Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 331 Proses Kehidupan


__ADS_3

Parvati mengusap keringat di kening Maharani, gadis kecil itu tidak mau meninggalkan ibundanya. Setiap saat, Parvati selalu melakukan aktivitas di kamar tempat beristirahat Maharani. Dengan tatapan kosong, Maharani hanya menatap putrinya itu dengan hati yang sangat sedih.


"Putriku Parvati..., aku harap kamu bisa melihat dan memahami apa yang sudah ibunda alami saat ini putriku." perlahan dengan terbata-bata, Maharani mengajak bicara putrinya itu.


"Maksud ibunda.., ibunda jangan khawatir tentang Parvati. Saat ini Parvati sudah besar ibunda, tidak akan merepotkan ibunda, dan ingin selalu berada di dekat ibunda. Parvati tidak mau ditempatkan di tempat pengungsian lagi, tempatnya sempit ibunda." gadis kecil itu menyandarkan kepalanya di samping tubuh Maharani. Dengan penuh kelembutan, Maharani mengusap rambut di kepala Parvati.


Beberapa saat, Maharani dan Parvati dalam keheningan di dalam kamar tersebut. Semua orang yang tadi pagi berada disitu, satu persatu sudah melanjutkan aktivitas mereka masing-masing.


"Parvati..., dalam kehidupan manusia, akan selalu ada proses kehidupan yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Seorang bayi akan dilahirkan, kemudian tumbuh menjadi anak-anak sepertimu, besar, dewasa, menikah, punya anak, tua, dan akhirnya akan kembali lagi kepada sang Pencipta. Kita dipertemukan, dan pada saat yang sudah ditetapkan akan dipisahkan kembali," tiba-tiba Maharani menyinggung tentang sebuah siklus kehidupan manusia.


"Parvati harap.., tidak ada sesuatu yang penting yang ingin ibunda sampaikan." Parvati memotong perkataan Maharani.


Perempuan istri Wisanggeni itu tersenyum, kemudian kembali mengusap kepala putrinya itu.


"Ibunda juga akan mengalami proses kehidupan seperti itu putriku. Tetapi kamu masih bersyukur tidak seperti anak-anak yang lain, kamu masih memiliki ibunda Rengganis, jika ibunda Maharani menjalani proses itu. Masih ada Chakra Ashanka yang akan menghibur dan menemanimu sampai dirimu kelak tumbuh dewasa putriku." kembali Maharani melanjutkan pembicaraannya.


"Tetapi Parvati tidak mau menjalani semua proses itu dalam waktu yang dekat ini. Parvati masih akan selalu ingin ditemani ibunda sampai Parvati tua.." ucap Parvati, gadis itu belum bisa menerima kata-kata yang disampaikan Maharani,


"Kamu harus mulai menyiapkan dirimu putriku. Ibunda tidak ingin membohongimu, tidak ingin melihatmu jatuh dalam keterpurukan. Rangkul dan peluk ibunda Rengganis, jika suatu saat ibunda Maharani sudah tidak dapat memelukmu, tidak dapat merangkulmu lagi. Banyak yang akan sayang padamu putriku, yakinlah.., percayalah.." meskipun terlihat Parvati menolak mendengarkan perkataannya, tetapi Maharani terus menyampaikan kata-kata. Seakan-akan, sudah saatnya perempuan itu menyampaikan kata-kata itu untuk putrinya.

__ADS_1


Parvati terdiam, tanpa sadar air mata telah membasahi kelopak matanya. Tetapi gadis kecil itu segera mengusapnya, tidak ingin ibundanya mengetahui jika dia sudah menangis.


"Bagaimana putriku.., apakah kamu sudah menyiapkan dirimu?? Percayalah pada ibunda.., ibunda Rengganis akan melimpahimu dengan kasih sayang, sama dengan limpahan kasih sayang yang diberikannya pada kakangmu Chakra Ashanka." kembali Maharani bertanya pada Parvati.


Gadis kecil itu kembali terdiam beberapa saat, tetapi melihat penderitaan yang dialami ibundanya saat ini, dengan berat hati, Parvati menganggukkan kepala.


"Kamu memang permata hati ibunda yang paling mengerti dengan perasaan ibunda sayang,.." Maharani memeluk tubuh Parvati dengan erat. Parvati sebisa mungkin menahan air mata untuk tidak mengalir ke pipinya.


"Ibunda..., Parvati ijin untuk membantu ibunda Rengganis. Peperangan dengan sekelompok orang dari kerajaan Logandheng belum berakhir, pasti ibunda Rengganis sangat kerepotan, Parvati ijin untuk menengok ibunda Rengganis.." dengan alasan untuk menengok Rengganis, gadis kecil itu membuat sebuah alasan untuk meninggalkan Maharani.


Istri kedua Wisanggeni itu menganggukkan kepala, dan sambil tersenyum mengantarkan putrinya dengan tatapannya sampai Parvati keluar dari dalam ruangan.


*******


Chakra Ashanka dan Sekar Ratih melihat berkelebatnya bayangan adik perempuannya meninggalkan padhepokan. Bayangan itu berlari menuju ke arah bukit. Sambil menganggukkan kepala memberi isyarat pada Sekar Ratih, Chakra Ashanka berlari mengejar Parvati. Sekar Ratih yang belum memiliki tenaga dalam yang terlatih, mengejar larinya Chakra Ashanka.


Di pinggiran tebing di atas batu, Chakra Ashanka melihat adik perempuannya sedang duduk sambil melemparkan batu-batu kecil ke bawah. Tampak air mata membasahi pipi Parvati, dan perlahan anak muda itu berjalan mendekati adiknya.


"Hmm..., Nimas Parvati.., ada hal apa yang mengganggu perasaanmu Nimas.. Bisakah kamu membaginya dengan kakangmas..?" dengan suara pelan, Chakra Ashanka mengajak gadis kecil itu bicara.

__ADS_1


Parvati menoleh ke belakang, dan ketika melihat Chakra Ashanka berdiri di depannya, gadis itu segera berlari dan menghambur ke pelukan kakak laki-laki itu. Chakra Ashanka membiarkan keadaan itu untuk beberapa saat, membiarkan agar Parvati puas meluapkan air mata, sambil mengusap punggung gadis itu perlahan,


"Apakah sudah lega, jika sudah.., ceritakan ada hal apa yang terjadi?" setelah beberapa waktu berlalu, kembali anak muda itu bertanya pada Parvati.


Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, dan menatap ke wajah kakandanya. Chakra Ashanka tersenyum, kemudian mengusap air mata yang menggenang di pipi adiknya itu sampai habis.


"Ibunda kangmas..., ibunda Maharani berbicara seperti tidak memperhatikan perasaan Parvati kakang. Seperti ibunda mengisyaratkan jika akan pergi jauh meninggalkan Parvati..." dengan air mata yang kembali mengalir, akhirnya Parvati mengungkapkan isi hatinya pada anak muda itu.


"Tidak perlu kamu khawatirkan itu adikku Nimas Parvati. Percayalah..., jika terjadi hal buruk sekalipun, yakinlah aku kakangmu akan selalu berada di belakangmu.Begitu juga dengan ayahnda Wisanggeni, dan ibunda Rengganis. Kamu tidak akan pernah sendiri adikku.." dengan kata-kata bijak, Chakra Ashanka menanggapi perkataan Parvati.


"Semua orang akan menjalani proses kelahiran, anak-anak, dewasa, tua, dan akhirnya akan kembali ke tanah untuk menuju ke abadian. Kita hanya menunggu waktu saja Nimas..., kita harus mempersiapkan dari sekarang." ucap Chakra Ashanka kembali,


Parvati terdiam, dan memaknai kalimat yang diucapkan anak muda itu, sama dengan kalimat yang diucapkan oleh ibunda Maharani. Gadis kecil itu kemudia mencoba memaknainya kembali dalam beberapa saat..


"Tetapi Parvati belum siap kangmas..., belum siap ditinggalkan oleh orang-orang yang menyayangi Parvati.." tangisan Parvati semakin keras mendengar perkataan Chakra Ashanka. Anak muda itu tersenyum..


"Tidak ada yang akan meninggalkan kamu Parvati, semua masih sama menyayangi Parvati. Kita harus banyak berdoa pada Sang Hyang Widhi agar, ibunda Maharani dan semua selalu berada dalam keselamatan dan perlindungan. Jikapun kita dipisahkan, sebenarnya hal itu tidak berarti kita benar-benar terpisah. Kita hanya akan dipisahkan oleh alam semesta, tetapi sebenarnya semua masih tetap sama." kata-lata anak muda itu, diresapi oelh gadis kecil itu.


Lama kelamaan akhirnya Parvati dapat memahami maksud kalimat yang diucapkan Chakra Ashanka, dan juga ibundanya Maharani. Kakak beradik itu berpelukan erat di pinggir tebing, dengan Sekar Ratih melihat keduanya.

__ADS_1


**********


__ADS_2