
Dengan tatapan tak percaya, semua yang berada di pendhopo menoleh ke arah pintu, dan terlihat Chakra Ashanka yang berdiri tegak dengan senyum cerah di wajahnya. Di belakang laki-laki muda itu, terlihat Maharani sedang menggendong Parvati dalam gendongannya. Ki Mahesa terkejut melihat istri kedua Wisanggeni, apalagi melihat bayi cantik yang berada dalam dekapan perempuan itu.
"Putraku..., kamu sudah sadar nak..." Rengganis langsung berlari dan mendekap putra laki-lakinya. Air mata kebahagiaan mengalir dari sudut mata perempuan itu. Sekian purnama, setiap malam perempuan itu melihat putranya terbaring tidak berdaya di atas dipan. Saat ini, dengan gagahnya putranya berdiri dan menatapnya dengan gembira.
Chakra Ashanka membalas pelukan ibundanya, kemudian melepaskan diri dan melakukan sungkem kepada ayahndanya. Setelah itu, satu persatu anak muda itu melakukan sungkem kepada kakek, dan juga kepada paman serta bibinya.
"Duduklah disini Nimas Maharani.., apakah ini cucu cantikku?" Ki Mahesa mempersilakan Maharani duduk, kemudian mengambil Parvati dari tangan perempuan itu. Maharani menganggukkan kepala setelah memberi salam kepada ayahnda mertuanya itu.
"Siapa ini paman..?" Chakra Ashanka bertanya tentang Ahimsa pada Widjanarko. Dengan malu-malu, putra Widjanarko dan Kinara itu memandang Chakra Ashanka.
"Dia Ahimsa putra paman Ashan..., Himsa beri salam pada Chakra Ashanka kakakmu. Meskipun dari garis keturunan, kamu menjadi kakak dari Ashanka, tetapi secara usia Ashan lebih tua. Panggil dia kakang!" Widjanarko memberi arahan pada putranya.
"Baik ayah..., kang Ashan..., mohon ijin Ahimsa memberi salam pada kakangmas." laki-laki kecil itu segera menjalankan apa dikatakan ayahndanya,. Chakra Ashanka kemudian mendatangi Ahimsa, kemudian memeluk anak kecil itu. Kinara tersenyum melihat kedekatan saudara sepupu itu, meskipun baru kali ini mereka bertemu, tetapi Chakra Ashanka dengan cepat menyesuaikan diri sebagai pihak yang lebih tua.
"Terima kasih Nimas..., atas bantuanmu mengupayakan putriku, putra kita Chakra Ashanka bisa kembaki pulih seperti sedia kala. Ternyata dalam tubuh Parvati memiliki daya penyembuh untuk anggota keluarganya, aku sangat senang mendengarnya." Wisanggeni mengucapkan terima kasih pada Maharani, demikian juga dengan Rengganis. Mereka berdua tidak menyangka, akan melihat putranya kembali sembuh seperti sedia kala. Bahkan kulit anak muda itu, terlihat jauh lebih bersinar daripada sebelumnya.
"Chakra Ashanka juga putraku kang..., Nimas Rengganis. Sudah menjadi kewajiban kita sebagai anggota keluarga besar untuk saling membantu." ucap lirih Maharani menanggapi perkataan Wisanggeni.
__ADS_1
Ki Mahesa tersenyum melihat kerukunan putra dan menantu-menantunya. Kebahagiaan mengalir ke relung hati laki-laki tua itu. Kinara dan Widjanarko saling menggenggam tangan masing-masing, dan melihat bagaimana interaksi Wisanggeni dengan kedua istrinya.
"Sepertinya kita perlu untuk mengadakan syukuran, dengan menghadirkan semua murid-murid perguruan ini. Kebahagiaan ini harus kita pelihara dan kita jaga, jangan sampai ada perpecahan di antara kita semua." tiba-tiba Ki Mahesa membuat sebuah rencana.
"Baik ayahnda.., segera Rengganis akan memerintahkan bagian dapur untuk menyiapkan bahan untuk memasak besar. Sepertinya kang.., beberapa hewan perlu untuk kita potong dan kita bagikan semua masakan kepada semua murid di perguruan ini." Rengganis menyambut baik usul yang disampaikan ayahndanya.
"Aku akan memerintahkan pada Laksito untuk mempersiapkan hewan ternak, dan membuat pengumuman agar semua murid berkumpul di pendhopo besar." Wisanggeni menyanggupi usulan yang digagas Ki Mahesa. Hadirnya kembali Chakra Ashanka, dan lahirnya Parvati perlu untuk disyukuri di perguruan itu.
******
Pagi hari sejak kesembuhan Chakra Ashanka, dan juga untuk menyambut kedatangan Ki Mahesa., di perguruan Gunung Jambu diadakan sebuah hajatan syukuran. Beberapa hewan peliharaan disembelih untuk digunakan dalam pesta, untuk menjamu semua warga perguruan. Semua murid yang ada di tapal batas, maupun yang berada di dalam, semua hadir dalam jamuan ini.
"Terima kasih Guru..." suara gemuruh ucapan terima kasih dari semua anggota perguruan, terdengar dari depan.
Dengan cepat, murid -murid bergerak menyajikan makanan dengan cepat. Wajah-wajah bahagia terpancar dari wajah mereka, dimana malam ini mereka mendapatkan kesempatan untuk menghibur diri mereka dengan bertemu para murid lainnya.
Chakra Ashanka duduk berdampingan dengan Ahimsa, berada di barisan depan satu baris dengan Wisanggeni dan Ki Mahesa. Di belakangnya, Rengganis, Maharani, dan Kinara duduk mengikuti. Sesekali Chakra Ashanka membantu Ahimsa menyiapkan makanan dengan menyisihkan tulang dari daging, kemudian kembali meletakkan di tempat makan Ahimsa.
__ADS_1
"Kang Ashan..., ternyata sangat banyak juga ya, murid yang belajar di perguruan ini." Ahimsa bertanya pada Chakra Ashanka.
"Iya Rayi..., mereka secara getok tular mendapatkan cerita dan informasi tentang perguruan ini. Kita sendiri tidak pernah mengumumkan kepada khalayak luas tentang keberadaan kita. Sepak terjang ayahnda yang menarik mereka untuk bergabung dengan perguruan ini. Menjadi tugas berat bagi kita untuk mempertahankan nama besar perguruan." Chakra Ashanka dengan detail memberi penjelasan pada laki-laki kecil itu.
"Aku juga tertarik untuk belajar Kanuragan di perguruan ini, Ahimsa akan menyampaikan niat ini pada ayahnda dan ibunda." tiba-tiba Ahimsa memiliki niat untuk belajar di perguruan Gunung Jambu juga. Chakra Ashanka tersenyum mendengarnya.
"Baik Rayi...,nanti kakang akan menemanimu untuk meminta ijin pada paman dan bibi." anak muda putra Wisanggeni itu menenangkan Ahimsa saudara sepupunya.
"Benarkah Kang Ashan?" dengan muka cerah,. Ahimsa mempertegas pertanyaan. Chakra Ashanka tersenyum dan menganggukkan kepala sambil melihat ke wajah anak laki-laki kecil itu.
Keduanya segera melanjutkan menikmati makanan dan minuman yang disajikan. Sesekali mereka berdua berkeliling melihat-lihat para murid yang ikut hadir di situ. Beberapa murid yang berada di depan, yang jarang atau bahkan belum pernah bertemu langsung dengan Chakra Ashanka terlihat menatap mereka dengan pandangan ingin tahu.
Beberapa kali putra Wisanggeni dan Rengganis itu menyalami pihak yang lebih tua, dan menunjukkan sikap dan kepribadian yang matang. Anak muda itu tidak pernah menganggap dirinya lebih linuwih dibandingkan dengan murid -murid lainnya. Beberapa saat mereka berjalan .
"Ashan.., Ashan.. benarkah ini kamu teman?" Chakra Ashanka menghentikannya langkahnya kemudian menengok ke belakang. Terlihat tiga anak laki-laki yang menempuh perjalan bersamanya yaitu Sayogyo, Prastowo dan Tarjono dengan senyum lebar berjalan ke arahnya.
Dengan tatapan tidak percaya akan bisa bertemu kembali dengan mereka, anak muda itu menyambut kedatangan mereka bertiga. Setelah memastikan bahwa mereka benar-benar temannya, Chakra Ashanka mengajak mereka berpelukan.
__ADS_1
*******