Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 342 Mendapatkan Pengawalan


__ADS_3

Baru saja kedua anak muda itu selesai membersihkan tubuh mereka dengan berendam dalam bak kayu, pintu kamar tempat mereka beristirahat diketuk dari luar. Tanpa banyak bicara, kedua anak muda itu hampir bersamaan membuka pintu kamar. Kebetulan pengawal menyiapkan dua kamar berdampingan untuk mereka berdua.


"Ada apa paman.., apakah kita sudah siap untuk berangkat sekarang juga?" begitu membuka pintu, terlihat pengawal berdiri di luar pintu kamar kedua anak muda itu. Bhadra Arsyanendra langsung bertanya kepadanya.


"Seperti yang sudah kami utarakan tadi Raden Bhadra. Prajurit ayahnda sudah siap untuk memberikan pengawalan atas pulangnya Raden kembali ke dalam istana. Para pelayan sudah menyiapkan semuanya untuk kedatangan Raden, kami harap Raden Bhadra dan Den Bagus Ashan segera bersiap dan mengikuti kami." dengan tutur kata yang sopan, pengawal menyampaikan maksud keinginannya.


"Apakah tidak terlalu mencolok dan berlebihan paman? Bukannya paman tahu, bagaimana keadaan kerajaan Logandheng saat ini. Raja sudah digantikan, dan kerajaan terus terjadi perang saudara. Apakah dengan menyiapkan prajurit untuk memberikan pengawalan kepadaku, tidak akan menjadi ketertarikan orang-orang pada kedatanganku." tidak mau menimbulkan kehebohan atas kedatangannya, Bhadra Arsyanendra menyiratkan penolakan dalam kalimat yang diutarakannya,


Chakra Ashanka tersenyum mendengar perkataan kedua orang itu. Dalam hatinya, anak muda itu membenarkan pelayanan yang diberikan oleh pengawal dan para prajuritnya. Tetapi juga tidak bisa menyalahkan bocah kecil itu, karena setahunya sejak anak muda itu mengenal Bhadra Arsyanendra, bocah kecil itu memang kurang menyukai sambutan yang terlihat menggemparkan. Chakra Ashanka merasa jika saat ini, bukan waktunya untuk mengeluarkan pendapat.


"Bagaimana menurutmu kakang Ashan?" tiba-tiba Bhadra Arsyanendra mengajukan pertanyaan pada anak muda itu.


"Bukan kewenangan saya untuk menjawabnya Raden Bhadra. Tanyakan pada para pengawal dan prajurit, mungkin dengan menuruti anjuran mereka, dapat menjadikan hati mereka menjadi lebih setia pada Raden Bhadra." Chakra Ashanka tersenyum kecut, anak muda itu asal bicara.


"Jangan tolak permintaan kami raden Bhadra. Obati kerinduan hati kami, untuk memberikan pelayanan pada keluarga mendiang raja. Marilah ikuti kami.." tidak diduga, kedua pengawal itu menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai, membuat permohonan pada bocah kecil itu.

__ADS_1


Orang-orang yang berada di penginapan itu, dengan penuh tanda tanya melihat ke tempat kejadian itu. Mereka saling berpandangan, dan saling menduga satu sama yang lainnya. Tiba-tiba tanpa disadari, pemilik penginapan datang dari luar penginapan. Rupanya orang itu melihat keberadaan beberapa prajurit kerajaan, dan juga kereta kencana yang ada di luar penginapan, menjadikan orang itu bertanya-tanya. Melihat keberadaan kedua pengawal yang duduk bersimpuh di depan Bhadra Arsyanendra dan Chakra Ashanka, pasangan suami istri itu segera bergegas menghampiri mereka. kedua orang itu tiba-tiba menjatuhkan kaki di lantai, dan mengikuti pengawal berlutut di depan Bhadra Arsyanendra.


"Maafkan kami Pangeran.., maafkan kami yang tidak mengenali keberadaan Pangeran di penginapan kami. Sebagai rakyat kerajaan Logandheng, kami merindukan ketenangan dan kedamaian kerajaan ini kembali. Sama seperti ketika raja masih memimpin kerajaan." pasangan suami istri itu membuat permintaan yang tidak terduga,


Tidak mau terjadi kehebohan di dalam penginapan itu, Bhadra Arsyanendra segera mengangkat pundak laki-laki yang bersimpuh di depannya.


"hentikan perilaku kalian paman, baiklah aku akan segera jengkar dari tempat ini. Aku akan mengikuti paman untuk kembali ke kerajaan." setelah berhasil membuat pasangan suami istri itu berdiri, Bhadra Arsyanendra langsung melangkah keluar dari tempat itu. Bocah kecil itu tidak menginginkan suasana di penginapan menjadi ramai, dan semakin mengumumkan tentang kedatangannya kembali ke kerajaan Logandheng.


Tanpa banyak bicara, Chakra Ashanka dan kedua pengawal kerajaan, segera mengikuti langkah kaki pangeran keluar meninggalkan penginapan.


**********


Mata Chakra Ashanka terbelalak melihat banyak orang sudah berdiri di depan penginapan, dan ketika melihat kehadiran Bhadra Arsyanendra, mereka serempak menjatuhkan lutut mereka di atas tanah memberikan penyambutan pada bocah kecil itu. Bhadra Arsyanendra memalingkan muka ke belakang, meminta penjelasan dari kedua pengawalnya, namun kedua orang itu pura-pura tidak melihat kepadanya.


"Selamat datang kembali di kota Logandheng Pangeran.. Kami menantikan kedatangan Pangeran kembali untuk membawa kembali kejayaan dan kedamaian di kerajaan ini kembali." orang-orang itu menyampaikan kata-kata harapan, sama dengan yang diucapkan oleh pemilik penginapan.

__ADS_1


Bocah kecil itu mengangkat tangannya ke atas, mencoba menghentikan penyambutan dari rakyat kota Logandheng kepadanya. Namun, warga masyarakat masih menundukkan wajahnya tidak berani untuk mengangkat wajahnya ke atas.


"Wahai rakyat kerajaan logandheng, hentikan harapan kalian kepadaku. Aku hanyalah seorang bocah, tidak layak untuk mendapatkan penyambutan dan permintaan setinggi ini dari kalian semua. Kembalilah berdiri, dan beri aku jalan untuk menuju ke kereta kencana yang sudah menungguku sejak tadi. Aku tidak bisa berjanji, tetapi aku akan mencoba berusaha untuk mengembalikan kedamaian di kerajaan ini kembali." merasa bingung untuk menangani orang-orang itu, akhirnya Bhadra Arsyanendra menyampaikan kalimat tersebut.


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh bocah kecil itu, terlihat wajah orang-orang yang berada disitu seperti sudah mendapatkan suatu pengharapan. Mereka yang merasa menghalangi jalan Raden Bhadra Arsyanendra menuju kereta kencana, segera mereka bergeser memberikan jalan untuk lewatnya ke empat orang itu. Chakra Ashanka segera mengikuti bocah kecil itu menuju kereta tanpa banyak bicara.


"Hidup Pangeran Bhadra..., Hidup Pangeran Bhadra..." begitu raden Bhadra memasuki kereta kencana, banyak warga masyarakat mengelu-elukan bocah kecil itu, mengiringi kepergiannya. Untuk menyenangkan hati mereka. bocah kecil itu melambaikan tangannya.


"Cepat bawa kami pergi dari tempat ini paman. Jujur.., aku tidak menyukai keadaan seperti ini. Aku ingin jalan dimanapun tanpa ada yang mengenaliku." melihat kusir kereta kencana masih terdiam, Bhadra Arsyanendra segera meminta kusir itu untuk menjalankan keretanya.


"Baik Pangeran.., segera saya berangkatkan." mendengar perkataan yang diucapkan bocah kecil itu, kusir kereta segera mencambuk pelan kudanya. Perlahan kuda itu mulai berjalan, dan prajurit berjalan mengikuti di belakangnya. Terlihat iring-iringan panjang pada sepanjang jalan yang mereka lewati. Warga masyarakat semakin berkerumun ke pinggir jalan, karena sudah jarang melihat pemandangan seperti itu. Beberapa waktu sebelumnya, iring-iringan pasukan yang melewati tempat itu, menunjukkan prajurit yang akan maju berperang. Tetapi iringan kali ini berbeda.


"Raden.., tidak aku sangka ternyata pesonamu sangat luar biasa di kerajaan ini." setelah sejak tadi diam tidak berbicara, Chakra Ashanka memberikan bocah kecil itu pujian sambil tersenyum.


"Apakah kakang Ashan berpikir aku menyukainya? Aku tidak menyukai hal itu kakang, aku ingin berjalan dengan bebas tanpa ada yang dapat mengenaliku." dengan tatapan tidak suka, Bhadra Arsyanendra menanggapi pujian yang dilontarkan Chakra Ashanka.

__ADS_1


"He.., he.., he.. tetapi sepertinya itu tidak akan bisa Raden. Terimalah takdir yang sudah digariskan kepadamu. Jalanilah dengan kerelaan, tanpa keluhan, agar semuanya bisa menjadi berkah." Chakra Ashanka tertawa kecil, mmemberi dukungan pada bocah kecil itu.


**********


__ADS_2