu kembali menatap pada Ki Brahmono.
"Paman sebelumnya mohon dimaafkan jika perkataan yang akan saya sampaikan menyinggung paman Brahmono atau dari semua warga di Klan Suroloyo. Untuk hal pertama, saya hanya menjalankan kewajiban sebagai manusia yang beradab dan berempati, jadi harus membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan. Apalagi kedekatan antara Klan Bhirowo dan Klan Suroloyo sudah lama terjalin sejak ibunda masih ada di dunia ini." Wisanggeni tersenyum pahit.
__ADS_1
"Untuk hal yang kedua dan ketiga, mohon maaf juga paman. Wisang tidak dapat menerimanya, keinginan terdekat saat ini adalah berusaha untuk membebaskan ayahnda dari cengkraman Alap-alap. Terkait dengan Nimas Niken, jujur paman sebagai sesama laki-laki, akan sangat bodoh untuk menolak kehadiran gadis itu. Pesona yang ditunjukkan Nimas Niken dapat meluluh lantakkan hati laki-laki manapun, tetapi Wisang tidak dapat menerimanya." lanjut Wisanggeni masih dengan sikap sopan dan andhap asornya.
Ki Brahmono terdiam, tampak kekecewaan terbersit dari reaksi wajah dan matanya. Tetapi dia juga tidak dapat berbuat apa-apa, kerena memang kelakuan putrinya itu sudah mencoreng wajahnya sebagai ayah dan juga pemimpin dari Klan Suroloyo. Laki-laki tua itu tiba-tiba berdiri dan membuka lemari kayu yang ada di dalam biliknya. Dia mengeluarkan sebuah cincin akik berwarna merah.
"Terimalah cincin ini Wisang, akik ini bernama Sinar Api Merah. Serap dan padukan kekuatanmu dengan inti dari cincin ini, kamu akan dapat menggunakannya suatu saat nanti. Sekali lagi maafkan paman dan Nimas Niken nak Wisang. Dan paman mengucapkan selamat jalan, jika kamu akan meninggalkan Klan ini."
******************
"Kang Wisang..., terima kasih sekali atas bantuan Akang, saat ini ayahnda sudah bisa menikmati kembali bagaimana bisa menggerakkan semua anggota tubuhnya." Niken mengucapkan terima kasih pada laki-laki muda itu.
"Kita sesama manusia harus saling membantu Nimas, kamu tidak perlu merisaukan hal itu. Aku rasa, kamu tidak hanya untuk mengucapkan terima kasih saja mengajakku bertemu di tempat ini." Wisanggeni tersenyum, dia memandang pada wajah teduh di depannya itu.
"Lapisan pelindung Alam..," tiba-tiba Niken berteriak, dan selapis pelindung muncul menyelimuti mereka berdua di puncak bukit itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan Nimas? Apakah kamu akan mengurungku disini, dan apakah kamu berpikir jika aku tidak bisa menghancurkan ajianmu ini?" Wisanggeni bertanya dengan lembut, yang terdengar memabukkan di telinga Niken.
Niken tertunduk malu, dia tidak mampu menatap wajah laki-laki muda yang sudah banyak berubah dari terakhir kali mereka bertemu. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kekagumannya pada laki-laki itu saat ini.
"Maafkan Niken kang Wisang. Niken hanya ingin sedikit privacy saja untuk bersama dengan Akang." tiba-tiba Niken sudah memeluk tubuh Wisanggeni dari belakang.
Wisanggeni tidak melepaskan pelukan itu, karena bagaimanapun dia adalah seorang laki-laki yang juga terkadang ada hasrat dari dalam dirinya yang ingin tersalur keluar. Laki-laki itu membalikkan tubuhnya sendiri, dan terlihat di hadapannya gadis itu sudah berdiri pasrah dengan pipinya tersemburat warna merah. Melihat Niken yang tampak pasrah di depannya, Wisanggeni mengangkat wajah gadis itu dengan memegang dagunya.
Tidak tahu siapa yang memulai, di atas puncak bukit dua insan itu sudah saling mereguk manis bibir masing-masing. Ciuman panjang mereka akhiri untuk mengambil nafas, kemudian mereka sambung lagi. Hal itu terjadi untuk beberapa saat, dan tanpa Wisanggeni sadari, Nimas Niken sudah melepaskan baju atasan yang dia kenakan dan tampak dua buah daging kembar yang kenyal warna putih menjulang lembut di hadapannya.
Sejenak laki-laki muda itu terlena, saat tangan Niken menekan kepalanya ke bawah. Dia merasa bergetar saat bibirnya bersentuhan dengan dua daging kenyal itu, dia menyesapnya dan merasakan kelembutan kulit halus itu. Tetapi tiba-tiba Wisanggeni melepaskan dan mendorong tubuh Niken ke depan, sejenak kesadaran kembali pada dirinya.
"Menjauhlah dariku Nimas..., kita tidak boleh melakukan hal ini. Pergilah dariku!" Wisanggeni meminta Niken untuk menjauh darinya.
"Tidak kang Wisang.., jangan usir aku. Meskipun kakang tidak akan menjadi pengantinku, tetapi Nimas rela memberikan semua yang ada untuk kakang." Niken kembali melangkah maju mendekati Wisanggeni.
"Ini keliru Niken.., aku akan mengkhianati Nimas Rengganis jika kita melakukan hal ini. Kembalilah, dan besok pagi aku sudah tidak akan berada lagi di padhepokan ini."
__ADS_1
******************