Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 57 Aku Menyayangimu


__ADS_3

Ketiga orang itu berpandangan di depan petugas jaga sebuah penginapan. Petugas jaga baru saja menyampaikan jika kamar untuk disewa tinggal satu kamar saja. Padahal saat ini mereka bertiga, dengan dua perempuan, dan satu laki-laki. Sedangkan penginapan itu merupakan satu-satunya yang ada di kota itu.


"Bagaimana menurut Akang, kita akan mengambil kamar ini ataukah kita menginap di rumah penduduk?" tanya Rengganis pada Wisanggeni.


"Untuk Akang tidak masalah Nimas Anis. Kita tetap ambil satu kamar untuk bertiga, aku pastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan kita. Akang juga pernah waktu di hutan, aku hanya tinggal berdua dalam satu gua dengan Nimas Larasati. Kami bisa menjaga diri kami dengan baik, dan tidak ada yang terjadi antara kami berdua." tanpa sadar, Wisanggeni menceritakan saat dia bersama Larasati tinggal dalam satu gua.


"Apa tadi yang barusan Akang bicarakan? Kenapa baru saat ini Akang menceritakan hal itu dengan Rengganis." dengan raut muka tidak senang, Rengganis bicara dengan nada sedikit tinggi.


Mendengar perkataan Rengganis, Wisanggeni baru tersadar jika dia sudah salah bicara. Selama ini dia bisa merahasiakan hal itu dengan gadis itu, tetapi hari ini dia terlupakan.


"Nimas.., mungkin kemarin-kemarin aku lupa menceritakan hal ini. Karena aku pikir, juga tidak ada manfaatnya kan kalau aku cerita  dari dulu. Nah.., kebetulan untuk saat ini, sepertinya agak nyambung jika aku baru menceritakannya sekarang. Iya kan.., ayolah jangan marah! Nanti cantiknya akan kabur dibawa angin lho, kalau marah-marah terus." Wisanggeni cengar-cengir memegang jari-jari tangan Rengganis. Dia seperti terlupakan, saat ini sedang berada dimana. Laki-laki muda itu mencium jari-jari Rengganis menggunakan bibirnya. Dengan ekspresi jengkel. Niken melengos tidak mau melihat pada dua orang yang tidak tahu diri itu.


"Tapi Akang harus janji.., tidak ada lagi hal seperti itu di masa depan." sahut Rengganis yang langsung terlihat senang,  saat melihat Niken melengos melihat perlakuan yang diberikan Wisanggeni padanya.


Dengan manja, Rengganis langsung menggayut manja di bahu laki-laki muda itu. Sedangkan seperti biasanya, Wisanggeni hanya garuk-garuk kepala melihat sikap kedua perempuan yang ada di sampingnya itu. Mereka terlihat seperti seorang laki-laki yang memiliki dua istri, dimana masing-masing istrinya selalu berusaha untuk berlomba memenangkan hatinya.


"Pak.., kamarnya jadi kami ambil ya! Jika masih ada, kami minta tambahan satu lagi ranjang untuk kami beristirahat." ucap Wisanggeni yang langsung mengambil kamar tersebut untuk mereka.


"Mohon maaf Tuan.., kebetulan untuk ranjang tambahan semuanya juga sudah habis disewa oleh para penginap lainnya. Itupun kamar yang ada hanya memiliki satu ranjang ukuran besar." kata petugas menjelaskan. Dalam hati, Niken merasa bahagia karena dia membayangkan jika laki-laki muda itu akan keliru untuk memeluknya saat mereka sedang tidur bertiga. Tanpa sadar, perempuan putri pemimpin Klan Suroloyo itu senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana Nimas Rengganis menurutmu? Apakah kita akan tetap ambil atau bagaimana?" tanya Wisanggeni meminta pendapat dari Rengganis.


Rengganis menghela nafas perlahan, akhirnya dengan ekspresi yang kurang senang,


"Sudahlah tidak apa-apa. Aku ingin segera tidur diatas ranjang itu." sahut perempuan itu.


Mendengar Rengganis sudah menyetujuinya, Wisanggeni segera maju ke dekat petugas jaga. Setelah melengkapi data terlebih dulu, dan membayar biaya penginapan yang ternyata sudah dibayar oleh Niken, petugas jaga memberikan kunci untuk masuk ke dalam kamar.


 


**************


"Kang Adji..., apakah Akang sudah mendapatkan kabar tentang keberadaan Kang Wisang?" Larasati menanyakan kabar Wisanggeni pada Lindhuaji. Laki-laki putra kedua dari Ki Mahesa memang diperintahkan oleh Wijanarko untuk mengawasi klan baru  dari Bhirowo yang dikumpulkan oleh adiknya Wisanggeni.


"Belum Nimas Laras.., untuk apa kamu menanyakan keberadaan adikku? Saat ini dia sedang bepergian dengan didampingi oleh kekasih hatinya, sepertinya tidak akan ada masalah dengan mereka berdua. Apalagi mereka berdua juga sudah dewasa, dan jika terjadi sesuatu maka sudah berpikir sisi positif maupun negatifnya." sahut Linduadji sambil tersenyum. Dia sengaja memanasi hati Larasati, karena  dalam hatinya muncul ketertarikan padanya.


Seperti yang diduga Linduadji, gadis itu tiba-tiba cemberut memonyongkan bibirnya. Laki-laki itu menjadi gemas melihatnya, dia ingin meraup bibir itu dengan bibirnya.


"Kenapa Nimas Laras..., apa yang terjadi dengan bibirmu. Kenapa tiba-tiba aku melihatnya seperti menjadi maju, kira-kira apa ada nyamuk yang sudah menggigitnya." Linduadji menggoda gadis itu.

__ADS_1


"Kang Adji nyebelin." sahut Larasati cepat, dia langsung berdiri  dan bermaksud untuk meninggalkan laki-laki itu sendiri. Tapi Linduadji bergerak lebih cepat, tangannya langsung menangkap tangan Larasati dan menariknya lebih dekat ke tubuhnya. Dalam sekejap, tubuh Larasati sudah menjadi satu dengan tubuhnya.


Mereka bertatapan sejenak, mata Linduadji serasa menyelami apa yang ada di hati gadis itu. Muncul getaran-getaran halus di hati laki-laki itu, demikian juga dengan Larasati. Berada dalam posisi intim dengan laki-laki itu membuat jantungnya seperti berdegup kencang. Tanpa disadari oleh Linduadji, laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Larasati, dan sedikit mengangkat tubuh gadis itu ke atas.


"Lupakan Wisanggeni Nimas..., bukalah hatimu untukku!" bisik Linduadji di telinga Larasati, yang menjadikan tubuh gadis itu menjadi merasa aneh. Dia merasa gemetar sesaat, dan saat dia tersadar,  Larasati memundurkan badannya untuk menjauh dari kakak kedua Wisanggeni.


Tetapi belum sampai kakinya menapak dengan benar, bibir Linduadji sudah terlebih dulu mendarat di atas bibirnya. Muka Larasati muncul semburat merah, dia tidak menyangka ciuman pertamanya telah dicuri oleh kakak laki-laki dari orang yang dia rindukan untuk menjadi kekasih hatinya. Karena terkejut dengan kejadian tiba-tiba di depannya, Larasati tanpa sadar membuka sedikit bibirnya. Dengan penuh rasa senang, Linduadji seperti mendapatkan kesempatan untuk berpetualang lebih jauh ke bibir gadis itu. Dengan cepat lidahnya masuk dan mempermainkan lidah gadis itu.


"Kang.., uuhhh..., hentikan!" tanpa disadari, terlepas lenguhan dari mulut Larasati. Gadis itu seperti mendapatkan sensasi yang baru dia rasakan. Mulutnya berbisik untuk minta dihentikan, tetapi dia terlihat menikmati  ciuman yang diberikan Linduadji untuknya.


Ciuman kedua orang itu berlangsung cukup lama, dan saat bibir gadis itu sudah menjadi tebal, Linduadji baru melepaskannya. Dengan muka merah, Larasati berusaha untuk kembali melepaskan tubuhnya dari Linduadji. Tetapi laki-laki itu menahan dan tidak mengijinkan perempuan itu untuk melarikan diri darinya.


"Aku menyayangimu Nimas.., jadilah pengantinku!" bisikan Linduadji kembali mengisi telinga Larasati.


Larasati tidak berani menatap ke mata Linduadji secara langsung, dia menundukkan kepalanya. Saat ini dia juga merasa bingung dengan perasaannya. Dia merindukan Wisanggeni, tapi menikmati apa yang diberikan oleh laki-laki yang masih dengan erat memeluknya.


 


********************

__ADS_1


__ADS_2