
Suara Raja Bhadra Arsyanendra seperti menyirep semua orang yang berada di pagelaran dan pelataran. Dari atas pohon, Rengganis dan Wisanggeni tersenyum takjub, melihat bocah kecil itu sudah berubah menjadi seorang raja yang didengarkan suaranya oleh semua warga di kerajaan Logandheng. Parvati menyentuh lengan ayahndanya, gadis muda itu seperti tidak percaya melihat penampilan Bhadra Arsyanendra saat ini.
"Ayahnda.. apakah yang berbicara di pagelaran itu adalah kang Bhadra, yang dulu berada di perguruan kita." gadis muda itu bertanya pada Wisanggeni. Dalam hatinya, gadis itu meyakini jika anak muda yang dia lihat itu adalah bocah yang dulu sering menemaninya bermain. Namun.. sisi hatinya yang lain, merasa tidak percaya dengan perubahan cepat dari penampilan laki-laki muda itu.
"Benar Parvati.. raja Logandheng saat ini adalah temanmu bermain dulu, raden Bhadra Arsyanendra. Kharisma anak itu seakan muncul dan hidup, ketika mengenakan pakaian kebesaran sebagai seorang raja di kerajaan ini. Lihatlah ke bawah.. kita akan melihat akhir dari pertarungan ini bagaimana..!" Wisanggeni menjawab keragu-raguan putrinya itu.
Parvati mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun sisi hatinya ada yang belum mau meyakini apa yang dia lihat itu. Dari samping, Rengganis tersenyum melihat keheranan putrinya, melihat penampilan Bhadra Arsyanendra yang seperti mengalami perubahan drastis. Tidak lama kemudian. mereka kembali melihat ke bawah, ke medan pertarungan dimana masih berdiri Chakra Ashanka dan laki-laki tua bersamanya,
"Apakah ada yang tidak setuju dengan pernyataan Raja Bhadra Arsyanendra...?" terdengar suara sesepuh meminta persetujuan dari semua yang berada di tempat itu.
Chakra Ashanka tersenyum, anak muda itu menyetujui dan menganggukkan kepalanya. Melihat laki-laki tua yang baru saja menerima serangan keras darinya, sudut hatinya sudah merasa tidak tega. Kali ini hanya pilihan yang dikatakan raja Logandheng yang masih bisa diterima dengan akal sehat. Sama halnya dengan anak muda itu, akhirnya laki-laki tua itu juga menyetujui usulan yang diucapkan Raja Bhadra Arsyanendra.
__ADS_1
"Berdirilah paman... aku siap untuk menerima serangan darimu. Lakukan, dan keluarkanlah semua kesaktian yang paman miliki. Jangan ragu untuk mengirimkan serangan kepadamu, sama seperti dengan yang aku lakukan tadi." sebelum membangun kuda-kuda, Chakra Ashanka mengajak laki-laki tua itu berbicara.
Senyum kecut muncul di bibir laki-laki tua tersebut. Kemudian laki-laki tua itupun segera berdiri di depan anak muda itu, tatapannya memindai wajah Chakra Ashanka dengan tanpa senyum sedikitpun. Orang-orang segera mundur ke belakang, mereka memberi ruang agar kedua laki-laki itu segera bertarung. Belajar dari serangan yang dilakukan oleh anak muda tadi, mereka memundurkan tubuhnya lebih jauh ke belakang. mereka tidak ingin terkena serangan yang salah sasaran dari laki-laki tua tersebut.
Suasana di medan pertarungan menjadi hening seketika, laki-laki tua itu memejamkan matanya sebentar. Setelah itu, bibir laki-laki itu mengeluarkan senyuman tipis, danĀ kedua tangannya berputar-putar di depan dadanya. Tidak lama kemudian, bola api berwarna jingga kemerahan muncul di sela-sela lingkaran tangannya. Chakra Ashanka tersenyum melihat pemandangan di depannya, laki-laki itu mengeluarkan aura batin.. dan energi dingin tiba-tiba berhembus di pelataran, dan terlihat kedua tangan anak muda itu seperti berubah menjadi salju putih.
"Terimalah serangan api Banaspatiku untukmu anak muda....sreeeeettttt blupppp....." tiba-tiba laki-laki tua itu berteriak, kemudian tangannya terangkat ke atas, dan lingkaran api itu meluncur deras ke arah anak muda itu.
Untuk memberikan tontonan, agar orang-orang yang berada disitu tidak meragukan dan merendahkan kekuatan laki-laki tua itu, Chakra Ashanka menunjukkan ekspresi jika dia kesusahan menahan serangan itu. Namun sesepuh dan Raja Bhadra Arsyanendra hanya tersenyum melihatnya. Mereka tidak bisa dengan mudah ditipu dengan permainan kecil seperti itu. Bulatan api yang dikirimkan ke anak muda itu, berhenti di depan Chakra Ashanka. Anak muda itu memutar-mutar bola api itu beberapa saat, namun tidak lama kemudian tangan dingin anak itu perlahan-lahan mematikan sinar api merah yang ada dalam bola api tersebut,
"Upppss... pessss,..." tidak lama kemudian, bola api itu menghilang dari pandangan semua orang yang berada disitu. Tidak diduga.. tubuh laki-laki tua itu limbung, dan akhirnya terjatuh ke belakang. Semua orang yang dibawa oleh laki-laki tua itu segera berlari untuk memberi pertolongan pada pemimpin mereka. Namun laki-laki tua itu hanya terdiam, karena sudah terjatuh pingsan di arena pertarungan.
__ADS_1
"Prok.. prok.. prok... suitt... suitt..., Den Bagus Chakra Ashanka sudah memenangkan pertarungan. ..." sorak sorai terdengar di sekitar pagelaran dan pelataran. Semua mengelu-elukan anak muda itu. Sedangkan kontras dengan yang terjadi di tempat itu, tampak wajah puluhan orang bersedih berusaha memberikan pertolongan pada laki-laki tua itu. Beberapa anak muda datang dan mengangkat tubuh Chakra Ashanka.
Tapi tiba-tiba.., anak muda itu melompat turun. hal yang dilakukan oleh Chakra Ashanka itu mengejutkan orang-orang yang berada disitu. Anak muda itu sepertinya tidak menyukai pemberian ucapan selamat, dan memilih untuk menghindar dari hal tersebut.
"Kang Ashan.. apa yang akan kamu lakukan. Kenapa kamu menolak perlakuan yang diberikan oleh para prajuritku. Mereka hanya ingin berbagi kesenangan denganmu, karena mereka bangga sudah merasa mendapatkan kemenangan ini." tiba-tiba terdengar suara Raja bhadra Arsyanendra seakan memberikan teguran pada anak muda itu.
"Ampun Baginda Raja... bukan maksud saya untuk mengabaikan ucapan selamat dari mereka. Hanya saja.. saya merasa tidak layak untuk menyandang gelar kemenangan, sementara paman tua itu terluka parah. Saya akan melihat paman tersebut sebentar saja Baginda.." anak muda itu bisa menempatkan diri dengan baik, bagaimana dia harus bersikap di depan orang banyak. Meskipun mereka memiliki hubungan yang dekat, namun Chakra Ashanka tetap menghormati Raja Bhadra Arsyanendra.
"Hmmm... jika begitu lakukanlah kang Ashan.. AKu tidak akan bisa menghentikan tekad kerasmu.. dalam hatimu selalu ada ruang untuk kasih sayangmu pada sesama." akhirnya Raja Bhadra Arsyanendra mentolerir sikap penolakan yang dilakukan oleh anak muda putra pemilik perguruan Gunung Jambu itu.
Perlahan Chakra Ashanka berjalan menghampiri paman tua yang tampak terbaring tak berdaya itu, dan saat ini dalam keadaan pingsan. Anak buah dari laki-laki tua itu segera memberikan ruang untuk anak muda itu, ketika akan mendekati Guru dan juga sesepuh mereka. Namun.. tiba-tiba Chakra Ashanka menggeser langkahnya. Seorang laki-laki dengan kecepatan tinggi.. tiba-tiba datang dan langsung duduk di depan anak muda tersebut,
__ADS_1
***********