Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 236 Latihan menuju Dewasa


__ADS_3

Mendengar peringatan yang diteriakkan Chakra Ashanka, kedua laki-laki itu tertawa. Mereka mengira putra Wisanggeni itu hanya membuat perkataan besar. Mengesampingkan temannya yang masih terduduk di tanah, kedua orang menerjang maju dan menyerang anak laki-laki itu. Mleihat dua laki-laki itu maju menerjangnya, Chakra Ashanka bergeser ke samping dan memundurkan kaki satu langkah ke belakang.


"Clap..., clap...." sebuah lemparan pisau kecil mengarah pada Chakra Ashanka, dan hanya menggunakan punggung tangannya, anak laki-laki itu mengelakkan serangan.


"Clang.., clang..." pisau yang bertubi-tubi menyerah ke arahnya, dengan cepat terpental di tanah. Kedua mata laki-laki penyerangnya itu terbelalak, menyaksikan Chakra Ashanka yang hanya menggunakan tangan untuk menangkis serangan. Tetapi mereka berpikir jika hal itu hanya merupakan sebuah kebetulan saja.


"Apakah kamu pikir bisa mengelabuiku bocah tengil.., terimalah ini.." tiba-tiba salah satu dari anak laki-laki itu sudah menggumpalkan energi di atas kedua tangannya yang ditangkupkan. Matanya tajam menatap Chakra Ashanka.., kemudian dengan senyum mengejek...


"Hekk...., bluarr..." gumpalan energi dilemparkan ke arah Chakra Ashanka, dan tanpa diduga dengan gesit tubuh putra Wisanggeni itu melompat ke atas, dan diam di atas dengan tersenyum datar pada laki-laki yang mengirimkan serangan kepadanya.


"Keluarkan terus apa yang sudah kamu pelajari Ki Sanak..., aku sudah memperingatkan kepadamu. Aku masih senang bermain-main dneganmu, tetapi jangan tunggu sampai kamu melewati batas bawahku. Tidak akan ada lagi ampunan untukmu bertiga.." Chakra Ashanka menunjuk ketiga anak laki-laki itu satu persatu. Anak laki-laki yang sudah merasakan tenaga Chakra Ashanka pertama kali, tetap duduk di atas tanah dan sedikitpun tudak berani menatap anak laki-laki yang tersenyum kepadanya. Tetapi dua anak laki-laki lainnya, masih penasaran dan terlihat jumawa menunjukkan kemampuan dan kanuragan yang mereka punya.


"Sayogyo...., kita kurung anak kecil yang sombong itu menggunakan ajian roda besi...!" tiba-tiba satu anak laki-laki yang berdiri di belakang Chakra Ashanka berteriak mengajak temannya. Mendengar hal tersebut, Chakra Ashanka hanya tersenyum menanggapinya. Matanya melirik ke arah anak laki-laki yang ada di depannya, anak itu mengeluarkan sebuah bulatan besi dengan diberi tali untuk pegangan, Tidak lama kemudian, anak laki-laki tersebut memutar-mutar besi tersebut, semakin cepat, cepat, dan cepat..

__ADS_1


Tdiak diduga..., tiba-tiba putaran besi yang tidak terlihat secara kasat mata tersebut semakin mendekat ke tubuh Chakra Ashanka, baik dari depan maupunĀ  dari belakang. Putra Wisanggeni kembali tersenyum, kemudian mundur satu langkah ke belakang, dan membalikkan badannya. Tiba-tiba..


"Siuuwww...., sreeettt..." tidak diduga, kedua tangan Chakra Ashanka merentang ke samping kanan dan kiri. Tali pengikat bola besi dari kedua anak laki-laki itu, tahu-tahu sudah berada dalam genggaman tangan Chakra Ashanka sambil memejamkan matanya. Tanpa ampun, anak laki-laki itu membenturkan kedua bulatan besi itu menjadi satu.


"Klang..., klang..., klang... duarrr..." di bawah tatapan heran dan ketakutan ketiga anak laki-laki itu, kedua bulatan besi itu hancur di tangan Chakra Ashanka. Kedua anak laki-laki yang semula menatap dengan jumawa ke arah Chakra Ashanka, keduanya jatuh terduduk ke belakang dengan tatapan jatuh ke arahnya.


Sambil tersenyum, Chakra Ashanka membuang bulatan besi yang sudah hancur tersebut, kemudian berjalan mendekat pada ketiga anak laki-laki tersebut. Ketiga anak laki-laki yang semula terlihat Jumawa dan penuh kesombongan itu, tiba-tiba bersujud dan membenturkan dahi mereka ke atas tanah..


"Ampuni kami KI Sanak..." ketiga anak laki-laki itu memohon ampun pada Chakra Ashanka.


************


Merasa sudah kalah bertarung dengan Chakra Ashanka, laki-laki yang bernama Sayogyo mengajak Chakra Ashanka untuk mampir di kedai minuman. Mereka akan membayari semua pesanan yang dilakukan Chakra Ashanka dan anak laki-laki yang tadi sudah dihajar oleh ketiga anak tersebut. Orang-orang yang melihat pertarungan mereka mulai menyingkir, membuka jalan untuk mereka lewat di tempat tersebut.

__ADS_1


Dari sudut kedai, terlihat Wisanggeni dan Rengganis yang ternyata ikut mengamati pertarungan mereka, tersenyum sambil menikmati kudapan sore dan minuman jahe serai hangat. Keduanya tersenyum dan saling menganggukkan kepala. Sebenarnya sejak awal Chakra Ashanka memasuki lokasi, keduanya sudah melihatnya. Tetapi karena ingin memberi bekal untuk putra mereka, keduanya memutuskan hanya mengamati saja dari tempat yang tidak begitu jauh.


"Bagaimana Akang..., kemajuan untuk putra kita Chakra Ashanka..?" dengan bangga, Rengganis bertanya pada Suaminya. Mendengar pertanyaan itu, Wisanggeni mengangkat cangkir kemudian meminumnya beberapa teguk, dan kembali meletakkan cangkir di atas meja.


"Tidak perlu untuk diragukan lagi Nimas...., Akang sangat percaya dengan kemampuan yang Nimas miliki. Sejak kita kecil, aku selalu berada di belakangmu dalam hal adu kekuatan. Garis keturunan Jagdklana memang tidak bisa dianggap remeh, dan Akang senang jika garis tersebut menurun pada putra kita Chakra Ashanka." Wisanggeni tidak menjawab pertanyaan Rengganis, tetapi malah memberi pujian pada istrinya itu.


"Akang memang selalu begitu, merendah dan tidak pernah mau sombong. Ayo Akang.., kita ikuti kemana putra kita pergi, Nimas tidak mau kehilangan lacak ada dimana putra kita berada!" tiba-tiba Rengganis mengajak Wisanggeni untuk mengikuti Chakra Ashanka. Tetapi herannya, Wisanggeni malah mengambil pisang rebus, kemudian membuka kulit dan mulai menggigitnya.


"Kenapa malah makan pisang Akang...? Kita bisa kehilangan jejak putra kita." dengan penuh rasa heran, Rengganis bertanya pada suaminya.


"Nimas.., sudahlah. Kita menikmati sore hari dulu disini, bukannya kita sudah lama tidak menghabiskan waktu duduk berdua seperti ini. Biarkan Chakra Ashanka, berlatih untuk mencari seorang teman, dan menyelesaikan sendiri masalah yang ditemuinya. Hal itu akan membuatnya menjadi lebh dewasa dalam menghadapi setiap permasalahan. Jikapun putra kita sampai terluka, anggap saja itu merupakan harga yang harus kita bayar. Dengan terluka, Chakra Ashanka akan bisa merasakan rasa sakit, dan akan berusaha untuk mencari penyembuhnya." dengan tenang, Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis. Akhirnya meskipun masih dengan dilandasi rasa khawatir, tetapi Rengganis bisa memaknai perkataan yang diberikan oleh suaminya.


"Baiklah Akang..., kali ini Nimas ikut pendapat Akang. Tetapi jika sampai dua dupa kita tidak melihat putra kita kembali, maka kita harus menyusulnya Akang. Nimas sedikit khawatir, karena ini kali pertama putra kita berhubungan dengan lingkungan luar tanpa pengawasan dari kita secara langsung." Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepala menanggapi perkataan Rengganis.

__ADS_1


***************


__ADS_2