Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 408 Rasa Khawatir


__ADS_3

Melihat kedua orang tua saling beradu kekuatan denga beradu pandang di depannya, Chakra Ashanka menjadi tidak nyaman. Anak muda itu memegang punggung sesepuh kerajaan dengan tangan kanannya, dengan maksud agar menarik kekuatannya. Merasakah sentuhan di punggungnya, sesepuh kerajaan itu menarik kembali kekuatannya, kemudian menoleh ke belakang, menatap Chakra Ashanka dengan damai.


"Ada apa Den Bagus Chakra Ashanka.., ijinkan saya untuk memberi pelajaran pada laki-laki tua kurang ajar ini. Tidak ada sopan santunnya, mengacaukan upacara kerajaan, apalagi akan menghalangi pengukuhan Den Bagus sebagai patih kerajaan Logandheng." sesepuh kerajaan menyampaikan kekesalannya pada Chakra Ashanka.


"Tidak masalah paman.., mereka hanya akan menyampaikan uneg-uneg mereka, yang sebelumnya mereka terhambat untuk menyampaikannya. Mohon ijin paman.., saya akan mengajak orang-orang ini untuk berbicara, apa sebenarnya yang ingin mereka sampaikan kepada saya. Namun.., jika paman tidak mengijinkan, tidak akan menjadi apa." dengan sopan, anak muda itu meminta ijin pada sesepuh kerajaan itu.


Sesepuh kerajaan itu terdiam untuk beberapa saat, laki-laki tua itu memandang anak muda itu dengan banyak pertimbangan. Tetapi setelah beberapa saat kemudian..


"Den bagus.. apa tidak lebih baik jika Den bagus kembali masuk ke dalam istana. Upacara pengukuhan tetap bisa dijalankan, saya sendiri yang akan menghadapi laki-laki tua tidak tahu diri ini. Setiap saat, bisanya hanya membuat kericuhan saja, Tetapi begitu kerajaan membutuhkan bantuan tenaga, mereka tidak pernah menunjukkan dharma baktinya pada kerajaan." laki-laki tua itu seperti keberatan.


"Paman.. saya mohon paman bisa memahami perasaan saya. Akan menjadi sesuatu yang tidak nyaman, dan bisa mengganjal selamanya jika saya menolak untuk mengajak bicara, dan mengetahui apa yang mendasari penolakan dari orang-orang itu., Berilah ijin pada saya paman, bahkan saya akan siap untuk melepaskan kesempatan saya, untuk menjadi Patih kerajaan, mendampingi Raja Bhadra Arsyanendra jika saya kalah dengan paman tersebut," sesepuh kerajaan itu terkejut mendengar pernyataan dari anak muda di depannya itu. Sangat jelas dan nampak bagaimana Chakra Ashanka sedikitpun, tidak memiliki ambisi terhadap jabatan tersebut. Dirinya yang semula ikut menolak, ketika Raden Bhadra Arsyanendra menyampaikan niatnya, ikut meragukan kemampuan anak muda di depannya itu. Namun kejadian ini, dengan dewasa Chakra Ashanka menghadapi semuanya dengan kepala dingin.


Bahkan laki-laki tua dan beberapa orang yang datang bersamanya, turut terkejut melihat pernyataan dan sikap lembah manah anak muda itu. Beberapa saat kemudian..

__ADS_1


"Baiklah.. jika itu memang sudah menjadi kehendakmu sendiri Den Bagus.. saya akan mengijinkanmu. Hati-hatilah.. dan jangan sungkan untuk meminta bantuan pertolongan pada kami, jika memang Den Bagus tidak mampu menghadapi kekuatan laki-laki tua itu." akhirnya sesepuh kerajaan memberikan ijin pada Chakra Ashanka.


Sesepuh itu kemudian memundurkan tubuhnya beberapa langkah ke belakang, dan berdiri sejajar dengan anak muda itu. Chakra Ashanka tersenyum, kemudian menatap pada laki-laki tua yang memimpin puluhan orang untuk menentang pengukuhannya sebagai patih kerajaan.


"Paman.. seperti apa yang sudah saya sampaikan dengan sesepuh kerajaan, apakah ada yang ingin paman sampaikan kepada saya." dengan tutur kata halus, Chakra Ashanka bertanya pada laki-laki tua yang masih menatapnya dengan pandangan tajam itu. Sedikitpun tidak terlihat ada ketakutan di wajah Chakra Ashanka.


"Aku malas untuk berdebat atau bertukar pikiran padamu bocah. Melihat dan mendengar pembicaraanmu dengan sesepuh kerajaan, jujur aku terpana dengan tutur katamu yang halus, menandakan jika kamu adalah orang yang terpelajar dan bukan dari keluarga sembarangan. Namun untuk menjadi Patih kerajaan, yang juga merangkap sebagai Senopati.. tidak hanya dibutuhkan tutur katamu. Aku beri kesempatan padamu, untuk membuktikan ilmu kanuraganmu kepadaku." laki-laki tua itu mengurangi tekanan suaranya.,


Chakra Ashanka tersenyum, dan menganggukkan kepalanya ke bawah. Anak muda itu berjalan lebih mendekat pada laki-laki tua itu, kemudian berbisik di telinganya.


"Baiklah anak muda.. Aku akan mengirimkan serangan kepadamu tiga kali, jika kamu kalah maka kamu memang tidak layak untuk duduk pada posisi Patih di kerajaan ini. Apakah kamu sanggup?" dengan suara tegas laki-laki tua berbicara pada Chakra Ashanka.


Dengan tegas, anak muda itu menganggukkan kepala menyetujui apa yang diperintahkan oleh laki-laki tua itu. Melihat persetujuan anak muda itu, sesepuh kerajaan dan para prajurit terkejut melihat itu semua. Mereka belum yakin akan kemampuan yang dimiliki Chakra Ashanka, meskipun di awal anak muda itu sudah menunjukkan kekuatannya.

__ADS_1


"Aku tidak akan mencurangimu anak muda.. Sama halnya denganmu, kamu juga boleh melakukan hal yang sama kepadamu sebanyak tiga kali. Bersiaplah anak muda.. aku akan mengondisikan orang-orangku." orang tua itu kemudian membalikkan badannya setelah melihat persetujuan dari anak muda itu.


Chakra Ashanka terdiam menunggu laki-laki tua itu, dan sesepuh kerajaan juga terdiam melihat apa yang terjadi di depannya. Setelah beberapa saat, akhirnya laki-laki tua itu kembali berjalan ke tempat Chakra Ashanka menunggu. Orang-orang yang datang bersama laki-laki tua tersebut, secara serentak memundurkan langkahnya ke belakang. Melihat hal itu, sesepuh kerajaan melakukan hal yang sama. Tanpa bicara, laki-laki tua itu memberi isyarat pada para prajurit untuk menjauh dari tempat anak muda itu berada. Akhirnya dengan tidak menunggu lama, tersisa Chakra Ashanka dan laki-laki tua itu di tengah pelataran.


Tanpa disadari oleh anak muda itu, dari kejauhan terlihat Wisanggeni, Rengganis dan Parvati melihatnya sambil tersenyum. Di atas punggung Singa Ulung, ternyata ayahnda Chakra Ashanka itu menyaksikan putranya beradu pendapat dengan laki-laki tua yang sempat meragukan kemampuan anak muda itu. Juga terlihat wajah khawatir dari sesepuhn kerajaan, dan para prajurit yang banyak terdapat di pelataran pagelaran tersebut.


"Bagaimana kang.., apakah kita hanya akan melihat putra kita bertarung?" dengan suara pelan, terdengar kekhawatiran dari nada bicara Rengganis. Sebagai seorang ibu, dimanapun pasti perempuan akan mengkhawatirkan hal yang sama.


"Tenanglah Nimas.. jangan ragukan kekuatan kanuragan yang dimiliki oleh putra kita Chakra Ashanka. Anak itu memiliki kekuatan yang belum banyak orang bisa menandingi kemampuannya. Energi dan aura batin laki-laki tua yang menantang putra kita bertarung, dapat aku ketahui sampai dimana tingginya Nimas. Lihatlah.., dan jika Nimas tidak sampai hati melihatnya, kembalilah ke penginapan dengan Nimas Parvati." Wisanggeni menjawab kekhawatiran yang diutarakan oleh Rengganis,


"Tidak kakang.. aku akan disini bersamamu untuk melihat dan menguji sendiri bagaimana kemampuan putra kita. Nimas janji, akan mencoba untuk mengendalikan diri," ucap Rengganis,


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu melihat wajah istrinya yang masih jelas menunjukkan kekhawatiran, dan juga Parvati yang mengkhawatirkan kemampuan kakangmasnya.

__ADS_1


********


__ADS_2