
Seperti yang dikatakan Pangeran Abhiseka, sore harinya setelah malam hari mereka berbincang, merpati koleksi pribadi Pangeran Abhiseka akhirnya datang juga. Begitu selesai berbicara tadi malam, menggunakan kekuatan batinnya, Pangeran Abhiseka memanggil merpati koleksinya.
"Inikah merpati-merpati koleksimu Pangeran.., bulu-bulunya berwarna putih bersih. Kuku-kuku di kakinya sangat tajam, dan mata bersinar. Menunjukkan jika merpati-merpati ini koleksi terbaikmu." Wisenggeni memegang merpati di tangannya, keluar pujian untuk burung-burung itu.
"Aku merawatnya dengan tanganku sendiri, sejak telurnya menetas, aku sudah merawat dan memisahkannya dri induknya. Makanya, merpati-merpati ini memiliki ikatan erat denganku. Kita bisa berangkat nanti malam menuju ke wilayah timur, jika merpati-merpati ini sudah berangkat menuju kerajaan ular." Pangeran Abhiseka mengusulkan sebuah saran.
"Baiklah.., aku akan memberikan pil penjaga stamina untuk burung-burung ini, agar bisa bertahan sampai ke kerajaan ular untuk bertemu dengan para sesepuh disana," sambil mengusap bulu-bulu merpati tersebut, Wisanggeni mengambil satu butir pil, kemudian membaginya menjadi dua. Dengan mencampurkannya dengan biji-bijian untuk konsumsi burung-burung itu, Wisanggeni memberikan pil untuk penjaga stamina.
"Merpati aku bungkusan kecil di tubuhku, masing-masing dari kalian membawa satu buah pil. Aku masih memiliki beberapa butir bil, untuk jaga-jaga jika terjadi sesuatu dengan kalian berdua." sambil menempelkan bungkusan di kaki burung-burung tersebut, tanpa sadar laki-laki itu mengajak burung-burung itu berkomunikasi.
"Apakah kamu meragukan merpati koleksiku Wisang..? Percayalah padaku.., aku tidak akan menjerumuskanmu. Koleksi terbaikku yang aku ambil untuk membawa pesanmu untuk keluarga Maharani." mendengar perkataan Wisanggeni, Pangeran Abhiseka menanggapi perkataan itu. Wisanggeni menghentikan usapannya pada bulu-bulu merpati tersebut, laki-laki itu mengarahkan pandangannya pada Pangeran Abhiseka yang ada di sampingnya.
"Aku percaya padamu saudaraku..., hanya saja aku juga perlu berjaga-jaga. Dengan membawa bukti pil ini ke perbukitan Gunung Jambu, aku akan menunjukkannya pada Nimas Rengganis, jika aku harus menyiapkan pil ini terlebih dahulu. Hal itu akan menjadi alasan bagiku, kenapa dalam waktu yang lama aku telah meninggalkannya sendiri untuk mengurus perguruan dan juga putraku." Wisanggeni menyampaikan alasan untuk tidak mengirimkan pil esensi ular semuanya pada para sesepuh di kerajaan ular.
"Iya.., aku percaya Wisang." Pangeran Abhiseka memberikan arah untuk mengantarkan barang yang disiapkan Wisanggeni pada kedua merpatinya. Setelah beberapa saat, laki-laki itu mengangkat merpati ke atas, kemudian melepaskan keduanya ke udara. Begitu dilepaskan, kedua merpati itu langsung terbang membubung di udara.
__ADS_1
"Sepertinya sudah tidak ada hambatan lagi Wisang.., saat ini juga kita bisa melanjutkan perjalanan." merasa tugas penting sudah diselesaikan, Pangeran Abhiseka segera mengajak Wisanggeni untuk bersiap.
"Hutan ini sangat lebat Pangeran. Dengan berjalan berempat di tengah malam, akan banyak hambatan yang akan menjadi kendala bagi kita untuk menuju desa terdekat. Menurutku, lebih baik kita berangkat saat dini hari menuju pagi, sehingga semakin kita berjalan, kita akan menjemput datangnya matahari." dengan memperhitungkan medan yang akan mereka lalui berempat, Wisanggeni mengajak Abhiseka untuk melanjutkan perjalanan saat dini hari..
"Baiklah.., kamu lebih tahu dan memahami suasana di dalam hutan. Mari kita lanjutkan istirahat dulu.., sehingga kita bisa bangun tepat pada waktu dini hari," akhirnya Abhiseka menyetujui usulan yang disampaikan Wisanggeni. Laki-laki itu kemudian kembali masuk ke dalam goa, untuk melanjutkan istirahatnya.
*******
Dini Hari.
"Ayo ikuti langkahku.., hoops... yap.." sambil berteriak, Wisanggeni meminta Pangeran Abhiseka dan kedua pengawalnya untuk melompat mengikutinya. Tanpa menoleh ke belakang dengan cepat, tubuh Wisanggeni terlihat ringan melompat meninggalkan goa tersebut dengan mengikuti Singa Ulung yang memimpin di depan. Di belakang laki-laki itu, Pangeran Abhiseka beserta Andhika dan Jatmiko mengikutinya dengan cepat pula.
Beberapa saat mereka terus berlari dan berlompat tanpa mengenal capai. Pil-pil yang diberikan Wisanggeni pada ketiga orang itu, betul-betul menunjukkan khasiatnya. Selain dengan cepat, bisa menyembuhkan mereka dari luka-luka karena pertarungan, stamina mereka juga kembali dengan begitu cepat. Lambat laun gunung dan bukit di belakang mereka sudah jauh tertinggal, dan tidak lama kemudian cahaya matahari sudah mulai mengintip dari ufuk timur.
"Pangeran..., sebentar lagi sepertinya kita akan memasuki desa terdekat. Lihatlah di depan sana, hamparan tanaman padi terbentang luas di sana. Petani tidak akan mungkin menanam padi di tengah hutan, karena akan banyak dimangsa oleh binatang. Pasti tidak jauh dari tempat itu, akan ada perkampungan di dekat sini.
__ADS_1
"Baiklah Wisang.., kamu berhenti terlebih dulu, Aku dan kedua pengawalku akan mengikutimu." dari sampingnya, Pangeran Abhiseka menanggapi ajakan Wisanggeni.
"Andhika..., Jatmiko..., kurangi kecepatan larimu! Menurut Wisanggeni, tidak lama lagi kita akan memasuki pedesaan terdekat. Kita tidak boleh membuat takut masyarakat yang tinggal di desa tersebut. Bagi mereka, kita adalah orang asing, dan banyak orang kurang mempercayai terhadap kedatangan orang asing." dengan cepat, Pangeran Abhiseka meneruskan perkataan Wisanggeni pada kedua pengawalnya itu.
"Kami akan selalu mengikuti dan bersama dengan Pangeran.." jawab Andhika dan Jatmiko serentak.
Tiba-tiba di arah depan, Wisanggeni menghentikan lari dan lompatannya. Laki-laki itu berdiri, tampak mengamati sungai yang ada di bawah sana, Merasa penasaran, Pangeran Abhiseka melihat ke arah Wisanggeni. Karena tidak mendapatkan jawaban, Pangeran mengikuti arah mata Wisanggeni,
"Apa yang kamu lihat Wisang...? Apakah ada sesuatu yang aneh di bawah sana?" Pangeran Abhiseka bertanya pada Wisanggeni.
"Fokuskan pandanganmu ke bawah!! Di sana ada sungai yang mengalir, lihatlah ada beberapa anak yang sedang bermain air di bawah sana. Aku ingin membersihkan tubuhku dulu, sebelum kita mencari makanan di desa tersebut." Wisanggeni menunjuk arah bawah bukit, dengan menggunakan jari telunjuknya. Melihat hal tersebut, Pangeran Abhiseka tersenyum. Laki-laki itu menyetujui usul Wisanggeni.
Tidak lama kemudian, Wisanggeni berjalan beriringan dengan Pangeran Abhiseka seperti orang kebanyakan. Singa Ulung sudah berubah bentuk menjadi seekor kucing yang menggemaskan, karena khawatir akan menakuti banyak orang. Binatang itu duduk di bahu sebelah kanan Wisanggeni. Andhika dan Jatmiko berjalan di belakang kedua orang itu.
"Dukk.., aaww..." tiba-tiba sebuah batu kecil meluncur ke arah Pangeran Abhiseka dan mengenai tulang punggungnya. Meskipun sakitnya tidak seberapa, tetapi lemparan itu terlalu mengagetkan mereka.
__ADS_1
***********