
"Apakah yang kita lakukan dengan perempuan-perempuan itu Akang?" tanya Rengganis pada Wisanggeni. Mereka masih berada di kedai makanan yang ada di pinggir desa
Lapisan Pelindung Alam yang digunakan Niken Kinanthi, lumayan efektif untuk menyembunyikan mereka dari orang-orang yang menyekap mereka. Niken Kinanthi saat ini sedang memberikan wejangan pada perempuan-perempuan itu agar mereka menghentikan kebiasaan buruk yang mereka dapatkan, selama disekap oleh orang-orang itu.
"Kita minta saja mereka untuk kembali ke asal mereka masing-masing." kata Wisanggeni, dia tidak berminat untuk melanjutkan perjalanan dengan membawa tambahan 10 orang perempuan.
"Mudah bagi Akang, tapi akan terasa sulit untuk mereka. Bagi yang bisa menyelamatkan martabat mereka sebagai seorang perempuan, tidak akan ada masalah bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman. Tetapi, beberapa dari mereka sudah ternoda oleh laki-laki hidung belang. Masyarakat akan mengucilkan mereka." lanjut Rengganis.
Wisanggeni terhenyak mendengar ucapan Rengganis, dia berpikir sejenak. Setelah menghela nafas ..
"Tapi apakah kamu berpikir untuk membawa perempuan-perempuan itu menyertai perjalanannya kita Nimas? Hah.., akan sulit untuk melindunginya kita dengan sejumlah perempuan sebanyak itu." kata Wisanggeni sambil menatap mata Rengganis.
"Atau coba kita tanyakan pada Nimas Niken. Siapa tahu dia memiliki usul." kata Rengganis. Beberapa hari mereka pergi bertiga, saat ini Rengganis merasa sudah sedikit dekat dengan gadis itu. Meskipun dia tetap harus hati-hati dengannya, tetapi dia merasa cocok mendapatkan seorang teman perempuan dalam perjalanan.
Wisanggeni tersenyum, dia seperti kurang percaya dengan obrolan itu. Tetapi melihat tatapan mata Rengganis yang terlihat jujur, Wisanggeni akhirnya menyimpulkan jika sudah berkurang rasa cemburunya.
Tidak lama kemudian, Niken Kinanthi berjalan menghampiri mereka berdua.
"Bagaimana Nimas, apa yang sudah kamu bicarakan dengan para perempuan itu?" tanya Wisanggeni pelan.
Niken Kinanthi duduk di hadapan Wisanggeni. Dia mengambil cangkir kemudian minum beberapa teguk.
"Aku hanya menasehatinya untuk kembali ke jalan yang benar. Syukurlah, mereka bisa menerima." sahut Niken Kinanthi sambil tersenyum.
"Tetapi apakah Nimas juga memikirkan, setelah dia berada di sini mau kemana mereka? Apakah mereka bisa dengan suka rela untuk kembali ke kampung halaman mereka?" tanya Rengganis dengan hati-hati.
__ADS_1
"Akang tidak perlu khawatir. Niken punya kerabat yang tinggal di daerah sini. Mereka semua bisa bergabung dengan perguruan itu,. biar mereka membekali diri mereka dengan Kanuragan. Jika mereka memiliki sedikit saja ilmu Kanuragan, mereka akan bisa menjaga diri mereka di masa depan. Sehingga tidak mudah tergiur dengan tipu daya." kata Niken Kinanthi panjang lebar.
"Dan maafkan kelancangan Niken juga Kang, tanpa seijin Akang dan Nimas Rengganis, Niken juga meminta untuk mengirimkan tambahan dua orang andalan dari perguruan itu. Mereka lebihengdnal.wilayah sini, sehingga akan lebih cepat mengantarkan kita ke Gunung Baturetno." lanjut Niken Kinanthi.
Wisanggeni terkejut dengan kerja cepat dari perempuan yang sudah pernah ditunangkan kepadanya itu. Rengganis juga tampak manggut-manggut mendengarkan penjelasannya.
"Terima kasih Niken.., kamu ternyata sudah lebih jauh memikirkan untuk membantuku. Terus untuk selanjutnya bagaimana, kita akan datang ke perguruan kerabatmu atau mereka yang akan mencari kita?" tanya Wisanggeni tertarik dengan pendapat yang diusulkan Niken Kinanthi.
"Kita istirahat saja dulu disini! Mereka sudah mengirimkan orang-orangnya kemari. Kebetulan kami dari leluhur diberikan semacam warisan untuk berbicara dengan telepati pada kerabat-kerabat kami." kata Niken Kinanthi lirih.
*********
Setelah beberapa dupa berlalu, muncullah lima orang kerabat Niken yang sudah berada di hadapan mereka. Niken Kinanthi mengajak Wisanggeni dan Rengganis untuk menemui mereka.
"Kang Wisang, Nimas Rengganis... mereka ini semua adalah kerabatku." Niken Kinanthi mengenalkan 5 orang yang terdiri dari dua laki-laki dan tiga perempuan.
Wisanggeni dan Rengganis mengangkat dua tangan mereka di depan dada, untuk mengenalkan diri mereka.
"Baiklah Nimas Niken.., saya rasa tidak akan menjadi lebih baik jika kita hanya tetap berada di tempat ini. Kami akan langsung undur diri dengan membawa perempuan-perempuan itu." ucap Sawitri.
"Saya rasa juga begitu. Ayo sebelum petang datang, kita harus segera meninggalkan tempat ini." Sudiro menambahkan.
Akhirnya rombongan terbagi dalam dua kelompok. Setelah berjalan sejauh dua kilometer, mereka memisahkan diri sesuai tujuan masing-masing. Wisanggeni dan rombongan lurus langsung menuju arah gunung Baturetno, sedangkan rombongan satunya yang terdiri dari 13 perempuan mengambil langkah ke arah kanan.
"Jika ada apa-apa segera kirimkan kabar, Guru akan langsung menuju kesana." pesan Sawitri pada Niken Kinanthi.
__ADS_1
"Baik mbakyu, terima kasih. Salam untuk paman di perguruan." Niken Kinanthi menghaturkan salam untuk adik ayahndanya.
Wisanggeni dan rombongan melihat pada 13 perempuan itu sampai punggungnya tidak terlihat lagi. Sudiro yang lebih mengenal wilayah disitu, segera memimpin di depan. Sedangkan Atmojo berjalan di belakang bersama Wisanggeni, sedangkan Rengganis dan Niken Kinanthi berada di posisi tengah.
"Nanti kita harus istirahat dulu di lima desa yang ada di depan kita. Karena kita harus menemui juru kunci agar mendapat ijin untuk naik ke atas pegunungan." Sudiro membuka pembicaraan.
"Berarti Gunung Baturetno ada yang memiliki?" tanya Wisanggeni sedikit bingung.
"Yah, tidak dipungkiri lagi sebenarnya. Juru kunci yang menjaga di awal kaki gunung, adalah orang-orang dari Alap-alap. Mereka memang ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan awal pada semua tamu yang akan berkunjung untuk menaiki gunung itu." sahut Atmojo pelan.
"Mereka sudah mempersiapkan diri untuk membatasi orang-orang yang akan naik ke atas gunung, karena akan mengganggu ketenangan mereka selama ini." lanjutnya.
Wisanggeni diam, dia berpikir bagaimana mereka akan membuat alasan untuk dapat melewati pemeriksaan dari sang juru kunci.
"Kenapa melamun Kang Wisang?" tanya Niken Kinanthi tiba-tiba.
"Aku hanya berpikir, bagaimana kita nanti akan melewati gerbang pemeriksaan juru kunci?" sahut Wisanggeni.
"Ada Kang Diro dan Kang Atmojo, kita tidak perlu menghabiskan energi kita untuk berpikir. Mereka dari wilayah sini, jadi ada sedikit prioritas untuk dapat memasuki kawasan itu." Niken Kinanthi tersenyum, dia menjelaskan cara mereka bisa masuk ke dalam.
"Iya Ki Sanak, nanti kami akan menggunakan alasan berdagang dan mencari barang dagangan untuk mengelabuhi mereka." Atmojo.menambahkan.
"Baiklah, jika begitu.., saya dan Nimas Rengganis pasrah untuk keamanan kita." kata Wisanggeni sambil mengacungkan dua tangannya di depan dada.
"Tidak perlu sungkan kepada kami Ki Sanak, ayahku dan ibundamu adalah teman di masa lalu. Sudah sepantasnya,. sebagai keturunan dari mereka kita harus saling membantu." Sudiro berbicara dari depan.
__ADS_1
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke depan. Tampak di depan mereka, pemandangan hijau khas pegunungan.
*********