
Orang-orang yang dibawa Sudiro, Gayatri, serta Niluh sudah berada di pinggir danau. Tetapi tidak ada kapal yang berani untuk menyeberangkan mereka, karena sudah beberapa minggu naga yang ada di tengah danau mengacaukan perjalanan mereka. Naga itu bahkan menghancurkan kapal yang denga terpaksa melewatinya.
"Bagaimana ini Kang.., percuma saja kita sudah sampai di tepi danau ini. Tidak ada kapal yang berani untuk menyeberangkan kita." Gayatri bertanya pada Sudiro. Sudah tiga hari mereka tertahan disini, tetapi tetap tidak ada solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Padahal bukan hanya mereka saja yang ingin melakukan penyeberangan, tetapi orang-orang yang memiliki urusan ke Jagadklana juga membutuhkan kapal untuk menyeberangkan mereka.
"Kita tunggu Wisanggeni dulu Nimas.., semoga anak itu memiliki gagasan untuk mengatasi permasalah ini." Sudiro menenangkan Gayatri, dan mengharapkan Wisanggeni sebagai pemecah masalah mereka.
Gayatri terdiam, gadis muda itu memandang jauh ke tengah danau. Muncul gelembung-gelembung air di tengah danau, dan tidak lama kemudian terlihat tiga kepala naga yang mencuat ke atas.
"Lihatlah jauh di tengah danau.., bukankah itu naga yang menakuti para awak kapal untuk menyeberangi danau ini!" teriakan seseorang memberi tahu munculnya naga. Beberapa orang mengalihkan pandangannya ke tengah danau.
Orang-orang yang berada di kedai-kedai minum di tepi danau.., berlarian ke pinggiran danau untuk melihat kepala naga yang terlihat di tengah danau. Untuk beberapa saat ketiga kepala naga itu kembali masuk ke dalam air. Tiba-tiba..
"Whoaa..., byuurrr.." tanpa diduga.., ketiga naga yang tadi berada di telnagh danau sudah menyelam ke pinggir. dan menyemburkan semburan api ke arah orang-orang. Terlihat mata ketiga naga itu berwarna merah, yang menandakan ketiganya sedang dilanda kemarahan. Beberapa orang terbakar terkena semburan naga-naga itu, dan sebagian lainnya berlari untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Clap..., bang.., bang.." beberapa orang yang memiliki ilmu tenaga dalam, mengirimkan serangan ke tiga naga tersebut. Saat Gayatri akan ikut mengirimkan serangan, Sudiro melarangnya..
"Tahan seranganmu Gayatri.., aku mendengar kabar, jika Wisanggeni memiliki kedekatan dengan manusia ular. Menyerang naga-naga itu,, berarti kita akan memusuhi saudara kita." seru Sudiro sambil berlari menyelamatkan diri.
"Tapi.., apakah kita hanya akan melihat orang-orang itu menjadi korban kang Diro.." teriak Gayatri sambil mengikuti Sudiro berlari.
__ADS_1
"Aku yakin.. Wisanggeni sedang berada dalam perjalanan menuju kemari.." sahut Sudiro sambil melindungi orang-orangnya dari serangan naga-naga tersebut.
***********
"Kang Wisang..., Nimas Rengganis..., aku akan pergi terlebih dahulu. Aku merasakan jika ada sesuatu yang mengganggu kaumku.." belum sempat Wisanggeni dan Rengganis menjawab, Maharani sudah melompat dan meluncur cepat seperti seekor naga. Rengganis terpukau melihat gesitnya tubuh Maharani, yang seperti seekor naga meluncur menembus pohon-pohon.
"Kejarlah Maharani Akang.., Nimas akan membawa Chakra Ashanka! Nimas sangat mengkhawatirkannya, aku yakin Maharani akan membutuhkan bantuan untuk menundukkan naga-naga itu. Akang pernah berurusan dengan naga-naga itu sebelumnya." dengan cemas, Rengganis meminta Wisanggeni untuk mengikuti Maharani.
"Maharani adalah ratu ular Nimas.., kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Dengan cepat.., naga-naga itu akan mengenali Ratunya.. jika Maharani sudah sampai di danau." Wisanggeni menenangkan Rengganis, karena tidak mungkin jika dia pergi meninggalkan Rengganis sendiri hanya dengan putranya. Rengganis menengok ke arah suaminya, dan Wisanggeni tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Singa Ulung dan Singa Resti menambah kecepatan terbang mereka. Kedua binatang itu tahu jika Wisanggeni dan Rengganis mengkhawatirkan keselamatan Maharani. Karena jika naga-naga itu mengamuk di pinggiran danau, tidak mungkin orang-orang hanya akan membiarkannya begitu saja. Orang-orang yang memiliki tenaga dalam, pasti akan menyerangnya.
Tidak menunggu waktu lama.., Wisanggeni dan Rengganis sudah berada di atas danau. Mereka menengok ke bawah.., dan terlihat Maharani sudah berubah bentuk menjadi seekor naga dengan mustika di kepalanya.
Setelah putranya berada di tangan Rengganis, dengan kecepatan tinggi Singa Ulung membawa Wisanggeni meluncur turun ke tepi danau. Laki-laki muda itu langsung melompat turun, dan langsung berdiri di depan para pesilat yang akan mengirimkan serangan pada Maharani.
"Minggirlah anak muda.., apakah kamu tidak tahu apa yang kami lakukan?" seseorang berteriak memperingatkan Wisanggeni agar laki-laki itu tidak menghalangi mereka. Wisanggeni tersenyum pada orang tersebut..
"Jangan terburu-buru Ki Sanak.., lihatlah apa yang sudah dilakukan oleh naga yang mengenakan mustika itu. Naga itu ingin menolong kita, dia mencoba untuk melakukan negoisasi dengan ketiga naga yang menyerang kalian tadi." Wisanggeni menjawab pertanyaan orang tadi. Laki-laki itu tetap berdiri di depan orang-orang itu, dan tidak berpikir untuk menyingkir.
__ADS_1
"Halah kamu baru saja datang sudah memerintah kami. Ayo kita serang sekalian anak muda ini, jika dia tetap bertahan untuk menghalangi kita." beberapa orang berteriak, memprovokasi orang-orang lainnya.
"Iya.., ayo.., ayo kita serang dia. Bang..., bang..." Beberapa orang mengirimkan serangan yang diarahkan pada Wisanggeni, tetapi tiba-tiba sebuah tabir melindungi Wisanggeni dari serangan orang-orang itu. Wisanggeni tersenyum, dia tidak asing dengan tabir itu.
Orang-orang saling berpandangan, dan mereka mencoba mencari tahu siapa yang mengirimkan tabir perlindungan untuk anak muda itu. Beberapa saat mereka mengedarkan pandangannya, dan tiba-tiba dua orang melompat turun mendekati Wisanggeni.
"Ayahnda.., Kang Jagasetra.." Wisanggeni menyapa dua orang yang turun dan saat ini berdiri di depannya itu. Ki Sasmita menepuk pundak Wisanggeni, kemudian memeluknya. Jagasetra tersenyum dan ikut memeluk laki-laki itu.
"Apakah naga yang mengenakan mustika itu Maharani Wisang..?" Sasmita bertanya dengan perlahan. Wisanggeni tersenyum masam, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya Ayahnda.., naga itu Nimas Maharani. Ada Rengganis bersama Chakra Ashanka menunggu diatas ayah." Wisanggeni menjawab pertanyaan Sasmita.
"Siapa kalian.., berani sekali mengganggu kesenangan kami? Apakah kalian tidak tahu, jika gara-gara ketiga naga itu, menyebabkan kita semua tidak dapat menyeberang ke Jagadklana?" tiba-tiba teriakan seseorang mengejutkan Ki Sasmita dan Wisanggeni. Tidak mau berdebat, ayahnda mertua Wisanggeni melepaskan caping yang digunakan untuk penyamaran.
"Ket.., Ket.. Ketua.." melihat wajah laki-laki paruh baya yang terlihat teduh dan menyejukkan itu, orang yang berteriak tadi terkejut. Rupanya laki-laki itu adalah warga Jagadklana yang akan kembali ke Trahnya.
Ki Sasmita dan Jagasetra tersenyum, mereka memandang dengan tatapan bertanya pada laki-laki itu.
"Ampuni kami Ketua..., kami yang tidak mengenali keberadaan Ketua disini. Ketua..., Trah kita Ketua..., Nyai Ageng sudah diturunkan dengan paksa oleh orang-orang Laksito Ketua. Kami terpaksa mengikuti Ketua baru.., karena demi keselamatan keluarga kami ketua.." laki-laki tadi langsung menjatuhkan diri di tanah, setelah mengetahui laki-laki yang sedang berbicara padanya.
__ADS_1
Beberapa orang yang mengenali Ki Sasmita dan Jagasetra segera menjatuhkan diri di tanah.
***********