
Parvati memasuki pendhopo di pesanggrahan Trah mahesa, dengan diikuti oleh Achala, Gadis itu merasa tidak percaya, dan terjawab sudah rasa gelisah yang baru saja dirasakanya. Ibunda Rengganis dan kakang Chakra Ashanka tersenyum menyambut kedatangannya. Ibunda Rengganis merentangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, dan tanpa memperhatikan kanan dan kiri, Parvati berlari dan masuk dalam rengkuhan Rengganis.
"Putriku.., kamu sudah semakin tinggi dan semakin cantik. Ibunda kangen padamu Parvati.." Rengganis mengusap-usap punggung putrinya itu sambil memeluknya erat. Pandangan Rengganis tertuju pada anak muda gagah yang sejak tadi tersenyum melihatnya sedang memeluk Parvati. Rengganis mencoba untuk mengingat-ingat wajah anak muda itu, dan setelah mengingatnya..
"Kakang Achala putra paman Aji dan Bibi Larasati..., betapa gagahnya kamu saat ini nak.." perlahan Rengganis melepaskan pelukannya pada Parvati. Achala dengan sikap yang sangat sopan, menghampiiri Rengganis dan memberikan ciuman di punggung tangan perempuan itu.
"Ijin Achala memberikan salam Bibi.. selamat datang di pesanggrahan Trah Mahesa. Semoga keselamatan dan kesejahteraan selalu melimpahi kita semuanya." dengan tutur kata yang halus dan sopan, Achala memeberikan salam kepada Bibinya itu.
"Kakang.. ternyata kita sudah tidak muda lagi. Lihatlah putra dan putri kita, juga keponakan-keponakan sudah lajang semuanya. Kita harus berhati-hati untuk memberikan pengawasan pada mereka semuanya." Rengganis mengajak bicara pada Lindhu Aji.
"Ha.. ha.. ha..., benar apa katamu Nimas Rengganis. Sepertinya akan menjadi erat dan akrab lagi, jika kita bisa menjadi saudara besan." Lindhu Aji menanggapi perkataan Rengganis.
"Besan..., kang Aji terlalu banyak berpikir. Kita berkumpul sebagai saudara saja, untuk menjadi keluarga besan, sepertinya masih terlalu dini. Biarkan putra putri kita lebih luas untuk mengembangkan sayapnya, banyak gadis dan jejaka di luaran sana yang sudah menunggu untuk putra dan putri kita mempersuntingnya." Rengganis kurang menyetujui perkataan yang disampaikan oleh kakang iparnya itu. Wisanggeni dan Larasati hanya tersenyum mendengarnya,
"Benar.., benar apa yang Nimas Rengganis katakan. Saya juga sependapat dengan perkataan yang diucapkan Nimas Rengganis." dari kursi samping, Larasati turut berbicara. Mendengar obrolan yang sedikit menyinggung posisi mereka, Achala menjadi malu. Laki-laki itu menundukkan kepala ke bawah, dan merasa malu atas perasaan yang pernah berkelebat dalam pikirannya sejak tadi. Pesona Parvati sudah membuai dan memabukkannya, tetapi dengan cepat laki-laki muda itu menguasai kembali perasaannya. Chakra Ashanka seperti dapat memahami apa yang dirasakan saat ini oleh saudara sepupunya itu.
__ADS_1
"Kakang Achala... kenalkan dua gadis temanku ini. Ayodya Putri dan Sekar Ratih nama mereka, kesinilah Nimas Putri dan Nimas Ratih.." Achala mengalihkan pembicaraan. Anak muda itu memanggil kedua gadis yang datang bersamanya, dan mengenalkan pada Achala.
Achala menoleh dan dengan bibir mengulum senyum, anak muda itu dengan sopan mengenalkan dirinya pada kedua gadis teman dari Chakra Ashanka itu. Sejak tadi, Chakra Ashanka mengedarkan pandangan mengelilingi tempat itu. Seperti ada yang dicari dan dinantikan oleh anak muda itu.
"Apa yang kamu lihat Ashan.. apakah kamu sedang menunggu seseorang cucuku.?" Ki Mahesa yang sejak tadi tersenyum bahagia dalam kebersamaan ini, mengamati perilaku cucu-cucunya,
"Iya kakek... sejak tadi Ashan belum melihat keberadaan paman Widjanarko dan Bibi Kinara, juga putranya. Apakah beliau berdua sedang tidak ada di pesanggrahan ini kakek..?" anak muda itu dengan cepat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kakeknya.
"Hmmm.., benar apa yang kamu katakan cucuku. Paman dan Bibimu serta kakak sepupumu sedang dalam perjalanan. Mereka mendapatkan kabar tentang keberadaan kedua orang tua Bibi Kinara yang sudah sejak lama terpisah dengan Bibimu. Saat ini mereka sedang menempuh perjalanan untuk mencocokkan hal tersebut." dengan suara yang santun, Ki Mahesa menanggapi perkataan Chakra Ashanka.
**********
Beberapa anak muda yang lain sedang bermain dan berbincang dengan para anak muda yang ada di pesanggrahan itu, tidak dengan Chakra Ashanka. Anak muda itu sedang berada di sudut pendhopo ditemani oleh ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis. Paman Lindhu Aji dan Bibi Rengganis, juga kakek Mahesa terlihat berada dalam perbincangan tersebut.
"Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan pada ayahnda putraku.., ibundamu baru sedikit menyampaikannya. Ceritakan sendiri, disini ada paman juga kakek yang ikut memberikan petuah dan petunjuk kepadamu." dengan suara pelan, Wisanggeni menanyakan pada putranya.
__ADS_1
"Baik ayahnda.. petuah dari keluarga memang yang Ashan butuhkan saat ini. Sebenarnya jujur, dari dalam hati Ashan merasa kebingungan dan gunda. Apakah memang putra ayahnda ini akan memiliki kemampuan untuk menjalankan semua amanah ini." Chakra Ashanka memulai pembicaraan.
"Raden Bhadra Arsyanendra pangeran dari kerajaan Logandheng, sudah beberapa saat berada di perguruan Gunung Jambu. Ashan yakin, ayahnda juga sudah mengetahuinya bukan, yang sampai mohon maaf .. telah meminta korban ibunda Maharani." anak muda itu terdiam sejenak, keharuan dan rasa sesak seakan mencekat tenggorokannya. Tiba-tiba apa yang akan diungkapkannya itu, telah mengingatkan anak muda itu dengan kehadiran ibunda Maharani.
Melihat keadaan yang melingkupi putranya saat ini, Rengganis segera mendekat pada Chakra Ashanka. Perempuan itu memberikan usapan lembut di punggung anak muda itu, sampai putranya kembali menguasai perasaannya.
"Apakah sudah terasa lebih baik putraku.., jika sudah lanjutkan apa yang ingin kamu sampaikan. Namun.., jika belum sanggup, istirahatlah dulu. Masih banyak waktu untuk menyampaikannya." dengan suara pelan, Rengganis menguatkan hati putranya.
"Ashan kuat ibunda.. Ayahndra.. paman.., bibi.., dan kakek. Raden Bhadra memintaku untuk mendampinginya memimpin kerajaan Logandheng dengan menjadikan Ashan sebagai patih kerajaan, yang juga sekaligus sebagai Senopati Kerajaan. Dan keinginan itu sudah disampaikan oleh Raden Bhadra pada pemimpin kerajaaan saat ini. Itulah yang membuat hati Ashan kacau ayahnda.. putra ayah belum merasa memiliki kemampuan untuk menjalankan amanah itu." setelah beberapa saat, akhirnya Chakra Ashanka mampu menceritakan hal yang mengganjal di hatinya selama ini.
Lindhu Aji dan Larasati tersenyum, sebagai seorang yang menjalankan kegiatan operasional Trah Bhirawa, kekuasaan dan nama besar selama ini sangat lekat dengan kehidupannya sehari-hari. Tawaran bagus yang diberikan kepada keponakannya itu, sangat menggiurkan untuk diterima. Sedangkan Ki Mahesa, pikiran laki-laki tua itu seperti menerawang jauh, dan dengan pikiran sebagai orang tua, pemikirannya mesti jauh berbeda dengan yang ada di pikiran putra-putranya.
"Bagaimana ayahnda.. apakah ayahnda bisa memberikan tutur untuk mengudari keruwetan dalam pemikiran cucu Chakra Ashanka?" Wisanggeni pertama kali menanyakan pertimbangan pada ayahndanya.
"Cucuku.. gemerlap dunia, kemewahan.., sebenarnya bukan merupakan tujuan utama manusia dalam menjalani hidup di dunia. Tetapi di satu sisi, harus ada orang yang mau untuk menjalankan titah dan posisi tersebut, agar roda kehidupan manusia terus berputar." dengan suara pelan, tutur kata mulai keluar dari mulut Ki Mahesa.
__ADS_1
"Yang terpenting untukmu cucuku Chakra Ashanka. Tujuan utamamu untuk mengabdi bukan di dasarkan pada tujuan yang tadi kakek telah ungkapkan di atas, Tujuan untuk memberikan pelayanan, pengabdian dengan sikap asah, asih, dan asuh kepada siapapun, itulah menjadi hal yang terpenting. Bisakah cucuku memahami kata-kata yang kakek sampaikan?" laki-laki tua itu melanjutkan kalimatnya.
*************