Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 264 Pengalaman Pertama


__ADS_3

Akhirnya ditemani oleh Kinara dan Widjanarko beserta putranya, Ki Mahesa pada dini hari meninggalkan Trah Bhirawa. Mereka sengaja tidak menyebar luaskan kepergian mereka menuju wilayah timur, untuk menghindari kehebohan, dan beberapa orang yang akan mengikuti mereka, Dengan menggunakan kereta kuda, ketiga orang berada di dalam kereta, dan Widjanarko menemani pengemudi kereta duduk di depan. Untuk mempercepat laju kereta kuda, Widjanarko dan pengemudi menambahkan kekuatan energi untuk membantu kuda menjalankan kereta dengan cepat.


"Narada..., pada desa terakhir setelah kita melewati jalan utama, kita bisa berhenti untuk beristirahat. Kasihan putraku.., belum terisi makanan dari tadi kita berangkat." saat ini matahari sudah berada tepat di atas kepala mereka, yang menandakan mereka berada pas di pertengahan siang hari.


"Baik Den Bagus.., paman akan menghentikan kereta jika kita sudah melewati jalan utama yang ada di depan. Haiya....," Narada nama pengemudi kereta ini segera mempercepat laju kereta yang dikendalikannya. Widjanarko dengan tajam, duduk bersila menatap ke depan.


Sementara itu di dalam kereta, terlihat Ahimsa putra Widjanarko sudah terbangun, dan saat ini duduk di samping Kinara. Ki Mahesa tersenyum melihat cucunya itu, yang memiliki wajah sama persis dengan ayahndanya di waktu kecil.


"Bagaimana Ahimsa keadaanmu.., apakah kamu merasa pusing dalam perjalanan ini?" KI Mahesa bertanya pada cucunya itu.


"Tidak Eyang kakung..., Ahimsa baik-baik saja. Jika dibolehkan, Ahimsa akan ikut duduk menemani ayahnda di depan, agar bisa melihat pemandangan di luar kereta kuda Eyang.." ucap Ahimsa dengan polosnya. Menyadari mereka masih berada di pinggiran hutan, Ki Mahesa dan Kinara mengkhawatirkan keselamatan anak laki-laki itu.


"Tunggulah beberapa saat lagi putraku.. Sebentar lagi, pasti ayahnda sudah akan memberhentikan kereta kuda ini. Kita akan beristirahat, dan kamu bisa bermain sepuasnya disana." dengan lembut, Kinara menolak permintaan putranya secara halus. Ki Mahesa tersenyum melihat bagaimana menantunya itu mengajak putranya berbicara. Meskipun melakukan penolakan, tetapi dari tutur bahasanya tidak terdengar seperti menolak, sehingga tidak mengecewakan cucunya.


"Baik ibunda.., Ahimsa akan menuruti perkataan ibunda. Ahimsa disini menemani ibunda dan eyang kakung saja." ucap Ahimsa lucu.

__ADS_1


Ki Mahesa menerawang pada masa kecil putra-putranya. Menjelang besar, Widjanarko ayahnda Ahimsa sudah meninggalkan tlatah Bhirawa untuk mencari pengalaman hidup, Memiliki tanggung jawab penuh untuk memikul beban adik-adiknya, Widjanarko memilih meninggalkan kedua orang tuanya untuk mengadu nasib. Untungnya di wilayah timur, dengan berbekal kanuragan dan kemampuan berpikirnya, Widjanarko mampu menarik orang-orang untuk bergabung dengannya membentuk Trah Gumilang. Sebagai keturunan pertama darinya saat itu, dan masih adanya istri Ki Mahesa, Trah Gumilang dengan cepat menunjukkan taringnya di wilayah barat. Oleh sebab itu, Ki Mahesa merasa kehilangan banyak tentang masa tumbuh kembang putra pertamanya itu, dan saat ini bisa menggantikannya dengan memperhatikan Ahimsa.


"Apakah ayahnda merasa sudah lelah, jika sudah. Ayahnda bisa berbaring saja, tidak perlu ikut duduk bersama kami." tiba-tiba suara Kinara memecah suasana dan membuyarkan lamunan Ki Mahesa.


"Belum Kinar..., istirahatlah lebih dulu. Apalagi saat ini putramu sudah terbangun, Kamu bisa bergantian untuk menggantikannya istirahat." ucap Ki Mahesa.


"Baik ayahnda,. titip untuk mengawasi Ahimsa sebentar. Kinara akan mencoba untuk meluruskan punggung sebentar." setelah melihat Ki Mahesa menganggukkan kepala, Kinara kemudian merebahkan tubuhnya. Ahimsa mengambil selimut dan menutup tubuh ibundanya dengan selimut.


*********


Beberapa saat perjalanan


"Den bagus..., den bagus bangunlah! Kita sudah sampai memasuki desa terdekat." suara Narada membangunkan Widjanarko. Perlahan laki-laki itu membuka matanya, kemudian melihat Narada yang sudah menghentikan kereta kudanya.


"Kita sudah sampai Narada..., jika begitu turunlah terlebih dahulu. Aku akan membangunkan istri dan putraku terlebih dahulu, juga ayahnda Ki Mahesa." ucap Widjanarko sambil mengucek matanya. Narada tersenyum, dan tampa bicara laki-laki itu sudah meloncat turun dari kereta kuda.

__ADS_1


Widjanarko kemudian membuka penutup kereta dan mulai memasuki kereta tersebut. Tetapi di dalam kereta kuda, Widjanarko hanya bertemu dengan Kinara yang masih berbaring tidur, tetapi tidak menemukan ayahnda dan Ahimsa putranya. Tetapi mengingat kemampuan kanuragan yang dimiliki ayahndanya, Widjanarko menenangkan pikirannya. Perlahan laki-laki itu membuka selimut Kinara kemudian membangunkan perempuan itu.


"Nimas..., bangunlah Nimas. KIta akan mengisi perut kita terlebih dahulu, dan melemaskan otot-otot kita. Baru nanti kita akan melanjutkan kembali perjalanan kita." dengan suara pelan, Widjanarko membangunkan Kinara.


Perempuan itu perlahan membuka matanya, dan melihat Widjanarko sudah berada di depannya. Laki-laki itu membantu istrinya untuk duduk kembali dan menselonjorkan kakinya.


"Dimana ayahnda dan Ahimsa Kang Janar..?" sambil mengedarkan pandangan, Kinara menanyakan putra dan ayah mertuanya.


"Aku juga belum melihat keberadaan mereka Nimas. Kita keluar dulu dari dalam kereta, tidak perlu kita mengkhawatirkan ayahnda dan Ahimsa," ucap Widjanarko. Kedua orang itu kemudian turun dan melompat dari atas kereta kuda. Di kejauhan, Widjanarko melihat putranya melambaikan tangan memberi isyarat pada mereka untuk bergabung bersamanya.


"Lihatlah Nimas..., itu putra kita Ahimsa sudah berada di kedai makan. Sepertinya mereka sudah memesankan kita makanan dan minuman untuk kita.." Widjanarko dengan jari telunjuk menunjukkan tempat dimana putra dan ayahndanya berada. Kinara menoleh ke arah Widjhanarko, kemudian laki-laki itu menggandeng istrinya menuju ke tempat putra dan ayahndanya berada.


"Bunda sudah bangun..., Ahimsa pesankan daun teh yang diseduh dengan air panas untuk Ibunda. Taburan bunga melati di atasnya, ternyata menambah cita rasa dari rasa rendaman daun teh ini. Ibunda pasti suka..." melihat Kinara sudah duduk di atas lincak berdampingan dengan Widjanarko, Ahimsa mengantarkan satu cangkir rendaman daun teh dengan taburan bunga melati untuk perempuan itu.


"Terima kasih putraku..." Kinara langsung mengambil cangkir itu, kemudian menghirup aroma wangi melati sebelum menyesap minumannya. Harum melati terhirup di indera pernafasan Kinara, dan dengan tidak sabar perempuan itu kemudian menyesap beberapa teguk air teh itu. Widjanarko tersenyum melihat reaksi yang ditunjukkan istrinya, laki-laki itu memiliki rebusan jahe dan serai untuk minumannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, makanan pesanan mereka sudah disajikan di depan mereka. Tanpa sabar, mereka segera menikmati makanan nasi putih, nasi jagung dengan lauk ikan bakar dan sayur bobor. Sudah seharian belum bertemu dengan makanan, kelima orang itu menikmati makanan dengan lahapnya. Tanpa bicara, beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan sudah habis tak tersisa.


**********


__ADS_2