Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 165 Belajar Kanuragan


__ADS_3

Wisanggeni mengangkat tangan melarang anak buahnya menangkap Tunggul Amerta. Laki-laki itu malah melepaskan cengkraman tangan Manggala dan Prayudha dari tubuh anak laki-laki itu. Semua orang memandang Ketua Perguruan Gunung Jambu itu dengan tatapan tidak mengerti, Tidak menangkap atau menyerang balik orang yang akan menyerangnya, malah membebaskan anak itu dari pegangan kedua laki-laki muda itu.


"Prayudha.., ambilkan minuman hangat untuk tamu kita!" dengan suara tegas, Wisanggeni menyuruh Prayudha untuk mengambil minuman. Dengan pandangan tak percaya, Prayudha menatap Wisanggeni. Tetapi dengan tangannya, Wisanggeni memberi isyarat pada Prayudha untuk segera melaksanakan perintahnya. Tidak berapa lama, Prayudha membawa satu cangkir dari kayu berisi minuman hangat dan memberikannya pada Tunggul Amerta.


"Minum.., untung saja aku tidak memberi minuman ini racun untukmu." ucap Prayudha sengit, dia seperti tidak rela memberikan pelayanan pada anak laki-laki itu. Wisanggeni tersenyum mendengar perkataan Prayudha.


"Manggala.., Prayudha.., jadilah orang-orang yang pemaaf. Dengan kita memaafkan orang-orang yang berniat untuk menyakiti kita, akan menimbulkan ketenangan dalam hati kita. Yakinlah dengan perkataanku." ucap Wisanggeni menasehati kedua anak laki-laki itu. Prayudha dan Manggala saling berpandangan, berusaha mencerna kata-kata yang terucap dari bibir Wisanggeni.


Setelah melihat minuman di cangkir Tunggul Amerta sudah habis, dan laki-laki itu menundukkan kepala masih dengan ekspresi geram, Wisanggeni memegang pundak anak laki-laki itu.


"Siapa namamu anak muda?" Wisanggeni bertanya dengan suara lembut. Tetapi Tunggul Amerta malah menatapkanya kembali, dan tidak menjawab pertanyaannya.


"Jawab...!" teriak Prayudha dengan geram, melihat anak laki-laki itu mengabaikan pertanyaan Wisanggeni.


"Prayudha.., kendalikan amarahmu!! Kita harus bertanya apa alasan anak ini, sampai sudah mencurigaiku menyembunyikan atau bahkan memusnahkan kakaknya. Siapa tahu.., dia hanya termakan omongan orang-orang yang tidak menyukaiku." Wisanggeni menenangkan amarah Prayudha. Mendengar hal itu, Prayudha kemudian diam dan kembali duduk di tempatnya semula.

__ADS_1


Melihat anak laki-laki itu diam tidak menjawab pertanyaannya, Wisanggeni menghela nafas.


"Tadi aku mendengar Prayudha memanggilmu dengan nama Tunggul Amerta. Aku akan memanggilmu dengan panggilan Tunggul. Maukah kamu menjawab pertanyaanku anak muda? Apakah yang kamu tanyakan adalah Nimas Larasati?" mendengar perkataan Wisanggeni, Tunggul Amerta kembali menatap mata Wisanggeni.


"Dari mana kamu mengambil kesimpulan jika aku menyakiti kakak perempuanmu? Aku justru menolong dan menyelamatkannya. Apakah kamu mendapatkan kabar berita dari orang-orang yang malah menjadikanmu senjata untuk menyakiti kakak perempuanmu?" kembali Wisanggeni bertanya pada anak laki-laki itu.


Tunggul Amerta terdiam, dia mencoba mencerna kata demi kata yang keluar dari mulut Wisanggeni. Memang saat itu dia melihat jika laki-laki yang ada di depannya itu mengangkat dan menolong tubuh Larasati dari dalam air. Tetapi belum sampai melihat bagaimana kelanjutannya, orang-orang dari padhepokan Dadap Sumilir segera membawanya pergi. Setelah itu, orang-orang saudara seperguruan Larasati mengatakan padanya jika kakak perempuannya dihabisi oleh laki-laki yang menolongnya. Begitu kesadarannya pulih, dia mencari tahu kabar kakak perempuannya. Dan ketika mendapatkan informasi sedikit saja, begitu dia mendatanginya kakak perempuannya sudah berpindah tempat.


"Apakah benar jika kamu adalah rayi dari Nimas Larasati?" pertanyaan Wisanggeni menyadarkan anak laki-laki itu dari lamunannya. Tanpa sadar dia menganggukkan kepalanya.


"Lihat saja orang-orang dari padhepokan Dadap Sumilir. Aku akan menuntut balas, atas usahamu menghancurkan keluargaku." ucap Tunggul Amerta dengan tegas. Tatapan kebencian kembali berkilat di matanya.


"Ikutlah denganku ke pesanggrahan. Tuntutlah dan dalami ilmu kanuragan denganbaik dan benar. Baru kamu berpikir untuk membalaskan rasa sakit hatimu." Wisanggeni menasehati anak laki-laki itu. Tanpa diduga, Tunggul Amerta bersujud sambil menangis di kaki Wisanggeni.


***********

__ADS_1


Seperti yang telah diucapkannya, Wisanggeni menyetujui Manggala dan Prayudha untuk belajar ilmu kanuragan di dalam pesanggrahan bersama dengan Tunggul Amerta. Laki-laki itu sendiri yang mengantarkan dan meminta ijin serta doa restu kepada romo kedua anak itu.


"Benarkah Den Bagus..., jika kedua anak saya ini bisa menguasai ilmu kanuragan juga?" masih dengan keraguan, romo kedua anak itu memastikan pada Wisanggeni. Kedua tangan laki-laki tua itu diletakkan di kedua pundak anak laki-lakinya.


"Tenanglah paman.., semua orang pada dasarnya mereka akan bisa menguasai ilmu kanuragan. Semua tergantung dan ditentukan oleh kegigihan mereka masing-masing. Jika paman mengatakan tidak memiliki keturunan sebagai seorang pendekar atau petarung, maka mereka berdua yang menurunkan pada generasi selanjutnya." dengan sahih, Wisanggeni menjawab keraguan dari romo kedua anak lai-laki itu. Dengan mata bersinar, kedua anak laki-laki itu menatap romonya, mencoba meyakinkan pada laki-laki paruh baya itu, jika mereka akan berusaha dengan baik.


Melihat keyakinan dan semangat yang ditunjukkan kedua putra laki-lakinya, akhirnya laki-laki paruh baya itu menganggukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Laki-laki itu memeluk erat tubuh kedua anak laki-laki itu, dan Tunggul Amerta melihat iri pada mereka. Melihat reaksi yang ditunjukkan Tunggul Amerta, tangan Wisanggeni menarik tubuh anak laki-laki itu kemudian mendekatkan kepadanya. Mendapat sentuhan dari Wisanggeni, Tunggul Amerta menjadi merasa hangat dan terharu. Matanya berkaca-kaca melihat ketulusan dari laki-laki yang dari tadi sudah diserangnya dengan melempat bilah pisau padanya.


"Baiklah paman..., saya rasa sudah cukup untuk Manggala dan Prayudha berpamitan dengan paman. Saya akan segera mengajak mereka sendiri untuk memasuki pesanggrahan." ucap Wisanggeni memutus keharuan antara seorang romo dengan kedua putranya itu. Manggala dan Prayudha segera meraih telapak tangan romonya kemudian mencium punggung tangannya. Tanpa menoleh lagi ke belakang, kedua anak laki-laki itu segera mengikuti Wisanggeni yang berjalan di depannya.


"Apakah kalian bertiga sudah siap dan mantap untuk belajar kanuragan di pesanggrahan Gunung Jambu?" kembali Wisanggeni memastikan keyakinan dan semangat mereka untuk mengembangkan diri mereka.


"Siap Den Bagus.., kami akan menuntut ilmu dengan sebaik mungkin." mereka bertiga menjawab secara serempak. Wisanggeni tersenyum mendengar kesanggupan mereka, kemudian laki-laki itu meniup mulutnya. Tidak lama kemudian, Singa Ulung terbang dan turun di dekatnya.


"Karena ini baru awal kalian masuk ke pesanggrahan, aku akan menaikkan kalian ke punggung Singa Ulung. Tetapi ke depan, kalian harus memikirkan cara sendiri agar bisa memasuki tempat itu." kata Wisanggeni, sambil tangannya mengangkat ketiga orang itu dan melemparkannya ke punggung binatang singa itu.

__ADS_1


***************


__ADS_2