Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 438 Takdir Sudah Mempertemukan


__ADS_3

Rengganis juga tidak ketinggalan, perempuan muda ini menatap tajam perempuan tua di depannya. Jika dihitung dengan bilangan waktu, seharusnya perempuan tua bernama Santo Rini sudah tidak berdaya, atau mungkin sudah betul-betul menghilang dari muka bumi ini. Tetapi.. tanpa ada yang melakukan pemaksaan, perempuan tua di depan mereka menyebut dirinya dengan nama Santo Rini, Jika perempuan tua ini benar adanya, berarti dia adalah perempuan pilih tanding, yang berusaha menegakkan kedamaian di muka bumi, meskipun kekerasan menjadi jalan untuk dirinya.


"Ada apa anak muda... kenapa kalian berdua terkejut mendengar namaku. Jangan  mempercayai rumor yang beredar di masyarakat, mereka hanya ingin membuat anak kecil ketakutan dengan menyebut namaku. Apakah aku terlihat mengerikan.." melihat dua orang dewasa di depannya, terlihat terkejut dan terdiam, perempuan tua itu memecah kesunyian. Parvati juga tampak kebingungan, tidak dapat memahami keadaan yang terjadi pada kedua orang tuanya.


"Bukannya kami meragukan keberadaan Nini Sinto... namun jika kita tarik mundur ke belakang. Seharusnya keberadaan Nini SInto sudah tidak akan muncul lagi  di hadapan orang-orang.. tapi.." Rengganis tidak melanjutkan perkataannya.


"He.. he.. he.. benar apa yang kamu katakan perempuan muda.. Tetapi masih ada hal yang ingin aku selesaikan dulu, hal itu menyangkut tentang urusan duniawi. Sebelum urusan ini terpecahkan, aku tidak akan dengan mudah untuk mencapai nirwana.. masih ada urusan yang akan aku bereskan. Meskipun orang itu sudah melakukan semedi untuk waktu yang lama, dirinyapun juga akan merasakan sepertiku. Tidak akan dapat mencapai nirwana, sebelum urusannya denganku hilang.." perempuan tua itu tersenyum pahit.


Semua yang berada di tempat itu kembali terdiam, perempuan tua itu seperti terbayang lagi dengan kenangan masa lalunya. Kenangan dengan seorang laki-laki muda.. yang sudah mengucap janji seia sekata dengannya. Dimana ada Sinto Rini, maka disitu pula ada laki-laki muda itu. Namun.. karena kesalah pahaman, kedua orang itu akhirnya terpisah, Padahal mereka sudah membuat sebuah janji sehidup semati, dan saling menorehkan darah untuk prasasti janji mereka,


Melihat perempuan tua itu melamun, dan tampak kebekuan dan kesedihan muncul dalam guratan wajahnya, Rengganis menyenggol lengan suaminya. Wisanggeni juga berpikir, ada hal penting yang belum beres dalam masa lalu perempuan tua di hadapannya itu, tetapi dia tidak dapat menerka dan mengetahuinya,


"Nini.. Parvati ingin tinggal di pesanggrahan ini untuk menemani Nini tinggal. Tidak  dapat parvati bayangkan, bagaimana Nini bisa menjalaninya setiap hari.. dan untuk mengetahuinya, maka Parvati akan tinggal dan berada di tempat ini bersama dengan Nini.." tiba-tiba Parvati berbicara, dan semua yang ada di tempat itu terkejut dengan ucapan yang disampaikannya.

__ADS_1


"Parvati.. apakah kamu tidak asal berbicara putriku.. Pikirkan dan pertimbangkan terlebih dulu sebelum kamu memutuskan sesuatu.." merasa khawatir dengan nasib putrinya di masa depan, Rengganis memotong perkataan gadis muda itu.


Wisanggeni hanya diam melihat reaksi yang ditunjukkan oleh istrinya. Tetapi juga ingin tahu, hal apa yang mendasari putrinya berani membuat pernyataan seperti itu. Di luar dugaan, perempuan tua itu tersenyum mendengar jawaban gadis muda itu.


"Aku hargai keberanian dan tekadmu gadis muda.. Kamu akan membuang ego dan sikap kekanak-kanakanmu dengan meninggalkan kedua orang tuamu..  Apakah kamu betul-betul ingin berada di pesanggrahan ini, ataukah kamu hanya merasa kasihan melihat keadaanku gadis muda..?" tiba-tiba perempuan tua bernama Sinto Rini itu bertanya pada Parvati.


"Parvati tidak tahu Nini Sinto.. seperti ada keterkaitan dalam hati Parvati dengan tempat ini. Ketika beberapa waktu lalu, ayahnda dan ibunda mengajakku untuk menuruni tebing tinggi, seperti ada sebuah panggilan dalam batin untuk mendatangi tempat ini. Apakah itu biisa dijadikan sebagai sebuah alasan, sehingga Parvati diterima disini untuk menemani Nini Sinto.." Parvati berbicara dengan lancar.


Rengganis dengan tatapan khawatir kembali menatap ke mata putri suaminya dengan Maharani. Meskipun gadis muda itu tidak terlahir dari rahimnya sendiri, tetapi Rengganis selalu memperlakukan Parvati seperti putrinya sendiri. Ada perasaan takut kehilangan, ketika mendengar gadis itu menyanggupi permintaan Nini Sinto Rini untuk tinggal bersamanya,


"Tidak ada pilihan lain untuk kita Nimas.. Parvati memang sudah masuk pada masanya, usianya memang harus sudah berlatih sendiri, menempa dirinya untuk mengerti dari makna kehidupan yang sebenarnya. Sepertinya.. dengan berada disini, gadis kita akan dapat mempelajari bagaimana rasanya kesepian, berpisah lama dengan orang-orang yang dicintainya.. dan banyak lagi yang akan dipelajarinya dari Nini Sinto. Apakah kamu setuju denganku Nimas Rengganis..?" tidak diduga, ternyata Wisanggeni memiliki pemikiran lain.


Rengganis kembali terdiam, rasa sesak seakan naik memenuhi rongga dadanya. Kelopak mata perempuan muda itu berlinang air mata, terasa menyakitkan untuk berpisah dengan putri cantiknya. melihat keadaan ibundanya, Parvati berdiri kemudian berjalan menghampiri Rengganis.

__ADS_1


"Ibunda.. apakah ibunda tidak menginginkan jika Parvati mampu menghadapi dunia sendiri.. Bukannya beberapa waktu lalu, ayahnda dan ibunda sudah setuju, untuk Parvati menempuh perjalanan sendiri untuk menemukan makna kehidupan. Saat ini adalah saatnya bunda..., dan Parvati juga berjanji. Untuk beberapa waktu, Parvati akan kembali ke perguruan Gunung Jambu.." ucap Parvati perlahan. Gadis muda itu memeluk ibundanya, dan kesedihan terasa sangat kental di tempat itu.


Beberapa saat waktu terlewatkan, Sinto RIni dan Wisanggeni melihat dua perempuan itu saling berpelukan. Setelah itu, perlahan Rengganis melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Parvati dengan tersenyum.


"Tidak kusangka, putri ibunda dan ayahnnda sudah berangkat menuju dewasa. Jika hal itu sudah menjadi tekad bulatmu Nimas... tidak ada pilihan lain untuk ibunda. Pergilah.. tinggallah dengan Nini Sinto putriku.. Ijin, doa dan restu ibunda selalu menyertaimu.." Rengganis memberikan ciuman di dahi gadis muda itu.


Parvati kemudian mengalihkan pandangannya menuju ke  ayahndanya Wisanggeni. Laki-laki itu lebih bisa menerima, dengan senyuman lebar Wisanggeni merentangkan kedua tangannya. Parvati segera berjalan dan menjatuhkan tubuhnya pada pelukan ayahndanya. beberapa saat kemudian..


"Wisanggeni.., Rengganis.., Parvati.. sepertinya takdir memang sudah mengatur, dan akhirnya mempertemukan kita semua di tengah hutan ini. Suatu saat aku akan bercerita, jika nama Sinto Rini sangat terkait erat dengan keberadaan Perguruan Gunung Jambu, hanya saja untuk kali aku belum bisa untuk menceritakannya.." tiba-tiba perempuan tua itu berbicara tentang perguruan Gunung Jambu,


"Kami bertiga akan menunggu penjelasan dari Nini Sinto.. kapanpun itu.." sahut Wisanggeni sambil tersenyum.


Perempuan tua itu kemudian meraih tangan Parvati, kemudian membawa gadis muda itu untuk berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Masih ada waktu untukmu sebelum benar-benar berpisah dengan kedua orang tuamu Parvati. Nini memberimu waktu tiga hari, untuk mempersiapkan mental dan jiwamu.." Sinto Rini berbicara pelan pada Parvati. Gadis kecil itu menganggukkan kepala dengan mantap.


*********


__ADS_2