Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 409 Babak Pertarungan


__ADS_3

Melihat kekhawatiran yang terbayang di wajah istri dan putrinya Parvati, Wisanggeni memegang kedua pundak perempuan itu. Laki-laki itu merangkul kedua perempuan itu dari belakang, kemudian menepuk leher Singa Ulung, dan binatang itu segera turun dan berhenti di dahan besar pohon beringin yang tumbuh di pelataran dekat pagelaran. Ketiga orang itu segera melompat dan berdiri di atas dahan pohon tersebut.


"Nimas.. dengarkan kakang bicara. Yakinlah dengan kekuatan dan kemampuan aura batin putra kita Chakra Ashanka. Anak itu akan dengan mudah mengatasi laki-laki tua yang berdiri di depannya. Namun.. jika Nimas dan Parvati masih pesimis dan merasa khawatir akan kemampuan Chakra Ashanka, SInga Ulung akan membawa kalian berdua kembali ke penginapan." dari samping, Wisanggeni mengajak kedua perempuan itu berbicara.


"Bukan begitu maksud Nimas kakang.. Nimas tidak mau kembali ke penginapan. Nimas janji, akan berusaha kuat untuk menyaksikan pertarungan putra kita. Maafkan Nimas kakang.." Rengganis tidak mau kembali pulang.


Akhirnya kedua perempuan itu saling bergenggaman tangan erat, dengan tatapan mereka melihat ke arah medan pertarungan di bawah pohon tersebut, Wisanggeni tersenyum melihat kedua perempuan di sampingnya itu, berusaha keras untuk bertahan menguatkan hati mereka.


*****


Di medan pertarungan


Chakra Ashanka tersenyum, dan anak muda itu merasakan kehadiran ibundanya di sekitar wilayah kerajaan. Tinggal lama dengan Rengganis, tidak akan dapat melupakan ciri khas aroma keberadaan ibundanya di sekitarnya. Namun.. merasa kehadiran keluarga dekatnya, tekad anak muda itu semakin membara. Chakra Ashanka sudah memiliki niat tidak akan sedikitpun menahan kekuatannya, seperti ketika dia sedang bertarung dengan lawan yang remeh-remeh.


"Baiklah.. tampah bambu ini akan menjadi penentu nasib kalian berdua. Jika tampah bambu ini kita gelindingkan, ternyata tampah ini terbuka maka Chakra Ashanka yang akan memberikan serangan pada laki-laki tua itu. Namun sebaliknya, jika tampah bambu ini kita gelindingkan, dan mendapatkan hasil tampah menjadi tengkurap, maka laki-laki tua ini yang akan mengirimkan serangan terlebih dahulu." sesepuh kerajaan segera unjuk bicara. Laki-laki tua itu sudah memegang satu buah tampah yang terbuat dari anyaman baru.

__ADS_1


Sesepuh kerajaan dengan didampingi dua orang saksi dari prajurit kerajaan, berdiri di tengah-tengah. Setelah menundukkan kepala sejenak, laki-laki tua itu menggelindingkan tampah bambu dengan menggunakan kekuatannya. Mata para pengunjung yang ada di pelataran maupun pagelaran menatap tanpa berkedip, dan melihat arah gelindingan tampah tersebut.,


"Swift... sring..." tampah berputar kencang, dan menimbulkan angin di sekitar tempat yang dilewati putaran tampah tersebut. Setelah beberapa saat, akhirnya tampah itu berhenti dan berdiri di atas tanah. Melihat tidak ada pergerakan dari tampah tersebut, wajah penonton menjadi tegang, mereka menunggu akhir dari putaran tampah tersebut.


"Brakkk..." tiba-tiba tampah ambruk ke belakang, dan muka tampah tampak menghadap ke depan. Wajah prajurit dan sesepuh kerajaan tampak pucat, melihat hasil akhir dari pengundian tersebut. Dengan  berat hati, sesepuh kerajaan berjalan ke tengah pelataran..


"Hasil pengundian sudah kita lihat bersama, dan kalian semua juga melihat semua proses dari awal sampai ditemukan hasil pengundian. Seperti kesepakatan awal yang kita buat, yakni jika tampah terbuka dan menghadap ke atas, maka Den bagus Chakra Ashanka yang akan memiliki giliran pertama untuk menyerang laki-laki itu. Apakah kalian sepakat dengan apa yang aku sampaikan?" sesepuh kerajaan bertanya pada para penonton.


"Sepakat.." serentak orang-orang yang ada di pelataran bersorak sorai.


"Den bagus.. untuk kali pertama, Den bagus akan mendapat kesempatan untuk memberikan tiga kali serangan kepada laki-laki tua itu. Jika dalam tiga serangan tersebut, Den bagus bisa mengalahkan laki-laki itu, maka Den bagus akan dianggap sebagai pemenangnya. Begitu juga dengan apa yang terjadi sebaliknya. Apakah Den Bagus sudah memahaminya." dengan arif, sesepuh kerajaan berbicara pada Chakra Ashanka.


Chakra Ashanka berjalan ke depan, dan berhenti di samping sesepuh kerajaan.


"Saya sanggup sesepuh.." sambil menggenggam kedua tangan di depan dadanya, anak muda itu menyanggupi kesepakatan tersebut.

__ADS_1


"Baik.. aku akan mundur dulu dari tempat ini. Pada semua orang yang berada di pelataran, mundurlah minimal sepuluh meter dari tempat pertarungan. Jika terjadi sesuatu sebagai akibat dari pertarungan ini, maka semua resiko akan menjadi tanggungan kalian sendiri. Aku harap.. kalian semua bisa menyesuaikannya." setelah mengucapkan kalimat terakhir, sesepuh kerajaan segera mundur terakhir. Seperti sebuah gerakan yang sudah diatur, orang-orang yang ada di pelataran segera memundurkan tubuh mereka.


Melihat semua orang sudah bersih dari medan pertarungan, Chakra Ashanka tersenyum dan memberi hormat pada laki-laki tua yang ada di depannya itu. Laki-laki tua itu membalas tindakan yang dilakukan oleh anak muda itu.


"Paman.. ijin saya yang lebih muda untuk memulai terlebih dahulu. Mohon arahan dan bimbingan jika terjadi kekeliruan dalam tindakan saya." Chakra Ashanka meminta ijin pada laki-laki tua yang dia panggil dengan sebutan paman.


"Mulailah anak muda.. aku sudah bersiap diri dengan kuda-kudaku. Yakinlah.. tidak akan ada yang menindasmu, jika kamu bisa mengalahkanku dalam adu kekuatan ini. Jadi.. jangan ragu keluarkanlah segenap kemampuan yang kamu miliki." laki-laki tua itu menjawab perkataan Chakra Ashanka,


Mendengar jawaban itu, Chakra Ashanka segera bersiap. Kedua kaki anak muda itu agak berdiri membuka, dan Chakra Ashanka menutup matanya sebentar kemudian membukanya secara perlahan. Tiba-tiba semua yang berdiri di tempat itu merasa nafas mereka sesak, aura batin meluap keluar dari tubuh anak muda yang berdiri di tengah pelataran itu, dan memberi efek menindas kekuatan orang-orang yang ada di sekitarnya. Rupanya untuk pertarungan kali ini, anak muda itu betul-betul tidak membatasi aura batin yang dibukanya.


Laki-laki tua di depan Chakra Ashanka merasa tersentak melihat energi yang mengalir deras, membanjiri lengan dan telapak tangan anak muda itu. Tiba-tiba Chakra Ashanka mengangkat tangannya ke atas, dan tanpa melihat ke wajah orang yang akan diserangnya, sebuah serangan dashyat menghantam ke depan,


"Bluam... jueglarr..." sebuah suara ledakan terdengar di medan pertempuran. Orang-orang yang bermaksud untuk melihat pertarungan itu berlari bubar, dan bahkan beberapa orang yang tidak kuat, mereka memuntahkan darah segar dari mulutnya.


Tempat yang meledak itu tiba-tiba berselubung kabut gelap berupa debu yang mengelilingi tubuh laki-laki tua itu. Semua orang menahan nafas, karena tidak tampak sedikitpun gerak-gerik dari laki-laki tua tersebut. Hal itu berlangsung untuk beberapa saat, dan orang-orang yang masih mampu bertahan di tempat itu menunggu hasil dari serangan pertama yang dikirimkan oleh Chakra Ashanka.

__ADS_1


*********


__ADS_2