Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 69 Pemimpin Ular


__ADS_3

Setelah satu minggu melakukan pemulihan, Wisanggeni keluar dari dalam gua. Semua binatang melata yang berpapasan dengannya memberi hormat pada pemimpinnya. Laki-laki muda itu berjalan menyusuri pinggiran sungai, dan dia berhenti di depan bongkahan batu yang sangat besar. Tiba-tiba muncul ide tersirat dalam pikirannya, dia ingin menguji kekuatannya dengan menggunakan batu itu.


"Tenaga Pasopati...," keluar suara dari mulut laki-laki muda itu, dibarengi dengan munculnya simbol dari telapak tangannya.


"Clap..., duar..." terdengar bunyi keras ledakan batu yang seketika hancur menjadi debu, saat tembakan terlontar keluar dari tangan Wisanggeni.


Laki-laki itu heran dengan apa yang terjadi di depannya, baru seperempat dia mengeluarkan tenaganya, tetapi batu besar itu hancur menjadi debu.


"Bruk.. prak..," sebuah pohon besar langsung tumbang, saat telapak tangannya dia arahkan pada batangnya.


Tiba-tiba mata Wisanggeni menyipit, jauh di depannya dia melihat dengan jelas kedatangan banteng berkepala badak. Laki-laki muda itu langsung menghentakkan kakinya, dan dengan cepat tubuhnya sudah melesat jauh. Dia berhenti di depan banteng tersebut, yang sudah siaga menunggunya.


"Banteng itu memiliki kekuatan peringkat 5. Aku akan mencoba kekuatanku pada binatang itu." gumam Wisanggeni pelan.


"Bang.." tembakan dari telapak tangannya, langsung dia arahkan pada binatang itu. Wisanggeni membelalakkan matanya, dia melihat binatang itu hancur dan langsung terpental jauh ke belakang.


"Bukk.." terdengar bunyi binatang naas itu terjatuh jauh di depan Wisanggeni. Laki-laki muda itu bergegas menghampiri bangkai banteng berkepala badak, dengan cepat dia mengambil mustika dari kepalanya.


Setelah mengambil mustika, Wisanggeni duduk di atas batuan datar yang ada di pinggir sungai. Dia tersenyum melihat binatang kera berlompatan dari pohoh ke pohon tanpa mengganggunya sama sekali. Cukup lama, waktu dia habiskan dengan mengamati lingkungan baru yang ada di sekitarnya.


"Aku harus segera meninggalkan tempat ini, sepertinya cukup lama aku terpisah dengan kehidupan manusia di dunia nyata. Menurut informasi yang disampaikan Maharani, ayahnda sudah aman berkumpul dengan Kang Widjanarko, sedangkan Nimas Rengganis sepertinya kembali ke Jagadklana." Wisanggeni berbicara pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Saat dia masih melamun sendiri, tiba-tiba Wisanggeni mendengar suara auman binatang yang tidak asing di telinganya.


"Aummmmmm.." suara auman Singa Ulung terdengar dari angkasa raya.


"Sepertinya singa putih itu menemukanku." muncul senyum cerah dari mulut Wisanggeni. Secepat kilat, laki-laki muda itu melompat ke atas pohon yang paling tertinggi. Menggunakan kekuatan meringankan tubuh, Wisanggeni berdiri di pucuk pohon yang menjulang tinggi.


Singa Ulung menukik turun tajam, saat merasakan aura dan lambaian tangan Wisanggeni. Dengan cepat binatang itu menghampiri laki-laki muda itu dan langsung menyambarnya setelah mereka berdekatan.


"Waowww..., aku kangen padamu Singa Ulung." Wisanggeni berteriak seperti anak kecil, tangannya berpegangan erat di kedua sayap binatang itu.


Dari kejauhan di tengah sungai, Maharani terlihat bersedih melihat ke arah angkasa. Tiba-tiba dia merasa sepi datang menghampirinya kembali, beberapa purnama dia habiskan dengan memeluk erat tubuh pemimpinnya itu. Perempuan itu berharap, dia akan mendapatkan keturunan dari laki-laki muda itu. Tetapi melihat dan merasakan bagaimana rasa cinta Wisanggeni sudah diserahkan pada gadis pujaannya, dia merasa jika perasaannya bertepuk sebelah tangan. Dan mungkin saat ini, mereka harus berpisah kembali.


************


Maharani segera mengumpulkan manusia ular yang berada di gua itu, setelah dia mendapatkan perintah dari Wisanggeni. Ribuan binatang melata, dan puluhan manusia ular memenuhi ruang pertemuan yang luas di dalam gua bagian dalam. Wisanggeni duduk di singgasana yang disiapkan untuknya.


"Paduka.., semuanya sudah berkumpul di ruangan ini. Kecuali beberapa yang memiliki tugas jaga untuk hari ini, mereka tidak dapat bergabung dengan kita di aula." Maharani segera melapor pada Wisanggeni.


"Baiklah.., isyaratkan mereka untuk diam. Aku akan memulai untuk menyampaikan sebuah pengumuman." sahut Wisanggeni, sambil tangannya mengelus rambut di atas kepala Singa Ulung. Dengan patuh, binatang itu duduk diam di depan Wisanggeni.


"Ssshhh..., sssshhh.." terdengar suara desisan keluar dari mulut Maharani. Seperti dihipnotis, seketika suasana di aula itu menjadi hening.

__ADS_1


Sesaat setelah suasana hening,  Wisanggeni berdiri dari duduknya. Telapak tangannya diangkat keatas, dan simbol berupa sinar kepala ular ungu tercetak jelas pada telapak tangannya tersebut. Melihat sinar ungu itu, semua ular fokus memandang takjub pada laki-laki muda itu.


"Wahai rakyatku semuanya..., terima kasih atas upaya kalian yang sudah menyelamatkan, dan membawaku kesini. Sekarang saatnya aku harus kembali ke dunia nyata, dan meluruskan kembali niat awalku untuk kaum manusia. Pada saat aku pergi, kepemimpinan aku serahkan pada Maharani, patuhlah dan ikuti perintahnya." kalimat yang disampaikan Wisanggeni seperti sabda yang harus dipatuhi semua yang hadir disitu.


"Tidak..., Maharani tidak mau dan tidak bersedia Paduka. Maharani ingin melanglang buana ke berbagai wilayah." Maharani memotong Wisanggeni, dia menolak amanah yang diberikan Wisanggeni padanya.


"Aku tidak akan melarangmu untuk pergi dari sini Maharani. Kamu bebas kemanapun meskipun statusmu saat ini menjadi pemimpin ular. Hanya mereka semua yang ada disini, maupun dimanapun mereka berada, mereka membutuhkanmu untuk mengarahkan mereka." sahut Wisanggeni tegas.


"Maaf Paduka.., situasi ini sebenarnya juga bisa dibalik. Paduka bebas kemanapun, tetapi kepemimpinan tetap berada di tangan Paduka." ucap Maharani membalikkan kalimat yang diucapkan oleh Wisanggeni.


Wisanggeni tersenyum, dia berjalan menghampiri Maharani. Tangannya meraih tangan Maharani, kemudian memberinya kecupan di telapak tangan itu. Muka Maharani memerah, diapun memiliki rasa malu diperlakukan seperti itu oleh laki-laki muda di depan rakyatnya.


"Status kita berbeda Maharani. Aku murni terlahir dari manusia, sedangkan kamu murni terlahir dari turunan ular. Kamu yang lebih pantas dan berhak untuk memimpin mereka. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan melupakan kalian. Aku akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini, keluarga ular. Hanya aku tidak bisa tinggal bersama kalian kapanpun itu." kata Wisanggeni seperti menyadarkan Maharani, tentang perbedaan status di antara mereka.


Perdebatan alot terjadi di antara mereka, Wisanggeni membebaskan semua yang hadir disitu untuk menyampaikan pendapatnya. Tetapi pendapat semua yang berada disitu sama, mereka tetap menghendaki Wisanggeni untuk menjadi pemimpin mereka apapun alasannya. Selama Wisanggeni tidak bersama mereka, kepemimpinan akan dilakukan oleh Maharani.


"Baiklah jika itu sudah menjadi kesepakatan kalian, aku tidak dapat menolak semua kehormatan dari kalian. Sudah saatnya aku harus pergi, sekali lagi terima kasih." Wisanggeni akhirnya mengakhiri pertemuan itu.


Beberapa saat mereka meninggalkan aula, laki-laki muda itu segera menepuk Singa Ulung. Dia bergegas keluar dari gua, dan sesampainya di luar, dengan punggung Singa Ulung, Wisanggeni meninggalkan tempat itu.


**************

__ADS_1


__ADS_2