
Ke empat orang itu akhirnya kembali ke kedai minuman untuk beristirahat. Ayodya Putri merasakan keakraban yang terjalin dengan cepat dalam pertemuan mereka, dan baru kali ini gadis muda itu merasakan hal tersebut. Bahkan dalam hari gadis muda itu, ada rasa malas untuk berpisah dengan orang-orang yang sedang menikmati minuman panas di depannya itu.
"Apakah tidak ada yang mencarimu Nimas Putri.., jika kamu berlama-lama di tempat ini..?" merasa sudah beberapa saat, gadis muda itu masih bersama dengan mereka, Sekar Ratih bertanya kepada Ayodya Putri. Gadis muda itu merasa terkesiap dan kaget mendengar pertanyaan dari gadis kecil itu. Ayodya Putri sendiri juga merasa heran dengan keadaannya sendiri, dan beberapa pengawal yang bertugas memberinya pengawasan juga sudah gelisah menunggunya sejak tadi.
"Kebetulan tidak ada Nimas Ratih. Hari ini memang aku sudah berpamitan dengan ayahnda dan ibunndaku, jika aku akan berjalan-jalan. Karena sudah sekian lama, tidak melakukan perjalanan ini syukurnya kedua orang tuaku sudah mengijinkan. Keduanya tidak akan mencari aku.." Ayodya Putri menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh Sekar Ratih.
"Baiklah Nimas.., hanya saja.. Kami tidak mau menjadi orang yang akan dipersalahkan oleh keluargamu, jika mereka ingin mencari dan bertemu denganmu. Kita tidak menginginkan ada salah paham disini, karena kedatangan kami di kota ini bukan untuk bertarungm melainkan hanya untuk melakukan transit saja." dari samping sambil menyesap minuman panas, Chakra Ashanka ikut menyahuti.
"Jadi kalian semua tidak akan lama berada di kota ini.., dan dalam waktu dekat sudah akan meninggalkan aku disini lagi." dengan perasaan kecewa yang terlihat jelas di mata dan raut wajahnya, Ayodya Putri merasa sangat kehilangan sekali. Baru kali ini, gadis muda itu mendapatkan seseorang yang dirasa layak untuk diajaknya berteman. Namun, ternyata mereka akan segera dipisahkan kembali.
Menyadari perubahan yang terjadi pada gadis muda itu, Rengganis sebagai pihak yang paling tua segera menepuk bahu gadis itu perlahan. Meskipun tidak terlihat, Rengganis tahu jika Ayodya Putri akan sangat kehilangan mereka.
"Ada apa Nimas Putri.., apakah kamu merasa berat untuk berpisah dengan kami. Semua yang ketemu, pada saatnya mereka akan dipisahkan, dan jika ada jodoh semua pasti akan dipertemukan kembali. Yakinlah akan hal itu Nimas.., tidak perlu kamu merasa sendiri. Cobalah untuk membuka hatimu, menerima semua orang dengan pandangan yang sama. Jangan pernah membedakan antara orang satu dengan yang lainnya. Semuanya sama, tidak ada kasta dan pembedaan dari asalnya." Rengganis memberikan petuah dan nasehat kepada gadis muda itu.
Ayodya Putri menengadahkan wajah, dan menatap mata Rengganis dengan perasaan yang tidak dapat digambarkan. Gadis muda itu memeluk erat Rengganis, dan perempuan ibunda Chakra Ashanka itu membalas pelukan gadis muda itu sambil mengusap-usap punggungnya. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Tabuh berapa Bibi dan kang Ashan serta Nimas Ratih akan meninggalkan kota ini?" setelah kembali menguasai dirinya, Ayodya Putri bertanya dengan suara pelan.
"Sepertinya saat dini hari Nimas... Pada saat orang-orang masih terlelap dalam pembaringan, itulah saat yang tepat bagi kami untuk meninggalkan kota ini. Kami akan menuju ke kota Laksa, di Trah Bhirawa.. Disanalah tempat keluarga kami berada." dengan sabar Rengganis meladeni dengan memberikan jawaban atas pertanyaan Ayodya Putri.
*********
Dini Hari
Rengganis yang sudah bersiap diri sedang menunggu Ratih yang masih berada di dalam kamar mandi. Saat ini mereka sudah siap untuk berangkat kembali meninggalkan kota ini. Setelah beberapa saat, Sekar ratih melangkah keluar dari dalam kamar mandi dan langsung menuju ke tempat Rengganis duduk.
"Sudah Bibi.., dan kebetulan semua perlengkapan dan barang sudah sejak tadi, Ratih masukkan ke dalam kepis. Jika Bibi menghenndaki kita untuk berangkat sekarang, sepertinya Ratih sudah siap." sambil tersenyum, Sekar Ratih sudah melakukan apa yang dihimbau oleh Rengganis.
"Baiklah jika begitu.., kita akan segera keluar, dan menunggu putraku Ashan keluar dari kamar istirahatnya." akhirnya Rengganis segera mengajak Sekar Ratih untuk berjalan keluar. Setelah menutup pintu, mereka melihat jika kamar Chakra Ashanka masih tertutup. Mereka mengabaikannya, karena sesuai kesepakatan mereka akan bertemu di ruang depan penginapan tersebut.
Ketika Rengganis dan Sekar Ratih berjalan beberapa saat, ternyata mereka melihat Chakra Ashanka yang sudah berdiri di depan penjaga malam duduk di mejanya. Kedua perempuan itu segera mendatangi laki-laki muda itu.
__ADS_1
"Ibunda dan Ratih hanya tinggal memberikan kunci kamar saja. Semua kelengkapan persyaratan sudah Ashan selesaikan." Chakra Ashanka meminta kedua perempuan itu menyerahkan kunci kamar. Setelah menyerahkan pada penjaga penginapan, ketiga orang itu segera melangkah keluar dari dalam penginapan.
Begitu mereka sampai di luar penginapan, angin dingin berhembus dan menyergap mereka. Tampak kesunyian di tempat itu, para penjaga keamanan tampak terkantuk-kantuk sambil duduk di tempat mereka terjaga. Bahkan kedatangan ketiga orang itu, sama sekali tidak membangunkannya.
"Putraku.., apakah kamu melihat di depan sana..? Sepertinya ada seseorang dengan perawakan seorang gadis sedang berdiri di bawah lampu senthir di pinggir jalan itu." tiba-tiba mata Rengganis menangkap sesosok tubuh yang berdiri sedikit jauh dari tempat mereka berada.
"Iya kang Ashan.., Ratih juga melihatnya. Semoga saja, orang itu tidak memiliki niat buruk kepada kita. Mengingat kejadian kemarin siang yang sudah kita alami." dengan sedikit nada khawatir, dari samping Sekar ratih menambahkan.
Chakra Ashanka mengarahkan pandangan ke tempat yang ditunjukkan oleh kedua perempuan dekat itu. Tetapi anak muda itu mengerutkan dahinya, karena dia merasa mengenal lekuk tubuh dari seseorang yang terlihat dalam kegelapan itu.
"Ibunda.., Ratih.. kita tidak perlu khawatir. Bukankah kita tidak melakukan kejahatan apapun di kota ini. Bahkan kita yang menerima ketidak adilan, namun kita bisa menyelesaikannya dengan baik. Marilah.., setelah melewati orang itu, kita akan memanggil SInga Resti untuk terbang mengantarkan kita. Ibunda dan Ratih, Ashan harap mengendarai binatang itu, sedangkan Ashan akan melatih naga terbang untuk menempuh perjalanan jauh. Ashan belum banyak memberikan pengalaman kepadanya." untuk menghilangkan kecemasan kedua perempuan itu, Ashan segera mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya ketiga orang itu segera menyepakati, mereka kemudian berjalan ke depan untuk melewati bayangan sesosok tubuh di tengah jalan yang seakan sedang menanti kedatangan mereka itu. Tetapi begitu mereka tepat berada di depan bayangan tersebut, senyuman muncul di bibir Rengganis dan Sekar Ratih. Chakra Ashanka yang sudah meyakini siapa orang itu, hanya tersenyum melihatnya.
********
__ADS_1