Sang Petarung

Sang Petarung
Chapter 9 Perjalanan


__ADS_3

Wijanarko tersenyum saat membuka gulungan lontar yang dikirim oleh sepasang merpati, hatinya merasa senang karena mendapatkan surat yang ditulis ayahndanya. Tetapi senyuman itu perlahan menghilang saat membaca tentang hilangnya kekuatan adik bungsunya, dan sekarang adiknya sendirian berada di luar padhepokan. Melihat perubahan ekspresi kakaknya saat membaca surat tersebut, Linduadji segera mendekati kakaknya.


“Ada kabar dari siapa kakang? Sepertinya Akang serius memaknainya?” dengan suara pelan, Linduadji bertanya pada Wijanarko.


“Kabar dari ayahnda Dhimas.., bacalah sendiri! Ayahnda mengabarkan berita yang kurang baik tentang Dhimas Wisanggeni.” Widjanarko mengulurkan gulungan lontar ke Linduadji.


Putra kedua dari Ki Mahesa itu segera menyambut uluran dari kakandanya, kemudian dengan cepat membuka dan membaca isi yang ditulis ayahndanya.


“Buk..” suara tembok dipukul oleh Linduadji untuk mengungkapkan rasa kekecewaannya akan berita yang dikirimkan ayahndanya.


“Ada apa Tuan, apakah ada yang mengganggu Tuan Adji?” beberapa anak buah Widjanarko berlarian menghampiri Tuannya yang tampak sedang emosi.


“Kembalilah ke tempat kalian masing-masing! Aku dan Dhimas Adji sedang membicarakan masalah penting.”


“Sendiko Tuan, kami ijin kembali ke tempat kami masing-masing.”


Sepeninggalan anak buahnya, ruangan Kembali sepi. Widjanarko dan Linduadji keduanya terpekur dalam pikirannya masing-masing. Setelah beberapa saat..,


“Kemana kira-kira perginya Wisang kakang? Dan apa yang menyebabkan kekuatannya tiba-tiba menghilang?” Linduadji bertanya pada Widjanarko.


Widjanarko menghela nafas, kemudian..


“Kita sama-sama tidak mengetahui jawabannya Adji. Kebetulan sepuluh orang kita akan mengawal kepergian keluarga Sentono menuju Gunung Arimbi. Kita bisa menitipkan pada mereka, siapa tahu bisa menemukan Dhimas Wisang.”


“Kapan pastinya mereka akan berangkat Kakang? Atau aku sendiri yang kakang perintahkan untuk memimpin rombongan perjalanan?”

__ADS_1


“Sangat sayang tenaganya jika kamu sendiri yang berangkat Adji. Purnama nanti ada pesanan pengawalan untuk keluarga ningrat yang akan mengantarkan lamaran putranya. Kamu nanti yang akan kakang tugasi untuk memimpin rombongan perjalanan.”


“Baiklah kakang, aku mengikut apa yang sudah diatur oleh kakangmas. Sementara ijinkan aku untuk keluar sebentar mencari udara segar.”


“Pergilah Dhimas.., tapi ingatlah selalu untuk berusaha mengendalikan dirimu! Besarnya Klan kita disini, akan berpengaruh pada banyaknya musuh yang mengincar untuk menghancurkan kita.” Widjanarko berpesan pada adik laki-lakinya itu.


“Pasti kakangmas.., percayalah! Aku akan selalu menjaga diri, dan melindungi keluarga kita dari kehancuran.”


Selesai berbicara Linduadji langsung melompat pergi untuk mencari penghiburan hati. Widjanarko tetap terdiam dan duduk di kursi sedan, kemudian mengeluarkan tembakau dan melintingnya menjadi sebuah cerutu. Perlahan dia mengisap cerutu tersebut, kemudian menghembuskan asapnya keluar.


***************


Setelah jauh berjalan di tengah hutan yang lebat, Wisanggeni berhenti dan melihat jika waktu sudah akan mendekati senja. Dia menoleh ke belakang, melihat Larasati yang sedang memetic bunga-bunga yang banyak tumbuh bermekaran disitu.


“Laras.., kita harus istirahat dulu! Hari tampaknya sudah akan berganti senja, kita harus segera menemukan dan membangun tempat untuk menginap. Jika aku sendiri, aku bisa tidur dimana saja, bahkan bisa diatas pohon. Tetapi saat ini, denganmu tidak mungkin aku akan membiarkanmu tidur di atas pohon.” Wisanggeni berbicara dengan Larasati.


“Aku berbicara denganmu Laras, apakah aku perlu untuk mengulangnya?”


“Iya..iya., Akang. Aku mendengar perkataanmu, kita coba jalan ke kanan dulu. Sepertinya aku ingat sebelum terjatuh, aku pernah lewat di daerah sini. Aku juga melihat ada dua gua, di sebelah sana.” Larasati menunjuk ke arah rerimbunan yang terletak agak jauh di depan.


“Apakah benar yang kamu katakan Laras? Baiklah.., ayo kita segera pergi kesana.” Wisanggeni langsung bersiap untuk melanjutkan perjalanan, bahkan dia lupa sedang bersama seorang gadis yang sedang terluka.


“Kang Wisang…, tunggu aku!” teriak Larasati saat laki-laki itu sudah berada lumayan jauh dari tempatnya berjalan.


Wisanggeni menoleh ke belakang, kemudian dia menunggu Larasati yang masih berjalan tertatih-tatih dengan mengenakan tongkat kayu.

__ADS_1


“Maaf Laras.., aku lupa jika kakimu sedang sakit. Karena kita segera diburu waktu, kita harus mencari gua itu dan membersihkannya terlebih dahulu. Sebelum bersih, kita tidak akan mungkin menggunakannya untuk beristirahat.”


“Iya kang, tapi aku harus pelan-pelan jalannya. Karena kakiku belum sepenuhnya pulih, mungkin setelah tidur beristirahat, kakiku akan segera menempatkan Kembali pada posisinya.”


“Agar sedikit lebih cepat, ijinkan aku menggendongmu saja Laras.” baru selesai berbicara, Wisanggeni sudah mengangkat tubuh Larasati kemudian menggendong di belakang tubuhnya.


Larasati langsung merangkul tubuh laki-laki itu dengan pipi memerah, karena dia tidak menyangka jika laki-laki itu akan melakukan sebelum mendapatkan jawaban darinya. Wisanggeni berlari untuk beberapa waktu,..


“Berhenti kang! Sepertinya di bawah pohon randu yang besar itu, aku pernah melihat gua itu disana. Kemudian kira-kira duapuluh meter dari sana, ada sebuah gua lagi. Kita bisa menggunakan keduanya sebagai tempat tinggal kita untuk sementara.” Larasati berteriak sambil menunjuk ke pohon randu yang sangat besar batang pohonnya.


Wisanggeni segera menghentikan langkahnya, dan dengan hati-hati dia menurunkan gadis yang digendongnya.


“Tunggulah disini dulu Laras, aku akan memeriksanya dulu!”


Laki-laki itu kemudian berjalan dengan mengeluarkan pisau belati dari sarungnya, dengan cepat langsung menuju tempat yang ditunjukkan Larasati. Dia membersihkan banyak tumpukan daun dan ranting kering di belakang pohon randu besar itu, dan matanya tiba-tiba bercahaya karena senang. Dia melihat gundukan batu di depannya, dan ada sebuah batu besar yang menutupi pintunya. Dengan susah payah, laki-laki itu berhasil menyingkirkan batu besar itu, dan tampak di depannya sebuah pintu masuk ke dalam gua.


Karena gua itu berada di bawah pohon besar, hanya kegelapan yang dapat dia lihat di depannya. Wisanggeni kemudian mengeluarkan alat pembuat api dari dalam kepis, setelah menyalakannya dia melihat pemandangan yang ada di dalam gua.


“Sepertinya ada seseorang yang sudah pernah bertempat tinggal disini sebelumnya.” Gumam Wisanggeni.


Melihat ada sebuah senthir atau lampu sumbu yang tertempel di tembok, laki-laki itu kemudian menyalakannya dengan alat pembuat api yang ada di tangannya. Pemandangan menakjubkan dapat dia lihat, karena begitu satu senthir dinyalakan, ternyata api itu merembet pada senthir-senthir lainnya yang banyak mengelilingi tembok gua itu. Ruangan gua itu menjadi terang, dan memudahkan bagi Wisanggeni untuk membersihkannya.


“Untuk sementara aku dan Laras tidur dulu dalam satu gua. Toh ada dua tempat yang bisa kita gunakan untuk tidur terpisah. Aku sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk mencari keberadaan gua yang satunya lagi.” Pikir Wisanggeni sambil membersihkan gua itu.


Setelah gua bagian dalam itu bersih, Wisanggeni berniat untuk mengajak Larasati segera beristirahat dulu. Tetapi laki-laki itu terkejut karena tidak melihat keberadaan gadis itu di tempat dia meninggalkannya tadi.

__ADS_1


“Laras.., Laras…, dimana kamu?” teriak Wisanggeni mencari gadis itu. Dia merasa memiliki tanggung jawab terhadap gadis yang tadi ingin ikut bersamanya itu.


***********************


__ADS_2