Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 126 Kembali


__ADS_3

Untuk menyempurnakan segel Maharani, akhirnya Rengganis merelakan hatinya untuk berbagi Wisanggeni dengan Maharani. Diapun sudah menyampaikan keinginannya itu pada Wisanggeni. Meskipun pada awalnya Wisanggeni menolak, tetapi Rengganis akhirnya bisa meyakinkan suaminya untuk mengikuti idenya. Sesaat sebelum acara dimulai, Ki Sasmita dan Ki Mahesa mengajak gadis muda yang sedang mengandung itu untuk berbicara.


"Jawablah jujur Nimas.., bagaimana perasaanmu? Apakah hatimu tulus, kamu akan merelakan laki-lakimu dimiliki pula oleh perempuan lain?" dengan lembut Ki Sasmita menanyakan perasaan Rengganis terhadap Wisanggeni. Ki Mahesa ikut mendengarkan komunikasi antara ayah dan anak itu.


Rengganis diam, dia belum menjawab pertanyaan ayahndanya itu. Jika diminta jujur, dia tidak akan merelakan suaminya juga dimiliki oleh orang lain. Tetapi mengingat bagaimana mereka harus bisa keluar dari tempat ini, maka sisi lain dari hatinya merelakan Wisanggeni.


"Jangan paksa hatimu Nimas..! Usia ayah sudah cukup tua untuk menghabiskan hidup di alam ini. Apalagi kamu dan Wisanggeni serta calon bayimu juga bersama disini. Tidak usah lakukan suatu pengorbanan, jika hal itu akan menyakiti hati dan perasaanmu Nimas." Ki Mahesa ikut menasehati Rengganis.


"Ayahnda dan ayah mertua.. Nimas tidak boleh hanya berpikir untuk kebahagiaan diri Nimas sendiri dan kang Wisang. Kami harus berkorban ayah.., Nimas bisa merasakan bagaimana perasaan Larasati dan Kinara yang berpurnama-purnama sudah terpisahkan dengan kang Lindhuaji dan Kang Wijanarko. Belum juga dengan saudara-saudara kita yang lain. Ayah tidak perlu mengkhawatirkan Nimas.., percayalah! Nimas akan dapat merelakan kang Wisang untuk dibagi dengan Maharani." menahan agar air mata tidak keluar dari kelopak matanya, Rengganis berusaha meyakinkan kedua ayahndanya.


Ki Sasmita tidak dapat berbicara, laki-laki paruh baya itu meraih Rengganis kemudian memeluknya erat. Air mata keluar dari sudut matanya yang sudah keriput.


"Putri ayah sudah benar-benar dewasa, bukan lagi seorang gadis muda yang masih manja dan cengeng." Ki Sasmita memuji Rengganis. Setelah beberapa saat mereka berpelukan, Rengganis menarik dirinya dari pelukan Ki Sasmita.


"Sudah ayah.., Nimas minta pamit." Rengganis kemudian berpamitan dengan ayahnda dan ayah mertuanya. dengan tatapan prihatin, kedua orang tua itu melihat Rengganis sampai punggungnya menghilang.


***********


Wisanggeni memegang kedua tangan Rengganis, laki-laki itu kembali meminta Rengganis untuk membatalkan keinginannya. Karena Wisanggeni memiliki keyakinan, tanpa membuka segel Maharani.. mereka akan bisa terbebaskan dari alam ini.


"Akang.., keputusan Nimas sudah bulat. Banyak yang perlu kita pikirkan selain diri kita Akang. Lihatlah bagaimana tatapan mata Kang Janar, Kang Aji yang terlihat sangat merindukan istrinya yang berada di alam yang berbeda dengan kita Akang." dalam hati Wisanggeni membenarkan apa yang disampaikan Rengganis, tetapi kenapa harus dia.

__ADS_1


"Kita masih diminta harus bersabar beberapa saat di tempat ini Nimas. Jangan paksa Alang!" ucap Wisanggeni tulus.


"Pergilah Akang.., Nimas juga sudah berbicara dengan kedua ayahnda. Mereka mendukung keputusan Nimas." Rengganis tersenyum, dia kembali meyakinkan suaminya.


Wisanggeni memeluk Rengganis, kemudian mencium puncak kepalanya.


"Percayalah padaku Nimas.., hanya Nimas seorang yang berada dalam hati Akang. Seribu Maharani tidak akan bisa menggantikan satu Rengganis di hati Akang." Wisanggeni mengucapkan sebuah pernyataan, yang terasa lembut di Rengganis.


Kedua orang itu kembali berpelukan satu dengan yang lain.


************


Dengan pandangan malu, Maharani menatap Wisanggeni dengan penuh perasaan. Harapan untuk melakukan penyatuan dengan laki-laki itu, tidak membuatnya memikirkan resiko yang akan dia hadapi ke depannya. Gadis muda itu juga tahu, bagaimana perasaan dan hati laki-laki yang baru saja terikat janji suci dengannya itu. Namanya sedikitpun tidak ada di hati Wisanggeni, hanya nama Rengganis yang terukir dan terjaga indah di hatinya.


"Tataplah Maharani Paduka..!" dengan suara parau, Maharani meminta Wisanggeni untuk melihat padanya.


Dengan hati-hati, Wisanggeni melihatnya dari atas sampai bawah, dan perlahan nafas laki-laki itu menjadi sesak. Nafasnya tampak memburu, bagaimanapun Wisanggeni adalah seorang laki-laki yang normal. Meskipun dia berusaha untuk menahan hasratnya.., tetapi melihat seorang gadis yang sudah menjalin ikatan dengannya tanpa busana berada di depannya, memunculkan keinginan dari hatinya.


Wisanggeni meraih pinggang Maharani, kemudian mendudukkan di pangkuannya. Maharani tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, setelah berada di pangkuan laki-laki itu, gadis itu mengambil inisiatif menyerang terlebih dulu. Bibirnya yang kenyal sudah dia tempelkan di bibir Wisanggeni, dan dengan cepat Wisanggeni melu**mat dan mengisapnya dengan penuh perasaan. Tidak menunggu waktu lama, kedua manusia itu sudah saling membelit.


"Aaakkhh..., mmmm... uhhh.." keluar de**sahan dan lenguhan dari bibir Maharani. Segera Wisanggeni menutup mulut Maharani dengan kembali melu**matnya. Tangannya dengan pelan, mere**mas dua bukit kembar di dada Maharani.

__ADS_1


"Paduka.. teruskan!!" suara serak terengah-engah milik Maharani mengisi ruang kosong di dalam gua. Wisanggeni benar-benar terlena oleh kelembutan dan kehalusan kulit perempuan dari suku Ular itu. Kekenyalan kulitnya membuat laki-laki itu semakin gemas untuk mempermainkannya. Tanpa mereka sadari, akhirnya segel Maharani terkoyak oleh laki-laki yang amat diharapkannya.


"Rengganis.." terdengar jelas di telinga Maharani saat Wisanggeni melakukan pelepasan. Perempuan itu menggigit bibir dan menahan agar air mata tidak menetes di pipinya.


********


Keesokkan paginya, aura batin membanjir keluar dan kembali membentuk terowongan jiwa. Wisanggeni dengan ditemani Maharani, membuat simbol-simbol rumit dengan kedua tangannya. Mereka saling bahu membahu, menguatkan sambungan dan melapisi terowongan dengan kekuatan mereka. Energi dan aura warna ungu terlihat mengalir cepat menyusuri terowongan yang sudah terbentuk.


"Nimas.., keluarlah dulu! Akang akan menjaganya sampai semua orang berhasil menyeberang di dalamnya." teriak Wisanggeni meminta Rengganis segera memasuki terowongan.


"Tapi Akang...," belum selesai Rengganis berbicara, Wisanggeni sudah memotongnya dengan cepat.


"Akang akan menahannya, gunakan selendang untuk menahan tubuhmu Nimas. Cepatlah!" dengan agak keberatan, akhirnya Rengganis dengan diikuti orang-orang lainnya segera memasuki terowongan.


"Paduka.., keluarlah lebih dulu! Maharani akan melindungi Paduka.." melihat semua orang sudah masuk terowongan, Maharani segera meminta Wisanggeni untuk meninggalkannya.


Wisanggeni menatap mata Maharani, dia teringat bagaimanapun keadaannya, gadis itu sudah menjadi istrinya. Dia tidak bisa meninggalkan dirinya dan berkorban seorang diri.


"Ulurkan tanganmu Maharani.. kita akan pergi bersama!" seperti tidak percaya, Maharani menengadahkan wajahnya pada Wisanggeni. Tanpa meminta persetujuan Maharani, dengan cepat laki-laki itu menarik tangan Maharani dan mengajaknya masuk bersama.


"Paduka.., berangkatlah dulu! Maharani akan menahan ujung terowongan ini. Jika tidak, kita semua akan terperangkap disini."

__ADS_1


*********


__ADS_2