Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 261 Cidera


__ADS_3

Mata Kandar semakin merah, menandakan jika laki-laki itu sudah tidak dapat menahan amarahnya. Mendapatkan serangan dari senjata yang dimilikinya sendiri membuat laki-laki itu seperti kehilangan muka. Tetapi ketika roh yang berada dalam tubuh Kandar ingin menguasai kembali cemeti Amarasuli yang ada di tangan Chakra Ashanka, rupanya dirinya sudah tidak memiliki pengaruh apapun pada senjata tersebut. Satu-satunya cara untuk mengembalikan cemeti itu menjadi senjatanya kembali adalah dengan membunuh anak muda itu. Benturan kekuatan dua tubuh kembali terjadi, dan anak muda itu merasakan tulang-tulangnya seperti lemas tidak berdaya. Serangan yang dikirimkan Kandar, seperti menghancurkan tulang-tulangnya. Tetapi Chakra Ashanka tidak memiliki niat untuk menyerah.


Kedua tangan anak muda itu tiba-tiba membuat simbol, dan menjepit cemeti di antara kedua pahanya. Chakra Ashanka ingin mencoba ilmu yang diwariskan leluhur, meskipun dia sendiri belum mengetahui keistimewaaan atau daya serang dari ilmunya itu. Beberapa saat, Chakra Ashanka memejamkan mata, kemudian membukanya secara perlahan. Simbol di jari tangan yang sudah terbentuk, satu di angkat ke atas..., kemudian


"Bhirawa sakti keluarlah!! .....Clap..., clap...., bluarrr....." seperti ledakan, keluar sinar bercampur kekuatan dashyat dari tangan laki-laki muda itu. Tubuh anak muda itu dengan cepat bergerak melompat ke depan. Tubuhnya merangsek mendekati Kandar, dan laki-laki itu melompat menghindari serangan yang dikirimkan oleh Chakra Ashanka.


"Blamm..., brukkk..." lima pohon besar sekaligus tumbang terkena pantulan ajian Bhirawa Sakti yang dikirimkan Chakra Ashanka. Lawan bertarung anak muda itu memicingkan matanya, dan senyuman sinis muncul di bibirnya. Tanpa disadari oleh Chakra Ashanka, Kandar komat kamit seperti merapal mantra, kemudian...


"Penghancur Tulang lidah api...." tiba-tiba Kandar mengirimkan serangan balik pada Chakra Ashanka, dan dari kedua tangan Kandar muncul seperti lidah yang menjulur kesana kemari, api berwarna hitam. Dengan cepat anak muda itu membuat pertahanan, dan mencabut cemeti dari kedua pahanya. Dengan memegang cemeti, anak muda itu menghadang serangan dari Kandar dengan kembali mengeluarkan Ajian Bhirawa Sakti.,


"Blammm....., jeglarr..." kedua serangan dari kedua laki-laki itu bertemu, dan menimbulkan dampak yang sangat dashyat. Cekungan tanah terjadi di sekitar lokasi pertarungan itu, dan api berwarna jingga membubung tinggi ke angkasa. Tubuh Chakra Ashanka dan Kandar melambung tinggi di angkasa, dan anak muda itu dalam keadaan tidak sadar. rasa panas yang tidak dapat dilukiskan terasa seperti memberi sayatan dan membakar di seluruh kulitnya. Kedua tangan, dan kakinya tidak dapat digerakkan.


Singa Ulung untungnya mengamati pertarungan antara Chakra Ashanka dan Kandar, begitu terjadi ledakan binatang itu langsung terbang dan menyambar ketiga anak muda yang bersembunyi di dalam goa. Goa tempat mereka bersembunyi seketika runtuh ketika terjadi ledakan karena benturan kekuatan Chakra Ashanka dan kandar. Sama halnya dengan Chakra Ashanka, ketiga anak muda itu juga dalam keadaan terluka parah. Mereka sudah tidak memiliki kesadaran ketika terjadi benturan kekuatan yang pertama.

__ADS_1


Setelah berhasil menyelamatkan ketiga anak muda itu, mata Singa Ulung meredup mencari kemana larinya Chakra Ashanka. Setelah melihat tubuh anak muda itu masih melambung tinggi di angkasa dalam keadaan tidak sadarkan diri, Singa Ulung langsung membubung tinggi ke angkasa, dan menyambar tubuh anak muda itu. Tanpa mempedulikan situasi di sekitar hutan, Singa Ulung langsung semakin tinggi terbang membubung ke angkasa, dengan membawa empat anak muda yang tidak sadarkan diri di punggungnya.


*************


Tanpa mengenal waktu istirahat, Singa Ulung terus membawa keempat tubuh anak muda itu terbang tinggi di angkasa. Satu tujuan utama yang akan didatangi binatang itu yaitu di perbukitan Gunung Jambu. Hanya Wisanggeni yang akan mampu mengobati luka-luka di tubuh anak muda itu. Apalagi sebelum Wisanggeni dan Rengganis meninggalkan anak muda itu, keduanya berpesan untuk mengawasi dan menjaga Chakra Ashanka. Jadi ketika anak muda itu terluka, menjadi kewajiban bagi Singa Ulung untuk mengantarkan kembali anak muda itu pada orang tuanya.


"Auuuuummmmm..." raungan keras yang jika didengar dengan seksama seperti suara tangisan, terus terdengar di sepanjang langit yang dilalui SInga Ulung. Binatang-binatang di hutan memandang ke atas, dan seperti merasa ikut berduka mendengar auman yang dikeluarkan Singa Ulung.


"Buka tabir pelindung..., binatang tunggangan Guru Wisanggeni sudah datang. Dan lihatlah beberapa orang yang ada di punggung binatang itu..." penjaga yang bertugas di penjagaan awal berteriak mengingatkan agar penjaga di bagian selanjutnya segera membuka tabir pelindung, agar binatang itu bisa dengan segera memasuki wilayah perbukitan.


Dengan sigap, begitu mendengar teriakan dari penjaga di depan, para penjaga dengan cepat membuat formasi dan gerakan kanuragan untuk membatalkan tabir pelindung. Sebenarnya Chakra Ashanka memiliki kemampuan sendiri untuk membuka tabir tersebut, tetapi saat ini kondisinya tidak memungkinkan. Melihat tatapan dan gerakan tergesa-gesa yang ditunjukkan Singa Ulung, menandakan jika binatang itu sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja, mereka tidak mengenali anak-anak muda yang berada di atas punggung binatang itu.


Begitu tabir pelindung terbuka, dengan kecepatan penuh Singa Ulung menerobos masuk ke dalam perbukitan Gunung Jambu. Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu merasa tercengang, melihat bagaimana binatang itu menunjukkan sikap seperti tidak biasanya.

__ADS_1


"Apakah kita melakukan kesalahan, dengan tidak melakukan pemeriksaan terlebih dahulu pada orang yang berada di punggung Singa Ulung..?" salah seorang murid yang sedang berjaga, bertanya pada murid lainnya.


"Tidak ada yang salah dalam situasi ini. Bukankah kita semua membuka formasi tabir pelindung karena mendapatkan perintah dari teman kita yang berjaga di gerbang awal." murid lainnya menjawab pertanyaan itu.


"Iya.., apalagi kita membukan formasi untuk membiarkan binatang kesayangan Guru untuk masuk ke kawasan perguruan. Apalagi terlihat beberapa orang di punggungnya, sepertinya sedang dalam keadaan pingsan. Kita akan melapor bersama-sama kepada ketua kita." salah satu murid juga ikut menanggapinya.


Sementara itu, begitu bisa menerobos tabir pelindung yang baru saja dibatalkan, Singa Ulung langsung terbang dan menukik turun di depan pondhok untuk istirahat Wisanggeni dan Rengganis. Beberapa murid langsung heboh dan berteriak-teriak melihat ada empat orang yang sedang tidak sadarkan diri berada di punggung binatang itu.


"cepat beri pertolongan pada orang-orang itu. Sebagian yang lain, beri informasi ini pada guru." salah satu ,murid berteriak memberi perintah pada temannya yang lain.


Dengan sigap, murid-murid menyebar. Sebagian berlari untuk memberi tahu Wisanggeni, dan yang lainnya mengangkat tubuh ke empat laki-laki muda itu dan membawanya masuk ke dalam pendhopo.


*************

__ADS_1


__ADS_2