
Niken mengantarkan Wisanggeni menuju kamar untuk beristirahat setelah dia mengantar Rengganis. Sebuah kamar yang berada di ujung padhepokan dengan pemandangan menghadap ke taman bagian belakang. Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari mulut mereka sampai mereka berada di depan kamar.
"Ini kamar untuk beristirahat kang Wisang selama berada di padhepokan kami. Dan silakan cicipi makanan yang sudah dimasak oleh juru masak kami." dengan rasa gugup, Niken menunjukkan kamar untuk Wisanggeni. Dia membuka pintu kamar, kemudian mengajaknya laki-laki muda itu masuk ke dalam.
"Hmmm..." Wisanggeni menanggapi singkat.
Melihat respon laki-laki itu padanya, menjadikan putri dari Klan Suroloyo itu menjadi tambah gugup. Dia bingung bagaimana harus bersikap pada laki-laki muda itu.
Wisanggeni mengakui jika gadis yang ada di depannya itu semakin cantik dengan bentuk tubuh yang semakin sintal. Dua bukit di dadanya sudah mengembang sempurna, tetapi penolakannya beberapa tahun lalu masih menyisakan rasa jengkel di hatinya.
"Kang Wisang.., apakah akang masih marah padaku?" tiba-tiba Niken bertanya di belakangnya.
Wisanggeni berhenti, kemudian dia membalikkan badannya menghadap pada Niken.
"Marah...? Apakah kita pernah berhubungan, dan apakah kita juga pernah saling mengenal?" tanya Wisanggeni dengan sarkasme.
Entah apa yang ada di benak Niken, tiba-tiba gadis itu sudah memeluk erat laki-laki muda itu. Kedua tangannya dengan erat dia kaitkan di pinggang Wisanggeni, dengan kepalanya tanpa ijin sudah bersandar di dadanya. Sebagai seorang laki-laki manapun merasakan hal itu, menjadikan pikirannya tidak mampu berpikir jernih. Apalagi tanpa diminta, gadis itu yang datang memasrahkan diri.
Sejenak pikiran Wisanggeni terlena, apalagi rasa empuk yang erat merangsek padanya membuatnya sesak nafas, dan bagian dari tubuh yang ada di bawah perutnya menjadi bergolak kencang. Tangan lembut Niken, dinaik turunkan menyusuri punggung dan berhenti di pinggangnya. Tetapi Wisanggeni segera tersadar, dia segera mengambil nafas dan melepaskan pelukan gadis itu, dia mengatur pernafasannya kembali.
"Keluarlah dari kamar ini Niken.., ingatlah aku kesini bersama dengan seorang perempuan! Dia akan sukarela memberi pelayanan padaku, jadi aku harap kamu jangan menginginkan hal yang lebih dariku." dengan tegas dan menahan nafas, Wisanggeni memberi peringatan pada gadis itu.
__ADS_1
"Kang Wisang.., maafkan sikap kekanak-kanakan Niken di masa lalu! Jika Akang mau, saat ini juga Niken mau menebusnya untuk akang." ucap Niken dengan suara lirih.
"Niken..., kamu ingatlah perkataanku di pendopo padhepokan Klan Bhirawa. Apakah aku harus mengulanginya lagi, agar semua menjadi jelas adanya?" tanya Wisanggeni dengan suara tegas.
"Baik Kang.., Niken akan kembali ke tempat ayah. Niken mohon, jangan permainkan ayahanda!" Niken langsung menutup mukanya dan dengan cepat menghilang dari kamar yang digunakan untuk istirahat Wisanggeni.
Begitu Niken keluar, Wisanggeni langsung menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Dengan tersenyum kecut, laki-laki itu langsung masuk ke kamar mandi. Dia langsung berendam pada bak yang terbuat dari kayu, dia harus menidurkan kembali bagian tubuhnya yang sudah bangun karena ulah dari putri Klan Suroloyo itu.
"Kenapa aku tadi harus pura-pura tidak terpengaruh dengan sentuhannya? Padahal tanpa aku minta, gadis itu sudah pasrah padaku. Dan aku harus tersiksa sekarang, karena keinginan ini." gumam Wisanggeni berkeluh kesah.
Dia kemudian duduk bersila dalam ember yang berisi dengan air dingin, dia mulai mengatur pernafasan. Cukup lama dia berendam dalam air, sampai terdengar ketukan pada pintu kamarnya. Dengan malas laki-laki muda itu segera mengambil handuk untuk mengeringkan air pada tubuhnya.
"Siapa?? Tunggu sebentar!" Wisanggeni bertanya siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya.
Setelah mengenakan pakaian lengkap dan menyisir rambutnya, Wisanggeni segera membukakan pintu untuk gadis pujaannya itu. Dari kejauhan, Niken melihat mereka dengan perasaan kecut. Tanpa dia sadari, air mata menggenang di pelupuk matanya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
*********
Setelah dua hari berada di padhepokan Klan Suroloyo, Bisma mengantarkan bahan-bahan herbal untuk diracik menjadi jamu dan obat untuk Ki Brahmono ke kamar Wisanggeni. Laki-laki muda itu kemudian meminta Rengganis untuk menjaga kamarnya, karena dia membutuhkan waktu untuk berkonsentrasi dalam meracik obat.
"Iya Kang..., Anis sudah beri tahukan juga pada Niken agar ikut menjaga ketenangan dan konsentrasi akang untuk mengolah obat untuk paman Brahmono." kata Rengganis sesaat sebelum Wisanggeni mengambil posisi konsentrasi.
__ADS_1
"Baik Nimas ., akang masuk dulu ya. Jaga dirimu baik-baik!" Wisanggeni memberikan kecupan singkat di pipi gadis itu. Semburat merah muncul di pipi gadis itu, dan dengan nakal Wisanggeni langsung menutup pintu kamar dan terlihat dari dalam.
"Ehmm.." Rengganis terkaget saat mendengar ada suara di belakangnya. Gadis itu langsung membalikkan badannya, dan melihat Niken sudah berdiri di belakangnya.
"Ada apa Niken.., kamu mengagetkan aku saja? Jangan dianggap serius ya, ciuman yang diberikan kang Wisang itu hanya hal biasa." tiba-tiba muncul keinginan Rengganis untuk membuat gadis yang pernah memutuskan pertunangan dengan Wisanggeni itu jengkel.
"Iya Nimas Anis..., apalagi tubuh kang Wisang sekarang sangat tegap. Saat kami berpelukan, otot-ototnya terasa kencang dan menggetarkan." Rengganis terkejut mendengar perkataan yang diucapkan Niken. Keadaan menjadi berbalik padanya. Rasa jengkel langsung menguasai hatinya, dengan tatapan marah dia memandang pada Niken. Tatapannya itu seakan menguliti gadis putri Ketua Klan Suroloyo.
"Apakah maksud dari perkataan yang kamu ucapkan Niken?" tanpa kontrol, Rengganis berbicara dengan nada tinggi.
Melihat reaksi yang ditunjukkan Rengganis, Niken tersenyum manis padanya. Dia berjalan lebih mendekat ke arah Rengganis.
"Aku bicara yang sebenarnya Nimas Anis..., badan kang Wisang memang sangat kencang. Bahkan membuatku ingin selalu berada di dekatnya, dan juga selalu ingin mendekapnya." setelah mengucapkan perkataan itu, Niken langsung membalikkan badan dan meninggalkan Rengganis sendiri.
"Jaga bicaramu Niken! Apakah kamu pikir, karena saat ini kami berada di padepokan ini, kamu berpikir bisa mempermainkan perasaanku?" ucap Rengganis. Tetapi Niken sudah berjalan meninggalkannya.
Rengganis ingin mengejar Niken, dan memberikan pelajaran pada gadis itu. Tetapi akal sehat kembali menguasai dirinya.
"Kenapa aku jadi emosi mendengar perkataan Niken? Bagaimanapun gadis itu sudah pernah mempermalukan paman Mahesa dan seluruh keluarga dari Klan Bhirawa. Tidak mungkin sedemikian mudahnya Kang Wisang terlena padanya. Jikapun iya, paling hanya untuk menghancurkan gadis itu saja." Rengganis menenangkan hatinya sendiri.
"Aku akan menanyakan langsung pada Kang Wisang, jika dia sudah selesai membuat racikan jamu untuk paman Brahmono." lanjutnya lagi.
__ADS_1
Gadis itu kemudian mengambil sikap duduk sempurna, dan duduk dengan konsentrasi di depan kamar Wisanggeni.
*********