
Setelah memberikan pelatihan pada penduduk desa, dan mereka sudah terbiasa kembali menjalani kehidupan sehari-hari, Wisanggeni dan Rengganis berpamitan untuk pergi. Untuk menjaga agar penduduk tersebut dapat menjalani kehidupan tanpa gangguan, Wisanggeni menugaskan anak buahnya yang berupa ular untuk menjaga desa baru tersebut. Dini hari, saat orang-orang masih terlelap dia dan Rengganis sudah berada di atas punggung Singa Ulung meninggalkan desa,
"Akang.., kita akan langsung pergi kemana?? Ke tempat kang Wijanarko untuk menemui ayahnda ataukah ada tempat yang ingin Akang tuju?" tanya Rengganis pada Wisanggeni.
"Benar katamu Nimas..., Akang ingin mencari bahan-bahan obat dulu di kota, sekalian kita berkunjung ke Klan Bhirawa yang sekarang dibawah pengawasan Kang Lindhuaji dan Nimas Larasati." ucap Wisanggeni.
"Ehm.., apakah benar Akang, itu tujuanmu yang sebenarnya? Ataukah bukan karena Akang ingin bertemu dengan Nimas Larasati saja?" Rengganis bertanya dengan nada sarkasme. Menyadari jika api cemburu mulai membakar gadis yang saat ini sudah menjadi istrinya itu, sebuah kecupan basah diberikan Wisanggeni di leher belakang Rengganis.
"Cupp.." sebuah tanda merah langsung muncul di tengkuk Rengganis.
"Akhh Akang nakal..," Rengganis mencubit paha Wisanggeni. Melihat reaksi istrinya, Wisanggeni memutar sedikit wajah istrinya, dan ciuman dalam dia berikan pada gadis itu.
"Auuuuummmm.." tiba-tiba SInga Ulung mengaum panjang.
"He.., he.., he.., iya kawan. Kami tidak melakukan apa-apa diatas punggungmu. Yah.., hanya bermain-main sedikit saja untuk menghilangkan penat." ucap Wisanggeni pada Singa Ulung.
"Makanya lihat-lihat tempat, jika mau melakukan sesuatu." bisik Rengganis malu.
*************
Di sebuah kedai makan, yang juga menyewakan kamar untuk penginapan, Wisanggeni dan Rengganis duduk di salah satu meja yang ada disitu. Mereka memutuskan untuk istirahat, setelah beberapa hari terbang di atas langit. Singa Ulung seperti biasa sudah berubah bentuk menjadi seekor kucing yang manis.
"Permisi Den.., ini minuman dan makanan pesanannya. Silakan dinikmati, jika masih ada tambahan menu yang lain, silakan panggil saya kembali Den.." pelayan kedai makan menyajikan menu yang mereka pesan.
__ADS_1
Melihat makanan dan minuman kesukaannya, Rengganis langsung mengambil dan menuangkannya di atas piring. Tanpa menunggu Wisanggeni, gadis itu langsung mencicipi makanannya.
"Pelan-pelan Nimas.., tidak ada yang akan meminta makananmu." Wisanggeni mengusap sudut mulut Rengganis yang belepotan saat makan.
"Habis masakannya enak banget Akang.., kenapa Akang belum mulai makan?" tanya Rengganis bingung.
"Sudah.., Nimas nikmati saja dulu. Akang baru menikmati minuman panas ini, nanti baru mulai makan, agar cita rasa minuman ini tidak hilang." kata Wisanggeni sambil menyesap minuman dari gelasnya.
Baru saja Wisanggeni meletakkan gelas, dan akan mulai menyendok makanannya, matanya menangkap ada dua orang datang dengan mendapatkan pengawalan beberapa orang di belakangnya. Dahinya berkerut melihat siapa perempuan yang bersama dengan laki-laki itu, tetapi kenapa yang berdiri di sampingnya adalah laki-laki yang terlihat sudah berumur.
"Ada apa kang, apa yang sedang Akang lihat?" melihat perubahan ekspresi muka Wisanggeni, Rengganis langsung bertanya.
"Nimas.., telan dulu makananmu. Jika sudah, tengoklah ke belakang sebentar, Akang seperti mengenali perempuan itu. Tetapi siapa laki-laki tua di sampingnya itu?" ucap Wisanggeni lirih.
Rengganis mengikuti apa yang disampaikan Wisanggeni, perempuan itu pura-pura memanggil pelayan untuk datang. Setelah memastikan siapa perempuan itu, Rengganis kembali menghadap ke Wisanggeni.
Wisanggeni menganggukkan kepala, matanya terus berusaha mengikuti kemana Wulan berdiri. Tiba-tiba matanya berbenturan dengan tatapan Wulan padanya. Perempuan itu ternyata bisa mengenali Wisanggeni, dia langsung menutup mulutnya. Wisanggeni tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tanpa diduga, Wulan mendatangi Wisanggeni di meja makan tempatnya duduk.
"Wisang.., benarkah ini kamu?" tanya Wulan dengan mata berkaca-kaca.
"Iya Wulan.., ini aku. Lupakah kamu padanya?" Wisanggeni berdiri, dan menyalami Wulan adik sepadhepokan saat masih di Klan Bhirawa. Laki-laki muda yang dulu sempat kehilangan kekuatannya itu, memegang pundak Rengganis.
"Benarkah ini kalian semua? Nimas Rengganis, Wisanggeni.., akhirnya aku bisa bertemu dengan saudara-saudaraku lagi. Wisang..., keluarga kita sudah bercerai berai. Bahkan ayahndaku menjadi korban saat Alap-alap menyerbu ke padhepokan kita." Wulan menangis tersedu.
__ADS_1
"Tenanglah Wulan.., siapa yang datang bersamamu barusan? Saat ini dia sedang memandangi kita, kamu tidak mau kan, banyak orang mengira jika kita adalah pasangan selingkuh." Wisanggeni menggoda Wulan yang langsung memeluk Wisanggeni tanpa memperhatikan sekitar. Rengganis yang jengkel melihat sikapnya,, berusaha memaklumi apa yang telah perempuan itu lakukan.
Wulan kembali menegakkan badannya, dia kemudian kembali ke tempat laki-laki separuh baya yang bersamanya. Tidak lama kemudian, Wulan membawa laki-laki itu bersamanya menemui Wisanggeni dan Rengganis.
"Kakang.., kenalkan ini saudara Wulan satu padhepokan di Klan Bhirawa, demikian juga dengan gadis ini. Nimas Rengganis dari Trah Jagadklana, tetapi pernah tinggal bersama di padhepokan Jagadklana. Dan ini adalah suami Wulan.., kenalkan namanya Kangmas Lukito." Wulan mengenalkan Wisanggeni dan Rengganis pada suaminya.
Lukito menggenggam kedua tangannya dan meletakkan di depan dada sebagai tanda memberi salam. Rengganis dan Wisanggeni melakukan hal yang sama. Mereka akhirnya bergabung menjadi satu meja makan,
***********
Malam hari, Wulan duduk dengan Wisanggeni di depan kamar mereka. Rengganis memutuskan untuk istirahat sendiri di kamar, karena ingin membiarkan kedua saudara itu saling menceritakan pengalaman mereka.
"Jadi itu Kang.., yang menjadikan alasanku untuk menerima lamaran dari Kangmas Lukito. Saat itu, kami tercerai berai, dan aku terdampar di sebuah kota yang tidak ada satupun orang yang aku kenal. Keadaan saat itu sangat kacau, bahkan ayahnda sampai terbunuh." Wulan terisak saat menceritakan kembali kejadian saat gerombolan Alap-alap menyerang Klan Bhirawa.
Wisanggeni mengambil nafas dalam, kemudian mengeluarkannya kembali.
"Tenangkan dirimu Wulan. Gerombolan Alap-alap memang sudah membuat resah. Ikutlah denganku, Klan Bhirawa sudah berdiri kembali, dan saat ini dikelola oleh Kang Lindhuaji. Beberapa waktu lalu, aku sempat mengumpulkan sisa-sisa orang dari Klan kita, kemudian aku tampung di kota Laksa." kata Wisanggeni.
"Aku harap, meskipun ada perbedaan jauh usiamu dengan suamimu Wulan, tetap perlakukan suamimu layaknya suami, jangan berpikir untuk meninggalkannya." tambah Wisanggeni menasehati Wulan.
"Tidak Akang.., meskipun suami Wulan sudah berusia tua, tetapi dia sangat menyayangiku. Kami juga sudah memiliki seorang putri, yang saat ini kami tinggalkan bersama dengan pengasuhnya di rumah. Aku akan setia mendampinginya Akang." sahut Wulan.
"Syukurlah kalau begitu. Hari sudah semakin larut, istirahatlah Wulan. Pikirkan dan bicarakan dengan suamimu, apakah kamu akan mengikuti kami bertemu dengan saudara-saudara kita, ataukah akan kembali untuk bertemu dengan putrimu. Aku pamit dulu, kasihan Rengganis.., dia beristirahat sendiri di kamar." Wisanggeni berpamitan pada Wulan.
__ADS_1
"Iya Wisang.., aku juga akan kembali menemani suamiku." Wulan kemudian berjalan meninggalkan Wisanggeni.
*************