
Setelah beristirahat sebentar, Chakra Ashanka keluar dari dalam kamarnya. Merasa sudah mendapatkan ijin dan restu dari kedua orang tuanya, anak laki-laki itu langsung berjalan keluar dari dalam penginapan. Setelah berjalan beberapa ratus meter, di bawah sebuah pohon besar chakra Ashanka berhenti, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Aku yakin mereka sudah menerima pesan yang aku kirim dengan menggunakan burung merpati. Aku harap mereka tidak melupakan akan janji mereka, ketika terakhir kali kita berpisah." Chakra Ashanka berpikir sendiri. Tangannya meraih buah jambu yang menggantung di atas tempatnya berdiri.
"Krek.." menggunakan dua tangan, Chakra Ashanka membelah buah tersebut dan membuang isinya. Sambil menunggu, laki-laki itu memasukkan buah ke dalam mulutnya.
"Manis ternyata buah jambu ini. Ibunda pasti akan menyukainya." dengan cekatan, Chakra Ashanka memetik beberapa buah jambu kemudian memasukkan ke dalam kepis yang ada di pinggangnya. Beberapa saat waktu dihabiskan laki-laki itu untuk memilih buah jambu yang sudah berwarna merah.
"Prok... prok... prok..." telinga Chakra Ashanka menangkap suara tepuk tangan dari belakang tempatnya berdiri. Dengan sigap, laki-laki itu menoleh ke belakang. Terlihat di depannya, dua anak kaki yang pernah janjian untuk mengikutinya sudah berdiri di depannya.
"Ashan... kamu menepati janjimu ternyata. Aku pikir, hanya sambil lalu kamu dulu pernah berjanji pada kita untuk bertemu di tempat ini." ucap anak laki-laki itu yang ternyata Sayogyo dan Prastowo.
Chakra Ashanka berjalan menghampiri kedua anak laki-laki itu. Mereka kemudian berpelukan, dan wajah Sayogyo dan Prastowo tampak berbinar bisa bertemu kembali dengan Chakra Ashanka. Mereka sudah minta ijin dari memberi tahu pada kedua orang tuanya untuk bergabung dengan perguruan Gunung Jambu. Tetapi apes untuk Tarjono, anak laki-laki itu belum boleh keluar wilayah kali ini. Dia masih memiliki tugas untuk menjaga adik-adiknya, karena ayahnya pergi jauh.
"Iya Sayogyo, Prastowo.. dimana Tarjono. Apakah anak itu melupakan janjinya pada kita?" melihat hanya dua orang yang berada di depannya saat ini, Chakra Ashanka menanyakan Tarjono.
"Bukan begitu Ashan.., tetapi kali ini Tarjono belum bisa bergabung dengan kita. Mendadak ayahnda Tarjono pergi merantau, dia harus membantu ibundanya mengawasi adik-adiknya yang masih kecil." Sayogyo menjelaskan. Chakra Ashanka menghela nafas.
"Baiklah kalau begitu kita bertiga saja yang menuju ke perbukitan Gunung Jambu. Aku sudah menceritakan tentang rencana kalian pada ayah dan bundaku, dan syukurlah beliau berdua tidak keberatan." Chakra Ashanka menyampaikan ijin yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Benarkah Ashan... Jika itu benar, betapa beruntungnya kita Sayogyo. Tidak perlu mengirimkan lamaran untuk belajar, tetapi kita sudah langsung mendapatkan tempat untuk berlatih." Prastowo merasa tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Demikian juga dengan Sayogyo, kedua anak laki-laki itu saling berpandangan.
"Aku tidak akan berbohong teman. Bersiaplah, aku tidak memiliki banyak waktu di kota ini. Besok pagi, aku sudah akan berangkat kembali menempuh perjalanan menuju perbukitan Gunung Jambu. Kalian harus segera memberi tahu pada keluarga kalian, kita tidak boleh membuang-buang waktu." Chakra Ashanka meminta kedua temannya itu untuk bersiap.
"Baik Ashan... jika begitu ijin kami untuk segera pulang untuk memberi tahu hal ini pada orang tua kami. Besok pagi, kamu berdua sudah akan berada di depan penginapan untuk menempuh perjalanan denganmu." Sayogyo langsung berpamitan untuk meninggalkan tempat itu pada Chakra Ashanka, demikian juga dengan Prastowo.
Chakra Ashanka menganggukkan kepala, dan sudut matanya menangkap ada anak laki-laki yang mengintip komunitas mereka dari balik batang pohon. Chakra Ashanka pura-pura tidak tahu jika ada yang mengintip mereka.
******
Beberapa saat kemudian setelah Sayogyo dan Prastowo meninggalkan tempat itu, Chakra Ashanka melihat ke arah batang pohon yang digunakan untuk bersembunyi seseorang. Laki-laki putra Wisanggeni itu tersenyum, kemudian..
"Aku malu untuk bertemu denganmu Ashan. Sebagai seorang laki-laki, aku tidak bisa menjaga ucapan dan janjiku. Sayogyo dan Prastowo pasti sudah menceritakan semua kepadamu." Tarjono berucap lirih sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
Chakra Ashanka tersenyum dan berjalan ke depan. Tangannya meraih dagu Tarjono, kemudian menegakkan kembali kepala anak laki-laki itu ke atas.
"Kamu tidak perlu malu atau sungkan Tarjono. Tugas merawat adik-adikmu lebih mulia daripada menuntut ilmu. Kamu bisa menunda keinginanmu untuk berlatih, perguruan Gunung Jambu terbuka untukmu kapan saja kamu akan datang." tanpa merendahkan atau menghujat, Chakra Ashanka membesarkan hati Tarjono.
"Mungkin kali ini ibundamu masih memburu bantuanmu, tetapi seiring berjalannya waktu, adik-adikmu juga akan tumbuh besar. Di saat mereka sudah bisa mengurus dirinya sendiri, kamu bisa berpamitan dengan ibundamu untuk pergi berlatih ilmu Kanuragan." lanjut Chakra Ashanka.
__ADS_1
Tarjono menatap mata laki-laki putra Wisanggeni dan Rengganis itu. Tampak kesedihan dan kekecewaan masih menggayut di mata Tarjono.
"Benarkah apa yang kamu katakan Ashan..?" Tarjono kembali bertanya. Dengan cepat, sambil tersenyum Chakra Ashanka menganggukkan kepala.
"Aku ingin main ke rumahmu, untuk berbincang dengan ibundamu. Apakah kamu mengijinkan Tarjono?" dengan mata berbinar, Tarjono mengiyakan. Tiba-tiba laki-laki itu merasa memiliki sebuah harapan baru, dimana kedatangan Chakra Ashanka di rumahnya akan dapat meluluhkan hati ibundanya.
"Dengan senang hati Ashan.., kami akan menerima tamu terhormat sepertimu." ucap Tarjono menegaskan.
Tarjono kemudian mengajak Chakra Ashanka untuk berjalan mengikutinya. Kedua anak laki-laki itu berjalan menyusuri jalan setapak. Tiba-tiba di depan mereka, terlihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Dua orang laki-laki dengan badan kekar tampak sedang menampar seorang laki-laki tua yang kurus. Di belakang mereka, tampak seorang ibu-ibu yang juga terlihat sangat ketakutan.
"Aku ulangi sekali lagi ., bayar upetimu kepada Ndoro kami!! Sudah berapa kali, kamu selalu menunda dan beralasan terus." teriak laki-laki itu dengan suara keras
"Ampuni kami Ki sanak, panen kami gagal musim ini. Kami sudah tidak memiliki persediaan apa-apa." laki-laki kurus itu tampak bersujud di kaki kedua kaki laki-laki kekar itu.
"Dukk.., terlalu banyak alasan kalian berdua.Bayar sekarang juga.., jika tidak.. aku akan membawa anakmu dan menjualnya ke rumah bordil." keluar ancaman dari mulut kotor laki-laki itu sambil mengayunkan kaki menendang laki-laki kurus itu.
Tanpa tenaga, laki-laki kurus itu terlempar ke belakang dan jatuh di depan perempuan yang sedang menangis itu.
Melihat pemandangan di depannya, darah chakra Ashanka terasa mendidih. Dia tidak terbiasa melihat adegan yang kejam seperti itu.
__ADS_1
********