Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 344 Menunggu Besok


__ADS_3

Mata raja Adhyaksa membulat semakin tajam, senyuman seketika hilang, raib dari wajahnya. Dengan tatapan melotot, laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan melihat pada wajah Bhadra Arsyanendra dan Chakra Ashanka dengan seksama. Melihat penampakan hal tersebut, kedua pengawal Bhadra Arsyanendra langsung bersiaga. Tetapi lima orang pengawal bayangan istana, keluar dan mengendalikan kedua pengawal putra mahkota kerajaan Logandheng itu,


"Huh..., apakah hal ini merupakan sambutan yang diperoleh seorang keponakan ketika berkunjung ke tempat pamannya..?" melihat ekspresi Raja Adhyaksa, sambil tersenyum, Bhadra Arsyanendra berkomentar terhadap sikap yang ditunjukkan oleh pamannya itu.


Mendengar perkataan bocah kecil itu, raja Adhyaksa menjadi tergagap. Dengan cepat laki-laki itu merubah raut wajahnya, kemudian kembali memandang keponakannya itu sambil tersenyum.


"Jangan salah paham dengan sikap paman barusan Raden Bhadra. Paman tidak menyukai, dalam hal ini kamu mengajak pamanmu ini bermain-main, Keamanan kerajaan Logandheng menjadi hal yang utama dalam kepemimpinan paman, tetapi kamu hanya menganggap hal ini sebagai sebuah permainan belaka," Raja Adhyaksa menanggapi perkataan bocah itu.


"Keamanan kerajaan Logandheng..., dengan hanya fokus melakukan penyerangan di wilayah perbatasan, yang jelas-jelas sudah ada perjanjian kesepakatan perdamaian dengan perguruan Gunung Jambu. Padahal di wilayah lain, jelas-jelas ada tempat yang terang-terangan mereka menyatakan pemberontakan dan ingin membebaskan dari kungkungan kerajaan Logandheng. Kenapa itu malah luput dari perhatian paman Adhyaksa, dan malam fikus untuk menyerang perguruan Gunung Jambu??" dengan maksud meragukan kepemimpinan pamannya, Bhadra Arsyanendra membuat pernyataan yang mempersulit laki-laki itu.


Duduk disampingnya, dan mendengar serta melihat langsung, bagaimana bocah kecil itu berbicara, Chakra Ashanka merasa terkesan dengan pembawaan bocah kecil itu. Tatkala anak muda itu bertemu dengan bocah kecil itu di perguruan Gunung Jambu, bocah kecil itu membawa aura yang lemah. Tetapi kali ini, pembawaan dan tutur kata Bhadra Arsyanendra sangat mengejutkannya.


Di depan tempat duduk mereka, wajah Raja Adhyaksa terlihat pucat. Laki-laki itu seperti kehilangan pemikirannya sejenak. Sebegitu percayanya raja Adhyaksa dengan patih Wirosobo, dan bahkan sering menjadikan laki-laki paruh baya itu sebagai penasehat, sering melupakan hal-hal seperti yang disampaikan oleh keponakannya saat ini. Laki-laki itu juga bingung, kenapa sedemikian percayanya dia pada Patih Wirosobo.


"Bagaimana paman Adhyaksa..., apakah ada kekeliruan dari kalimat yang telah Bhadra sampaikan?" melihat laki-laki itu terdiam dan tampak kegugupan melandanya, Bhadra Arsyanendra kembali bertanya.

__ADS_1


"Biarkan paman sejenak Raden Bhadra. Tiba-tiba paman merasa pusing dan membutuhkan waktu untuk istirahat. Kembalilah ke bagidan di istana ini, aku juga akan masuk ke Kraton Kilen untuk beristirahat sebentar. Lain waktu kita akan lakukan pembicaraan ini lagi. Istirahatlah.." Raja Adhyaksa tiba-tiba langsung berdiri, kemudian berpesan pada keponakannya itu.


"Silakan paman.., saya juga tidak bisa untuk menahan agar paman tetap berada di ruangan ini untuk sebentar lagi. Masih banyak hal, yang harus saya diskusikan dengan paman, karena Bhadra tidak suka untuk menunda masalah." Bhadra Arsyanendra menjawab dengan nada sarkasme. Senyuman mengejek tampak jelas terukir di bibir bocah kecil itu, dan Chakra Ashanka hanya membiarkannya.


Raja Adhyaksa berhenti sebentar, kemudian melihat ke arah keponakannya itu. Tetapi raja tidak memberikan tanggapan, perlahan laki-laki itu keluar dari ruang pendhopo dengan pengawalan yang ketat dari para prajurit kerajaan.


**********


Di kraton Kanoman


"Pangeran Bhadra.., bagaimana rencana yang akan dilakukan Pangeran selanjutnya, kami pada abdi dalem akan siap untuk menyumbangkan jiwa raga kami kepada keluarga ini." salah satu abdi dalem yang dulu selalu melayani raja, bertanya pada bocah itu.


"Iya Pangeran.., bahkan jika Pangeran bersedia untuk naik takhta saat ini juga, kami akan siap untuk membuat pengaturan agar Pangeran segera mendapatkan haknya, dan merampasnya dari Raja Adhyaksa. Raja itu tidak seperti yang sudah kita pikir selama ini, begitu mudahnya terjerumuskan oleh orang-orang yang menginginkan kekayaan dan nama besar dari kerajaan." dengan berapi-api salah satu pengawal raja di masa lalu, menimpali pertanyaan orang yanh bicara sebelumnya.


Bhadra Arsyanendra tersenyum, bocah kecil itu mengangkat tangannya dan memegang bahu Chakra Ashanka. Sepertinya bocah itu meminta putra Wisanggeni dan Rengganis itu untuk turut berbicara.

__ADS_1


"Mohon dimaafkan Raden Bhadra. Tidak ada hakku untuk bersuara di tlatah kerajaan ini. Kita berasal dari dua wilayah yang berbeda, dimana perguruan Gunung Jambu bukan masuk dalam tlatah kerajaan Logandheng. Jadi tidak ada gunanya saya menyampaikan pendapat disini.." dengan suara tegas, Chakra Ashanka menolak permintaan Bhadra Arsyanendra untuk berbicara.


"Omong kosong apa ini kakang Ashan.., aku yang meminta kakang Ashan untuk berbicara. Dengan atau tanpa persetujuan kang Ashan.., aku sudah menganggap kakang sebagai penasehatku, dan akan selalu bersama denganku di istana ini. Bahkan.., aku akan lebih mempercayai perkataan yang diucapkan oleh kakang Ashan, daripada yang diucapkan oleh paman Adhyaksa dan para pamong kerajaan lainnya." dengan suara sedikit keras, Bhadra Arsyanendra menanggapi perkataan Chakra Ashanka.


Melihat reaksi yang ditunjukkan bocah kecil itu. anak muda dari perguruan Gunung Jambu itu ingin mengacak-acak rambut bocah tersebut. Tetapi mengingat bagaimana posisi bocah kecil itu saat ini, sebagai putra mahkota kerajaan Logandheng, akhirnya Chakra Ashanka hanya menghela nafas panjang.


"Hmmm..., baiklah hal apa yang harus aku ucapkan disini Pangeran Bhadra..?" akhirnya dengan nada sarkasme, Chakra Ashanka menanggapi perkataan Bhadra Arsyanendra.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya... Apakah kita akan menunggu reaksi yang ditunjukkan oleh paman Adhyaksa, ataukan kang Ashan memiliki pendapat lain untuk kita lakukan?" akhirnya dengan jelas, Bhadra Arsyanendra bertanya pada Chakra Ashanka.


"Menurutku saat ini kita menunggu dulu respon yang ditunjukkan oleh raja Adhyaksa. Bagaimanapun keadaannya, saat ini beliau yang menjadi raja di kerajaan ini. Kita harus menghormatinya, dan itu juga menjadi kewajiban kita. Jika sampai beberapa waktu ke depan, ternyata raja tidak memberikan tanggapan, kita bisa meminta kembali penjelasan dari beliau." akhirnya Chakra Ashanka membuat saran yang mengamankan posisi mereka di kerajaan logandheng saat ini.


"Aku menyetujui usulmu kakangmas.., malam ini kita beristirahat dulu di istana ini. Jika sampai besok siang, tidak ada panggilan atau undangan untuk kita menghadiri pagelaran di istana, maka kita akan menanyakannya bersama-sama. Untuk sekarang, hari sudah malam..  sudah saatnya kita untuk pergi beristirahat.." akhirnya Bhadra Arsyanendra mengajak mereka untuk menunggu besok siang.


************

__ADS_1


__ADS_2