Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 309 Penyelidikan


__ADS_3

Dengan licin, tubuh Maharani menyelinap dan melewati penjagaan murid-murid perguruan dengan cepat, tanpa sedikitpun diketahui oleh para penjaga tersebut. Belum mau merubah ke perwujudan sebagai manusia biasa, Maharani terus menelusup melewati kumpulan semak belukar. Ular itu menatap orang-orang yang mungkin bekerja sebagai penjual, sudah mulai berangkat berjalan kaki dengan membawa oncor di tangannya. Meskipun kerajaan Logandheng masih kacau balau, jika sudah terkait dengan urusan perut, maka orang tidak akan mengabaikannya.


"Sssshh..., di depan ada penjagaan. Aku belum bisa merubah bentuk tubuhku, aku khawatir ada di antara mereka yang mengetahui perwujudanku sebagai Maharani. Setelah melewati mereka, baru aku akan berubah wujud menjadi Maharani.." melihat sekelompok penjaga dari kerajaan Logandheng tampak berpatroli, Maharani belum berniat untuk berubah bentuk menjadi perempuan cantik.


"Karto..., apakah kamu mendengar sesuatu...?? Sepertinya aku mendengar suara licin kulit ular yang ada di sekitar kita." tiba-tiba salah satu penjaga bertanya pada teman yang lainnya.


"Halah kamu..., selalu saja begitu. Ingat Jo..., kita kali ini sedang ditugaskan untuk menjaga perbatasan ini. Bukan untuk mencari ular.., dasar pikiranmu sebagai pawang ular, memang tidak akan pernah terlepas dari pikiran tentang keberadaan ular." salah satu teman yang bernama Karto menanggapi perkataan temannya itu.


"Hemmm... iya juga sih. Tapi bau ular yang ada di sekitar kita ini sangat wangi.., dan seperti ada aura tinggi yang menyelimuti badannya, Aku juga tidak akan macam-macam untuk menantang apalagi menangkapnya. Bisa-bisa.., aku sendiri yang akan dimakan atau menjadi korban dari ular itu." hidung laki-laki itu mengendus-endus, dan memejamkan matanya seakan merasakan keberadaan wujud Maharani sebagai ular.


"Sudahlah.., kamu malah membuatku takut. Kamu sendiri tahu kan, aku paling jijik dan tidak mau menjumpai binatang itu. Ayolah kita bergeser ke sebelah sana, hilangkan pikiranmu tentang ular.." Karto menarik temannya tadi, dan untungnya laki-laki itu menurut. Kemudian kedua laki-laki itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Kepergian dua orang laki-laki itu, membuat Maharani bernafas lega. Ular itu kemudian menengok ke kanan kiri.., kemudian dengan melata berjalan menjauhi tempat tersebut. Beberapa saat kemudian, di tempat yang sepi, akhirnya Maharani memutuskan untuk berubah bentuk. Perlahan perempuan muda itu kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut. Baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba...

__ADS_1


"Ki Sanak..., dari mana Ki sanak datang. Hari masih malam, meskipun tidak lama lagi sang surya akan segera muncul. Tetapi sepertinya aneh.., ada perempuan cantik, waktu masih dini hari seperti ini datang dari semak belukar.." Maharani dikagetkan dengan teguran orang dari arah berlawanan. Perempuan itu menoleh ke arah sumber suara, dan terlihat dua orang laki-laki sedang berjalan mendekat ke arahnya. Setelah sampai di depan Maharani, kedua laki-laki itu mengamati perempuan itu dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


"Mohon maaf jika kemunculan saya mengagetkan Ki Sanak kedua. Saya tadi memang berjalan dari dalam semak belukar, karena bermaksud untuk bersembunyi disitu untuk beristirahat. Hanya di dalam semak belukar, yang sepertinya bisa membuat diri saya aman. Tetapi saya merasa gatal, dan sepertinya banyak onak yang menggores kulit saya.." Maharani menjawab pada kedua laki-laki itu dengan berbohong kepadanya.


"Begitukah.., kemana tujuanmu sebenarnya..? Kamu untuk sementara bisa berjalan dengan kami, dan jika menemukan tempat yang enak, kita bisa beristirahat di tempat tersebut." laki-laki itu kembali bertanya pada Maharani.


"Ingin mencari keluarga saya di pusat kerajaan Logandheng Ki Sanak. Menurut berita, ada perebutan kekuasaan di kerajaan itu, saya ingin menemukan keluarga saya." kembali Maharani berbohong.


"Benar informasi yang kamu dapatkan Ki Sanak. Raja sudah mangkat beberapa waktu yang lalu,  dan hanya meninggalkan putra dari permaisuri satu anak laki-laki yang masih bocah. Saudara-saudara dari raja yang mangkat, tidak menyetujui jika putra mahkota yang masih kecil, menggantikan kedudukan ayahndanya. Tapi, sepertinya Patih kerajaan sangat setia pada keluarga raja, mereka membawa dan melarikan putra mahkota. Pencarian sudah dilakukan kemana-mana, namun belum ada kabar beritanya sampai sekarang. Dan saat ini, untuk sementara kerajaan dalam penguasaan paman-paman dari putra mahkota." tanpa diminta, dengan gamblang laki-laki itu menceritakan suasana kerajaan pada Maharani.


**********


Di tengah Hutan..

__ADS_1


Terlihat Pangeran Abhiseka, Niken Kinanthi dan Chakra Ashanka sedang bersiap untuk meninggalkan hutan tersebut. Widayat dan beberapa orang yang dibawanya, sudah meninggalkan tempat itu beberapa waktu yang lalu. Mereka masih memiliki beberapa urusan yang harus segera diselesaikan.


"Ashan.., seperti yang sudah kita diskusikan sebelumnya. Aku dan Nimas Niken akan segera kembali ke kota Laksa. Keluargamu juga banyak berada di kota tersebut, apakah kamu tidak berminat untuk berkunjung ke tempat anggota keluargamu..?" dengan suara pelan, Pangeran Chakra Ashanka bertanya pada anak laki-laki itu.


"Sebenarnya dalam hati yang paling dalam, Ashan juga memiliki keinginan untuk kesana paman.., bibi. Tetapi sepertinya, belum ada yang bisa Ashan banggakan pada keluarga ayahnda. Lain waktu, jika Ashan merasa sudah pantas, Ashan akan mengunjungi kakek dan paman sendiri." dengan sikap merendah, Chakra Ashanka menolak ajakan itu.


Pangeran Ashanka dan Niken Kinanthi saling berpandangan, keduanya kemudian tersenyum.


"Kami tidak akan menghalangi keinginanmu Ashan.., pergilah dan carilah pengalaman baru. Atau kamu bisa mencari dan menyusulmu ayahndamu.., siapa tahu laki-laki itu membutuhkan bantuan dari putra laki-lakinya." Niken Kinanthi menambahkan.


"Iya Bibi..., Ashan sebenarnya juga merindukan ibunda di perguruan Gunung Jambu. Akan berat bagi ibunda, dengan ditinggalkan suami dan putranya. Mungkin Ashan akan mengajak ibunda untuk mencari keberadaan ayahnda Wisanggeni.." dengan sikap hormat, anak muda itu menanggapi perkataan perempuan itu.


"Baiklah.., jika begitu tempat ini menjadi tempat perpisahan kita Ashan. Paman dan bibi akan berjalan menuju ke arah barat, sedangkan kamu akan pergi ke utara timur." Pangeran Abhiseka mendekati Chakra Ashanka. Laki-laki itu menepuk punggung anak muda itu, kemudian mendekatkan tubuhnya. Kedua orang itu akhirnya berpelukan erat.

__ADS_1


Niken Kinanthi tersenyum sambil melihat ke arah mereka. Setelah beberapa saat kemudian, Chakra Ashanka kemudian mencium punggung tangan Niken Kinanthi, dan anak muda itu berjalan terlebih dahulu meninggalkan pasangan itu. Kedua orang itu mengamati tubuh Chakra Ashanka yang meninggalkan mereka. Setelah punggung itu hilang ditelan kegelapan hutan, akhirnya mereka segera berjalan meninggalkan tempat tersebut,


************


__ADS_2