
Setelah satu minggu proses mandi dengan berendam rempah racikan Wisanggeni, Ki Brahmono mulai merasakan peredaran darahnya agak lancar. Laki-laki tua itu memiliki harapan baru untuk penyembuhannya, karena tabib nomor satu yang ada di kota ini yaitu A Siong saja tidak memberikan kontribusi apapun untuk proses penyembuhannya. Untuk menghilangkan titik-titik kunci penghambat aliran darahnya, malam hari dilakukan ritual minum pil pelancar darah yang dibuat oleh laki-laki muda itu juga. Di dalam pendopo, tiga orang tetua, Bisma, Niken ikut mendampingi proses pengobatan yang dilakukan.
"Akang sudah siap untuk proses pengobatan malam ini?" Rengganis yang selalu mendampingi Wisanggeni turut berada di pendopo tersebut. Sedikitpun dia tidak pernah memberi kesempatan pada Niken untuk mendekati pujaan hatinya.
"Sepertinya akang sudah siap Nimas. Kamu tidak perlu mengalirkan energimu padaku, sudah ada tiga tetua dari Klan ini yang siap untuk memberikan aliran energi untuk kesembuhan Ketua Klannya." Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis.
"Apakah akang percaya dan tidak khawatir dengan sesepuh yang duduk di dekat pintu itu? Dia itu yang mendampingi Niken datang ke Klan Bhirowo, dan dengan arogannya berbicara tentang pemutusan hubungan pertunangan antara Kang Wisang dengan Niken." bisik Rengganis di telinga Wisanggeni, matanya melirik tajam dengan salah satu tetua Klan Suroloyo.
Wisanggeni tersenyum, kemudian menyentil hidung Rengganis.
"Ki Lukito ya maksudmu? Lupakan kejadian itu Nimas! Aku sendiri sudah melupakannya, jangan jadikan rasa dendam menguasai diri kita, akan lebih banyak dampak negatif daripada positifnya." Wisanggeni memberi nasehat pada Rengganis.
Tingkah mereka berdua, tidak lepas dari penglihatan orang-orang yang berada di pendopo itu. Muka Niken merah menahan malu, dan juga rasa jengkel di dalam hatinya. Tetapi karena keberadaan mereka saat ini di pendopo, adalah untuk pengobatan ayahndanya, dia hanya menelan kekecewaan itu, dan dengan cepat dia mengendalikan perasaannya. Ki Brahmono tanpa bicara, melihat perubahan reaksi dari putrinya.
"Baik.., semua orang sudah berkumpul di ruang pendopo ini. Kami sebagai tetua di Klan ini akan menanyakan pada Nak Wisanggeni, kapan pengobatan akan dimulai?" salah satu tetua Klan yang bernama Ki Ismaya bertanya pada Wisanggeni.
"Iya nak Wisanggeni, semoga Nak Wisang tidak mencampur adukkan dendam di masa lalu untuk memberikan pengobatan pada Ki Brahmono?" tiba-tiba Ki Lukito, sesepuh yang mengantar Niken saat membatalkan pertunangan ikut bicara.
__ADS_1
Mendengar perkataan salah satu sesepuh klannya, Ki Brahmono mengerenyitkan dahinya. Dia merasa tidak tahu arah yang mereka bicarakan. Sedangkan muka Niken terlihat merah padam, sudah sejak awal dia berusaha menutupi siapa Wisanggeni di hadapan ayahndanya, tetapi kali ini tanpa dia kira sedikitpun, Ki Lukito sudah membukanya di depan Ki Brahmono.
"Paman Lukito terlalu banyak berpikir. Leluhur saya tidak pernah mengajarkan pada kami untuk memelihara rasa dendam, pada siapapun. Bahkan pada musuh, apalagi hanya masalah anak-anak yang pernah Ki Lukito timbulkan pada Klan kami." dengan bijaksana dan senyuman hangat, Wisanggeni membalas ucapan Ki Lukito dengan sarkasme.
"Kang Wisang..., apakah Akang akan tetap melanjutkan pengobatan ini? Melihat dari gelagatnya, Anis terlalu malas berhubungan dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa asih sedikitpun. Bahkan ucapan terima kasih, tidak kita dapatkan disini." dengan rasa marah, Rengganis berbicara pada Wisanggeni. Laki-laki muda itu, meletakkan tanganya di punggung Rengganis, memintanya untuk mengendalikan diri.
"Sebentar.., sebentar.., apa yang kalian bicarakan ini? Apakah aku sebagai pemimpin Klan Suroloyo, ada yang kalian sengaja sembunyikan dari kami? Sejak kapan juga, anggota dari Klan ini berani menimbulkan masalah dengan Klan sebesar Jagadklana." dengan penuh tanda tanya, Ki Brahmono meminta penjelasan. Tatapan matanya diarahkan pada tiga sesepuh yang berada disitu.
"Maafkan Niken ayah..! Ini semua salah Niken yang belum bisa berpikir secara bijaksana." Niken langsung menanggapi pertanyaan ayahndanya.
Suasana di pendopo mendadak menjadi tenang, tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Isak tangis Niken tiba-tiba muncul, kemudian gadis itu berjalan ke depan dan bersimpuh di kaki Ki Brahmono.
"Maafkan Niken..., kang Wisang adalah putra ketiga dari Ki Mahesa pemimpin Klan Bhirowo ayah! Karena keserakahan dan obsesi Niken, yang saat itu mendengarkan petunjuk dan arahan dari Ki Lukito, tanpa memberi tahu ayah kami berangkat ke Klan tersebut untuk memutuskan pertunangan antara kami." dengan menangis kencang, Niken mencium kedua kaki Ki Brahmono.
Laki-laki tua itu terhenyak dan kaget, dia langsung mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya lagi. Dia menyandarkan punggung ke sandaran kursi di belakangnya. Beberapa saat kembali suasana hening terjadi di pendopo itu.
"Paman Brahmono..., saya sebagai putra dari sahabat paman Ki Mahesa, akan mengajukan pertanyaan pada paman. Jika ada keraguan pada diri paman, untuk mendapatkan pengobatan dari saya, maka ijinkanlah saat ini juga, saya dan Nimas Rengganis untuk melanjutkan perjalanan kami! Tetapi jika paman ingin lanjut, maka kami berdua akan meneruskan pengobatan ini, dan menunda keberangkatan kami menuju Gunung Baturetno." tiba-tiba terdengar suara Wisanggeni memecah kesunyian, dia memberikan dua pilihan pada laki-laki tua pemimpin Klan itu.
__ADS_1
"Ada tidaknya rasa dendam dalam diri saya, mungkin paman Brahmono bisa menyimpulkan dari semua tindakan yang saya berikan untuk paman. Sebenarnya saya dan Nimas Rengganis sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan informasi keadaan dari ayah Ki Mahesa, yang ditahan oleh Alap-alap. Tetapi di tengah perjalanan, kami mendapatkan selebaran yang berisi tentang penyakit yang Paman Brahmono derita. Karena memiliki sedikit kemampuan untuk melakukan theraphy pengobatan, dan melihat bagaimana hubungan almarhum ibunda saya dengan Klan ini, maka kami mencoba peruntungan ini." lanjut Wisanggeni dengan suara tegas.
"Lanjutkan Nak Wisang..., dan saya sebagai pemimpin Klan serta orang tua yang tidak becus mendidik putri saya, maafkan kesalahan saya! Tidak ada satu orangpun dalam Klan ini, yang bisa meragukan niat baikmu untuk mengobati saya. Ki Mahesa dan ibundamu telah berhasil mendidikmu sebagai seorang laki-laki yang memiliki sikap andhap asor, dan lembah manah. Sekali lagi aku mengaku kalah." dengan sikap ksatria, Ki Brahmono meminta Wisanggeni untuk melanjutkan pengobatannya, dan juga mengajukan permintaan maaf.
"Ki Lukito, Ki Ismaya, Ki Barata..., aku perintahkan pada kalian untuk bersikap sopan dan menghargai tamu kita! Jangan ada yang berani menyinggung keduanya, atau bahkan menyebabkan ketidak nyamanan mereka di Klan ini! Jika aku menemukan informasi, apa yang aku larangkan dilanggar, maka sebagai pemimpin Klan Suroloyo, aku tidak akan segan-segan untuk mengusir kalian. Nimas Niken.., kembalilah ke kamarmu sekarang juga, dan renungkan semua kesalahanmu di masa lalu!"
*****************
__ADS_1