
Dari atas pohon, Wisanggeni tersenyum. Setelah menepuk pelan punggung Singa Ulung, dengan cepat Wisanggeni melompat turun dari atas pohon. Laki-laki itu mendaratkan kaki di belakang Pangeran Abhiseka, dan seperti sengaja Pangeran tidak mau membalikkan badannya. Wisanggeni tersenyum, dia juga hanya berdiri di belakang Pangeran Abhiseka tanpa membuat sapaan atau bahkan menepuk punggung laki-laki itu.
"Pangeran.., Pangeran.., di belakang Pangeran.." Andhika menunjuk ke belakang Pangeran Abhiseka, tetapi laki-laki itu hanya tersenyum mengabaikan isyarat yang diberikan Andhika.
"Diamlah kamu Andhika.., tidak perlu kita menyambut seseorang yang sudah melupakan keluarganya. Aku yakin, laki-laki yang saat ini berdiri di belakangku ini, sudah menelantarkan anak dan istrinya." tanpa bermaksud untuk menyinggung Wisanggeni, Pangeran Abhiseka berbicara dengan nada sarkasme. Mendengar kalimat yang diucapkan Pangeran, Wisanggeni terdiam sejenak. Laki-laki itu merasa tertampar dengan kalimat yang diucapkan oleh Pangeran Abhiseka, dan pasti ditujukan pada dirinya. Tetapi setelah beberapa saat, tepukan di punggung Pangeran ABhiseka dilakukan oleh Wisanggeni.
Sambil tersenyum, Pangeran Abhiseka membalikkan badannya, dan langsung memegang kedua bahu Wisanggeni. Kedua teman baik itu berpelukan erat.
"Badanmu semakin kuat saja Wisang.., lihat otot-otot tanganmu sekarang.." Pangeran Abhiseka memuji badan Wisanggeni yang semakin kekar. Wisanggeni hanya tersenyum kecut tidak menanggapi pujian itu.
"Kita duduk dulu Pangeran...!" Wisanggeni mengajak Pangeran Abhiseka untuk bicara sambil duduk. Pangeran Abhiseka langsung merangkul Wisanggeni, dan mengajaknya duduk di tempat berteduh yang disiapkan oleh kedua pengawalnya.
"Bagaimana Pangeran bisa berada di tempat ini?" dengan perasaan ingin tahu, Wisanggeni menanyakan keberadaan Pangeran di hutan ini.
__ADS_1
"Aku berencana dengan dua pengawalku akan berkunjung ke perguruan di perbukitan Gunung Jambu. Berita tentang perkembangan perguruan itu saat ini, memancingku untuk melihatnya secara langsung. Tetapi baru sampai setengah perjalanan, aku bertemu dengan dua laki-laki di kedai makanan. Sepertinya kedua orang itu pernah menjadi teman perjalananmu, dan akhirnya kalian berpisah setelah terperosok masuk ke ruang bawah tanah. Aku memperkirakan jika kamu pasti masih tertinggal di puncak gunung itu, karena aku mengenalmu dengan sangat baik Wisang. Sebelum mendapatkan apa yang kamu tuju, pantang bagimu untuk meninggalkan tempat itu." Pangeran Abhiseka menceritakan alasannya sampai ke tempat ini.
"Akhirnya.., apa yang aku pikirkan terbukti. Aku dan dua pengawalku berhasil bertemu denganmu kan..?" Pangeran mengakhiri ceritanya. Wisanggeni tersenyum kecut mendengar cerita jika perguruan yang dititipkan Gurunya Ki Cokro Negoro sudah menjadi besar. Laki-laki itu melamun, membayangkan bagaimana istrinya Rengganis mengerahkan semua tenaga dan kemampuannya untuk memimpin sendiri perguruan itu. Tiba-tiba rasa malu dan penyesalan muncul di hati Wisanggeni. Mendadak laki-laki itu terdiam dan terlihat melamun.
"Apa yang kamu pikirkan Wisang..., ceritakan padaku! Aku yakin, tidak akan tanpa alasan, kamu bisa berpisah dengan Nimas Rengganis sampai selama ini. Apa yang terjadi?" Pangeran Abhiseka membuyarkan lamunan Wisanggeni.
"Semua terpaksa aku lakukan Pangeran.. Aku berniat baik untuk menemui sesepuh di suku Ular, untuk secara resmi meminta Maharani menjadi istriku. Meskipun aku sudah menikahi perempuan itu untuk alasan keselamatan manusia, tetapi aku juga harus memperhatikan perasaannya. Aku akan menegakkan wajah gadis itu di hadapan para sesepuh di kaum ular. Akhirnya menjadikanku terhambat untuk segera menemui istri dan putraku.." Wisanggeni kemudian secara panjang lebar menceritakan persyaratan yang harus dia penuhi, untuk menunjukkan keseriusannya menikahi Maharani. Meskipun posisinya sebagai raja Ular, tetapi para sesepuh tidak mempedulikan akan posisi tersebut.
"Hmmm..., sampai sebegitunya penderitaanmu Wisang. Meskipun aku tahu..., hanya Nimas Rengganis yang ada di hatimu, tetapi kamu tetap memuliakan posisi perempuan yang sudah kamu nikahi karena terpaksa." setelah mengambil nafas dalam, pangeran Abhiseka menanggapi cerita Wisanggeni.
"Buatlah pil di hutan ini Wisang.., hutan ini masih sangat lebat. Tidak akan banyak orang yang akan menuju ke tempat ini. Lakukanlah.., aku akan menemanimu..!" dengan suara pelan, Pangeran Abhiseka memutuskan untuk menemani Wisanggeni.
********
__ADS_1
Seperti yang sudah dikatakannya pada Wisanggeni, Pangeran Abhiseka memerintahkan kedua pengawalnya untuk menyiapkan dan membersihkan sebuah gua untuk digunakan Wisanggeni mengolah pil. Esensi dari energi ular perak yang dia peroleh dari tapa brata selama empat puluh hari, jamur kulat pelawan yang diambil Singa Ulung dari pohon pelawan, dan sari madu asli dari perasan sarang telur lebah hutan sudah siap untuk dijadikan sebagai pil untuk meningkatkan kekuatan dari keturunan manusia keturunan ular.
"Pangeran.., untuk beberapa hari ke depan. Aku akan memasuki masa pengolahan pil, dan membutuhkan ketenangan yang sangat sepi. Aku harap, kamu bisa membantuku untuk berjaga-jaga. Menurut sifat dari bahan-bahan yang akan aku olah, tidak mungkin dalam prosesnya akan muncul suara kebisingan yang bisa mengganggu semesta alam. Orang-orang ahli aku yakin akan merasa penasaran jika mendengarkan dan mencium aroma dari pil yang aku persiapkan." sebelum memulai masa pengolahan pil, Wisanggeni menyampaikan pesan pada Pangeran Abhiseka.
"Lakukanlah Wisang.. Hilangkan kekhawatiranmu, dengan adanya SInga Ulung dan dua pengawalku, sepertinya cukup bagiku untuk melindungimu. Kita sudah menjadi seorang saudara, bukan hanya hubungan kita sebagai seorang teman. Aku akan mengerahkan semua ilmu kanuraganku untuk melindungimu.., percayalah padaku!" sambil tersenyum, Pangeran Abhiseka mencoba menenangkan Wisanggeni.
Melihat keseriusan di mata Pangeran Abhiseka, Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setelah memastikan semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah tersedia, Wisanggeni memeluk Pangeran Abhiseka.
"Pangeran.., tidak akan mudah kali ini untuk menjagaku. Perasaanku mengatakan, akan banyak para ahli yang berdatangan ke tempat ini, aku titip keselamatanku padamu saudaraku.." dengan perasaan haru, Wisanggeni berpesan pada Pangeran Abhiseka, dan laki-laki itu menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan Wisanggeni.
Tanpa melihat lagi ke belakang, setelah memastikan keseriusan Pangeran Abhiseka untuk menjaganya, Wisanggeni segera bergegas memasuki gua. Menatap mata Singa Ulung yang terus memandangnya, dan tersenyum sambil menganggukkan kepala. Wisanggeni segera masuk ke dalam. Melihat batu pipih yang sudah disiapkan oleh Andhika dan Jatmiko, Wisanggeni tersenyum puas. Segera laki-laki itu duduk bersila, dan mengeluarkan peralatan dari dalam kepisnya.
Merasa hanya memiliki beberapa tetes esensi dari energi ular, Wisanggeni sangat berhati-hati untuk menuangkannya ke dalam tempat yang sudah dia persiapkan. Dengan cepat, menggunakan tenaga dalamnya, Wisanggeni menyalakan api kecil dan mempertahankan dalam nyala yang stabil. Dengan menambahkan aura batinnya, Wisanggeni harus menjaga agar api itu tetap menyala, dan tidak lama kemudian bahan-bahan obat itu sudah tercampur dan kering menjadi bubuk beraroma harum.
__ADS_1
***********