Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 71 Antri


__ADS_3

Empat laki-laki muda berjalan beriringan menerobos hutan. Harapan untuk dapat melihat pengalaman baru di wilayah yang jarang dibuka untuk khalayak ramai, menjadikan 3 penduduk desa bersemangat untuk melakukan perjalanan. Wisanggeni juga tidak menyangka, dengan mudah dia bisa mendapatkan tambahan teman di perjalanannya kali ini.


"Kalian sudah capai belum, jika sudah di depan kita akan beristirahat dulu." Wisanggeni menanyakan kondisi mereka.


"Belum Wisang.., mungkin lebih baik kita istirahat di desa terdekat saja. Jika aku tidak salah, sekitar 10 kilometer lagi, kita akan sampai di desa terdekat." Jono yang pernah melewati daerah situ memberi petunjuk.


"Iya benar.., sekalian kita mencari kedai makanan. Aku mulai bosan dari kemarin, hanya menikmati makanan kering saja. Aku membayangkan minum teh jahe serai alangkah nikmatnya." Karno ikut menambahkan.


"Kamu belum berpendapat sendiri Raharjo, apa yang ingin kamu temukan di desa nanti?" tanya Wisanggeni menggoda Raharjo.


"Aku sederhana saja Wisang, aku hanya ingin membaringkan tubuhku di atas dipan. Itu sudah merupakan kenikmatan untukku." selesai bicara, ketiga temannya tertawa bersama.


"Ha..ha..ha.., semoga kita semua segera sampai di desa terdekat." sahut Wisanggeni.


Sambil bercanda mereka melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba telinga Wisanggeni menangkap pembicaraan orang lain tidak jauh dari situ. Dia segera meletakkan jari telunjuknya di depan mulutnya, memberi isyarat agar teman-temannya diam untuk sementara.


Keempat orang itu tetap melanjutkan perjalanan dalam diam, dan seperti pendengaran Wisanggeni, di depan mereka ada 3 orang yang sedang duduk beristirahat. Terlihat satu orang dari mereka tampak terluka, dan kakinya mengeluarkan darah.


"Selamat sore Ki Sanak, permisi kami mau numpang lewat." berusaha mencari banyak teman, dengan ramah Wisanggeni menyapa mereka.


"Mari Ki Sanak.., kalian juga bisa bergabung untuk beristirahat bersama kami disini. Sesudahnya kita bisa melanjutkan perjalanan bersama." satu orang laki-laki yang lebih tua menanggapi sapaan dengan ramah pula.


Wisanggeni segera memberi kode pada kelompoknya untuk berhenti. Matanya melirik orang yang sedang terluka di depannya, dari mulut laki-laki itu terlihat bagaimana dia menahan rasa sakit.


"Jika kami boleh tahu, apa yang terjadi dengan kaki Ki Sanak?" mengikuti kata hati, Wisanggeni tidak dapat menahan diri untuk bertanya.


Orang yang terluka itu memandang laki-laki yang paling tua, dan terlihat orang yang dipandang menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Malang bagi kami Ki Sanak, dalam perjalanan menuju ke sini, kami diserang oleh beberapa binatang buas. Kami bisa kabur dari mereka, tetapi saat kami berhasil melarikan diri, naas terjadi. Saya tanpa sengaja menginjak ular besar yang sedang bertapa, akhirnya kaki saya diserang." orang itu tersenyum kecut.


"Apakah boleh saya melihatnya Ki Sanak, siapa tahu saya bisa membantu untuk mengobatinya." ucap Wisanggeni.


Ketiga orang itu saling berpandangan, tetapi akhirnya orang yang paling tua diantara mereka kembali berbicara.


"Terima kasih atas perhatiannya Ki Sanak, mari kalau mau melihatnya. Kami memutuskan untuk istirahat disini karena keponakan saya sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya." laki-laki tua itu akhirnya mengijinkan.


Wisanggeni mendekati laki-laki yang terluka itu, kemudian dia berjongkok. Tangan kirinya mengangkat kaki dari laki-laki itu, kemudian dia mengamatinya sebentar.


"Tolong luruskan sedikit kakinya!" kata Wisanggeni pelan, laki-laki itu menurut. Dia meluruskan kakinya ke depan, kening Wisanggeni berkerenyit dan yang lainnya melihat seperti menahan nafas.


"Ada racun ular di dalamnya, untung saja racunnya tidak masuk sampai ke dalam. Baru ada di lapisan luar kulit." Wisanggeni membatin sendiri.


Tidak mau membuang-buang waktu, laki-laki muda itu mengeluarkan pisau belati dari sarungnya. Setelah mengusap pelan gagang pisau dengan memejamkan mata, keluar sinar ungu dari gagang tersebut. Perlahan dengan hati-hati, sinar itu diputar dan dikenakan pada lingkaran luka yang ada di kaki laki-laki itu.


"Panassss...," keringat sebutir-butir jagung tampak menetes di pori-pori kulitnya.


"Tahanlah sebentar Ki Sanak, aku butuh waktu beberapa saat untuk membereskan hal ini." ucap Wisanggeni pelan.


Tidak lama kemudian, Wisanggeni akhirnya mengakhiri proses penyembuhannya. Sebagai pemimpin ular saja, dia mengakui proses menghabisi lawan yang dilakukan anak buahnya teramat kejam. Mereka hanya membuat lubang kecil, tapi racun akan secara perlahan mengaliri peredaran darah apa yang sudah dikenainya.


"Sudah Ki Sanak, bagaimana rasanya?" tanya Wisanggeni sambil tersenyum.


"Terima kasih Ki Sanak, lukaku tidak terasa perih dan sakit lagi. Sekarang rasanya dingin." laki-laki yang terluka itu merasa ada uap dingin mengalir pada luka-luka yang tadi terasa perih dan panas.


Wisanggeni mengambil satu butir pil dari kepis, kemudian memberikan pada laki-laki itu.

__ADS_1


**********


"Antri..., antri... Jika ada yang bertingkah, lebih baik batalkan keinginan kalian untuk berkunjung ke Jagadklana!" teriak para penjaga perbatasan di pinggir telaga.


Ratusan orang mengantri di pinggir telaga, untuk menyeberang menggunakan perahu ke wilayah tersebut. Di pinggir telaga, banyak penjual tiban yang memanfaatkan keramaian tersebut untuk menggelar barang dagangannya.


"Aakkh.., bukkk." terlihat ada beberapa orang berkelahi memperebutkan antrian.


"Minggir.., minggir..". di sisi lain, ada beberapa orang yang mengawal dua orang satu laki-laki dan satu perempuan berpenampilan bangsawan, tampak mencari celah jalan untuk merangsek ke depan. Pedang di tangan para pengawal itu diobat-abitkan untuk mempermudah jalannya.


Dari lokasi tidak jauh dari situ, Wisanggeni dan kelompoknya tampak tersenyum melihat kekacauan itu. Jono dan Karno sudah terlihat cemas untuk segera mendapatkan antrian, tetapi Wisanggeni meminta mereka untuk bersabar. Dia masih memiliki senjata untuk menuju Jagadklana, jika perahu sudah melebihi batas maksimal penumpang. Ada Singa Ulung yang dapat menerbangkan 10 orang kemanapun.


"Kenapa kamu terlihat santai Wisang, bagaimana jika kita tidak memiliki karcis untuk naik di perahu tersebut?" tanya Jono padanya.


"Hentikan rasa panikmu teman..., yakinlah padaku! Aku yakin Jagadklana tidak akan mau menghilangkan peluang untuk mendapatkan pemasukan dari wilayah yang lain. Tunggu saja..., mereka pasti akan mengirimkan beberapa perahu tambahan." kata Wisanggeni pelan.


"Pemasukan..., apa maksudmu?" tanya Karno merasa bingung.


Wisanggeni tersenyum, dia menggigit batang rumput yang barusan dia cabut dari tanah yang ada di depannya. Rasa manis dia rasakan dari batang rumput tersebut.


"Aku yakin semua orang yang menyeberang kesana, mereka pasti akan membawa coin banyak. Di Jagadklana, mereka akan butuh makanan bahkan penginapan dan oleh-oleh untuk dibawa pulang. Apakah kalian pikir, Jagadklana akan memberikan semua secara gratis?" anak-anak muda itu memahami apa yang dimaksud Wisanggeni, mereka manggut-manggut.


"Lihat jauh disana..!" teriak laki-laki yang tadi yang diselamatkan oleh Wisanggeni.


Terlihat ada 2 perahu di kejauhan, yang akan merapat ke pinggir telaga.


********

__ADS_1


__ADS_2