
Di kerajaan Laksa
Abhiseka yang sudah menikah dengan Niken Kinanthi, saat ini sedang menghabiskan minuman hangat di istana kaputren. Laki-laki itu memang selalu menyempatkan untuk mendatangi istrinya, meskipun secara hukum adat mereka harus terpisah tempat tinggal. Hanya ketika, Abhiseka membutuhkan kehangatan dari istrinya, maka mereka berdua bisa berada dalam satu kamar bersama.,
"Nimas.. apakah kamu tidak mendengar selentingan kabar berita di luar sana?" Abhiseka bertanya pada istrinya Niken kinanthi.
"Kabar tentang apa kangmas.. kebetulan sudah beberapa waktu, Nimas lebih suka menghabiskan waktu di dalam istana Kaputren. Nimas sedang mendalami cara membuat tenun dari benang sutra Kangmas.. jadi sangat jarang keluar untuk sekedar berjalan-jalan." Niken Kinanthi menjawab pertanyaan dari suaminya.
Di tangan perempuan itu, terdapat sebuah kain polos yang sedang disulam dengan membuat sebuah hiasan bunga di atasnya. Perempuan itu meletakkan kain sulaman di atas meja yang ada di sampingnya.
"Baguslah jika begitu Nimas.. Kakang mendapatkan laporan dari pengawal kita yang berada dalam tugas telik sandhi, Mereka melihat kedatangan Wisanggeni dan nimas Rengganis di Trah Bhirawa. Mereka juga membawa putri cantik Parvati.. Kakang berencana untuk berkunjung ke Trah Bhirawa, sekalian untuk melepas kangen dengan mereka Nimas.." Abhiseka sudah mendapatkan kabar kedatangan Wisanggeni dan Rengganis di Trah Bhirawa, Hanya saja, laki-laki itu belum tahu jika mereka sudah kembali menuju kerajaan Logandheng.
"Iyakah kakang., Nimas merasa kangen juga untuk bertemu dengan mereka. Sudah sangat lama kakang, kita tidak lagi melakukan petualangan seperti dulu lagi. Terkadang Nimas merindukan dan ingin mengulangi saat-saat seperti itu lagi.." Niken Kinanthi menceritakan keinginannya.
"Baiklah Nimas.. nanti setelah sore hari kita akan meninggalkan tempat ini untuk sesaat. Kita akan meluangkan waktu untuk bertemu dengan mereka Nimas.." Abhiseka menyanggupi untuk berkunjung ke tempat dimana Trah Bhirawa berada.
__ADS_1
"Nimas sangat senang mendengarnya kakang.." ucap Niken Kinanthi.
Abhiseka tersenyum, laki-laki itu mengingat kembali perjalanan yang telah dilakukannya dengan pemimpin perguruan Gunung Jambu itu. Berbagai tempat telah mereka jelajahi dan datangi.. dan hal itu merupakan kepuasan tersendiri bagi mereka. Namun kali ini, dengan posisi yang saat ini diembannya, laki-laki itu sudah tidak bisa berbuat sembarangan. Banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan tidak bisa sembarangan meninggalkan kepentingan warga masyarakat.
"Kakang.. kira-kira bisa tidak jika kita sesekali mengulang pengalaman kita dulu. Hanya sesekali saja untuk mengobati rasa kangen ini pada lingkungan, kita bisa beristirahat di tengah hutan, di goa atau dimanapun kita inginkan. Jujur kang.. Nimas merasa bosan dengan rutinitas yang selalu kita jalani setiap hari." Niken Kinanthi menyampaikan keinginannya.
"Nanti kita akan mengaturnya dulu Nimas.. karena untuk saat ini kerajaan sedang membutuhkan kita. Dengan posisi kita saat ini, kita tidak bisa sembarangan untuk bertindak seorang diri. Semua yang kita lakukan, perlu untuk kita bicarakan dengan para penasehat kerajaan dan para punggawa kita. Agar tatanan kerajaan tetap berjalan sebagaimana mestinya." Abhiseka tidak menolak keinginan Niken Kinanthi, tetapi juga tidak membuat janji untuk mengiyakan keinginan perempuan itu.
"Baik kakang.. Nimas akan ikut apa yang kakang putuskan. Itu juga hanya sekedar keinginan saja, jika memang kakang belum bisa mengabulkannya, juga tidak menjadi apa. Karena Nimas juga ikut berpikir tentang tanggung jawab berat yang kakangmas emban," untuk tidak membuat suaminya itu berpikir berat tentang keinginannya, Niken Kinanthi menambahkan penjelasan.
*****
Wisanggeni merasa tidak tega melihat istrinya Rengganis dan Parvati tertidur dalam posisi duduk di atas punggung Singa Ulung. Perlahan tangan kanan laki-laki itu mengusap pelan wajah istrinya, kemudian beralih ke wajah putrinya. Melihat keduanya terlelap tak terusik oleh tangan Wisanggeni, membuat laki-laki itu berpikir.
"Kasihan istri dan putriku.. AKu harus mengajaknya istirahat. Apalagi urusan kali ini, bukan meruapakan urusan yang harus diprioritaskan. Kita hanya akan melihat dan mendampingi Chakra Ashanka menerima kedudukan sebagai patih kerajaan. Kondisi Nimas Rengganis dan Parvati lebih penting dari apapun, aku tudak bisa membiarkannya dalam keadaan seperti ini." Wisanggeni berpikir sendiri.
__ADS_1
Perlahan tangan Wisanggeni mnegusap pelan leher Singa Ulung, memberi isyarat pada binatang itu.
"Ulung.. lihtalah ke bawah. Sepertinya saat ini, kita membutuhkan tempat untuk beristirahat. Lihatlah Nimas Rengganis dan Parvati, kedua perempuan ini sangat penting dalam kehidupannku. Keselamatan dan kesehatan keduanya merupakan hal utama dan juga prioritas dalam huiidupku." perlahan laki-laki itu mengajak bicara binatang peliharaannya itu.
"Auuuummm..." Singa Ulung mengaum panjang. Binatang itu mengerti dengan apa yang diucapkan oleh majikannya. Tanpa harus mendengar pengulangan perintah dari majikannya, Siang Ulung mengurangi kecepatan terbangnya. Matanya memindai tempat yang ada di bawah sana.
Wisanggeni tersenyum melihatnya, dengan tangannya laki-laki itu mengarahkan kepala Rengganis untuk bersandar dengan nyaman di dadanya.Tidak lupa laki-laki itu juga membetulkan posisi duduk putrinya Parvati. Tidak lama kemudian Singa Ulung mulai terbang merendah, dan di pinggiran sebuah hutan, binatang itu menurunkan ke empat kakinya ke atas tanah.
"Ulung.. tahanlah sebentar kakimu di atas tanah. Kita akan menunggu sampai Nimas Rengganis dan Parvati terbangun. Akan sangat pusing bagi mereka, jika kita membangunkannya dalam posisi tidur seperti ini." Wisanggeni membuat arahan pada binatang itu.
Singa Ulung menjejakkan kakinya ke tanah dua kali, sebagai isyarat jika binatang itu mendengar dan memahami perkataan Wisanggeni. Wisanggeni tersenyum, untuk menahan agar kepala istrinya tidak terjatuh, laki-laki itu juga tidak bergeser dari posisi duduknya. Dengan sabar, Wisanggeni menunggu istri dan putrinya sampai terbangun, sembari mengedarkan tatapannya ke sekeliling tempat itu.. Melihat di kejauhan seperti ada bangunan sebuah penginapan, laki-laki itu tersenyum.
"Kamu memang selalu bisa untuk diandalkan Ulung.. Tempat ini sangat tenang, dan merupakan tempat yang nyaman untuk kita beristirahat.," melihat betapa asri dan tenangnya tempat mereka diturunkan oleh Singa Ulung, Wisanggeni memberi pujian pada binatang itu.
Mata laki-laki itu berbinar dan terus mengitari lingkungan asri di sekitarnya. Meskipun tempat mereka berhenti, belum bisa disebut sebagai sebuah kota, namun ketersediaan fasilitas sepertinya sudah ada di tempat tersebut. Dari tempat mereka berhenti, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk berjalan kaki menuju ke arah penginapan. Dan karena berada di pinggiran hutan, Wisanggeni juga tidak begitu mengkhawatirkan kondisi SInga Ulung. Binatang itu bisa berjalan-jalan sendiri ke tengah hutan untuk mencari binatang buruannya.
__ADS_1
*********