Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 275 Binatang memiliki Jodoh


__ADS_3

Naga terbang yang meluncur turun akhirnya menjejakkan kakinya di atas rumput. Wisanggeni menatap binatang itu dengan tersenyum, dan Chakra Ashanka berdiri di samping ayahndanya. Naga terbang itu tiba-tiba terdiam, dan seperti sedang mencari sesuatu. Beberapa saat Wisanggeni bertatapan dengan naga terbang itu. Mata naga itu terlihat sendu, dan menimbulkan rasa iba juga bertatapan dengannya. Orang-orang yang berada di belakang Wisanggeni terdiam, mereka tidak berani menimbulkan suara sedikitpun.


"Apa yang sedang kamu cari naga kecil.., apakah kamu membutuhkan bantuanku..?" menggunakan telepati, Wisanggeni mengajak binatang itu berbicara. Melihat ada manusia yang mampu menembus dan mengajaknya bicara, binatang itu kembali menatap Wisanggeni dengan seksama.


Wisanggeni tersenyum, laki-laki itu memberanikan diri untuk berjalan lebih mendekat ke arah binatang itu. Chakra Ashanka mengikuti di belakangnya. Sedangkan ketujuh orang lainnya tetap diam tidak berani berjalan untuk mendekati binatang tersebut.


Di luar dugaan mereka, naga terbang juga berjalan maju dan berhenti tepat di depan Wisanggeni dan Chakra Ashanka. Perlahan, Wisanggeni mengulurkan tangannya, kemudian mengusap pelan kepala naga tersebut. Tidak diduga, naga itu seperti merasakan usapan lembut yang diberikan Wisanggeni. Perlahan mata binatang naga kecil itu terpejam, dan tubuhnya semakin merendah. Tidak lama kemudian, naga terbang itu sudah menjatuhkan tubuh seluruhnya di atas hamparan rumput, dan Wisanggeni masih meneruskan aktivitasnya tersebut.


"Bagaimana Wisanggeni bisa menundukkan binatang naga terbang itu?? Ajian apa yang dimilikinya, sehingga binatang seganas itu bisa menurut padanya." Widayat bertanya pada Pangeran Abhiseka dengan lirih.


"Semakin kamu mengenal laki-laki itu, maka akan banyak kejutan yang kamu lihat dari setiap perilakunya. Laki-laki itu memiliki istri yang berasal dari kaum ular, mungkin juga ada pengaruhnya dengan naga terbang itu." Pangeran Abhiseka menjawab pertanyaan dari Widayat. Beberapa orang yang dibawa Widayat terkejut mendengar jawaban dari Pangeran.


"Berarti Wisanggeni itu sepertinya memiliki kehidupan yang rumit. Manusia ular..., hi... geli." ucap Widayati menanggapi perkataan Pangeran Abhiseka. Niken Kinanthi tersenyum melihat gadis itu begidik..


"Nimas Maharani meskipun terlihat dari suku ular, kamu jangan berpikir jika dia adalah seekor binatang yang berwujud ular. Kamu salah..., Nimas Maharani merupakan seorang perempuan yang sangat cantik, sehingga Kang Wisanggeni lebih memilih perempuan itu, daripada memilihku.." ucap Niken Kinanthi dengan tersenyum kecut.


Mendengar tanggapan Niken Kinanthi., dahi Widayati berkerut, tetapi kemudian gadis itu tertawa lebar.

__ADS_1


"Berarti kamu kurang licin..., pesonamu sampai tidak mampu memerangkap laki-laki itu." bisik Widayati di telinga Niken Kinanthi.


"Bisa saja kamu... Aku pernah membuat kesalahan fatal, yang tidak dapat dimaafkan oleh laki-laki itu." ucap Niken Kinanthi lirih.


"Ha..., bagaimana bisa..?? Jika aku belum melihat laki-laki itu sudah memiliki putra sebesar itu, aku mungkin juga memiliki ketertarikan untuk merayunya." sahut Widayati sambil matanya menatap ke arah Wisanggeni.


"Ssttt..., diamlah kalian..! Jangan membuat keributan disini.. Lihatlah.., naga terbang itu sangat menurut pada Wisanggeni.." bisik Sampana mengingatkan Niken Kinanthi dan Widayati.


Widayati dan Niken Kinanthi tersenyum, akhirnya mereka kembali diam dan melihat ke arah Wisanggeni yang masih mengusap kepala naga kecil itu.


**********


Orang-orang yang berada di luar candi, melihat jika tidak terjadi fenomena apapun setelah melihat Wisanggeni dan kelompoknya memasuki bangunan candi. Merasa khawatir, warisan kuno akan dihabiskan oleh laki-laki itu dan kelompoknya, beberapa orang merangsek masuk ke dalam bangunan. Melihat sudah banyak orang yang memasuki bangunan dengan tergesa-gesa..., akhirnya orang-orang yang berada di luar candi, berebut untuk memasuki candi dengan tergesa-gesa.


Baru saja mereka masuk dan sampai di bagian dalam hamparan padang rumput, tiba-tiba fenomena alam terlihat di depan mata mereka. Mata mereka terbelalak melihat pusaran angin dan tanah yang bergolak. Beberapa menghentikan langkah mereka, dan menghindarkan diri dari gulungan angin itu dengan berjongkok di atas tanah. Beberapa orang yang nekat, tergulung pusaran angin dan entah terjatuh di sebelah mana, tidak ada yang akan mencarinya.


"Lihat... ke empat orang yang sudah masuk tadi. Rupanya ada kelompok lain yang juga sudah berada di sana, dan bergabung dengan keempat orang tadi.." salah satu dari orang tersebut menunjuk pada keberadaan sembilan orang yang sedang berlindung dari pusaran angin.

__ADS_1


"Iya.. sepertinya mereka tidak segarang dan sesombong yang dipikirkan orang-orang di luar candi tadi. Mereka cenderung diam dan tidak mencari masalah. Menyesal aku, seharusnya tadi kita memilih mendekati kelompok mereka, sehingga bisa bergabung dengannya." orang lainnya ikut mengomentari kelompok Wisanggeni.


Pusaran angin semakin menderu dan berputar ke arah orang-orang itu, sebagian dari mereka bersiaga mengeluarkan energinya untuk bertahan dari serangan angin tersebut, Tetapi sebagian yang lain, tunggang langgang tidak mampu menahan gempuran angin kencang yang menggulung ke arah mereka. Kejadian itu terjadi untuk beberapa saat, dan tiba-tiba...


"Ada naga keluar dari gundukan tanah itu. Naga terbang ternyata..., lihatlah...!" tiba-tiba seseorang berteriak, dan menunjukkan jari telunjukknya ke arah naga terbang tersebut.


Orang-orang itu terdiam, mata mereka seakan terpatri pada penampakan yang ada di depan mata mereka. Ketika melihat Wisanggeni berdiri dan berjalan mendatangi naga yang menukik turun itu, mereka turut menahan nafas.


"Gila.., laki-laki itu berani mendekati naga terbang. Apakah dia tidak tahu, jika semburan apid ari mulut naga itu mengenainya, mereka bisa terpanggang." seseorang mengomentari Wisanggeni. Mereka kembali terdiam, dan seketika mata mereka kembali terbelalak. Ketika melihat tangan Wisanggeni memberi usapan di kepala naga itu, dan naga terbang itu seakan menikmati perlakuan tersebut. Bahkan ketika naga terbang itu memejamkan mata, mereka menjadi semakin kagum dengan apa yang mereka saksikan tersebut.


"Laki-laki itu sangat beruntung, rupanya dia memiliki keahlian dan kemampuan yang tidak kita semua miliki. Dengan mudahnya laki-laki itu menundukkan naga terbang yang terkenal ganas. Lihatlah.., bagaimana perlakuan naga terbang itu pada laki-laki itu. Mereka seperti seorang majikan dan binatang peliharaannya." seseorang dari kelompok lain ikut berkomentar terhadap keberuntungan Wisanggeni.


"Bagaimana jika kita menarik perhatian naga itu, kemudian merebutnya dari kelompok mereka?" seseorang mengajukan pertanyaannya.


"Jika kamu memiliki keberanian, lakukanlah. Tetapi aku tidak akan mau membantumu.. Setiap binatang memiliki jodoh dengan manusia yang dianggapnya cocok, aku pikir naga terbang itu memang sepertinya memiliki kecocokan dengan orang itu. Lihatlah anggota lain dalam kelompoknya, hanya anak muda itu saja yang berani mendekati binatang itu." seseorang yang lebih tua menanggapi perkataan orang tersebut.


"Baiklah.. jika begitu. Mumpung orang-orang ahli itu sedang memperhatikan binatang terbang, kita bisa lebih dahulu untuk memasuki hutan, sehingga kita bisa lebih dahulu mendapatkan warisan kuno lainnya." akhirnya orang-orang itu dan kelompoknya bergegas menuju hutan yang sudah terlihat di depan mereka.

__ADS_1


*********


__ADS_2