
Wisanggeni dan Rengganis segera menyusuri jalan setapak seperti terowongan yang mengarah ke dalam bendungan. Tiba-tiba laki-laki itu meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya, kemudian tangan Wisanggeni bergerak cepat saat melihat dua orang berjalan mendekati mereka.
"Krekk.., aaaaw.." tidak mau memperpanjang urusan, leher kedua orang itu langsung dipatahkan oleh Wisanggeni. Mereka terus berjalan masuk melewati sebuah lorong, terdengar suara grojogkan air di sekitar mereka. Rengganis menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat sebuat putaran seperti baling-baling mengatur pembagian air. Air yang sudah melewati baling-baling diarahkan ke lima sisi. Tetapi ada dua sisi yang diberi hambatan agar air tidak keluar, dan dua sisi mengarah ke wilayah Jagadklana yang selama ini sebagai pemasok kebutuhan pangan di wilayah tersebut.
"Kang Wisang.., lihatlah dua sisi itu!! Nimas yakin.., dua wilayah itu adalah wilayah Kersan dan Mojayan, dan dua wilayah itu selama ini menjadi penghasil pangan terbesar di negeri ini. Nimas tidak membayangkan, dengan disumbatnya air menuju ke wilayah tersebut, bagaimana kondisi pertanian di wilayah itu." Rengganis prihatin melihat kondisi itu, dengan cepat dia mengadukan permasalahan itu pada suaminya.
Wisanggeni melihat ke arah yang ditunjukkan Rengganis, setelah melakukan pengamatan sebentar, kedua tangan laki-laki itu segera membuat simbol. Setelah muncul pusaran angin berbentuk bola di tangannya, Wisanggeni mengarahkan pusaran tersebut ke penyekat yang membatasi aliran air.
"Kekuatan Pasupati..., ...Duarr..., pyarrr..." terdengar suara ledakan saat serangan Wisanggeni diarahkan ke penyekat tersebut. Air yang semula hanya terbagi ke lima sisi, sekarang tersebar ke tujuh sisi aliran.
Wisanggeni memundurkan tubuhnya sambil menarik Rengganis, saat telinganya mendengar beberapa orang berlari ke arah situ. Dengan cepat mereka bersembunyi, sambil melihat keadaan.
"Apa yang terjadi..., apakah kalian mendengar?" teriak seorang laki-laki bertanya pada temannya yang lain. Beberapa orang kemudian mendatangi tempat suara berasal, dan saat melihat dua sisi pembatas air sudah jebol..
"Bangsat.., ulah siapa ini?? Cari orangnya.., tidak mungkin sisi penyekat itu bisa jebol sendiri jika tidak ada yang menghancurkannya!!" sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya, orang itu memerintah teman-temannya.
"Ayo kita menyebar..!" teriak yang lainnya. Tetapi belum sampai mereka bisa pergi dari situ, sebuah sabetan selendang memangkas leher mereka. Rengganis dengan berani berdiri menghalangi mereka, dengan mengobat-abitkan selendang yang dia pegang di tangan kanannya.
__ADS_1
"Aaaaawww...., siapa kamu.. Akhh.?" beberapa orang yang tadi berlari ke arah situ, semuanya sudah terkapar dengan bersimbah darah.
Wisanggeni langsung menarik tangan Rengganis, mereka semakin masuk ke area dalam. Di depan mereka, terlihat sebuah ruangan yang lumayan besar. Setelah memberi kode pada istrinya, kedua orang itu segera memasuki ruangan tersebut. Mereka berhenti di depan pintu, karena terdengar suara beberapa orang yang sedang berbicara di dalam ruangan.
"Bagaimana rencana kita, apakah wilayah Kersan dan Mojayan masih membelot pada Gusti Laksito??" suara laki-laki bertanya pada temannya.
"Ternyata mereka masih tidak mau mendukung kita. Bahkan.., beberapa anak muda sudah berlatih, dengar-dengar mereka akan melepaskan diri dari Jagadklana. Kemarin anak buahku sudah mencuri dengar, pada waktu mereka berembug di pendhopo." teman yang lain menanggapi pembicaraan itu.
"Padahal panen mereka sudah mengalami kegagalan, rupanya lumbung-lumbung penyimpan hasil panen mereka, masih banyak terdapat bahan pangan."
"Jika begitu.., kirim orang-orang kita untuk membakar lumbung-lumbung mereka. Kita tidak akan membiarkan orang-orang di wilayah itu untuk bertahan hidup, karena akan dapat merembet ke wilayah lain di Jagadklana. Bisa-bisa akan banyak wilayah yang memisahkan dan berdiri sendiri."
"Jlegurr.... byarrrr...." bangunan di depan Wisanggeni dan Rengganis berdiri tiba-tiba hancur. Belum sempat mereka berdua mencari tahu, Singa Resti sudah menghampiri mereka berdua, dan membawanya ke atas.
"Ssshhh...., sssssssh..." suara naga dan ular mendominasi di bendungan. Wisanggeni tersenyum, melihat Maharani memimpin gerombolan naga menghancurkan bendungan dengan tubuh mereka yang besar. Orang-orang yang sedang berembug di dalam ruangan, segera menjadi bulan-bulanan naga-naga tadi. Dalam sekejap, bendungan itu hancur lebur, dan air kembali meluap ke segala arah.
************
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada satupun orang yang selamat dari serangan naga, Wisanggeni menganggukkan kepala pada Maharani. Dengan cepat, naga itu melata naik ke pinggir daratan, dan setelah berada di daratan tubuh naga itu berubah menjadi seorang gadis muda yang cantik. Rengganis melompat dari punggung Singa Resti. kemudian menghampiri Maharani yang sudah berubah bentuk. Putri Ki Sasmita itu mengulurkan tangan pada Maharani, dan dengan cepat kedua gadis itu sudah melompat ke punggung Singa Resti kembali.
"Kita akan menuju ke pusat kota Nimas.." Wisanggeni mengajak Rengganis berbicara, sambil menepuk Singa Resti. Binatang itu segera menurut pada perintah laki-laki itu, dengan membawa tiga orang di punggungnya, Singa Resti segera melesat menuju pusat Jagadklana.
Beberapa saat di angkasa, mata tajam Wisanggeni melihat pergerakan orang-orang Ki Sasmita yang dibawa ketiga saudara sepupunya sudah memasuki kota. Laki-laki itu tersenyum, kemudian memberi kode pada Singa Resti untuk menurunkan mereka. Segera Singa Resti menukik turun, dan menginjakkan kakinya sekitar lima puluh meter di belakang orang-orang Sentono.
"Terima kasih Resti.., istirahatlah atau carilah SInga Ulung!" ucap Wisanggeni lirih ke telinga binatang itu. Singa Resti mengangguk-anggukkan kepala, kemudian kembali terbang ke angkasa. Rengganis dan Maharani tersenyum melihat kelucuan binatang itu.
Ketiga orang itu berjalan ke depan mengikuti orang-orang yang ada di depannya. Melihat Sentono dan Gayatri yang sedang duduk membicarakan sesuatu, Wisanggeni mengajak dua istrinya menghampiri mereka.
"Ternyata kalian sudah menyusul kemari Wisang.., aku dan Gayatri sedang membicarakan strategi untuk besok pagi." Sentono melihat kedatangan Wisanggeni, kemudian berdiri dan menghampiri mereka.
"Iya Akang.., Nimas. Kami berencana akan menghancurkan orang-orang Laksito saat dini hari. Aku yakin, banyak di antara mereka yang masih terlelap, sehingga kita bisa mengirimkan serangan pada mereka tanpa ada halangan yang berarti." Gayatri menjelaskan rencana mereka besok pagi.
"Aku setuju dengan kalian, aku sendiri yang akan memimpin kalian langsung. Aku sangat hafal sudut-sudut pesanggrahan.." Rengganis langsung menimpali ucapan Gayatri. Merasa pendapat Rengganis ada benarnya, Wisanggeni tidak melarang. Laki-laki itu malah menganggukkan kepala, tanda jika dia menyetujuinya.
Kelima orang itu segera bergabung, mereka membicarakan teknis saat mereka melakukan penyerangan. Orang-orang Niluh yang berada di belakang mereka, akan menjadi gelombang susulan untuk melumpuhkan kekuatan Laksito. Dan puncaknya adalah munculnya Ki Sasmito bersama dengan orang-orang yang setia padanya.
__ADS_1
**************