Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 386 Perasaan Tidak Salah


__ADS_3

Trah Bhirawa


Wisanggeni dan Rengganis saat ini sedang berada berdua di dalam senthong. Mereka baru saja selesai mengawasi orang-orang dari trah Bhirawa yang sedang bersiap untuk mencari nafkah. Ada yang bersiap untuk berjualan di pasar-pasar yang ada di kota Laksa, dan ada pula yang bertindak sebagai pasukan bayaran, maupun pengawal-pengawal dan tenaga keamanan. Setelah memastikan mereka sudah berangkat, pasangan suami istri itu kembali masuk ke dalam kamar.


Mata Wisanggeni sejak tadi menatap wajah istrinya dan kemudian ke seluruh tubuh perempuan itu. Sudah berpurnama-purnama laki-laki itu tidak menyalurkan nafsu manusia purba pada perempuan itu. Hari ini, nafsu itu seakan bergolak dan memompa ke dalam perutnya, melihat wajah ayu perempuan yang sudah dinikahinya beberapa waktu yang lalu. Di satu sisi, Rengganis yang merasa tanggap dengan perubahan sajah suaminya, hanya terdiam sambil menahan nafas.


"Nimas.. Nimas Rengganis.. bolehkah kakang saat ini menyentuhmu..?" dengan suara lirih, laki-laki itu berbisik di telinga istrinya. Uap hangat yang menyambar di belakang telinga gadis itu, membuat jantung Rengganis berdetak kencang. Tiba-tiba gadis itu seperti merasa menggigil kedinginan, matanya mulai tampak sayu. Dengan muka merah menahan malu, perlahan Rengganis menganggukkan kepalanya.


Wisanggeni tersenyum, dan tanpa bicara melihat gelagat hasrat yang juga menguasai istrinya, laki-laki itu segera menundukkan wajahnya ke bawah. Perlahan bibir laki-laki itu menempel di bibir kenyal Rengganis. Hausnya akan sentuhan yang sudah lama tidak mereka rasakan, disikapi perempuan itu dengan membuka sedikit bibirnya. Dengan sigap, Wisanggeni memasukkan lidahnya ke dalam bibir mungil perempuan itu, dan ciuman dan pagutan demi pagutan terjadi di antara keduanya. Lidah mereka saling terbelit, dan seakan enggan untuk saling melepaskan,


"Mmmm... ugh..." Wisanggeni melepaskan ciuman di bibir kenyal perempuan itu, karena keduanya hampir kehabisan nafas. Senyuman lembut dengan mata sayu bercampur hasrat, sangat jelas terlihat pada tatapan laki-laki itu. Tidak menunggu lama, laki-laki itu kembali menundukkan wajahnya, perlahan tubuh Rengganis di baringkannya di atas ranjang. Dengan trampil, tangan laki-laki itu melepaskan baju atasan yang dikenakan oleh perempuan itu, dan langsung menggeluti tubuh itu dengan ciuman-ciuman basah.


"Kakang... aakh... aku rindu ini semua.." de**sahan terlontar dari bibir Rengganis, dan seakan memompa hasrat laki-laki Wisanggeni. Kedua manusia, pasangan suami istri itu saling bergelut, saling memagut dan melepaskan kerinduan mereka yang sudah lama tidak saling tersentuh, saling terjamah, dan seakan semua akan dilepaskannya saat ini juga.


Suara lenguhan dan de**sahan serta ceracauan Rengganis menggema di seluruh senthong, dan semua itu semakin membuai Wisanggeni. Satu persatu pakaian yang melekat di tubuh mereka sudah ditanggalkan , dan tanpa ragu lagi.. tangan Wisanggeni meremas gundukan kenyal di dada perempuan itu, dan kembali suara lenguhan menggetarkan terdengar di dalam senthong.

__ADS_1


"Nimas..., hapuskanlah rinduku Nimas.. Tubuhmu seperti candu bagiku.. mmm.." kata-kata terucap dari mulut Wisanggeni, seperti tanpa sadar laki-laki itu terus menciumi setiap jengkal bagian tubuh dari Rengganis. Dan perempuan itu hanya bisa merasakan kenikmatan dari setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya.


Pasangan suami istri tanpa ada gangguan dari siapapun akhirnya berhasil menuntaskan kerinduan mereka di dalam senthong. Dengan senyum yang terus terkulum di bibirnya, tanpa bosan Wisanggeni terus menatap tubuh polos istrinya, setelah mereka melakukan penyatuan secara bersama. Dengan wajah malu, Rengganis menutup wajahnya, tetapi dengan cepat laki-laki itu menyingkirkan tangan yang digunakan untuk menatap wajah Rengganis.


*********


Sore Harinya


Achala mengetuk pintu senthong tempat beristirahat Parvati. Anak muda itu sudah hafal, saat dimana gadis itu sudah selesai membersihkan diri, sehingga pada saat ini Achala datang untuk menghampiri Parvati. Tetapi baru saja satu kali Achala mengetuk pintu kamar itu, tiba-tiba muncullah Larasati ibunda dari laki-laki itu.


"Achala putraku.. apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini nak. Apakah putra ibunda sedang mencari Nimas Parvati.." dengan lembut, Larasati bertanya pada putra laki-lakinya.


"Nimas Parvati sedang tidak ada di senthong Chala.. Gadis itu sedang bertiga dengan paman Wisanggeni dan Bibi Rengganis. Untuk apa kamu mencarinya Chala.. apakah kamu tertarik denga gadis cantik itu?" tanpa menutupi apa yang akan ditanyakan, perempuan itu bertanya denga terus terang.


Perlahan sambil mengalihkan tatapan matanya, laki-laki itu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ibunda sudah lama tidak berbincang denganmu putraku. Maukah Achala meluangkan sedikit waktu untuk ibunda saat ini.." dengan suara lembut, Larasati bertanya pada putranya.


Achala menatap mata ibundanya, kemudian perlahan anak muda itu menganggukkan kepala. Larasati menggandeng tangan putranya itu, kemudian mengajaknya untuk meninggalkan depan senthong Parvati. Perempuan itu mengajak putranya berjalan di depan gubuk kecil yang ada di pinggir pesanggrahan, kemudian mengajaknya duduk di atas lincak.


"Putraku Achala.. ibunda memahami usiamu saat ini. Memang sudah saatnya, putraku ini untuk berpikir menjalin hubungan dengan perempuan, karena memang tidak ada yang salah. Namun.. jangan sampai kita terlalu memanjakan keinginan kita sendiri putraku.. Kita masih harus menggunakan akal kewarasan kita, sehingga kita tidak salah untuk memasrahkan perasaan kita kepada siapa." Larasati terus berbicara sambil memegang kedua tangan putranya.


"Bunda.., berarti bunda memahami jika perasaan Achala untuk Nimas Parvati merupakan  sesuatu yang keliru?" ternyata Achala bisa mengerti kemana arah pembicaraan ibundanya. Anak muda itu langsung menyebut nama Parvati, sebagai gadis yang dimaksud oleh ibundanya.


Perlahan Larasati menganggukkan kepalanya. Perempuan itu menggenggam erat tangan putra laki-lakinya, dan tatapan mata keduanya bertemu.


"Achala.. tidak salah perasaanmu itu. Hanya saja, antara dirimu dan Parvati masih keluarga dengan hubungan sepupu. Meskipun hal itu diperbolehkan, namun ibunda tidak menyetujuinya Chala.. Pilihlah gadis yang lain, dan perlahan hapuslah nama Parvati dari perasaanmu. Maukah kamu berjanji untuk ibunda Achala..?" tanpa ada yang ditutupi, perempuan itu menyampaikan ketidak setujuannya.


Achala kembali terdiam, dan anak muda itu mengalihakan pandangannya. Terlihat wajah cantik Parvati dengan senyuman, tampak menari-nari di depan anak muda itu. Laki-laki itu kemudian memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya lagi perlahan,


"Ibunda.. jujur terasa berat untuk Achala bunda.. Namun, sebelum semuanya terlanjur semakin dalam, Chala akan mencobanya, apalagi Nimas Parvati juga belum mendengarkan ungkapan perasaan Achala." dengan senyum kecut, anak muda itu menyanggupi perkataan yang diucapkan ibundanya.

__ADS_1


"Terima kasih putraku.." Larasati tersenyum lembut, kemudian mendekatkan tubuh putranya dan memeluknya dengan erat. Dari kejauhan, tampak Lindhu Aji tersenyum melihat istri dan putranya sedang terlibat dalam sebuah pembicaraan. Laki-laki itu sengaja membiarkan keduanya terlibat dalam pembicaraan, dan tidak ingin memotong atau mengganggu pembicaraan itu.


********


__ADS_2