
Setelah beberapa saat menghabiskan waktu berdua dengan Rengganis di kamar, Wisanggeni mengajak istrinya berbicara serius. Banyak ganjalan yang dipendam Rengganis, sehingga laki-laki itu ingin menjawab keberatan yang akan disampaikan istrinya itu. Dengan penuh kasih sayang, Wisanggeni duduk di kursi sedan yang terbuat dari rotan, sambil meletakkan Rengganis di pangkuannya.
"Nimas.., adakah yang ingin kamu tanyakan padaku?? Akang melihat dari pasuryanmu.., ada hal yang kamu pendam untukku." dengan suara pelan sambil menyibakkan rambut Rengganis, Wisanggeni bertanya pada istrinya.
Rengganis menatap wajah suaminya, dan dengan bibir cemberut, Rengganis berbicara pada suaminya.
"Itu siapa lagi, gadis muda yang ikut melatih murid-murid di halaman pesanggrahan?? Apakah itu gadis yang disiapkan Guru untuk dijodohkan denganmu?" tanya Rengganis dengan nada kesal.
"Gadis..., gadis muda yang mana Nimas??? Ha.., ha..., ha..., apakah kamu pikir. Ki Cokro Negoro itu pengumpul perempuan. Sudah lama aku tinggal dengan guruku, belum pernah sekalipun suamimu ini melihatnya berbincang dengan perempuan. Ya tidak mungkin kan.., jika Guru menyiapkan jodoh untukku." Wisanggeni menyangkal pertanyaan Rengganis, sambil jarinya menyentil hidung gadis muda itu.
"Jika bukan Guru.., berarti Nimas tahu sekarang. Gadis muda itu bisa berada di padhepokan ini, karena Akang sendiri kan yang membawanya kesini. Sejauh apa hubungan Akang dengan gadis muda itu..?" di luar dugaan Wisanggeni, Rengganis malah menanyakan pertanyaan yang membuatnya gelagapan.
Wisanggeni menelan ludah, dia mencium rambut perempuan yang duduk di pangkuannya itu.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan Nimas.., Akang? Berarti jawabannya iya, pertanyaan itu?" kembali Rengganis mengucap pertanyaannya itu, matanya terus memandangi wajah suaminya.
"Iya Nimas.., Akang yang membawa Maharani kesini. Gadis muda itu anak buah Akang dari suku ular istriku yang cantik." akhirnya sambil cengar-cengir blingsatan, Wisanggeni menjawab pertanyaan Rengganis. Dia tidak menceritakan, jika dia pernah hampir terlena dengan gadis itu.
"Kenapa sih. kehidupan Akang tidak bisa jauh dengan gadis-gadis muda? Ada Niken Kinanthi, muncul Larasati, dan sekarang ada Maharani." kembali Rengganis memonyongkan bibirnya.
Wisanggeni mmemgang belakang kepala Rengganis, kemudian menekannya ke bawah. Tidak berapa lama, bibir Rengganis sudah terkunci erat oleh bibir Wisanggeni.
"Aaakkh.., mmmm.." sedikitpun Rengganis tidak bisa melepaskan ciuman itu, sampai akhirnya mereka hampir kehilangan nafas.
"Kita keluar sekarang.., atau mau dilanjutkan lagi percintaan kita?" bisik Wisanggeni ke telinga Rengganis.
__ADS_1
"Awww.. kenapa Nimas mencubit Akang?" terdengar pekikan kecil Wisanggeni merasa kesakitan. Jari-jari Rengganis mencubit pinggang suaminya dengan kencang.
"Habis Akang itu pikirannya mesum terus." sahut Rengganis sambil turun dari pangkuan Wisanggeni.
"Lebih suka suami mesum sama Nimas Rengganis, atau dengan gadis muda yang lain." tidak henti Wisanggeni menggoda istrinya.
"Dalam mimpi." jawab Rengganis cepat, sambil membuka pintu dan keluar dari dalam kamar.
"Ha.., ha.., ha.., itu sikapmu yang selalu membuat Akang merindukanmu Nimas.." seru Wisanggeni.
Tidak berapa lama, setelah merapikan pakaiannya, Wisanggeni segera mengikuti Rengganis keluar dari dalam kamar.
***************
Di luar ruangan, mata Rengganis menangkap kehadiran Niken Kinanthi yang sedang duduk di kursi ruang tengah. Di dekatnya duduk kakak-kakak perguruan pamannya, yang dulu telah menemaninya waktu perjalanan ke Gunung Baturetno. Dengan senyum mengembang di bibirnya, Rengganis menghampiri mereka.
"Terima kasih Nimas Rengganis.., dimana Kang Wisang?" tanya Niken reflek, dan Rengganis merasa sedikit cemburu.
"Bagaimana kabarmu Nimas..., dari terakhir kita ketemu, sepertinya kamu sedikit agak lebih berisi?" untung Sudiro juga memberi sapaan pada Rengganis, sehingga mengaburkan pertanyaan Niken.
"Syukurlah, saya sehat dan baik Kakang. Tunggu sebentar lagi, kang Wisang paling lagi sedang berganti baju. Barusan saya di dalam kamar bersamanya." sekaligus untuk memupus harapan Niken, Rengganis dengan telak menjawab pertanyaan Niken tadi.
Niken Kinanthi mengerutkan keningnya, dia mencoba menerka apa yang dimaksud oleh Rengganis. Untungnya dari kejauhan, terlihat Wisanggeni berjalan menuju ke arah mereka.
Sudiro dan Atmojo langsung menyambut kedatangan Wisanggeni, kemudian mereka bergantian memberikan pelukan pada Wisanggeni. Mereka tidak menyangka dari terakhir mereka bersama di Gunung Baturetno, mereka meninggalkan laki-laki itu saat bertarung dengan Tumbak Seto dan akhirnya terjadi ledakan besar. Saat ini mereka melihat tidak ada tanda-tanda atau bekas luka bakar di diri laki-laki muda itu.
__ADS_1
"Wisanggeni.., kamu terlihat lebih bersih dan tampan, dari terakhir kali kita bertemu." Sudiro berkomentar tentang penampilan Wisanggeni saat ini.
Melihat reaksi istrinya menatap Niken Kinanthi dengan pandangan sedikit cemburu, Wisanggeni ingin meyakinkan perasaannya pada istrinya itu.
"Semua sudah berubah Diro.., Atmojo. Istriku sangat peduli dengan penampilanku, dia selalu merawatku seperti berlian berharga." ucap Wisanggeni sambil memberi lirikan pada Rengganis.
Gadis itu mengulum senyum, semburat pink melintas di pipinya. Niken Kinanthi terkejut mendengar perkataan itu, matanya secara bergantian menatap Wisanggeni dan Rengganis. Dia merasa tidak yakin dan kurang percaya jika laki-laki yang pernah ditunangkan dengannya, saat ini sudah menikah.
"Memangnya kamu dan Nimas Rengganis sudah menyatu dalam ikatan.. Wisang?" dengan mulut menganga, Sudiro dan Atmojo bertanya pada Wisanggeni.
Wisanggeni tersenyum, dia kemudian meraih pergelangan tangan Rengganis dan menariknya untuk lebih mendekat padanya. Di depan ketiga tamunya, Wisanggeni memberikan kecupan di kening istrinya.
"Akh.. Kang, lihat banyak orang disini!" Rengganis merasa malu, dia mendorong dada Edward untuk menjauh. Tetapi Wisanggeni malah semakin erat memeluknya.
Wajah Niken Kinanthi terlihat merah padam, dia bingung mengendalikan perasaannya.
"Kita ini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Tidak perlulah merasa malu, biar teman-teman kita disini segera mengikuti jejak kita. Ternyata banyak enaknya jika kita sudah menikah." ucap Wisanggeni meyakinkan Rengganis. Melihat senyum malu-malu di pipi istrinya, Wisanggeni merasa jika istrinya tidak lagi merasa cemburu dengan keberadaan Niken Kinanthi.
"Iya..iya.., sudah Wisang. Jaga kami yang masih lajang ini.., tapi yah.. selamat ya untuk pernikahan kalian berdua. Semoga langgeng sampai ajal yang memisahkannya." Sudiro memberi ucapan selamat pada kedua orang itu.
Atmojo dan Niken Kinanthi bergantian memberikan ucapan pada Wisanggeni dan Rengganis. Mereka melakukan tos bersama-sama.
"Oh ya..., ngomong-ngomong apakah paman tidak ikut bergabung disini?" tiba-tiba Wisanggeni bertanya tentang orang tua Niken Kinanthi.
"Ayahnda Brahmana dan juga paman, keduanya datang bersama kami. Saat ini mereka sedang dijamu dan berbincang dengan sesama yang tua." ucap Niken Kinanthi.
__ADS_1
"Untungnya kalian tidak menanyakan undangan yang langsung kita kirimkan ke tempat kalian. Kita memang harus segera bertindak. Kekejaman Gerombolan Alap-alap memang tidak bisa untuk dianggap remeh, mereka sudah terlalu meresahkan." kata Wisanggeni dengan serius.
********