
Untuk menjaga omongan dari para penghuni padhepokan yang lain, karena Wisanggeni sudah memberi tahu pada semua penghuni jika Dananjaya merupakan calon suami dari Parvati, Rengganis menempatkan dua anak muda itu di markas padhepokan di luar bukit. Kedua anak muda itu yaitu Arya dan Dananjaya syukurnya mereka mau menerima keputusan itu tanpa keberatan, dan malah mengucapkan terima kasih pada kedua orang tua Parvati. Dengan mereka berada di luar padhepokan utama, kedua anak muda itu bisa menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan peresmian hubungan Dananjaya dengan Parvati.
"Tidak perlu merasa tidak enak Bibi.. dengan berada di padhepokan bagian luar, kita berdua malah memiliki kebebasan untuk menyiapkan diri. Karena dari pihak keluarga kami yang berada di bumi Sriwijaya, akan mengirimkan sesuatu untuk kami berdua. Meskipun mereka belum bisa datang, tetapi mereka mendukung keputusan Danan.." dengan menatap mata calon ibunda mertuanya, Dananjaya menerima keputusan itu.
Rengganis tersenyum mendengar jawaban yang diucapkan oleh Dananjaya, padahal sebelum mengutarakannya, perempuan itu memiliki sedikit keraguan. Rengganis khawatir jika pembedaan perlakuan itu, akan menyinggung perasaan kedua anak muda itu, sehingga perempuan itu menyampaikannya dengan hati-hati.
"Jika begitu, mungkin sebelum senja datang, kalian harus segera bersiap untuk meninggalkan tempat ini nak mas. Bukannya tempat ini kemudian tidak boleh kalian datangi, namun ada beberapa etika yang perlu kita pahami bersama. Di saat pagi atau siang hari, kalian berdua bisa datang sebebas-bebasnya ke tempat ini, namun jika hari sudah memasuki senja, maka kalian berdua harus segera kembali ke padhepokan luar." sambil tersenyum, Rengganis kembali menegaskan materi yang disampaikannya.
"Baik Bibi.. kami berdua akan mentaatinya untuk menjaga pandangan dan pembicaraan dari pihak yang tidak tahu. Karena hari hampir memasuki senja Bibi.. ijinkan kamu berdua untuk kembali ke padhepokan luar." menyadari jika warna jingga di langit, sebagai pertanda jika senja sudah akan datang, Arya segera berpamitan pada calon ibunda mertua rayinya itu.
"Pergilah nak mas.. Bibi tidak bisa mengantar kalian sampai di depan." Rengganis segera menanggapi kedua anak muda itu. Perempuan cantik ibunda dari Nimas Parvati itu tersenyum melihat ke arah dua anak muda itu.
Laki-laki itu kemudian berdiri dan mengajak rayinya Dananjaya untuk segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Namun belum sampai mereka melangkahkan kaki, dari arah dalam terlihat Parvati datang dengan membawakan sebuah bungkusan di tangannya.
__ADS_1
"Kang Arya.. kang Danan.. apakah kalian berdua sudah akan kembali ke padhepokan luar..?" Parvati yang sudah berdiri di depan dua laki-laki muda itu bertanya pada mereka.
"Iya Nimas.. lihatlah, senja sudah akan datang. Langit di ufuk barat sudah berwarna jingga, kami harus segera kembali ke padhepokan.." dengan ramah, Arya menanggapi pertanyaan dari Parvati.
"Benar kakang.. jika begitu bawalah bungkusan ini bersama kalian. Isi dari bungkusan ini adalah kudapan yang bisa kalian nikmati selama berada di padhepokan. Karena di padhepokan luar, tidak ada pelayan yang akan melayani kalian. Dan Nimas.. juga tidak bisa sewaktu-waktu untuk berkunjung kesana, ada tata krama dan etika yang harus Nimas patuhi sebelum Nimas dan kang Danan betul-betul mengikat janji.." Parvati dengan malu-malu mengulurkan bungkusan, dan Dananjaya segera menyambut uluran tangan dari calon istrinya itu.
"Kami berdua memahaminya Nimas.. tidak perlu terlalu mengkhawatirkan kami berdua. Kita akan menunggu sampai di saat, takdir kita akan berjalan." Dananjaya menanggapi perkataan gadis itu sambil tersenyum.
*******
Menjelang hari Setu Legi.. suasana di padhepokan Gunung Jambu bagian dalam terlihat semarak. Upacara pasang tarub diikuti dengan pemasangan bleketepe, yakni dekorasi berupa anyaman daun kelapa tua sudah dilakukan. Prosesi ini dilakukan secara simbolis oleh orang tua calon mempelai perempuan yaitu dilakukan oleh Wisanggeni, dengan didampingi para sesepuh dan istrinya Rengganis. Bleketepe dibuat dari anyaman daun kelapa hijau berukuran 50 hingga 200 centimeter, dan dihiasi dengan pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa, daun beringin, dan juga janur kuning. Maksud pemasangan bleketepe mempunyai makna sebagai ajakan bagi para tamu untuk ikut serta dalam hajatan dengan hati yang suci. Selain itu, dengan memasang bleketepe, diharapkan segala kemungkinan yang tidak diinginkan akan hilang, dan sebagai tanda bahwa akan ada perkawinan yang akan dijalankan di padhepokan tersebut.
"Tampak begitu meriah ayahnda.. apakah hal ini wajib dilakukan oleh semua orang ayahnda.. ataukah hanya oleh kita saja..?" merasa bingung dengan tata cara yang dilakukan keluarganya, Chakra Ashanka bertanya pada ayahndanya Wisanggeni.
__ADS_1
"Tidak wajib sebenarnya putraku.. dan juga tidak biasa dilakukan jika kita sebagai pihak dari pengantin laki-laki. Tetapi untuk mangayubagyo pengantin perempuan yaitu Nimas Parvati, dan Nimas Sekar Ratih.. ayahnda dan ibunda sepakat untu menyiapkannya. Agar padhepokan ini menjadi terlihat semarak.." ucap Wisanggeni sambil tersenyum. Karena tanpa sepengetahuan putra putrinya, Wisanggeni telah memberi tahu keluarga di Trah Bhirawa, dan juga mengundang pihak kerajaan Laksa dan Logandheng. Meskipun laki-laki itu tidak begitu berharap, karena mendadaknya acara, mereka akan datang menghadiri undangan tersebut, namun tidak salah jika dia menyiapkannya.
"Budaya kita memang sarat dengan hal-hal seperti ini ya ayah.. semoga semua orang selalu nguri-nguri budaya ini. Sehingga tidak akan lekang oleh waktu. Terima kasih ayahnda, ibunda.. hanya itu yang bisa Chakra Ashanka haturkan kepada kalian berdua.." dengan mata berkaca-kaca, Chakra Ashanka tidak mampu mengutarakan apa yang dirasakannya.
Anak muda itu membungkukkan badannya ke bawah, dan melakukan sungkem pada ayahndanya WIsanggeni. Tanpa disadarinya air mata mengalir membasahi kelopak mata dan bulu mata laki-laki itu. Dengan penuh keharuan, Wisanggeni mengangkat tubuh putra laki-lakinya kemudian memeluk erat Chakra Ashanka. Beberapa saat mereka menghabiskan waktu dalam kebisuan.
"Kita harus segera kembali ke pendhopo Ashan.. ibunda dan Nimas Parvati, serta Nimas Ratih pasti sudah menunggu kita untuk makan siang. Bersihkan air matamu, tidak pantas kamu bersedih dalam persiapanmu untuk menghabisi masa lajangmu. Kamu harus menyambutnya dengan kesenangan dan kebahagiaan.." Wisanggeni menasehati putranya.
"Baik ayahnda.. maafkan Ashan yang sudah terbawa suasana. Kita memang harus segera kembali.." menggunakan pucuk bajunya, Chakra Ashanka membersihkan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di kelopak matanya.
Setelah semua bersih dan siap, kedua laki-laki yaitu ayahnda dan putranya segera berjalan meninggalkan tempat itu. Keduanya langsung menuju ke pendhopo, dan terlihat tiga perempuan sudah menunggu kedatangan mereka.
**********
__ADS_1