Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 78 Hancurnya Bendungan


__ADS_3

Malam hari saat orang-orang terlelap tidur, Wisanggeni menggunakan Singa Ulung terbang mengitari Jagadklana. Dia ingin mengetahui bendungan yang sudah membuat masalah, pada sarang naga yang menghuni telaga di pinggir wilayah tersebut. Kewajiban untuk melindungi kaumnya dari kepunahan karena kesalahan manusia, menjadi tanggung jawab besar yang harus dipikulnya.


"Turunkan sedikit ketinggianmu Ulung..., aku ingin melihat lebih dekat bagian sana!" Wisanggeni memerintahkan pada binatang yang menjadi kendaraannya untuk menurunkan ketinggian terbangnya.


Singa Ulung mengabulkan perintah Wisanggeni, segera binatang itu menukik ke bawah. Dari atas dalam jarak pandang yang lebih dekat, dengan jelas Wisanggeni melihat gundukan tanah tinggi yang digunakan orang-orang untuk membendung aliran air telaga.


"Aku akan turun ke bawah Ulung.., tunggulah di atas! Sewaktu-waktu aku membutuhkanmu, kamu langsung turun ke bawah untuk menjemputku." bisik Wisanggeni pada Singa Ulung, dan dengan sekali lompatan laki-laki muda itu sudah berdiri di atas bendungan.


Wisanggeni mengedarkan pandangannya ke sekeliling bendungan, tapi dia tidak menemukan keanehan apa-apa. Dia berpikir, untuk apa orang-orang Jagadklana membangun bendungan itu. Tiba-tiba Wisanggeni menyembunyikan dirinya di balik papan pembatas yang ada di atas bendungan, telinganya mendengar ada beberapa orang yang menuju kesana.


"Bagaimana para petani yang ada di ujung desa?" seseorang bertanya pada temannya yang lain.


"Untuk desa yang masih dekat dengan telaga ini, mereka masih bisa menanam tanaman pangan. Tetapi yang berada agak jauh dari telaga, beberapa sudah menghentikan masa tanamnya. Mereka menunggu hujan turun, baru bisa menggarap sawahnya." seseorang menjawab pertanyaan itu.


"Ha..., ha.., ha..., benar juga pemikiran Laksito. Sebentar lagi, bencana kelaparan karena kekurangan pasokan pangan akan melanda wilayah ini. Kita lihat apakah Ki Sasmito bisa mengatasi bencana ini."


"Benar katamu Angger. Bagaimana kekuatan persenjataan kita.., aku harap bendungan ini tidak hanya untuk membendung aliran air menuju saluran irigasi  saja, tetapi banyak kanuragan baru yang kita gunakan media air sebagai senjatanya." salah satu orang kembali bicara.


"Iya.., kita akan melumpuhkan kekuatan Ki Sasmito menggunakan bencana kekurangan pangan, juga dukungan persenjataan kita yang lengkap. Kita lihat, yang besar yang akan menjadi penguasa Trah Jagadklana. Laksito akan pantas menduduki jabatan sebagai pemimpin Trah Jagadklana. Ha.., ha..., ha.., keluarga si tua itu akan kocar-kacir, dan putrinya yang cantik akan mudah kita perebutkan." beberapa orang tertawa. Mendengar orang-orang itu menyinggung kekasihnya,  darah muda Wisanggeni menjadi bergolak. Dia segera membentuk simbol segitiga dengan menggunakan kedua telapak tangannya, tapi tiba-tiba...


"Sabarlah anak muda..., jangan terburu nafsu! Jangan mudah terpancing dengan omongan orang-orang itu." telapak tangan seseorang berada di bahu kanannya. Secara reflek Wisanggeni melihat siapa yang memiliki tangan itu.

__ADS_1


"Paman.., untuk apa paman disini? Apakah paman sudah mengetahui semuanya?" tanya Wisanggeni pada Ki Narendra. Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya.


"Tapi aku harus segera menghancurkan bendungan ini paman. Keberadaan bendungan ini sudah menghambat aliran air pada satu kelompok naga yang ada di telaga ini. Jika tidak segera aku hancurkan, kelompok naga itu akan menyerang orang-orang yang tinggal di Jagadklana." Wisanggeni dengan semangat berbicara pada Ki Narendra.


"Hancurkan bendungan ini setelah orang-orang itu pergi. Bekerjalah tanpa menunjukkan siapa dirimu anak muda, itu akan lebih melindungi dirimu." Ki Narendra memberi nasehat pada Wisanggeni. Laki-laki muda itu menganggukkan kepala dengan cepat, tetapi saat dia menoleh, laki-laki tua itu sudah menghilang dari hadapannya.


Wisanggeni tersenyum, kemudian dia memasukkan jari ke mulutnya, kemudian membuat suara peluit. Tidak lama kemudian Singa Ulung sudah menukik turun untuk menjemputnya. Sekali loncat, tubuh Wisanggeni sudah duduk di atas punggung Singa Ulung, dan dari atas tangan Wisanggeni mengirim satu tembakan ke arah bendungan tersebut.


"Duar..., brakk.." begitu tembakan Wisanggeni mengenai tanggul pembatas, seketika tanggul itu hancur dan jebol.


****************


Mendengar kabar hancurnya bendungan itu, wajah Laksito menjadi merah padam. Dia yang baru tidur dengan seorang perempuan muda, langsung mengibaskan tangannnya untuk mengusir perempuan itu. Dengan penuh ketakutan, perempuan itu segera kabur meninggalkan laki-laki pemarah itu.


"Bang**sat.., siapa orang yang sudah berani bermain-main denganku? Cari siapa orang itu, aku akan mematahkan lehernya sendiri dengan menggunakan tanganku." dengan berapi-api, Laksito berbicara dengan nada tinggi.


"Tidak ada yang melihat kejadian itu Aden.., karena orang-orang kita yang pada malam itu berada di lokasi, semuanya sudah mati." anak buah itu menggigil ketakutan melihat wajah Laksito saat sedang marah.


Sambil menyambar baju, Laksito berjalan keluar dari kamar sambil mengenakan bajunya. Laki-laki itu langsung menuju kandang kuda, kemudian dia melompat di punggung salah satu kuda dan menjalankan kudanya menuju lokasi bendungan yang hancur.


*************

__ADS_1


Wisanggeni yang sedang menikmati teh jahe sere dengan kedua temannya dari seberang telaga tersenyum, saat mendengar obrolan orang-orang tentang hancurnya bendungan tersebut tadi malam. Jono dan Karno saling berpandangan, dia curiga jika hancurnya jembatan itu karena ulah dari anak muda itu. Tetapi mereka berdua tidak berani untuk mengajukan pertanyaan.


"Ada apa Jono..., Karno.., kenapa sepertinya dari tadi kalian saling memandang? Apa ada yang mau kamu tanyakan padaku?" melihat tatapan ingin tahu kedua temannya, Wisanggeni bertanya pada mereka.


"Ehmm.., bagaimana ya Wisang. Kami bingung bagaimana akan menanyakannya padamu." jawab Jono sambil melirik Karno.


Wisanggeni tersenyum, dia menggigit singkong rebus yang tersaji di depannya.


"Kalau aku sudah bertanya pada kalian berdua, berarti aku sudah siap untuk menjawab pertanyaan kalian. Tanyakan, apa yang ingin kamu ketahui dariku!" Wisanggeni malah menantang mereka berdua untuk bertanya.


"Sebenarnya kami mau menanyakan tentang hancurnya bendungan itu Wisang. Jika kita kaitkan dengan kejadian saat adanya serangan naga di tengah telaga itu, kami curiga jika hancurnya bendungan itu ada hubungannya denganmu." kata Jono memberanikan diri.


"He.., he.., he.., ternyata kalian cerdas. Rahasiakan hal ini, aku tidak mau lagi berurusan dengan orang-orang yang tidak penting di wilayah ini." dengan jujur Wisanggeni menjawab keingintahuan kedua temannya itu.


Jono dan Karno tersenyum sambil mengacungkan kedua ibu jarinya, lalu mereka tertawa bersama.


"Kenapa kamu tidak mengajak kami Wisang..? Aku kan juga ingin tahu bagaimana kamu menghancurkannya." ucap Jono penasaran.


"Benarkah.., apakah kalian berani? Aku mengajak ketiga naga itu untuk menghancurkan bendungan." Wisanggeni membohongi kedua temannya itu. Mendengar jawaban itu, Jono dan Karno bertatapan.


"Tidak Wisang.., mending kamu kerja sendiri. Jangan libatkan kami ya Wisang!"

__ADS_1


********************


__ADS_2