Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 231 Kemantapan Hati


__ADS_3

Di Kerajaan Ular


Maharani tersenyum kecut melihat manusia dari kaumnya sedang berlatih, sekali-kali tangannya mengusap perutnya sendiri. Setelah mengkonsumsi pil esensi ular yang dikirimkan melalui merpati Pangeran Abhiseka, tidak diduga kehamilan Maharani langsung kentara dan tampak. Ternyata perempuan itu tidak menyadari, jika perginya Wisanggeni meninggalkannya, ternyata di perutnya sudah ada benih yang tertinggal, Kehadiran pil esensi naga perak, memicu pertumbuhan kehamilannya menjadi lebih cepat. Tetapi atas saran dari para sesepuh kerajaan ular, Maharani tidak diperbolehkan untuk memberi tahu kehamilannya pada Wisanggeni suaminya.


"Ratu.., terlihat di perbatasan wilayah kita.., ada beberapa orang yang tampak akan memasuki kawasan kita. Tindakan apa yang akan kita lakukan Ratu..?" tiba-tiba suara penjaga perbatasan membuyarkan lamunan Maharani. Perempuan itu menoleh ke belakang, dan melihat seorang laki-laki berdiri di belakangnya.


"Tangkap salah satu, dan tanyakan kepentingan mereka berada di wilayah kerajaan kita! Jika hanya sekedar untuk menumpang lewat, ampuni mereka. Tetapi jika untuk kepentingan yang lain, bawa mereka pada pengawal khusus." menyadari dirinya sedang mengandung, Maharani menggunakan akal sehat untuk menyelesaikan setiap masalah. Berbeda dengan dirinya di masa lalu, jika tidak sesuai dengan keinginan hati, apalagi jika menganggap sebagai ancaman akan keberadaan kaum mereka, tidak segan-segan Maharani akan langsung menghabisi siapapun. Rupanya dengan menjadi istri Wisanggeni, muncul rasa pemaaf dan belas kasih dalam diri perempuan itu.


"Baik ratu Maharani, ijin kembali bertugas." setelah memdengar titah dari Maharani, pengawal perbatasan itu segera kembali bertugas.


Perlahan Maharani membalikkan badannya, perempuan muda itu bermaksud untuk mengunjungi para sesepuh kerajaan tersebut. Ada keragu-raguan dalam hati perempuan muda itu, dan bertanya pada pihak yang lebih tua, Maharani merasa akan mendapatkan jalan keluar.


******


Kaputren

__ADS_1


"Tanyakan kembali pada perasaanmu Maharani..., jangan hanya menuruti rasa tidak enak di dalam hati. Pertimbangkanlah kembali, juga lihat sekelilingmu. Menurut pandangan kami para sesepuh, anak laki-laki itu betul-betul anak yang baik, juga bertanggung jawab. meskipun bukan karena didasari rasa cinta, dia tetap mau memilikimu sebagai istri dan memenuhi kewajiban sebagai seorang laki-laki. Apakah kamu tidak memikirkan, betapa penderitaan Wisanggeni ketika berusaha untuk mendapatkan esensi naga perak?" dengan hati-hati, sesepuh menyampaikan pemikiran mereka tentang Wisanggeni. Mereka berpendapat, karena Maharani memiliki pemikiran untuk berpisah dari laki-laki itu.


"Iya putriku... Tidak hanya membawa esensi naga perak dalam keadaan belum terjinakkan. Tetapi Wisanggeni juga membawanya  dalam bentuk pil, dan dia sendiri yang mengolahnya, Itu penderitaan besar yang harus dia lalui dan alami, yang menunjukkan bagaimana keseriusan dan tanggung jawabnya untuk membuktikan diri menjadi suamimu. Karena sudah terlalu lama meninggalkan Nimas Maharani dan putranya Chakra Ashanka, bisa diterima alasan dia mengirimkan pil yang sangat berharga ini menggunakan merpati kerajaan Laksa." sesepuh yang lain memberikan pandangannya.


Mendengar perkataan para sesepuh yang tidak disangka, mereka mendukung Wisanggeni, Maharani jadi meragukan sendiri pemikirannya. Kata hatinya ingin mengakhiri hubungan dengan laki-laki itu, tetapi sisi hati yang lain menginginkan dia untuk bertahan. Apalagi kondisi Maharani saat ini, sedang dalam keadaan mengandung.


"Terima kasih petuahnya para sesepuh, Maharani akan memikirkan kembali apa yang sudah sesepuh katakan pada saya." setelah beberapa saat terdiam, perempuan itu menanggapi perkataan para sesepuh.


"Susullah suamimu Maharani.., tunggullah setelah janin yang kamu kandung sudah lahir ke bumi ini. Kembalilah ke istanamu, istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir.." mendengar perkataan tersebut, Maharani menghaturkan sungkem pada kerabat yang lebih sepuh, kemudian perlahan keluar dari ruang kaputren.


**********


"Sepertinya kata para sesepuh tadi benar adanya. Statusku tidak akan pernah berubah, dengan atau sudah tidak dengan bersama kang Wisang. Aku akan menunggu kemana takdir akan membawaku, dan menetapkan hatiku.." Maharani berbicara pada dirinya sendiri.


"Aku akan menyiapkan diriku.., setelah kelahiran janin yang aku kandung saat ini. Secepatnya aku akan mencari kang Wisang, aku akan mempertemukan bayiku dengan ayahndanya. Apapun nasib yang akan menerimaku, aku akan menerimanya." setelah memantapkan hatinya, Maharani bertekad untuk kembali menyusul Wisanggeni. Perempuan itu berpikir, jika tempatnya dan anak yang akan dilahirkannya adalah berada di dekat suaminya.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Maharani mulai menyusun barang-barang yang akan dibawanya untuk menyusul Wisanggeni. Perempuan itu sudah bertekad untuk meninggalkan kerajaan ular, meninggalkan perlakuan istimewa yang diterimanya. Tinggal berkumpul dengan Wisanggeni, merupakan tujuan yang ingin diwujudkannya saat ini.


************


Kerajaan Laksa


Pangeran Abhiseka sudah membawa kembali raja dan ratu ke dalam istana. Melalui bantuan rakyat dan bantuan dari berbagai trah maupun perguruan di sekitar mereka, tidak membutuhkan waktu lama, kerajaan Laksa sudah kembali seperti semula. Beberapa prajurit dan pejabat kerajaan yang terlibat dalam kegiatan pemberontakan di bawah arahan Pangeran Prakosa, diberikan hukuman sesuai dengan peran mereka masing-masing. Sedangkan para prajurit yang setia, diberikan hadiah oleh raja Laksa.


"Apa rencanamu ke depan Pangeran, apakah kamu tetap tidak mau menggantikan kedudukan ayahnda untuk memimpin kerajaan ini?" dengan suara pelan, raja Achala bertanya pada Pangeran Abhiseka. Tatapan laki-laki tua itu penuh pengharapan agar putranya mau menggantikannya.


"Ampun ayahnda.., seharusnya ayahnda tanpa bertanyapun, sudah tahu apa yang menjadi jawaban dari Abhiseka. Sejak dari dulu, tidak ada sedikitpun keinginan dalam hati ini untuk memiliki kedudukan di istana ini ayah. Bahkan, jika dimas Prakosa tidak melakukan pemberontakan, kerajaan ini akan aku lepaskan. Tetapi ternyata keserakahan meliputi dimas Prakosa, yang akhirnya menjadi akhir yang tidak baik untuknya. Ananda mohon, ayahnda mempertimbangkan lagi apa yang sudah dipikirkan." dengan tutur bahasa yang halus, Pangeran Abhiseka menolak keinginan dari Raja Achala, di bawah tatapan kecewa ibunda ratunya.


"Ibunda sudah menduganya putraku.. Tetapi bisakah kali ini, kamu berpikir ulang untuk meninggalkan kami Abhiseka. Ibunda dan ayahndamu saat ini sudah mendekati usia tua, sudah saatnya memiliki orang yang ikut mengamati kami, dan ingin lebih dekat denganmu putraku. Pikirkanlah kembali, niatmu untuk meninggalkan kami." Ibunda ratu ikut menambahkan. Perempuan itu berharap, Pangeran Abhiseka akan merubah keinginan untuk meninggalkan kerajaan Laksa.


Pangeran Abhiseka terdiam, laki-laki muda itu terombang-ambingkan oleh perasaannya. Raja Achala dan ratu melihat putra satu-satunya itu, dan berharap cemas akan jawaban dari putranya itu.

__ADS_1


***********


__ADS_2