Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 495 Tuntutan


__ADS_3

Wisanggeni dan Rengganis yang sudah selesai melakukan semedi, mereka duduk berdua di bawah pohon yang ada di halaman goa tempat tinggal mereka. Meskipun tempat di tengah hutan itu sudah berubah menjadi sebuah kota kecil, namun pasangan suami istri itu tetap menyukai untuk tetap tinggal di dalam goa. Sejumlah areal pekarangan yang luas mengelilingi goa, dan dibuat sebuah pagar dari bambu, sebagai batas tempat mereka tinggal.


"Kang.. Nimas tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Semula Nimas berpikir, jika kita hanya akan tinggal menenangkan diri sampai akhir hayat di tengah hutan ini. Namun itu semua ternyata hanya khayalan saja, lihatlah di sekitar kang.. tengah hutan ini sudah menjelma menjadi sebuah kota kecil." Wisanggeni menyampaikan pandangan tentang tempat tinggal mereka saat ini.


"Heh.. benar katamu Nimas.. bahkan Raja Abhiseka dan Nimas Niken Kinanthi juga mengikuti kita berpindah ke tempat ini. Bahkan mereka merelakan kerajaaan, untuk dipimpin oleh putra mereka. Sepertinya takdir dan nasib tidak merelakan kita untuk hanya berdua Nimas.. Tetapi hal itu juga seharusnya juga membuat kita bangga, karena ternyata dimanapun keberadaan kita, ada keberkahan dari Hyang Widhi. Kita menjadi memiliki sebuah keluarga yang banyak, dan selalu gotong royong saling membantu.." Wisanggeni tersenyum dan menanggapi perkataan istrinya.


Rengganis menyandarkan kepalanya di pundak Wisanggeni, dan perempuan itu menengadahkan wajahnya ke atas. Tampak bulan purnama bersinar cerah, dan melalui sela-sela pohon, sinarnya menerpa wajah perempuan itu. Wisanggeni tersenyum, melihat wajah istrinya yang masih tetap terlihat ayu, meskipun usia mereka sudah tidak muda lagi untuk saat ini. Menyadari jika suaminya mengamati wajahnya sejak tadi, tanpa disadari pipi Rengganis bersemburat merah.


"Ada apa kang, sejak tadi Nimas merasa, kakang mengawati wajah Nimas terus menerus.." dengan suara lembutnya, Rengganis bertanya pada laki-laki itu.


"He.. he.. he.. ternyata istriku menyadarinya. Kakang kagum Nimas dengan wajahmu.. meskipun kita sudah tidak muda lagi, tetapi belum terlihat kerutan di wajah Nimas. Sampai seusia ini, Nimas masih memiliki wajah yang kencang, dan tidak kendor." Wisanggeni berbicara sesungguhnya. Namun kalimat itu terdengar di telinga Rengganis seperti sebuah lelucon.


"Jangan bicara seperti itulah kang.. malu jika ada orang lain yang ikut mendengar. Nanti dipikir mereka, kakang sedang merayu Nimas.. Ingat kang.. usia kita sudah tidak muda lagi, kita sudah memiliki cucu." Rengganis mencubit pinggang suaminya.

__ADS_1


"Tidak perlu malu Nimas.. kita ini suami istri, bukan lagi anak muda yang sedang saling mengincar. Tempat ini sudah semakin ramai, tidak senyaman dulu ketika hanya kita berdua yang tinggal dan berada di tempat ini Nimas. Tapi bagaimanapun juga, kita tidak boleh mengusir mereka untuk pergi dari talatah sini. Sudah menjadi kewajiban kita, untuk saling membantu dan juga berbagi." tidak diduga, ternyata Wisanggeni menyadari dan sedikit merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini.


"Kakang.. jangan terlalu keras bicaranya. Kita tidak lagi berdua, hanya ditemani oleh binatang hutan di tempat ini." sahut Rengganis mengingatkan suaminya.


Wisanggeni tersenyum, kemudian menatap mata istrinya dan menghadiahkan sebuah kecupan di kening istrinya itu. Rengganis tersenyum malu, laki-laki yang mendekapnya saat ini memang tidak memandang tempat ketika memanjakan istrinya. Namun.. orang-orang yang melihatnya, tidak berpikiran buruk terhadap mereka berdua.


"Uhuk.. uhuk.. hmm.. kira-kira jika sedang berdua seperti ini, bisa menerima tamu tidak ya..?" tiba-tiba pasangan suami istri dikejutkan dengan suara Abhiseka dan beberapa anak muda, yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua berada.


"Wah ada Raden Abhiseka disini, juga beberapa anak muda. Tidak layak jika kita mengobrol di tempat ini, bagaimana jika kita masuk ke dalam goa. Disana lebih hangat.." Wisanggeni tersenyum, melihat beberapa anak muda datang berkunjung ke tempat mereka berada.


Merasa sebagai perempuan sendiri di tempat itu, Rengganis cukup tahu diri. Perempuan itu tiba-tiba berdiri, namun tangan Wisanggeni menggenggam tangannya dan melarang istrinya pergi meninggalkannya. Abhiseka merasa tanggap, laki-laki tersenyum kemudian..


"Nimas Rengganis.. tidak mengapa jika Nimas ingin tetap berada disini untuk menemani kang Wisang.. Karen apa yang akan kami bicarakan dengan kang Wisang.., Nimas Rengganis juga perlu untuk mendengarnya. Agar kita tidak perlu menjelaskan lagi, jika ada pertanyaan dari nimas." ucap Abhiseka melarang Rengganis untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Perempuan itu mengedarkan pandangannya, dan semua anak muda yang datang bersama dengan Abhiseka tersenyum dan menganggukkan kepala. Akhirnya Rengganis kembali duduk di samping Wisanggeni.


"Begini kang Wisang..., beberapa orang tua juga anak muda yang turut bergabung tinggal di hutan ini, mereka menemui saya dan menyampaikan sebuah amanah baru. Kami semua berharap, kang Wisang tidak menolaknya dan menerima amanah ini dengan sebuah kerelaan." Abhiseka menyampaikan maksud kedatangannya.


"Kami ingin meminta kang Wisang dan nimas Rengganis untuk memimpin kami semua, karena wilayah ini membutuhkan seorang pemimpin kakang.. Besar harapan kami, wilayah ini akan bisa berkembang menjadi besar, dan membentuk sebuah kerajaan baru. Untuk itu, atas nama semua orang yang tinggal di tlatah ini, kami meminta kesediaan kakang Wisanggeni dan Nimas Rengganis untuk menerima amanah ini." lanjut Abhiseka.


Wisanggeni dan Rengganis terkejut, keduanya merasa tidak setuju dengan harapan dari orang-orang di wilayah itu, yang sekarang meminta mereka untuk memimpin tlatah. Keputusan mereka berdua dulu datang dan menetap di dalam goa, untuk menenangkan diri dan menjauhkan diri dari adanya nafsu duniawi. Tetapi ternyata orang-orang itu berpikiran lain.


"Raden.. dan semua anak muda yang hadir di tempat ini, urungkan niat kalian. Sedikitpun aku dan Nimas Rengganis tidak memiliki keinginan untuk menjadi orang yang dipandang. Untuk itulah menjadi alasan kami berdua pergi meninggalkan Padhepokan Gunung Jambu." Wisanggeni tetap berusaha untuk menolak tawaran itu. Rengganis juga demikian, namun perempuan itu lebih banyak diam dan hanya melihat suaminya.


Tidak diduga, Abhiseka dan para anak muda itu duduk di tanah dan bersimpuh di hadapan Wisanggeni dan Rengganis. Pasangan suami istri kaget, dan berusaha meminta bangun orang-orang itu. Tetapi orang-orang itupun tidak mau mengangkat tubuh mereka ke atas, sampai akhirnya Wisanggeni dan Rengganis memutuskan untuk menyerah.


"Baik.., baik.. angkat tubuh kalian ke atas, aku akan mengikuti apa yang kalian semua inginkan.." Wisanggeni kembali meminta orang-orang itu untuk bangkit dan duduk berdampingan dengannya.

__ADS_1


Wajah Abhiseka dan para anak muda itu menjadi cerah, seperti mendapat sebuah harapan baru. Abhiseka kemudian bangun dan memeluk erat Wisanggeni dengan erat.


*********


__ADS_2