Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 135 Saling Mendekat


__ADS_3

Malam hari saat Rengganis dan Chakra Ashanka tertidur, Wisanggeni memasuki kamar Maharani. Meskipun sejak siang, Rengganis memintanya untuk memberikan hak pelayanan sebagai suami pada Maharani, tetapi Wisanggeni menundanya. Ketika istri pertama dan putranya terlelap, barulah Wisanggeni mendatangi Maharani.


"Kamu belum tidur Maharani.." ucap Wisanggeni pada Maharani, saat laki-laki itu membuka pintu dan melihat Maharani masih terjaga dan duduk di pinggir ranjang.


"Belum Akang..., Nimas masih menunggu kedatangan Akang kesini." sambil tertunduk malu, Maharani menjawab pertanyaan suaminya.


Wisanggeni segera berjalan mendekati Maharani yang sudah dengan terbuka, diterima oleh Rengganis sebagai istrinya. Dengan pandangan redup, Maharani berdiri dan menatap mata suaminya itu. Perlahan tangan Wisanggeni memegang wajah Maharani dan memberi usapan lembut di pipi gadis itu. Jika pada malam pertama, Maharani yang mendominasi penyatuan dengan Wisanggeni, malam ini laki-laki itu berniat untuk memanjakan istrinya.


"Akang.. uhhh...shsh.." terdengar suara lenguhan dari bibir Maharani, saat dengan lembut Wisanggeni menjilat dan menggigit kecil telinganya.


"Panggil namaku malam ini Nimas.., hanya aku yang harus ada dalam hatimu." bisik Wisanggeni di telinga Maharani, dan membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Gelenyar-gelenyar aneh dirasakan Maharani sambil memejamkan mata, seakan menikmati sentuhan-sentuhan intim yang diberikan Wisanggeni.


Dengan cepat, Maharani menggantungkan kedua tangan ke leher Wisanggeni dan menautkan bibirnya ke bibir laki-laki itu. Pagutan.., lu**matan panjang terjadi di antara kedua bibir itu. Perlahan dengan tetap memagut bibir Maharani, tangan kanan Wisanggeni melepaskan pakaian yang dikenakan istrinya. Setelah merasa pakaian atas yang dikenakan Maharani sudah terlepas, Wisanggeni melepaskan bibirnya dari bibir Maharani, kemudian perlahan ciumannya merayap turun dengan lembut.


"Ssshhh Kang Wis..angg, terus Kang.. ahhh.." kembali de**sahan terlolos keluar dari bibir Maharani, saat dengan lembut bibir itu sudah menyusuri leher dan lidahnya menjilat tulang selangkanya.


Dari tulang selangka, Bibir itu terus merayap dan berhenti di benda kecil di puncak kedua bukit kembar Maharani. Lenguhan Maharani semakin menggila, sentuhan intim Wisanggeni seakan menerbangkan gadis itu ke awang-awang. Nafas kedua orang itu semakin kasar, tangan Maharani ganti merayap di pakaian atas yang dikenakan suaminya. Dengan rajin, jari-jari tangan Maharani melepaskan kancing baju dan menariknya keluar setelah semua kancing sudah terlepas.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka melakukan cumbuan dengan berdiri, Wisanggeni mengangkat tubuh Maharani dan membaringkannya di atas ranjang.


"Kita akan menghabiskan malam ini Nimas.., malam ini milik kita." bisik Wisanggeni di telinga Maharani. Merasa lama tidak merasakan sentuhan dari Rengganis, Wisanggeni ingin melepaskan semua kerinduannya malam ini. Mendengar bisikan-bisikan itu, Maharani kembali merasa terbang.


Setelah melalui cumbuan yang panjang, Wisanggeni menyentakkan kain yang menutup tubuh Maharani bagian bawah. Demikian juga dengan Maharani, dengan cekatan gadis itu juga menurunkan pakaian yang dikenakan Wisanggeni di bagian bawah. Setelah memberi tatapan syahdu pada Maharani, Wisanggeni tersenyum. Tidak menunggu lama, Wisanggeni menyatukan bagian intinya dengan inti Maharani.


"Kita akan lakukan Nimas.." kembali bisikan Wisanggeni memacu gair**ah Maharani.


"Iya Akang..., Nimas akan mengikuti Akang." ucap Maharani dengan mata terpejam. Mengikuti alur dan gerakan laki-laki itu, Maharani merasa saat ini sama persis dengan apa yang dia alami untuk pertama kalinya. Kedua tubuh itu saling membelit, membalik sampai akhirnya sebuah senyum kepuasan terbit di bibir mereka.


**********


"Akang.., hari sudah pagi, bangunlah!" dengan suara serak, Rengganis membangunkan Wisanggeni. Tubuh laki-laki itu menggeliat sebentar, kemudian perlahan matanya membuka.


"Iya Nimas.., selamat pagi." sapa Wisanggeni untuk Rengganis. Laki-laki itu kemudian bangkit dan duduk di pinggir ranjang. Melihat putranya Chakra Ashanka masih tertidur, Wisanggeni kemudian beranjak dari ranjang dan berjalan untuk menuju ke kamar mandi.


Sepeninggalan Wisanggeni, Rengganis duduk bersila untuk melakukan meditasi. Gadis itu berpikir, jika dia harus melatih semua kekuatan yang dimilikinya. Tidak lama lagi, mereka akan sampai di perbatasan dan memasuki danau satu-satunya untuk menuju Jagadklana. Selain untuk menyerang Laksito dan memaksanya turun dari panggilan Ketua Trah, dia harus mendampingi suaminya untuk menghancurkan bendungan agar naga penjaga danau tidak kekurangan air untuk sarang mereka.

__ADS_1


Beberapa saat sesudahnya, Wisanggeni dengan menggendong Chakra Ashanka keluar menuju ke depan penginapan untuk menunggu Rengganis dan Maharani. Dia sengaja membawa putranya terlebih dahulu untuk memberi kesempatan pada istrinya untuk bersiap.


"Akang sudah disini.." terdengar suara Maharani menyapanya dari belakang. Wisanggeni menoleh, dan laki-laki ini melihat seorang gadis cantik datang menghampirinya. Meskipun tersirat masih ada unsur malu-malu dalam senyumannya, Wisanggeni mengabaikan hal itu.


"Iya Nimas.., kamu juga sudah bersiap." Wisanggeni membalas sapaan akrab Maharani. Hubungan intim keduanya tadi malam, menjadikan jarak yang selama ini terasa menghalangi hubungan mereka lenyap sudah. Maharani mengambilkan Chakra Ashanka dari gendongan Wisanggeni, dan anehnya anak laki-laki itu terlihat menurut dan diam bersama dengan Maharani.


"Ashan anak yang patuh Akang..., lihatlah! Anak ini tetap anteng tidak berontak, meskipun dia belum mengenalku." Maharaja memainkannya wajah Chakra Ashanka, dan terdengar gelak tawa dari bayi itu. Wisanggeni tersenyum melihat kedekatan putranya dengan istri keduanya.


Dari arah dalam penginapan, Rengganis terlihat berjalan mendatangi mereka. Gadis itu terkesiap sebentar, ketika mengetahui putranya dengan akrab bermain dan berada di dalam gendongan Maharani. Tetapi dengan cepat, Rengganis menepis rasa itu.


"Sudah siapkah? Jika sudah kita segera naik ke punggung Singa Ulung dan Singa Resti saja."ucap Rengganis sambil tangannya memanggil kedua binatang itu.


Kedua binatang itu berjalan mendekat pada Tuannya. Rengganis menunggu bagaimana Wisanggeni akan membuka pengaturan untuk mereka. Sedikitpun dia tidak akan mengganggu, keputusan yang ditentukan suaminya. Karena antara dia dan Maharani statusnya sama di depan Wisanggeni, keduanya sudah diikatkan dalam janji suci.


"Apakah aku dibolehkannya untuk berpendapat Akang dan Nimas Rengganis?" dengan suara nyaring, Maharani menatap mata dua orang yang ada di depannya. Wisanggeni dan Rengganis keduanya menganggukkan kepala.


"Nimas ingin berdua dengan Ashan diatas punggungnya binatang itu, Akang Wisanggeni dan Nimas Rengganis bisa duduk jadi satu tempat di atas punggung Singa Ulung." ucap Maharani sambil tersenyum. Melihat ketulungan di mata gadis itu, Wisanggeni dan Rengganis mengijinkan pengaruh yang dibuat oleh Maharani.

__ADS_1


*********


__ADS_2