
Sebuah benturan keras dan dashyat kembali terjadi saat kekuatan Wisanggeni dikirimkan dan beradu dengan kekuatan Tumbak Seto. Tetapi dengan bergantinya kulit Wisanggeni saat berada di kerajaan ular, benturan tersebut tidak begitu terdampak pada tubuh anak muda itu. Sebaliknya tubuh Tumbak Seto terpental jauh ke belakang, kembali darah mengalir deras keluar dari bibir dan hidungnya.
"Bang.., bang.., bang.." kembali serangan bertubi-tubi masih dikirimkan Wisanggeni, dan langsung mengenai lengan kanan kakak seperguruannya itu.
"Pang.., bukk.." lengan kanan Tumbak Seto terlepas dan terpental jauh, akhirnya berdebum menghantam tanah.
"Bede..bah.. kamu anak muda. Aku akan membalas sakit hatiku kepadamu.." dengan rasa kesakitan yang sulit untuk ditahan, Tumbak Seto mengumpat pada Wisanggeni. Dengan tenaganya yang tersisa, laki-laki tanpa lengan itu berusaha bangun dari tanah dengan darah segar yang terus mengalir dari bekas potongan lengan kanannya.
"Ha.., ha.., ha.., apa yang akan kamu lakukan Tumbak Seto. Apakah kamu berpikir aku akan memberimu kesempatan untuk hidup dan menghirup udara segar? Jangan berharap dan bermimpi kamu generasi laknat." dengan emosi besar, Wisanggeni terus menatap pergerakan yang dilakukan oleh Tumbak Seto.
"Dukk.." sebuah tendangan kaki yang dilandasi kekuatan tenaga Pasopati diberikan Wisanggeni, dan menjadikan laki-laki kakak seperguruannya itu kembali terjerembab dan akhirnya kembali jatuh tengkurap.
Dengan sigap, Wisanggeni menarik kepis yang ada di pinggang Tumbak Seto, dan tanpa membuang waktu, laki-laki muda putra bungsu Ki Mahesa itu kembali mengirimkan serangan dan mengarahkannya langsung ke kepala murid durhaka Cokro Negoro.
"Bang.., bang.., pyar.." kepala Tumbak Seto yang terkena gempuran ajian Wisanggeni langsung mengeluarkan ledakan, dan akhirnya pecah berkeping-keping. Darah langsung mengering karena panasnya serangan yang dikirmkan Wisanggeni. Sesaat nafas menghilang dari Tumbak Seto.., Wisanggeni melihat ada setitik sinar yang terbang naik ke angkasa.
"Sepertinya itu nafas kehidupan laki-laki itu. Aku harus menangkapnya..., sebelum setitik nafas itu ditemukan oleh Gerombolan Alap-alap, maka laki-laki durhaka itu masih bisa untuk diselamatkan." dengan sekali lompat, Wisanggeni menggunakan botol porselin langsung menangkap sinar tersebut dan memasukkannya ke dalam botol.
"Aaaawww..., lepaskan aku bocah.., biarkan nafasku hidup! Aku berjanji tidak akan membuat keributan dan keonaran lagi." terdengar ratapan menghiba Tumbak Seto dari dalam botol porselin.
"Bukan aku yang akan memutuskan Tumbak Seto.., Guru yang lebih berhak untuk menghakimimu. Terimalah balasan akan sikap durhakamu pada orang yang sudah membesarkan dan mengasuhmu." Wisanggeni menanggapi ratapan Tumbak Seto.
__ADS_1
"Ampuni aku bocah.., jangan serahkan aku pada guru. Aku akan menuruti semua perintahmu.., tapi bebaskan aku dulu bocah. Sakitttt.., tolonglah aku bocah!" kembali suara teriakan Tumbak Seto berdengung di telinga Wisanggeni.
Merasa jengah dengan teriakan Tumbak Seto..., Wisanggeni membuat bola api dengan menggunakan telapak tangannya. Setelah terbentuk dan bola api tampak matang, dengan cepat memasukkan bola api tersebut ke botol porselin tempat untuk memasukkan Tumbak Seto. Seketika sinar kecil itu terdiam, terlihat sinar itu sangat ketakutan melihat bola api yang menjadi satu dengannya di dalam botol porselin.
Wisanggeni mengambil nafas, kemudian duduk beristirahat di bawah pohon yang rindang. Singa Ulung kemudian turun dan berjalan mendekati Wisanggeni. Tangan Wisanggeni mengusap kepala Singa Ulung yang ikut duduk di sampingnya, dan perlahan laki-laki itu bermeditasi sambil tidur.
*************
Sudiro merasa aura Wisanggeni sangat kuat, yang menandakan jika laki-laki muda itu masih bertahan. Setelah menghabisi para anggota gerombolan Alap-alap, dan mengarahkan anggota yang bersedia tobat untuk membangun kembali tempat mereka, Sudiro mengajak anak buahnya dan anak buah Wisanggeni untuk mencari laki-laki yang tadi membebaskannya dari serangan Tumbak Seto.
Setelah beberapa saat mereka mencari dan berlari, dari kejauhan Sudiro tersenyum. Mereka melihat bulu halus dan putih dari Singa Ulung tampak kontras dengan pemandangan sekelilingnya yang didominasi dengan warna hijau.Mereka perlahan bergegas menghampiri Wisanggeni.
"Kita akan istirahat dulu di sini untuk beberapa saat, kita tunggu sampai Wisanggeni terbangun." ucap Sudiro mengajak anak buahnya untuk istirahat.
Sudiro segera duduk agak jauh dari Wisanggeni, diapun menyandarkan tubuhnya di batang pohon besar. Beberapa anak buah mengikuti perilakunya, dan sebagian berjaga-jaga dan menyiapkan makanan.
********
Di luar perbatasan perbukitan Gunung Jambu.., tampak Rengganis sedang menemui dua orang laki-laki. Satu laki-laki berusia tua yaitu Ki Narendra, dan satu lagi berusia lebih muda yaitu Asoka.
"Paman Narendra dan Asoka..., Nimas tugaskan kalian untuk menjaga Pesanggrahan ini dari gangguan orang-orang yang tidak dapat kita mintai tanggung jawab. Nimas akan menyusul suamiku Kang Wisang.., karena tidak mungkin akan Nimas biarkan suamiku sendiri menantang musuh." setelah Ki Narendra dan Asoka datang karena undangan telepati dari Rengganis, gadis itu menyampaikan pesan pada mereka.
__ADS_1
"Apakah tidak berbahaya Roro Ayu.., apakah bukan saya dan Ki Narendra saja yang akan menyusul Wisanggeni." Asoka menanggapi perkataan Rengganis, gadis putri Ki Brahmono yang sudah ikut dijaganya sejak kecil.
Rengganis tersenyum masam, pandangan matanya jauh menerawang...
"Asoka..., hidup tidak akan berarti lagi bagi Nimas, tanpa adanya Kang Wisang. Lebih baik untuk kami selalu bersama, daripada saling memikirkan satu dengan lain tanpa ada kepastian." ucap Rengganis lirih.
Setelah mengambil nafas panjang, Ki Narendra menatap mata Rengganis kemudian berpindah ke Asoka.
"Asoka.., benar apa yang dikatakan oleh Nimas Rengganis. Karena di dalam Pesanggrahan, juga ada perempuan yang sedang hamil besar, kita akan ikut menjaganya. Biarkan Nimas Rengganis berbakti pada suaminya, kita akan menggantikan tugasnya untuk menjaga Pesanggrahan ini." laki-laki tua itu akhirnya bicara.
Asoka melihat pada Ki Narendra, terlihat ketenangan di mata laki-laki tua itu, dengan berat hati akhirnya Asoka menganggukkan kepala.
Rengganis tersenyum, perempuan muda itu menggenggam tangan dan mengangkat di depan dadanya. Rengganis sangat berterima kasih dengan ketulusan laki-laki tua itu, yang sudah mendampinginya.
"Nimas akan berangkat dulu paman.., Asoka." Rengganis kemudian berpamitan pada kedua orang itu, dan untuk menghindari larangan dari kedua kakak iparnya di Pesanggrahan, perempuan muda itu sengaja' tidak memberi tahu pada keduanya.
"Baik Nimas.., berangkatlah!" ucap Ki Narendra tersenyum.
"Silakan Roro ayu.., semoga segera bisa ketemu dengan Kang Wisanggeni." Asoka mengikuti. Kedua orang itu mengantarkan kepergian Rengganis dengan senyuman.
Dalam sekejap, Rengganis sudah melompat dengan menggunakan selendangnya. Perempuan muda itu terbang menjauh dari dua pengasuh dan pengawalnya. Dia akan mengulang kembali masa-masa sebelum menjalin ikatan formal dengan Wisanggeni.
__ADS_1
**********