Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 430 Pilihan dan Tugas Berat


__ADS_3

Di kerajaan Laksa


Chakra Ashanka dan Bahdra Arsyanendra sudah menjalankan tugas-tugas kerajaan dengan saling membahu. Hal ini menimbulkan harapan cerah dari para perangkat maupun punggawa kerajaan. Gambaran seorang raja dan patih, yang jarang terjun langsung pada kegiatan operasional kerajaan, sangat bertentangan dengan apa yang mereka lihat dan ada di depan mereka. Dari pagi sampai hampir menjelang malam, kedua anak muda itu tidak henti memanggil dan meminta laporan dari para bawahan. Beberapa punggawa dan perangkat yang memiliki harapan besar untuk kerajaan, mereka sangat bergembira dan menyambut baik hal tersebut. Namun.. para perangkat sisa-sisa peninggalan raja terdahulu, mereka merasa tidak memiliki ruang gerak dan waktu istirahat.


"Tarik pulang semua prajurit yang ada di garis perang. Tidak akan ada manfaat untuk mereka, kecuali hanya membawa penindasan pada masyarakat. Saatnya kita kali ini harus berbenah, membenahi tatanan kerajaan yang sudah jauh dari kepemimpinan raja dan para punggawa, yang bisa membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyat kerajaan ini." suara Chakra Ashanka terdengar menggema di tempat diselenggarakannya acara pertemuan semua perangkat.


Para punggawa terkejut mendengar keberanian dari anak muda itu, yang dirasa terlalu berani menyerobot hak berbicara raja Logandheng. Tetapi pikiran buruk mereka seketika buyar, melihat bagainama reaksi yang ditunjukkan oleh Raja Bhadra Arsyanenda. Raja yang masih berusia muda itu, terlihat hanya melemparkan senyum pada semua yang hadir di pagelaran. Tidak ada sedikitpun, wajah reaksi keberatan mendengar perkataan Chakra Ashanka.


"Tetapi jika semua ditarik ke kota kerajaan, apakah itu tidak akan membahayakan posisi perbatasan kerajaan Kanjeng Patih. Harap.. Kanjeng Patih berhati-hati dengan perintah atau pernyataan yang dikeluarkan. Selayaknya titah, perintah, pernyataan pada saat seperti ini disampaikan oleh Kanjeng SInuhun..." salah satu punggawa memotong perkataan Chakra Ashanka.


Semua yang ada di pagelaran terkejut melihat keberanian punggawa tersebut, dan mengalihkan pandangan mereka ke arah punggawa yang bicara. Tetapi di luar dugaan, sedikitpun tidak terlihat ada riak kemarahan atau rasa kesal pada diri Chakra Ashanka. Anak muda itu tetap tersenyum dan melihat ke arah punggawa yang sudah berani menyampaikan pendapatnya.


"Sudah berapa lama, kamu duduk sebagai punggawa kerajaan, sehingga menelan mentah semua yang aku utarakan. Penarikan dilakukan secara besar-besar, namun masih perlu adanya penjagaan di tiap-tiap perbatasan oleh sekelompok kecil orang-orang kita. Menurutku.. karena selain mendapatkan keluhan dan laporan dari rakyat kebanyakan, dimana banyak prajurit kerajaan yang malah menikmati posisi mereka ketika berada di perbatasan. Beberapa kali, aku juga sempat melihatnya sendiri." Chakra Ashanka memberi tanggapan atas perkataan punggawa di bawahnya.


"Maksud Kanjeng Patih..?" punggawa yang bertanya merasa bingung.

__ADS_1


"Huh... perampasan, meminta pelayanan istimewa dari warga masyarakat di sekitar tempat mereka berada, bahkan tidak jarang melakukan penjarahan atau pemaksaan pada gadis-gadis sangat sering terjadi dan dilakukan. Meskipun hal itu tidak selalu dilakukan oleh semua prajurit, tetapi hampir kebanyakan dari mereka melakukannya. Apakah kata-kataku salah.." Chakra Ashanka mempertegas pernyataannya,


Punggawa kerajaan itu terkejut, sebagai punggawa yang sering melakukan perjalanan menyambangi para prajurit, laki-laki itu tahu persis apa yang terjadi di perbatasan, atau ketika mereka merangsek masuk ke kerajaan lain. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan merupakan sebuah hiburan untuk mengurangi ketegangan. Tetapi mereka tidak pernah berpikir tentang dampak yang terjadi di belakang mereka.


"Ingat para punggawa kerajaan semuanya.. Jangan pernah kalian membantah dan meragukan perkataan yang disampaikan oleh Patih Chakra Ashanka. Semua kata-kata yang diucapkannya, sekaligus merupakan perintah bagiku. Untuk siapapun, yang berani mengabaikan atau bahkan membuat sebuah tindakan untuk menjatuhkannya, maka aku sendiri yang akan memberi kalian teguran, atau bahkan hukuman.." mendengar keributan kecil di depan, tiba-tiba Raja Bhadra Arsyanendra menegaskan pernyataan Chakra Ashanka.


"Baik.. sendiko Kanjeng Prabu..." akhirnya semua punggawa menyepakati apa yang diucapkan oleh Patih Kerajaan,


Orang-orang yang menghadiri pertemuan itu, akhirnya membagi diri dan membentuk kelompok kecil untuk meneruskan perintah yang disampaikan patih kerajaan mereka. Raja Bhadra Arsyanendra tersenyum pada Chakra Ashanka, kemudian mengajak Patih kerajaan itu untuk keluar dari perhelatan tersebut.


*******


Raja Bhadra Arsyanendra dan Chakra Ashanka terlihat sedang duduk menikmati minuman jahe panas, dengan ditemani beberapa kudapan yang disajikan oleh juru masak Kraton. Keduanya sering melakukan hal-hal kecil itu, mencoba menenangkan pikiran dengan berbicara bersama sebagai seorang teman, bukan sebagai seorang raja dan patih kerajaan.


"Bagaimana rencanamu ke depan kang Ashan.. jujur kang, aku sendiri sudah merasa bosan dengan apa yang aku hadapi setiap hari. Posisi sebagai raja ini seperti menawanku.. membuat pagar yang membatasiku dengan dunia kebebasan.." Bhadra Arsyanendra berkeluh kesah pada anak muda yang duduk di depannya itu.

__ADS_1


"Huh.. Bhadra.., Bahdra.. Kamu yang dilahirkan dari keturunan kerajaan saja, selalu berkeluh kesah seperti ini di depanku. Apakah kamu tidak berpikir.. bagaimana denganku..? Sejak lahir, keluargaku selalu memberiku kebebasan untuk kami, dan kami tinggal di lingkungan bebas, bahkan tidak jarang kami berada di hutan. Namun.. kali ini, baru beberapa hari dan minggu berada di kerajaan ini.." Chakra Ashanka menghentikan kata-katanya. Dalam hatinya, seperti ada yang melarang untuk melanjutkan kata-kata itu. Semua yang terjadi dalam kehidupannya saat ini, diyakininya sebagai sebuah ketetapan, sebuah takdir dari Hyang Widhi.


"Iya Kang Ashan... aku juga tidak membayangkan jika berada dalam posisimu. Tetapi memang kita harus menjalaninya kakang, dan tanpamu aku tidak akan dapat melakukan apa-apa." sambil tersenyum kecut, Bhadra Arsyanendra akhirnya mencoba berdamai dengan kerajaan.


Kedua anak muda itu tampak menerawang, tidak jelas apa yang saat ini ada di pikiran mereka. Seperti ada beban yang berat yang menimpa di pundak mereka berdua. Bahkan mereka seperti tidak menyadari, ketika Sekar Ratih dan Ayodya Putri sedang berjalan ke arah mereka.


"Nimas Ratih.. apakah kita tetap akan mendatangi kang Ashan.. Lihatlah... sepertinya Raja Bhadra Arsyanendra sedang terlibat pembicaraan penting dengan Kang Ashan..?" Ayodya Putri menghentikan langkahnya, gadis itu merasa ragu untuk menemui Chakra Ashanka,


"Kalau tidak.. apakah kamu mau, hanya berdiri di tempat ini, atau kembali ke wisma kaputren Nimas Putri..?" Sekar Ratih balik bertanya pada gadis di sampingnya itu.


Ayodya Putri menggelengkan kepalanya sambil matanya melihat pada dua anak muda yang sedang menerawang itu. Sekar Ratih tersenyum, kemudian meletakkan tangannya di pundak Ayodya Putri,.


"Ayo kita datangi mereka.. Apakah kamu melupakan bagaimana kebiasaan mereka berdua. Tidak akan mungkin Kang Ashan maupun Raja Bhadra akan membawa permasalahan kerajaan ke kraton ini. Mereka sedang berbicara seperti seorang teman dan sahabat." Sekar Ratih berjalan lebih dulu, meninggalkan Ayodya Putri.


**********

__ADS_1


__ADS_2