Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 243 Warisan Energi


__ADS_3

Luapan energi yang mengalir dari tangan Ki Widjanarko terus mengalir. Perlahan-lahan kekuatan tubuh Chakra Ashanka tidak dapat menerimanya, dan laki-laki muda itu mulai kehilangan kesadarannya. Tetapi laki-laki tua itu tidak menghentikan gerakannya, terus mengalirkan energi yang dimilikinya pada anak laki-laki itu. Semakin besarnya energi yang mengalir dan meluap di tubuh Chakra Ashanka, beberapa saat kemudian anak laki-laki itu menjadi pingsan. Perlahan perwujudan dari Ki Widjanarko mulai memudar dan pergi dengan terbang melayang meninggalkan tempat tersebut.


Melihat putranya terkulai lemas dan jatuh pingsan, Rengganis menggunakan tangan dan pangkuannya untuk menahan tubuh putra kesayangannya itu. Tampak kecemasan dan kekhawatiran terlihat di wajah ayunya. Tetapi Wisanggeni tersenyum dan menggelengkan kepala, sebagai sebuah isyarat untuk tidak khawatir dengan apa yang terjadi di hadapannya itu. Wisanggeni mengangkat kedua tangannya, dan melakukan sebuah gerakan mengusir luapan energi yang terus membanjir memasuki tempat dimana mereka berada.


"Sepertinya sudah cukup Nimas.. kunjungan kita kali ini ke makam leluhur. Kita harus segera membawa pergi Chakra Ashanka dari tempat ini, sebelum malam menjelang." dengan suara lirih. Wisanggeni mengajak Rengganis untuk segera pergi meninggalkan pemakaman ini.


"Baik Akang.., Nimas akan selalu bersama dan mengikutimu.." Rengganis langsung menyetujui ajakan dari suaminya. Tanpa bicara, Wisanggeni mengangkat tubuh Chakra Ashanka dengan meletakkan di kedua tangannya, kemudian mereka segera meninggalkan tempat tersebut.


"Nimas..., keluarkan selendang peninggalan  dari ibunda. Kita akan menggunakannya untuk keluar dari tempat ini segera!" setelah mendengar perkataan yang disampaikan suaminya, Rengganis segera menarik selendang dari dalam kepisnya. Perempuan muda itu kemudian mengibaskan selendang tersebut, dan tanpa bicara Wisanggeni segera menghentak kemudian melompat melalui selendang tersebut dengan menggendong Chakra Ashanka di ekdua tangannya. Melihat suami dan putranya melompat duluan, Rengganis kemudian mengikuti keduanya pergi meninggalkan pemakaman kuno.


*************


Di dalam kereta


Chakra Ashanka perlahan membuka matanya, tetapi dengan sigap laki-laki muda itu segera mengangkat tubuhnya. Terlihat di sampingnya ayahnda dan ibundanya sedang duduk dengan mata terpejam, dan menyandarkan tubuh di dalam kereta kuda. Laki-laki muda itu tersenyum, rasa hangat mengalir di dadanya. Rupanya pada saat dirinya pingsan, laki-laki muda ini tertidur di pangkuan ibundanya, dengan kaki di atas pangkuan ayahndanya.


"Aku tadi pingsan ketika menerima esensi energi dari leluhur Trah Bhirawa. Aku yakin ayahnda dan ibunda berusaha keras, untuk membawaku keluar dari pemakaman kuno." Chakra Ashanka berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Laki-laki muda itu perlahan bangkit dan keluar dari kereta kuda. Pemandangan hijau dengan air terjun yang menyegarkan terlihat jelas di depannya. Chakra Ashanka berjalan menuju air terjun tersebut, kemudian memasukkan kaki ke sungai yang mengalir di bawahnya. Laki-laki itu membungkukkan badannya ke bawah, kemudian mengambil air menggunakan kedua tangannya dan membasuh wajahnya dengan air tersebut. Kesegaran mengalir di wajahnya, dan ketika melihat beberapa ikan yang berenang di sungai tersebut, muncul pikiran untuk menangkapnya.


"Clap..." menggunakan batu runcing yang diberi kekuatan tenaga dalammya, dalam waktu singkat Chakra Ashanka berhasil menangkap beberapa ekor ikan. Setelah membersihkannya, laki-laki muda itu segera membawanya ke daratan.


"Ikan ini akan aku bakar.., sehingga bisa mengisi perut kami bertiga.." gumam laki-laki muda itu. Dengan vepat, Chakra Ashanka membuat api, dan tidak lama kemudian beberapa ekor ikan sudah terpanggang di atas bara api tersebut.


**********


Aroma ikan bakar dengan harum menyeruak masuk ke dalam kereta kuda. Tiba-tiba Rengganis tersentak, karena tidak melihat keberadaan putranya yang tadi tertidur pingsan di pangkuannya. Ketika melihat di sampingnya, Wisanggeni juga masih memejamkan mata, membuat perempuan muda itu menjadi panik. Dengan cepat, Rengganis menguncang tubuh Wisanggeni untuk membangunkannya.


"Hmmm..., apakah Nimas tidak mencium bau harum ikan bakar. Lihatlah ke bawah, aku yakin itu putra kita Chakra Ashanka yang sudah membuatnya." tanpa panik, Wisanggeni membuka matanya perlahan, dan menjawab pertanyaan istrinya.


Rengganis tersadar, dan spontan perempuan muda itu melihat keluar kereta kuda. Terlihat Chakra Ashanka membawa beberapa buah di tangannya, yang mungkin dipetiknya di alam sekitar mereka berada. Di atas tanah, juga sudah tersaji beberapa ekor ikan bakar yang diletakkan di atas daun pisang.


"Benar akang.., ayo kita turun dan temui putra kita. Ternyata Ashan sudah menyiapkan makanan pagi untuk kita Akang." melihat putranya yang tersenyum melihat Rengganis, perempuan muda itu segera mengajak Wisanggeni untuk menghampiri putranya tersebut. Tanpa banyak bicara, Wisanggeni segera turun mengikuti istrinya yang sudah berjalan lebih dahulu.


"Ayah..., ibunda.., kemarilah! Ashan sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kita, sebelum kita menempuh perjalanan kembali ke kota Jagadklana." Chakra Ashanka berseru memanggil kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Terima kasih putraku.., ibunda akan membersihkan diri dulu." Rengganis langsung berjalan menuju tepian sungai, untuk membersihkan tubuhnya segera. Demikian juga dengan Wisanggeni, setelah mengusap kepala putranya, laki-laki itu segera bergegas mengikuti Rengganis.


*********


"Apa yang kamu rasakan putraku.., setelah berkunjung ke pemakaman kuno?" dengan lembut Rengganis bertanya pada Chakra Ashanka. Laki-laki muda itu menatap wajah ibundanya.


"Sangat menakjubkan ibunda.., dan bahkan sampai sekarang otak Ashan belum dapat mencerna kejadian yang baru saja Ashan alami. Seperti dalam mimpi, Ashan bisa bertemu dengan eyang Ki Widjanarko, dan bahkan merasa seperti mendapatkan aliran energi yang sangat pekat dan kuat." Chakra Ashanka menceritakan kejadian mistis yang dia rasakan di pemakaman kuno.


"Kamu hanya merasa, apakah tidak benar-benar mendapatkan kekuatan itu putraku?? Pusatkan pikiranmu. alirkan energi ke tangan. Jangan gunakan ilmu kanuraganmu, arahkan energi di tanganmu ke tebing batu yang ada di sisi air terjun itu." sambil tersenyum, Wisanggeni ingin menguji kekuatan warisan energi yang didapatkan putranya itu.


Chakra Ashanka merasa bingung mendengar perkataan ayahndanya, tetapi ketika melihat pada ibundnaya, perempuan muda itu tersenyum dan menganggukkan kepala. Perlahan Chakra Ashanka bangkit dan berdiri dari tempat duduknya, kemudian melangkahkan kaki ke tepian sungai. Tanpa bicara, laki-laki muda itu melakukan apa yang sudah dikatakan oleh ayahndanya. Tiba-tiba...,


"Jeglarr...." terdengar suara ledakan yang kuat, ketika Chakra Ashanka mengarahkan serangannya membentur batu tebing tersebut. Laki-laki muda itu terkejut melihat apa yang terjadi di depan matanya. Kekuatan energi yang memasuki tubuhnya ternyata nyata, bukan hanya dalam mimpi.


"Ayah.., bunda.., apakah yang terjadi saat ini bukan sebuah mimpi..?" dengan polos, Chakra Ashanka bertanya pada kedua orang tuanya. Laki-laki muda itu sama sekali tidak menyangka, dalam waktu sekejap dia dapat memiliki kekuatan sebesar itu. Wisanggeni dan Rengganis tidak menjawab, mereka hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.


**************

__ADS_1


__ADS_2