Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 173 Kerajaan Ular


__ADS_3

Seperti pasangan yang baru saja membuat ikatan, Wisanggeni dan Maharani sengaja menunda keberangkatan mereka menuju ke istana ular. Mereka seperti sengaja menikmati waktu kebersamaan mereka dengan selalu melakukan apapun berdua. Tanpa malu-malu, Maharani akan mengajak Wisanggeni untuk kembali melakukan percintaan, tatkala perempuan itu menginginkannya. Demikian juga dengan Wisanggeni, kapanpun dan dalam keadaan apapun, laki-laki itu selalu siap melayani istrinya. Di dalam gua, di pinggir sungai, bahkan di atas pohon, mereka tidak segan-segan menyalurkan hasrat mereka berdua.


"Akang..., kita harus segera melanjutkan perjalanan kita menuju ke istana ular. Kita sudah lama meninggalkan Nimas Rengganis dan Chakra Ashanka sendiri Akang.." tiba-tiba setelah mereka melampiaskan kenikmatan bersama, Maharani berbicara pada Wisanggeni. Mendengar perkataan Maharani, tiba-tiba Wisanggeni merasa malu, dia teringat dengan istrinya Rengganis. Memang akhir-akhir ini, mungkin karena kesibukan mengasuh putranya, Rengganis sudah jarang melayaninya dalam keperluan ini. Oleh sebab itu, Wisanggeni selalu mencari kepuasan dengan mendatangi Maharani, dan untungnya perempuan muda ini selalu bisa memuaskannya.


"Iya Nimas.., besok pagi kita akan segera lanjutkan perjalanan kita. Kita harus kembali beristirahat malam ini, kita hentikan dulu permainan kita." ucap Wisanggeni sambil menggoda Maharani.


Mendengar itu\, pipi Maharani berubah merah\, perempuan muda ini menjadi merasa malu. Melihat pipi Maharani yang memerah\, membuat hasrat laki-laki itu kembali mengalir deras. Seakan lupa dengan perkataan yang baru saja dikatakannya\, Wisanggeni kembali meraup bibir Maharani\, dengan penuh ga**irah dan naf**su\, Maharani tidak kalah membalasnya dengan lebih ganas. Tangan Wisanggeni sudah berada dan mempermainkan dua gundukan kembar yang kenyal itu\, kemudian menundukkan wajahnya untuk menghisap dan menyesapnya. Tubuh perempuan muda itu menggeliat hebat\, dengan matanya yang terpejam seakan meresapi dan merasakan sentuhan lembut yang diberikan oleh Wisanggeni.


Tidak lama kemudian, kedua orang itu sudah kelelahan setelah melakukan penyatuan kembali. Tanpa sadar, Maharani tertidur di dada laki-laki itu sampai menjelang pagi.


***********


Di atas punggung Singa Ulung

__ADS_1


Wisanggeni melihat gundukan pasir di bawah sana, dan laki-laki itu teringat jika dia tidak akan lama lagi akan sampai di istana kerajaan ular. Rasa senang, karena merasa akan kembali ke tempat yang sudah dikunjunginya beberapa waktu lalu sangat dirasakan oleh laki-laki itu. Hanya saja, kali ini laki-laki itu datang dengan sebuah identitas yang berbeda. Jika dia dulu dia datang dan dipaksa menjadi seorang pemimpin kaum ular, kali ini dia datang sebagai seorang suami dari seorang istri dari kerajaan tersebut. Perempuan muda yang pernah ditolaknya, karena besarnya rasa cintanya pada Rengganis istrinya, kali ini tidak disangka dia bisa merasakan hal yang sama pada Maharani.


"Tidak lama lagi kita akan sampai Akang. Nimas mohon.., Akang menjadi lebih bersabar. Meskipun status akang di kerajaan ular, memiliki status tinggi, tetapi dengan datar sebagai seorang menantu, mungkin Akang akan mendapatkan perlakuan yang berbeda." Maharani mengingatkan pada Wisanggeni, agar laki-laki itu tidak kaget dengan perlakuan yang akan diterima dan dirasakan oleh laki-laki itu dari keluarganya.


Wisanggeni memegang kepala Maharani, kemudian menolehkan kepalanya dan memberikan ciuman pada perempuan muda itu di atas Singa Ulung. Hal ternekad yang dilakukannya, padahal dengan Rengganis saja dia tidak pernah melakukan hal itu.


"Bersamamu Nimas.., tidak akan ada yang kutakutkan. Jangankan keluargamu, seluruh dunia akan menghajarku saja, aku akan menghadapinya." ucap Wisanggeni dengan penuh keyakinan. Maharani tersenyum senang, perempuan muda itu kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Dari belakang, Wisanggeni memeluk erat pinggang Maharani.


Tidak lama kemudian gerbang kerajaan ular sudah terlihat dari atas langit. Perlahan tangan Wisanggeni mengusap lembut leher Singa Ulung.


************


Di depan bangunan pendhopo, Singa Ulung menurunkan Wisanggeni dan Maharani. Banyak anak-anak kecil yang sedang bermain, menghentikan permainan mereka, Mereka dengan penuh tanda tanya melihat ke arah dua orang yang baru datang itu, dan beberapa ada yang berlari masuk ke dalam melaporkan pada tetua mereka.

__ADS_1


"Selamat datang ke istana kerajaan Paduka..., ijin hamba memberikan salam dan sambutan kedatangan." beberala laki-laki dewasa memberikan sapaan dan salam kepada Wisanggeni. Mereka masih mengenali siapa yang menjadi pemimpin mereka, apalagi ketika melihat Maharani yang menggandeng tangan raja mereka di depan mata mereka.


Wisanggeni mengangkat tangannya untuk memberikan sapaan pada mereka, dan laki-laki itu segera menarik tangan Maharani dan memasuki langsung ke tempat yang disediakan untuknya sebagai seoarang pemimpin ular.


"Akang..., Nimas harus menjumpai keluarga Nimas dulu. Mereka belum mengetahui jika kita sudah menyatu." Maharani berhenti, perempuan muda itu menolak untuk mengikuti ajakan Wisanggeni.


"Apakah kamu meragukan kekuatan kelompok kita Nimas. Tanpa kamu beritahupun, seisi dunia ini sudah mengetahui jika kita ini adalah pasangan yang sudah mengikatkan diri. Kamu harus selalu menemani dan mendampingiku..'' ucap tegas suara Wisanggeni, dia tidak menyetujui usulan dari Maharani yang akan meninggalkannya. Perempuan muda itu itu tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pasangannya, akhirnya setelah melirik ke arah pondoknya, perlahan Maharani mengikuti langkah Wisanggeni memasuki rumah yang disediakan untuk tempat istirahatnya.


Wisanggeni langsung duduk di atas kursi, dan banyak pelayan di istana yang langsung melayani mereka. Pelayan wanita datang membawa makanan dan minuman hangat untuk mereka melepaskan rasa haus dan lapar dari perjalanan. Dan pelayan laki-laki memijat punggung laki-laki itu, meskipun Wisanggeni menolaknya.


"Hanya ini Paduka,.. yang bisa kami sajikan saat ini. Kedatangan Paduka begitu mendadak, jadi kami tidak bisa mempersiapkannya terlebih dahulu." seorang kepala pelayan meminta maaf atas pelayanannya yang terasa masih kurang.


"Jangan berbicara seperti itu simbok... Apa yang kalian sajikan di depanku, sudah jauh dari kata cukup. Aku memiliki urusan yang lebih penting dari pada hal ini, jadi apa yang kalian berikan padaku, semuanya sudah jauh melebihi harapanku." dengan suara tenang, Wisanggeni menanggapi perkataan yang dikatakan Kepala pelayan.

__ADS_1


Maharani segera mengambilkan piring dari anyaman bambu, dan memberikan daun pisang untuk alasnya. Perempuan muda itu segera mengisi piring itu dengan makanan yang sudah disediakan pelayan, kemudian menyerahkan pada Wisanggeni. Laki-laki itu kemudian menikmati apa yang sudah disajikan para pelayan dengan perasaan nikmat dan senang. Maharani merasa bahagia, perempuan muda itu kemudian menyiapkan makanan untuk dirinya. Secangkir minuman hangat dari paduan serai dan jahe tampak melengkapi makanan yang sudah disajikan tersebut.


************


__ADS_2