Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 11 Ular Kuno Nabau


__ADS_3

Setelah berlatih dengan kekuatannya, Wisanggeni berjalan ke samping gua tempat dia bertempat tinggal dengan Larasati. Sebelum mereka menuju ke tempat itu, Larasati pernah menyampaikan jika ada satu gua yang berjarak tidak jauh dari tempat dia berdiam. Laki-laki muda itu mengubak-ubek tempat itu, dan matanya tiba-tiba bersinar. Dia melihat sebuah gua yang terbuat dari batu, dia segera menuju lokasi yang dia temukan.


"Apakah gua ini yang dimaksud Laras?? Aku akan masuk ke  dalam sendirian dulu, nanti baru aku memberi tahu gadis itu." Wisanggeni berpikir sendiri. Perlahan dia memasuki gua tersebut setelah membersihkan tumbuhan liar yang banyak berada di mulut gua. Dengan sikap siaga, dia mengeluarkan pisau belati peninggalan dari almarhum ibundanya, dan dia terkejut karena gagang pisau tersebut tiba-tiba bersinar seperti cahaya lampu.


"Kenapa gagang batu ini tiba-tiba bersinar?" Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri. Dia mengamati gagang tersebut, tetapi tidak sedikitpun dia menemukan ada keanehan di gagang pisau belati itu. Tidak mau berpikir panjang, laki-laki muda itu berjalan masuk ke dalam gua. Dia mengamati tampilan interior yang berada di dalam gua itu, dan muncul rasa takjub dan kagum akan tampilan ruang bagian dalam gua.


Di pojokan gua, Wisanggeni agak curiga melihat batang yang seperti membelit berwarna coklat seperti warna kayu. Menggunakan keberaniannya, Wisanggeni mendatangi batang tersebut, dan tiba-tiba dia memundurkan tubuhnya ke belakang. Ternyata apa yang dia lihat seperti batang kayu berwarna cokelat itu adalah seekor ular besar seperti naga yang sedang tidur untuk berganti kulit. Muncul keinginan dalam hatinya untuk berlari dari tempat itu, tetapi dia juga berpikir jika ular itu akan merayap ke gua tempat dia berdiam dan akan mengganggunya jika sudah selesai berganti kulit.


Wisanggeni membalikkan badannya, dan bermaksud untuk meninggalkan gua itu. Tetapi gagang pisau belati yang berada di tangannya berkedip-kedip, dan laki-laki muda itu menghentikan langkahnya. Dia mengamati kembali gagang yang ada di tangannya, dan jika dia berhenti maka kedipan akan hilang dan berganti sinar terang. Saat dia kembali melangkahkan kaki keluar, gagang itu akan kembali berkedip.


"Apa gagang pisau belati ini akan menyampaikan pesan padaku?" Wisanggeni bertanya pada dirinya sendiri. Setelah cukup lama dia menghabiskan waktu untuk berpikir, akhirnya dia kembali masuk ke dalam.


"Daripada aku yang suatu saat akan dibunuh oleh ular itu, aku akan membunuhnya sekarang sebelum terlambat. Apalagi ular ini masih tidur." gumam Wisanggeni, sambil mendekat ke kepala ular yang tertidur di sudut ruangan.


"Ular, maafkan aku ya, karena aku akan membunuhmu!! Itu kulakukan karena aku tidak mau jika suatu saat kamu melakukan hal itu padaku." sebelum melemparkan pisau belati ke kepala ular, Wisanggeni minta ijin pada ular tersebut.


"Clap.." suara lemparan pisau belati, tepat mengenai pusat otak ular.


Ular itu menggeliat sebentar kemudian membuka matanya, bersitatap dengan laki-laki muda itu. Dengan gugup dan penuh rasa takut, Wisanggeni terkejut karena tatapan ular itu seperti mata manusia yang mengucapkan terima kasih. Tidak lama kemudian, ular itu menutup matanya, dan keluar sinar terang yang sangat menyilaukan dari kepala ular tersebut. Setelah sinar itu menghilang, Wisanggeni perlahan mendatangi ulat tersebut, dan dengan menggunakan pisau belatinya, dia membelah kepala ular. Sebuah mustika berwarna ungu kehitaman  dia ambil dan dia keluarkan dari kepala ular tersebut, kemudian menyimpannya ke dalam tempat penyimpanan yang selalu dia bawa kemana-mana.

__ADS_1


 


 


****************


 


"Ada dimana aku sekarang??" Wisanggeni membuka matanya, dan dia seperti orang yang sedang bangun tidur.


"Kamu sudah bangun kang Wisang??" terlihat Laras sangat dekat dengan depan wajahnya. Wisanggeni kemudian duduk dengan dipegangi Laras, dia mengamati sekitarnya, dan saat ini dia sudah berada di dalam gua tempat dia dan Larasati bertempat tinggal.


"Akang bingung ya??? Tadi Laras membawa Akang dari gua yang ada di sebelah. Larasati kebingungan mencari dimana Akang, ternyata Akang sudah berada di dalam gua dalam keadaan pingsan. Akhirnya Laras membawa dan memindahkan Akang kemari." Larasati menceritakan saat dia menemukan Wisanggeni.


"Aku sebenarnya juga tidak bagaimana persisnya Laras. Tapi, tadi pagi aku berusaha mencari gua yang pernah kamu ceritakan padaku sebelumnya. Aku menemukannya, dan kemudian aku masuk. Tetapi di dalamnya ada seekor ular besar yang sedang tidur, yang sepertinya akan berganti kulit." dengan rinci Wisanggeni menceritakan penemuannya akan ular kuno itu.


"Apa yang kamu lakukan dengan ular itu?? Sepertinya kamu bertemu ular kuno Akang, yang sering dijuluki sebagai Ular Nabau. Menurut kepercayaan orang yang bertemu dengan ular tersebut akan mendapatkan keberuntungan atau kekuatan hebat. Apa yang kamu lakukan dengan ular tersebut, dan saat aku menemukanmu, sedikitpun aku tidak melihat raga dari ular tersebut, bahkan satu sisikpun tidak aku temukan."


Wisanggeni terkejut mendengar penuturan Larasati, dia kemudian menceritakan apa yang dia lakukan terhadap ular kuno itu. Dia merasa dengan jelas, jika dia membelah kepala dan mengambil mustika berwarna ungu kehitaman. Selain itu juga menemukan sebuah tas dari kulit yang berisi buku-buku kuno di dalam perut ular tersebut. Dan saat dia menelan hati ular itu secara langsung, tiba-tiba dia tidak merasakan apa-apa, ketika dia terbangun sudah berpindah tempat ke gua yang saat ini mereka tempati.

__ADS_1


"Mungkin jasad itu kemudian menghilang akang, karena sudah ada yang mewarisi kekuatannya. Apakah aku bisa melihat mustika itu?" Larasati ingin melihat mustika yang ditemukan Wisanggeni.


Laki-laki muda itu kemudian mengeluarkan mustika dari kotak penyimpanannya, dan menunjukkan pada Larasati. Tetapi baru saja menyentuh mustika itu...,


"Aaaw... panas kak." tiba-tiba Larasati memekik, saat dia berusaha untuk menyentuh mustika tersebut.


Wisanggeni merasa heran, kemudian dia menggenggam mustika itu dengan tangannya. Dia merasakan ada udara dingin yang memasuki pori-pori tangannya, dan sedikitpun dia tidak merasakan panas apapun.


"Aku tidak merasakan apapun Laras, hanya saat aku menggenggamnya aku merasakan ada udara dingin yang memasuki tubuhku lewat pori-pori tanganku." Wisanggeni menjelaskan apa yang dia rasakan saat dia menggenggam mustika itu.


"Syukurkan Kang, mustika itu berarti berjodoh denganmu, dia memilih tuannya sendiri. Coba Akang pelajari kitab yang sudah ditemukan dalam tas itu. Semoga ada keajaiban yang Akang dapatkan setelah mempelajarinya, dan aku yakin jika mustika itu akan mendatangkan manfaat bagimu."


"Semoga Laras..., sekarang aku merasakan haus. Bisakah aku meminta tolong padamu untuk mengambilkan air?" Wisanggeni meminta tolong, dan sambil tersenyum gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Ini Kang.., atau Akang mau makan dulu?? Biar aku siapkan, tadi saat akang tidak ada, aku sudah mencari burung kemudian membakarnya." Larasati menawarkan makan pada laki-laki yang telah menolongnya itu.


"Nanti saja aku akan mengambilnya sendiri Laras. Istirahatlah dulu..., kamu sudah capai membawaku kesini sendiri. Sekarang aku akan mencoba berlatih kembali." dengan halus Wisanggeni menolak tawaran dari larasati.


 

__ADS_1


 


*******************


__ADS_2