Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 493 Proses Kehidupan


__ADS_3

Tidak hanya Chakra Ashanka dan Sekar Ratih yang pergi meninggalkan kerajaan, satu hari sesudahnya Dananjaya juga berpamitan untuk membawa Parvati kembali ke bumi Sriwijaya. Rengganis merasa sangat kehilangan, apalagi sejak kehilangan ibundanya Maharani, selama ini Parvati memiliki hubungan yang sangat dekat dengan dirinya. Istri dari Wisanggeni itu tidak dapat menahan air mata yang terus mengalir keluar dari kelopak matanya. Berpisah dengan putrinya ternyata lebih menyedihkan dibanding ketika berpisah dengan putranya Chakra Ashanka.


"Aku titip putriku kepadamu nak mas Dananjaya, dan aku tidak akan panjang lebar. Pesan yang disampaikan oleh kakangmas Parvati Chakra Ashanka, hal itu pula yang aku sampaikan kepadamu. Untuk itu nak mas.. jaga dan perlakukan putriku dengan sebaik-baiknya, karena seorang ayahnda dan seorang kakangmas laki-laki, tidak akan pernah membiarkan dan tega melihat putri atau adik perempuannya menderita." Wisanggeni menyampaikan kata-kata perpisahan pada laki-laki muda dari bumi Sriwijaya itu.


"Baik ayahnda.. ibunda.. Dananjaya berjanji tidak akan mengecewakan Nimas Parvati. Sebaliknya Dananjaya dan seluruh anggota keluarga di bumi Sriwijaya akan meratukan Nimas Parvati.." dengan mata berlinang, Dananjaya menanggapi perkataan yang disampaikan oleh ayahnda mertuanya.


Kedua laki-laki itu saling berpelukan, dan tibalah giliran Parvati yang tidak dapat mengendalikan air matanya. Rasa sedih akan berpisah dengan ayahnda dan ibundanya untuk waktu yang tidak bisa dihitungnya, betul-betul menjadikan hatinya terasa perih dan sakit. Tetapi bagaimanapun, menikah dan mengikat janji dengan Dananjaya adalah pilihannya sendiri. Akhirnya sambil terisak, gadis itu memeluk Wisanggeni dan Rengganis.


"Bawalah Singa Resti bersama dengan kalian putriku.. binatang itu akan menjagamu. Dan  jika Resti tidak kerasan, maka binatang itu akan menjemput takdirnya sendiri. Dengan mudah Singa Resti akan kembali mencari dan datang padaku.." tidak diduga, ternyata Wisanggeni memberikan binatang magic peliharaannya untuk dibawa putri dan menantunya.


"Benarkah ayahnda.. ibunda.." Parvati bertanya sambil memandang kedua orang tuanya secara bergantian. Kedua orang tua itu menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Terima kasih ayahnda.. ibunda.. atas kepercayaannya untuk menjaga dan merawat Sinag Resti." dengan hati riang dan sangat bahagia karena dipercaya untuk membawa binatang itu, Parvati mengucap sujud syukur.


Arya dan suami Parvati Dananjaya tersenyum haru melihat sikap dan tindakan yang dilakukan Parvati. keduanya saling berpandangan. Tidak lama kemudian Dananjaya berjalan maju mendekati parvati, kemudian merengkuh pundak gadis muda itu.

__ADS_1


"Nimas Parvati.. hari keburu berganti menjadi ke arah senja. Kita harus segera berangkat Nimas.. dan kakang berjanji kepada Nimas... Setiap warsa kita akan meluangkan waktu dan menyempatkan diri untuk berkunjung dan berbakti pada ayahnda Wisanggeni dan ibunda Rengganis." di telinga gadis itu, Dananjaya mengajak Parvati untuk segera berangkat pergi.


"Baik kakang.. Nimas akan segera mengikuti kemanapun kakang akan pergi dan melangkah.." Parvati tanpa banyak berpikir segera berdiri meninggalkan ayahnda dan ibundanya.


Tidak lama kemudian, di depan Singa Resti yang sudah berubah bentuk menjadi seekor singa besar yang mengepakkan sayapnya, ketiga anak muda siap untuk berangkat pergi meninggalkan padhepokan. perlahan Dananjaya dengan hati-hati membantu Parvati untuk melompat naik ke punggung SInga Resti, kemudian dia ikut memeluk Parvati dari belakang gadis itu. Berada di belakang sendiri, Arya segera melompat ke atas punggung binatang itu.


Wisanggeni dan Rengganis melambaikan tangan ketika perlahan Singa Resti mengepakkan sayap dan perlahan terbang meninggalkan pasangan itu. begitu binatang itu sudah tidak terlihat dari pandangan mata, Rengganis tiba-tiba merasa tubuhnya lemas, dan perempuan itu terjatuh pingsan.


**********


Beberapa pelayan sibuk mengantarkan makanan dan minuman hangat untuk Rengganis. Wisanggeni meminta para pelayan itu untuk meletakkan di atas meja, dan menunggu jika Rengganis sudah tersadar kembali. Tidak menunggu berapa lama, ternyata yang dipikirkan laki-laki itu terbukti. Perlahan Rengganis membuka matanya, dan tampak setetes air mata mengalir dari sudut mata perempuan itu.


"Nimas Rengganis sudah sadar.., ini kakang Nimas.." dengan penuh kasih sayang, Wisanggeni mengusap genangan air mata itu menggunakan kacu di tangannya.


"Maafkan Nimas kakang.. Nimas terbawa suasana hati, dan tiba-tiba tidak bisa mengendalikannya.." dengan suara lirih. Rengganis mencoba berbicara, tapi dengan cepat dengan menggunakan dua jarinya Wisanggeni meletakkan jari tangan di depan bibir Rengganis.

__ADS_1


"Menangislah Nimas.. jika itu bisa melegakan hatimu. Tidak baik kita memendam sesuatu tanpa bisa diungkapkan, karena akan bisa menjadi sumber penyakit bagi tubuh kita." sambil tersenyum, Wisanggeni kembali menenangkan istrinya.


Perlahan laki-laki itu memegang pinggang Rengganis, dan dengan hati-hati mengajak istrinya untuk duduk. Setelah Rengganis berhasil duduk, Wisanggeni mengambil cangkir berisi minuman panas, kemudian meminta istrinya untuk minum beberapa teguk. Beberapa saat, Wisanggeni membiarkan istrinya dalam posisi seperti itu.


"Nimas... datang dan pergi, hidup dan mati, merupakan siklus yang harus dijalani oleh setiap manusia. Rela tidak rela, kita harus menjalaninya dengan taat. Untuk itu Nimas.. hilangkan kesedihanmu untuk saat ini, kita akan melakukan sesuatu di masa depan untuk mengisi masa tua kita.." Wisanggeni mengajak istrinya berbicara, setelah mereka menikmati minuman dan makanan.


"Iya kakang... asalkan itu bersama dan berdua dengan kakang.. Nimas akan menjalaninya dengan sepenuh hati kakang. Bagaimana rencana kakang ke depannya..?" Rengganis yang sudah kembali menguasai hati dan perasaannya, menanggapi perkataan suaminya.


"Kakang berencana untuk meninggalkan padhepokan ini Nimas.. dan ingin kembali ke tengah hutan untuk menjalani hidup tanpa gangguan dari orang yang lain. Ada sebuah gua, dimana merupakan tempat pertama kakang dapat mengembalikan kembali kekuatan kakang. Di gua itulah, kakang berencana untuk tinggal disana." Wisanggeni melamun, membayangkan goa pertama yang ditempatinya ketika bertemu dengan Larasati tanpa sengaja.


"Baik kakangmas.. Nimas akan selalu menyertaimu. Berada di padhepokan ini, hanya akan membangkitkan kerinduan Nimas pada Chakra Ashanka dan Nimas Parvati. Dengan menyibukkan diri berlatih dan melakukan meditasi. kita akan dapat melupakan semuanya." Rengganis berniat untuk menemani suaminya. Wisanggeni menatap wajah Rengganis, dan pasangan suami istri itu saling bertatapan dan tersenyum.


"Jika itu juga menjadi niat dan keputusanmu Nimas.. mari kita segera bersiap. Kita harus mengumpulkan para sesepuh padhepokan ini, dan menyerahkan kegiatan pada padhepokan ini pada mereka. Sesekali kita akan berkunjung ke tempat ini.." ucap Wisanggeni/


"Mari kakang.. Nimas akan membereskan semua perlengkapan kita terlebih dahulu.." sahut Rengganis.

__ADS_1


********


__ADS_2