
"Wisanggeni datanglah padaku.., aku menunggumu di puncak Gunung Jambu!" terdengar bisikan Cokro Negoro yang sangat jelas terdengar di telinga Wisanggeni.
Laki-laki muda itu terbangun dari tidurnya, dia melihat ke sekeliling, tetapi tidak menemukan orang asing ada di sekitarnya. Dia melirik ke sampingnya, terlihat Rengganis yang masih tidur terlelap. Perlahan laki-laki muda itu bangkit dari tempat tidur, kemudian melangkah keluar ruangan. Karena malam terlihat masih sangat larut, dia juga tidak menemukan siapapun disitu.
"Ada dimana Singa Ulung..? Aku akan mencarinya, siapa tahu dia mengerti apa makna dari panggilan Guru." Wisanggeni bergumam sendiri.
Melihat tidak ada jejak Singa Ulung di ruangan itu, Wisanggeni berjalan ke luar rumah penginapan. Laki-laki muda itu membuka pintu utama, dan melihat binatang yang dia cari sedang waspada berjaga dibawah pohon beringin. Melihat Wisanggeni keluar mencarinya, binatang itu segera menghampiri dan menggosok-gosokkan kepalanya ke samping betis laki-laki itu.
"Ulung.., aku sepertinya mendapat wangsit dari Guru. Apakah kamu dapat membantuku untuk menterjemahkannya, karena wangsit itu terdengar sangat jelas, hingga aku terbangun dari tidurku?" Wisanggeni bertanya pada Singa Ulung.
"Ikuti pesan itu.., datanglah ke tempat dimana Guru memintamu pergi anak muda! Tidak biasanya, Guru datang dalam bentuk sandi, jika tidak ada sesuatu yang menurutnya penting." seperti orang bingung, tiba-tiba terdengar Singa Ulung dapat berbicara. Dengan tatapan tak percaya, Wisanggeni memastikan jika yang baru saja bicara padanya adalah Singa Ulung.
"Singa Ulung.., benarkah barusan kamu yang bicara padaku?? Apakah kamu dapat berkomunikasi bahasa manusia?" Wisanggeni mengusap kepala binatang itu, dia meminta penjelasan darinya.
"Hanya pada situasi penting, Guru akan membuka cakraku, sehingga aku dapat berbicara denganmu Wisanggeni. Jangan tunggu lagi, ayo ikutlah denganku malam ini juga!" kembali terdengar ajakan dari Singa Ulung untuk memintanya pergi.
Wisanggeni ingin mengikuti ajakan Singa Ulung saat itu juga, tetapi dia lupa jika dia saat ini sedang membawa Rengganis. Selain itu, adik sepadhepokannya Wulan dan suami juga ikut menyertainya untuk pergi ke kota Laksa. Baru saja laki-laki muda itu akan membuka mulut, tiba-tiba...
"Akang.., kenapa kang Wisang meninggalkan Rengganis sendirian?" tiba-tiba Rengganis sudah berada di luar rumah dan mengikutinya keluar.
"Iya Nimas.., maafkan aku! Tadi aku terbangun karena ada mimpi buruk yang mengganggu tidurku, sehingga terpaksa aku berjalan-jalan dan menghirup udara segar." Wisanggeni membuat alasan. Tangan kiri Wisanggeni mengusap kepala Singa Ulung untuk menunggunya.
"Kenapa Akang tidak membangunkanku?"
"Tidurmu sangat nyenyak Nimas, aku tidak tega untuk membangunkanmu." Wisanggeni diam sesaat, kemuidian...
__ADS_1
"Nimas.., sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu. Tapi aku ingin, Nimas berjanji untuk mendengarkan dan tidak terpancing amarah padaku." Wisanggeni tersenyum, sambil menyingkirkan helaian rambut yang menutup mata istrinya itu.
"Katakan Akang.., Nimas janji akan menjaga diri." Rengganis menganggukkan kepala setelah menanggapi perkataan suaminya.
"Baiklah Nimas.., Akang akan memberi tahumu. Barusan aku mendapatkan wangsit untuk menemui Guruku Nimas, di tempat yang sangat jauh dari sini. Padahal.., saat ini aku sedang membawamu, dan juga ada Nimas Wulan dan suaminya yang menyertai kita untuk menuju ke kota Laksa. Alangkah tidak bijaknya jika aku meninggalkan kalian sendiri." dengan hati-hati Wisanggeni berbicara pada suaminya.
Rengganis tersenyum, kemudian memegang kedua telapak tangan suaminya.
"Pergillah Akang.., Nimas akan membawa Wulan ke kota Laksa. Nimas secepatnya akan menyusul dimana Akang berada, jangan ragukan kemampuan istrimu ini Akang." dengan tersenyum, Rengganis meyakinkan suaminya.
Wisanggeni menatap mata istrinya, dan terlihat Rengganis menganggukkan kepalanya. Laki-laki muda itu memeluk erat tubuh Rengganis, kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Setelah beberapa saat..,
"Aku akan pergi saat ini juga Nimas.., secepatnya aku akan mengirim merpati untuk menyampaikan kabar berita padamu." Wisanggeni dengan pelan berpamitan pada Rengganis.
"Iya Akang.., pergilah. Jaga diri Akang, dan ingat selalu istrimu!"
***********
"Ayo duduklah dulu Nimas Rengganis! Aku akan memanggilkan Kang Aji untuk ikut menemuimu." Larasati meminta Rengganis untuk duduk beristirahat terlebih dahulu.
"Terima kasih Nimas Laras.., sudah berapa usia kandunganmu Nimas?? Dan jika aku boleh tahu, siapa yang menjadi suamimu?" dengan penuh tanda tanya, Rengganis bertanya pada Larasati.
Larasati tersenyum mendengar pertanyaan Rengganis.
"Duduklah dulu, aku akan memanggil Kang Aji. Sebentar lagi kamu akan mengetahui cerita yang sebenarnya." ucap Larasati sambil meninggalkan Rengganis.
__ADS_1
Rengganis kemudian mengajak Wulan beserta suaminya untuk duduk.
"Duduklah dulu Nimas.., ajak suamimu!" Rengganis meminta Wulan untuk duduk. Rasa haru mengalir di hati Wulan, dia seperti tidak percaya, saat ini bisa merasakan kembali berkumpul dengan saudara--saudara di padhepokannya yang dulu. Beberapa pegawai yang sedang menyiapkan dagangan, Wulan mengenalinya meskipun tidak ingat siapa nama mereka.
Tidak berapa lama, tampak seorang laki-laki dengan wajah mirip Wisanggeni keluar dari dalam rumah. Wulan samar-samar mengingat wajah laki-laki itu, karena saat Wulan kecil, Lindhuaji sudah meninggalkan padhepokan.
"Nimas Rengganis..., bagaimana kabarmu? Dimana Wisanggeni adikku?" Lindhuaji langsung menanyakan tentang adiknya.
Rengganis tersenyum, kemudian mengenalkan Wulan dan suaminya.
"Kang Aji.., saat ini Nimas datang dengan membawa Nimas Wulan beserta suaminya. Nimas Wulan ingin bertemu kembali dengan orang-orang dari Klan Bhirawa."
Mendengar nama Wulan, ingatan Lindhuaji langsung menuju adik sepupunya yang ada di Klan Bhirowo. Muka laki-laki itu langsung bersinarm dia menatap tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini.
"Nimas Wulan.., ingatkah kamu dengan kakangmu ini?" dengan tercekat karena terharu Lindhuaji bertanya pada Wulan, sambil mendekat ke arah perempuan tersebut.
Melihat Lindhuaji ingat padanya, Wulan langsung menubruk Lindhuaji sambil menangis terisak. Kedua orang itu berpelukan penuh haru.
"Oh iya kang Aji.., kenalkan ini kakangmas Lukito suami dari Wulan?" Wulan mengenalkan suaminya pada kakang sepupunya.
Lindhuaji langsung memeluk Lukito, demikian juga dengan Lukito. Kemudian saat Larasati datang menyajikan minuman dan camilan, Lindhuaji membawa istrinya.
"Kenalkan Nimas Rengganis.., Nimas Wulan.., ini mbakyu kalian Nimas Larasati. Doakan agar kandungan Nimas Laras sehat, dan anakku terlahir ke dunia ini dengan selamat." Lindhuaji mengenalkan Larasati.
Nampak keterkejutan di diri Rengganis, tetapi gadis itu kemudian tersenyum dan kembali menyesuaikan ekspresinya.
__ADS_1
"Selamat Nimas Laras.., Kang Aji.., akhirnya kalian sudah menikah." dengan tulus, Rengganis memberi ucapan selamat pada keduanya.
*************