
Dini hari Wisanggeni terbangun dari tidurnya, laki-laki itu merasakan ada aura kekuatan yang mengintip kamar mereka dari atas genteng. Perlahan laki-laki itu duduk bersila di lantai dan memejamkan matanya, dia akan menakar kekuatan yang berani mencari masalah dengan dirinya.
"Aku merasakan ada tiga energi besar yang ada di sekitar penginapan ini?? Aku dan Maharani harus hati-hati, jangan sampai kami menjadi daging panggang bagi mereka." Wisanggeni berpikir sendiri. Laki-laki itu menoleh ke atas ranjang, dan melihat istrinya masih tertidur lelap. Perlahan Wisanggeni mengangkat dan mengusap punggung Singa Ulung yang tertidur di atas kursi, dan binatang itu menggeliat dan membuka matanya.
"Ulung.., jagalah Maharani. Bawa dia terbang jauh, jika terjadi apa-apa denganku! Sepertinya ada tiga orang yang akan memancing masalah denganku, tidakkah kamu juga merasakan?" laki-laki itu berbisik pada binatang yang ada di pangkuannya itu. Binatang itu seperti memahami apa yang disampaikan laki-laki itu, perlahan Singa Ulung memejamkan mata kemudian membukanya lagi.
Karena hari memang masih pagi, dan menunggu beberapa saat tidak ada gerakan lagi, Wisanggeni memutuskan untuk beristirahat kembali. Untuk berjaga-jaga dari berbagai kemungkinan, Wisanggeni menutup kamar mereka dengan selubung aura untuk melindungi mereka. Seperti mengerti apa yang dilakukan oleh Wisanggeni, Singa Ulung perlahan keluar dari pintu dan berjaga di depan pintu kamar. Perlahan Wisanggeni membaringkan tubuhnya kembali di samping Maharani.
************
Di kamar lain di penginapan yang sama
"Bagaimana Aswojo pengintaianmu di kamar anak muda itu?? Kira-kira apakah kita bertiga akan bisa mengalahkannya. Kita harus memberi pelajaran pada laki-laki dan perempuan itu. Tiga anggota keluargaku terluka parah, aku tidak akan membiarkan mereka melenggang bebas meninggalkan kota ini dengan seenak jidat mereka." laki-laki yang lebih tua bertanya pada rekannya yang bernama Aswojo.
"Jika kita menyerang mereka satu lawan satu, sepertinya tidak ada kekuatan kita yang sanggup untuk menandinginya. Cara satu-satunya adalah kita akan menyerangnya bersama-sama.., dan jangan buat mereka memiliki celah untuk melarikan diri. Aku yakin dengan cara itu, kita akan dapat melumpuhkan mereka." laki-laki bernama Aswojo menjawab pertanyaan rekannya.
__ADS_1
"Keluarkan kekuatan kita secara bersama-sama, dan satu orang dari kita harus mengamati bagaimana laki-laki muda itu membuat segel, Segera kita kirimkan serangan dengan ajian andalan kita, sehingga laki-laki itu tidak memiliki kesempatan untuk mengirimkan serangan pada kita." sahut laki-laki tua dengan jenggot di wajahnya.
Ketiga orang ini adalah anggota keluarga ketiga orang yang mengalami kekalahan ketika bertarung dengan Maharani dan Wisanggeni. Kerasnya perlawanan yang diberikan pasangan suami istri itu mengakibatkan ketiga orang tadi harus mendapatkan perawatan yang serius. Bahkan tabib menyerah untuk mengembalikan kondisi mereka pulih seperti semula. Setelah melakukan penyelidikan dan mengetahui penyebab kondisi anggota keluarganya, mereka segera datang ke penginapan ini untuk menuntut balas.
Mendapatkan bocoran tentang kamar yang ditempati Wisanggeni dan Maharani, ketiga orang itu dengan licik melakukan pengintaian ke kamar yang ditempati pasangan suami istri. Mereka tidka mengerti jika Wisanggeni sudah bisa mengendus akal licik mereka. Bahkan untuk kemungkinan terburuk yang dapat terjadi dengannya, dia sudah menyiapkan rencana untuk menghadapinya.
*******
Pagi hari setelah mereka membersihkan diri, Wisanggeni mengajak Maharani untuk segera melakukan sarapan pagi. Laki-laki itu tidak menceritakan apa yang ditemuinya pada dini hari tadi. Dia tidak mau membuat Maharani khawatir sehingga mengganggu suasana makan pagi mereka. Karena mereka sudah memesan menu sarapan pagi pada pemiliki penginapan, kedua pasangan itu tidak perlu bersusah payah untuk mencari makan di luar penginapan. Mereka bisa melakukan sarapan pagi di ruang makan yang ada di depan penerima tamu.
"Iya kang.., Nimas juga sudah tidak sabar untuk segera ketemu dengan keluarga Nimas di istana ular." jawab Maharani sambil tersenyum. Untungnya tidak lama, pelayan penginapan segera datang mengantarkan makanan untuk mereka.
Wisanggeni menggeser piring ke depan Maharani, dan mengambilkan nasi untuknya dan Maharani. Keduanya saling membantu dan saling melayani, tidak mengharuskan jika seorang istri harus memberikan pelayanan pada semua kebutuhan suaminya.
"Mau minum apa Kang.., biar Nimas tuangkan?" Maharani bertanya minuman apa yang akan diminum suaminya.
__ADS_1
"Wedang serai saja jika ada." jawab Wisanggeni sambil menyendokkan makanan ke mulutnya. Dengan cepat, Maharani segera menuangkan wedang serai ke cangkir untuk suaminya, dan satu cangkir untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang ada di meja sekitarnya tersenyum melihat kehangatan dan kerja sama apsangan suami istri itu. Mereka tidak berani mengganggu mereka, karena mereka mengetahui bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh dua orang itu. Secara kebetulan mereka sudah berada di penginapan ini dari kemarin siang, sehingga mereka melihat bagaimana pasangan suami istri bertarung dan mengalahkan lawannya,
Tiga orang dari arah ruang dalam penginapan berjalan keluar, dan dengan nanar mereka menatap Wisanggeni dan Maharani. Wisanggeni menghentikan makannya sebentar, karena laki-laki itu merasa akrab dengan energi yang muncul dari tiga orang yang berjalan keluar itu. Matanya melirik ke arah tiga orang itu, dan secara kebetulan satu laki-laki itu beradu pandang dengan Wisanggeni secara langsung. Untuk menghilangkan kecurigaan, Wisanggeni segera mengangguk dan memberi laki-laki itu senyuman.
"Siapa Kang.., apakah Akang mengenal mereka bertiga?" tiba-tiba Maharani bertanya pada Wisanggeni, karena perempuan itu melihat bagaimana suaminya mengangguk dan tersenyum pada tiga orang yang baru datang itu.
"Tidak.., tapi sepertinya Akang cukup akrab dengan energi yang dimiliki mereka bertiga Nimas." jawab Wisanggeni lirih, dengan sudut matanya tetap memperhatikan gerak-gerik ketiga laki-laki itu.
Pasangan suami istri itu kembali melanjutkan untuk menghabiskan makanan dan minuman yang sudah mereka pesan. Ketiga laki-laki itu tiba-tiba mengambil duduk di samping meja tempat Wisanggeni dan Maharani duduk menikmati makanan.
"Nimas..., masuklah lebih dulu ke kamar dan bersiaplah. Masih ada yang harus Akang selesaikan disini?" tiba-tiba Wisanggeni meminta Maharani untuk kembali ke kamar. Perempuan itu sedikit curiga dengan permintaan dari suaminya itu. Tetapi sebagai istri yang baik, perempuan muda itu segera berdiri dan mencium punggung tangan Wisanggeni.
Tapi baru saja Maharani melangkahkan kakinya, tiba-tiba kaki salah satu dari tiga orang yang ada di meja samping mereka, diluruskan untuk menghalangi Maharani.
"Ukh.." dengan sigap Maharani melompat menghindari kaki itu. Mata Wisanggeni berkilat tajam, melihat bagaimana ketiga laki-laki itu berani menghalangi langkah istrinya.
__ADS_1
*************